Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 30


__ADS_3

Saat Angkasa tiba di rumah, dia tidak menemukan Clara. Bi Inem bilang gadis itu memang belum pulang dari kampus.


"Kau baru pulang? Ini minum dulu," Tiara datang membawa minuman untuk Paris yang duduk di ruang tamu.


"Terima kasih, tapi aku gak butuh." Angkasa mengambil tasnya lalu naik ke atas. Baru selangkah, Angkasa yang ingat kalau belum mengunci kamar, berbalik dan mengunci pintu untuk mengantisipasi wanita gila itu menerobos masuk.


Masalah pagi tadi saja belum selesai, dia tidak ingin menambah masalah dengan Clara lagi.


Clara tiba setelah habis magrib. Saat baru memasuki rumah, Tiara menghentikan langkahnya. "Cla, aku mau bicara."


"Apa?" Sambut Clara dingin.


"Aku mau bicara jujur padamu. Selama ini aku sudah menyembunyikan dari mu atau pun ayahmu. Sebenarnya, aku... aku dan Angkasa adalah sepasang kekasih. Aku terpaksa menikah dengan ayahmu karena paksaan orang tua," jelasnya dengan air mata pura-puranya. "Aku menyesal karena menyembunyikan hal ini dari ayahmu. Saat aku minta cerai, itu juga atas permintaan Angkasa. Maafkan kami, Cla. Aku sudah tidak bisa bersama ayahmu lagi."


Clara mengamati Tiara dengan tatapan jijik. "Aku sudah tahu kalau dulu kalian adalah mantan. Itu masa lalu."


Bola mata Tiara membulat, dia pikir selama ini Clara tidak tahu. Sejak Angkasa tidak bisa didekati, Tiara mengubah strateginya. Merusak kepercayaan Clara pada Angkasa hingga gadis itu benci, tapi ternyata dia yang terkejut karena Clara sudah tahu.


"Kamu sudah tahu? Sejak kapan?" Justru kali ini Tiara yang takut kalau Clara sampai menceritakan kebenaran itu pada ayahnya.


"Sebelum aku menikah dengan Angkasa. Jujur aku marah dan ingin memberitahukan pada papa, tapi karena Angkasa mengatakan kalau diantara kalian tidak ada hubungan apapun lagi, dan karena aku sangat mencintainya, aku memaafkannya. Sudahlah, Tiara, lupakan masa lalu. Kisah kalian sudah usai."


***

__ADS_1


Clara menaiki tangga dengan perasaan gembira, dia sudah berhasil meruntuhkan rencana licik Tiara.


Tok... tok... Tok...


Clara mengernyitkan keningnya, heran melihat pintu kamarnya di kunci dari dalam. "Mas, buka pintunya, kenapa harus dikunci, sih?" pekiknya terus mengetuk pintu kamarnya.


Dengan wajah baru bangun, Angkasa membuka pintu kamar mereka. Menguap dan setelah melihat Clara, pria itu melempar senyumnya. "Udah pulang?"


"Kenapa pintunya pakai dikunci segala?"


"Takut ada wanita jadi-jadian masuk. Nanti istriku salah paham lagi denganku."


Clara tidak menggubris ucapan Angkasa, hanya mengulum senyum geli, dan pastinya tidak bisa dilihat pria itu karena berada di belakangnya.


Clara menatap Angkasa. Dia percaya pada pria itu. Matanya mengatakan ketulusan, lagi pula setelah mendengar ucapan Tiara tadi, dia yakin ini semua akal-akalan Tiara.


"Aku mau mandi." Hanya itu yang diucapkan, tapi dengan nada lembut, sebagai bentuk tanda Clara tidak marah pada Angkasa.


Tiara tidak pernah melepas tanggapan kebenciannya pada Angkasa ataupun Clara. "Apa makanannya gak enak? Atau kamu kurang enak badan? Kenapa gak dimakan makannya?" tanya Agus yang memperhatikan piring Tiara yang isinya hanya diobok-obok wanita itu.


"Oh, gak papa, Mas. Kurang selera aja." Tiara kembali menyuap makanannya ke dalam mulut.


"Sayang, aku mau nambah nasi, dong," ucap Angkasa tersenyum pada Clara sembari menyodorkan piringnya.

__ADS_1


Clara yang membaca raut muka Angkasa, mengerti ke arah mana permainan yang ingin dilakoni suaminya itu. Tanpa instruksi, mereka melakukan pertunjukan di hadapan Tiara. Kemesraan yang mereka pertontonkan sedikit banyak membuatnya semakin terbakar api cemburu.


"Kalian mesra sekali. Papa senang melihat kalian kompak dan sebahagia ini," imbuh Agus yang membuat Angkasa tersenyum. Menarik tangan kiri Clara dan mencium punggung tangannya. Bola mata Clara membesar, Angkasa tampaknya terlalu menghayati perannya.


Tiara yang tidak tahan akhirnya undur diri dengan alasan kepalanya sakit.


***


Semenjak menunjukkan keharmonisan dan juga bersikap seolah mereka adalah pasangan yang saling mencintai, tanpa sadar peran itu semakin melekat.


Angkasa sudah hampir setiap hari menjemput Clara pulang kuliah dan Clara juga sudah rajin membawakan bekal makan siang untuknya.


"Lo gak takut, lama-lama beneran jatuh cinta sama istri lo?" tanya Rizal saat mereka duduk di sebuah cafe. Clara mengatakan dia ada kuliah sore jadi akan pulang terlambat. Sembari menunggu waktu, Angkasa mengajak Rizal mungkin kopi bersama.


"Telat. Seperti gue udah jatuh ke sana!"


"Apa? Lo serius? Gila, akhirnya, ya lo bisa juga lepas dari cinta pertama lo," ujar Rizal ikut senang. Sejak awal pacaran dengan Tiara, dia tahu kalau gadis itu bukan pilihan yang tepat untuk sahabatnya.


"Sejak kapan?" Susul Rizal. Dia kenal sahabatnya ini adalah pria yang sulit untuk jatuh cinta, kalau dia mencintai Clara saat ini, artinya dia adalah gadis yang hebat.


"Gue juga gak yakin sejak kapan, yang pasti gue selalu ingin di dekat dia. Dan gue akan gelisah kalau jauh darinya atau membuatnya menangis. Tapi gue juga tahu, dia gak akan pernah bisa memaafkan kesalahan gue selama ini."


"Kata siapa? Lo belum coba dekati dia. Coba lo sentuh hatinya, gue yakin dia pasti bisa memaafkan lo. Ingat, dia pernah mencintai lo dengan segenap hatinya."

__ADS_1


Angkasa diam sesaat, menimbang ucapan Rizal. "Lo benar, mulai sekarang gue akan terang-terangan mengejarnya."


__ADS_2