
"Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku. Kau tidak tahu kalau aku juga tersiksa jauh darimu," ucap Tiara menahan marah.
Dia sudah memikirkan semuanya. Dia akan membuang bayi yang kini ada dalam kandungannya.
Setengah jam kemudian, Tiara sudah tiba di tempat tujuannya. Dia sudah membuat janji dengan bidan yang mampu mengeluarkan janinnya.
"Apa ibu yakin ingin membuang bayi ini? Kalau memang ibu tidak menginginkannya, saya bersedih membelinya, Bu," ujar sang Bidan sebelum memulai proses pelenyapan janin.
"Apa anda pikir saya kekurangan uang hingga mau menerima tawaran anda?" Hardik Tiara tidak terima. "Tugas anda hanya satu, keluarkan bayi sialan ini dari tubuh saya!"
Rasa sakit bahkan hampir meregang nyawa dia alami hanya untuk membuang janin dalam rahimnya. Tiara memang wanita yang tidak punya hati, tega membunuh bayinya hanya demi melancarkan ambisinya.
Hanya setengah jam proses yang dilalui Tiara, janin tak berdosa itu sudah kembali pada Sang Maha kuasa.
Malamnya, Tiara baru pulang ke rumah. Tubuhnya linu dan terasa sakit semua seperti dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
"Kamu baru pulang? Sejak tadi aku telepon gak kamu angkat. Kamu dari mana?"
"Aku pergi ke rumah ayah. Sudah lama kami gak bertemu. Aku begitu merindukannya. Maaf karena gak kasih tahu sama Mas."
"Iya sudah. Lain kali mau kemana pun, jangan lupa kabari. Aku hanya khawatir keselamatan mu dan bayi kita."
Bulu kuduk Tiara berinding kala mendengar ucapan Agus. Kasihan pria itu, bayi yang dia maksud sudah lenyap oleh tangan ibunya sendiri. Tiara hanya mengangguk dan berlalu ke kamarnya.
Masalah bayi sudah dia bereskan, kini tinggal membuat skenario tentang dirinya yang terpeleset hingga keguguran. Dia tinggal menunggu Agus berangkat ke luar kota lusa.
***
Clara terbangun karena suara alarm yang sudah dia set pukul enam pagi. Dia harus sudah tiba di kampus sebelum jam delapan pagi, karena mengikuti mata kuliah inti, dosennya juga termasuk yang tidak bisa menerima alasan apapun mengenai keterlambatan.
"Di sini gak ada pelayan. Cuma sekali dua hari ada Bu Yayuk yang bersih-bersih di sini. Jadi kalau mau sarapan, harus buat sendiri. Ini roti, buat ganjal perut," ucap Angkasa yang sudah didapatinya di dapur kecil mereka.
__ADS_1
Clara melihat makanan yang dihidangkan pria itu. Ada roti yang diisi selai strawberry dan teh manis yang pastinya diperuntukkan baginya, sementara di depan pria itu segelas kopi menemani sarapan paginya.
"Terima kasih untuk tawarannya. Aku sarapan di kantin kampus aja." Clara segera berlalu. Kepulan asap dari teh manis tadi padahal sudah menarik tenggorokannya untuk menikmati kehangatannya tapi gengsi dan juga harga diri membuatnya pergi dengan rasa haus dan juga lapar.
"Ingat Cla, jangan pernah menerima kebaikan dari pria breng*sek itu, sekecil apapun," batinnya.
Belum sampai di depan pintu, Angkasa sudah menyusulnya. Memanggil namanya hingga terpaksa berhenti. "Aku perlu nomor rekeningmu."
"Untuk apa?" Kening Clara berkerut.
"Tentu saja ingin mengirimi uang."
"Untuk apa?" ulang Clara semakin bingung. Dia tidak merasa kalau pernah meminjamkan uang pada pria itu.
"Aku kan sudah bilang mau kirim uang."
"Iya, tapi untuk apa uangnya?" Clara merasa mereka hanya berputar di situ-situ aja.
Oh, dia memberi kini. Pria itu merasa dia bertanggung jawab hanya karena mereka sudah menikah. Apa dia lupa kalau ini hanya pernikahan pura-pura? Tidak perlu mendalami peran segitunya sebagai suami hingga harus menafkahinya.
"Oh, itu tidak perlu. Aku masih punya tabungan, kalaupun aku butuh, nanti aku akan minta pada papa," tolaknya tegas.
"Aku melarangmu meminta uang pada orang tuamu. Aku gak ingin dianggap pria yang tidak bisa bertanggung jawab memenuhi kebutuhan mu. Jadi, aku akan tetap mengirimmu uang," putus Angkasa tidak ingin dibantah.
Tapi bukan Clara namanya jika dia hanya menurut saja. Dia hanya tersenyum mengejek sembari menggelengkan kepalanya.
***
"Gimana pernikahan Lo? Enak gak punya suami?" goda Vera yang tahu pasti sahabatnya itu akan mengamuk.
"Kelewatan lo ya, masih sempat-sempatnya nanya. Lo tahu kan alasan gue nikah sama dia!"
__ADS_1
"Dih, jangan sewot dong. Gue cuma becanda kali. Eh, ya tapi gue ada pernah baca novel, judulnya 'Kekasihku Pacar Ibuku', di novel itu samaan banget kisahnya sama kayak lo, benci banget sama tu cowok karena udah selingkuh dengan ibunya, tapi nanti protagonis itu justru jatuh cinta dong sama si cowok tokoh utamanya," celetuk Vera. Belakangan ini gadis itu hobi membaca novel online dan salah satu ceritanya mirip dengan kisah sahabatnya itu.
"Gak usah ngarang deh! Gue gak akan pernah jatuh cinta sama cowok breng*sek kayak dia!" sanggah Clara. Dia tidak mungkin memberikan kembali hatinya untuk pria yang sudah begitu jahat pada keluarganya.
"Dih, ya udah kalau gak percaya. Tapi kalau lo penasaran, lo bisa baca itu novel, lumayan buat hiburan.
"Udah ya, Ver. Gue gak mau dengar lo bahas novel apalagi cowok bajingan itu. Sekarang kita temui pak Dirman, nanya masalah kunjungan ke desa Badui."
***
"Jadi kapan berangkatnya, Pak?" Tanya Clara yang ditugaskan mengunjungi rumah sakit di daerah Badui, yang saat ini banyak dari masyarakat yang tinggal di sebuah desa yang sangat terpencil di sana terkena penyakit aneh. Dari pihak kampus mengusulkan beberapa mahasiswa dari beberapa tingkat untuk ke sana bersama pada dokter relawan dan juga dosen yang menjadi pembimbing mereka.
"Besok. Kloter pertama malah sudah berangkat. Kamu kemana saja beberapa hari ini tidak masuk hanya mengatakan izin ada urusan keluarga," ujar gurunya sedikit kesal pada Clara. Gadis itu salah satu murid yang pintar, terpilih untuk ikut ke sana tapi setelah menyatakan kesanggupannya justru menghilang.
"Maaf, Pak," sahutnya pendek sembari tersenyum kikuk.
"Nikah kali dia, Pak," celetuk salah satu dosen yang ada di ruang sekretaris jurusan.
Deg!
Jantung Clara berdetak cepat. Jangan sampai semua orang tahu kalau kalau dia sudah menikah.
"Kok kamu pucat? Ucapan pak Sugi benar, ya?"
"Hah? Gak lah pak. Saya belum menikah. Besok kan pak, berangkat? Saya akan datang on time. sampai ketemu di bandara, Pak," ucapnya pamit keluar.
Malamnya Clara sama sekali tidak keluar kamar. Angkasa sudah menunggu untuk makan malam bersama. Sebenarnya, Angkasa juga tidak tahu mengapa dia harus memperhatikan atau peduli pada gadis itu sudah makan atau belum, tapi saat ingin mulai makan, ada perasaan gelisah kalau tidak mengajak gadis itu.
"Cla..." panggilnya di depan pintu kamar gadis itu. Tidak ada sahutan, Angkasa memutuskan untuk membuka pintu dan mendapati gadis itu sedang memasukkan barangnya ke dalam koper.
"Kau mau kemana? Jangan bilang mau minggat?"
__ADS_1