
Angkasa terpaksa bangun kalau gak mau menjadi samsak atas kemarahan Clara. Gadis itu terus memukulinya dengan bantal hingga tidak mungkin melanjutkan tidurnya.
"Apa sih Cla?" Angkasa mengerjap, mencoba mengumpulkan nyawa.
Gadis itu turun dari ranjang, masih berbalut bathrobe yang bisa dia raih di dekat ranjang tadi.
"Apa? Apa kamu bilang? Dasar brengsek! Kamu sudah perko*Sa aku, sia*lan!"
Angkasa akhirnya mengingat kejadian semalam. Memandang ke arah gadis itu yang berdiri di depannya. Nah, kan kembali otaknya melayang memikirkan yang terjadi tadi malam. Angkasa tidak mengerti mengapa Clara segalak itu pagi ini, padahal tadi malam begitu lembut, begitu menggairahkan begitu... Buru-buru Angkasa menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran mesum di otaknya.
"Kenapa kamu geleng-geleng? Pasti lagi memikirkan hal jorok, kan? Kau pasti lagi membayangkan yang gak-gak, kan? Dasar benar-benar pria busuk. Kau pasti sudah mengambil keuntungan dan memaksaku tadi malam!" umpat Clara yang ingin sekali menampar pria itu.
"Cla, gak ada yang memaksamu. Justru kamu yang minta, kamu yang ingin."
"Cuih, kau kira aku percaya? Dasar penjahat kelamin, tukang tipu!"
Angkasa merasa geram sekaligus gemas pada wanitanya yang sangat keras kepala ini. Kapan pula dia memaksanya? Justru kalau mau dilaporkan, dia lah yang menjadi tersangkanya.
__ADS_1
Bukankah dia yang memaksa Angkasa untuk memuaskannya. "Aku benar-benar gak memaksamu, Cla. Ini buktinya," ucap Angkasa menurunkan selimut yang sejak tadi menutup dadanya. Pria itu yang telah mengenakan boxer sehabis bertarung semalam langsung memakainya.
Bola mata Clara terbelalak. Hampir semua bagian dada dan perut Angkasa dihiasi tanda merah bekas ciuman dan juga hi*sapan pertanda hasrat.
Siapa pelakunya? Bukan dia, kan? Dia tidak sebinal itu, kan? Tapi mereka berdua hanya ada di sana, lalu kalau bukan dia, siapa lagi pelakunya?
Wajah Clara memerah, malu tidak terperih. Dia kemudian memilih untuk mengungsi ke kamar mandi. Gerakannya yang cepat membuat daerah kewanitaannya kembali terasa sakit.
Clara memilih mengurung diri di kamar mandi dalam waktu yang lama. Dia belum sanggup melihat pria itu dengan tampang tidak merasa bersalahnya. Hingga gedoran di pintu membuatnya harus bergegas keluar.
Clara melihat banyak menu makanan terhidang di atas meja, tertata dan tinggal santap. Tanpa sadar dia menoleh pada Angkasa. Pria itu begitu baik dan perhatian padanya, patutkah dia mempercayainya?
Selama dalam perjalanan pulang, Clara mengunci rapat mulutnya bahkan menutup wajahnya agar tidak dilihat apalagi sampai diajak ngobrol oleh Angkasa.
Mereka tiba saat hari sudah sore. Sepanjang jalan Clara tidur dengan buaian lagi di telinganya. Sebenarnya pura-pura tidur dalam penerbangan yang hanya beberapa jam itu.
"Kamu lapar? Biar aku pesan, mau makan apa? tanya Angkasa menaruh semua barang-barang Clara di kamarnya dan kembali ke rumah depan.
__ADS_1
"Gak usah. Aku gak mau kau pura-pura baik sama aku!"
"Cla, kenapa sih kamu selalu kesal dan marah padaku? Berapa kali lagi aku katakan kalau aku menyesal atas masa laluku. Aku harus apa agar kamu mau memaafkanku?"
"Jangan berkata seperti itu. Nanti orang salah tanggap. Ini hanya pernikahan sementara, pernikahan kontrak, jadi tidak soal bagaimana kau memperlakukan aku atau pun sebaliknya."
"Kau mengingatkan lagi mengenai kontrak pernikahan itu. Apa hanya itu yang ada di benakmu? Bagaimana kalau dalam kurun waktu setahun ini kita saling jatuh cinta?"
Clara kehilangan lidahnya. Menatap pria itu penuh perasaan yang campur aduk. Segampang itu Angkasa mengatakan hal itu padanya, Bagaimana kalau dirinya sampai menganggap ucapan pria itu serius, dan benar-benar kembali mencintainya?
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi," jawabnya mempertaruhkan harga dirinya.
"Benarkah? Kamu yakin tidak akan jatuh cinta lagi padaku? Bagaimana kalau rasa benci itu aku hapus, aku gantikan dengan rasa nyaman dan penuh cinta?" Angkasa semakin mendekatkan tubuhnya pada Clara hingga gadis itu membentur dinding, tidak punya akses untuk pergi lagi.
Suara, de*Sahan napas Angkasa, menyapu kulitnya mengirimkan gelenyar hangat bahkan terasa membakar kulitnya. Wangi mint dari bibir pria itu seolah membawa memori tersendiri baginya, mengingat kalau dia pernah mencercap rasa mint itu langsung dari bibir pria itu.
"Minggir!" Clara yang hampir tenggelam, kini sadar dan merangkak ke tepi.
__ADS_1