
"Apa benar yang ayah dengar itu?" tanya Pak Geri ketika Whitney kembali ke rumah. Ayahnya itu begitu marah mengetahui kabar rencana pernikahan angkasa
"Ada apa, Pa? kepalaku pusing aku mau istirahat nih," ucap Whitey melanjutkan langkahnya menuju anak tangga.
"Kenapa kamu bisa santai mendengar Angkasa akan menikah dengan mantan istrinya? Apa kamu tidak keberatan akan hal itu?" tanya Pak Geri geleng-geleng kepala.
Ada yang aneh dirasa Geri, biasanya, putrinya yang selalu menggebu-gebu setiap membahas Angkasa, tapi kini seolah dia tidak peduli lagi apa yang terjadi dengan Angkasa.
"Biarkan sajalah kalau dia mau menikah, Itu pilihannya aku nggak peduli lagi!"
"Ada apa sebenarnya ini?" tanya ayahnya semakin heran kenapa tidak ada perlawanan mengenai keputusan Angkasa yang ingin menikah dengan wanita lain, sementara putrinya adalah tunangan pria itu.
"Angkasa sudah mengatakan semuanya, Pa. Tidak ada gunanya mempertahankan pertunangan ini karena dia tidak pernah mencintaiku dalam hati, jadi biarkan saja mereka bersama," ucap Whitey lemah.
"Lantas bagaimana denganmu? apa kau bisa menerima dengan begitu saja? mengakui kekalahanmu?" susul Geri.
Whitney diam untuk sesaat, menatap hatinya untuk tidak bersedih lagi. Dia lelah, sangat lelah karena menangis sepanjang waktu. Matanya saja sudah bengkak seperti zombi.
"Ini Bukan soal kalah atau menang, Pa. Ini soal hati. Aku sudah menyadari, apa gunanya tunangan seorang Angkasa Mahesa selama beberapa tahun ini, sementara aku tidak pernah dianggap jadi tunangannya? jadi lebih baik akhiri saja hubungan ini," ucap Whitey menutup dengan memberikan senyum yang menggambarkan luka di hatinya.
"Kalau kamu nggak jadi menikah dengan Angkasa, maka kamu harus menerima saran Papa untuk menikahkanmu dengan pria yang jauh lebih baik dari Angkasa," titah Gerry dengan tegas.
Di tahun pertama bertunangan dengan Angkasa, Geri yang melihat sikap dingin dan cuek Angkasa kepada putrinya sudah meminta Whitney untuk meninggalkan pria itu tapi Whitney yang sangat tergila-gila pada Angkasa menolak permintaan ayahnya dan tetap berusaha mendapatkan cinta pria itu.
__ADS_1
Demi membuat Whitney berpaling dari Angkasa, Geri bahkan mengenalkan anak temannya kepada Whitney, berharap dia tertarik kepada pria yang ia kenalkan dan melupakan Angkasa, tapi ternyata Whitney tipe yang setia, tidak menginginkan pria lain selain Angkasa.
"Papa, please jangan paksa aku, tolong pahami keadaanku, Pa. Aku Lagi terluka, lagi patah hati," ujar Whitney menghapus jejak air mata di pipinya.
"Papa nggak mau tahu, nanti setelah anak teman Papa kembali dari luar negeri, kamu harus sudah menikah dengannya. Beni itu pria baik, kamu juga sudah pernah bertemu dengannya."
Whitney jengah dengan semua keadaan hidupnya. Beni kata ayahnya? dia sangat benci dengan pria yang selalu memamerkan apa yang dia punya, seolah dengan harta dan kekayaannya akan membuat silau dirinya.
Whitney yang sudah sejak kecil hidup dalam keluarga berkecukupan tentu saja menganggap materi bukanlah hal yang wah lagi.
"Aku nggak mau, Pa. Berulang kali aku bilang aku nggak suka pada Beni, kenapa sih Papa memilih pria seperti itu untuk menjadi suamiku? Papa lihat 'kan sikap arogannya yang suka pamer dan selalu menunjukkan kelebihan yang dia punya? aku nggak mau," bantah Whitney berlari menaiki anak tangga.
Gari menggeleng-menggelengkan kepalanya, tidak mengerti harus bagaimana menghadapi putri semata wayangnya itu. Dia hanya berharap putrinya mendapatkan pendamping yang sepadan untuknya.
Sebenarnya tidak bisa juga menyalahkan Angkasa, karena dari awal pria itu juga mengatakan bahwa dia tidak mencintai dirinya dan dia juga sudah mengatakan dengan jelas sampai kapanpun tidak akan ada gadis yang bisa dicintainya selain Clara.
Tapi demi bersamanya, Whitney tidak memedulikan hal itu. Whitney memilih menjadi pendamping Angkasa walau hatinya sakit menerima perlakuan cuek daripada pria itu.
"Ya Allah, nasib gue kok tragis banget ya? Kenapa Engkau tidak memberikan pasangan yang mencintaiku dan aku pun mencintainya? ya Allah, jangan sampai Engkau menjodohkan aku dengan Beni, aku nggak mau, ya Allah, dia pria brengsek," desis Whitney.
Whitney duduk tegak di atas ranjangnya. Dia ingat, kalau melepas Angkasa adalah hal mulia, jadi dia memutuskan untuk memohon imbalan dari sang Maha Kuasa. " Aku 'kan sudah berbuat baik dengan melepas Angkasa, merestuinya menikah dengan Clara, jadi sebagai balasannya tolong kirimkan jodoh yang baik untukku, tapi jangan Beni juga ya Allah. Aku nggak mau," ucapnya sembari menghapus air mata di pipinya.
"Udah ah, aku lelah dari tadi siang nangis terus aku mau mandi aja." Whitney melangkah ke kamar mandi, dia akan menangis untuk Angkasa, tapi besok ia berjanji adalah hari yang baru baginya. Tidak ada lagi Angkasa dalam hidupnya, dia harus bisa melupakan pria itu.
__ADS_1
***
Sepertinya Angkasa tidak mau mengulur waktu lagi demi menyunting Clara kembali. Setelah 2 Minggu sejak mereka menjelaskan kepada Whitney, pernikahan mereka berdua kembali digelar. Kalau pernikahan pertama mereka menikah dalam kondisi terpaksa, demi ibunya Angkasa, pernikahan kali ini diadakan dengan begitu meriah. Semua keluarga, teman, sahabat dan sana saudara diundang. Angkasa ingin memamerkan istrinya yang sangat dia cintai itu.
Clara tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin dan pujian yang dia terima dari perias dan juga ibu tiri Angkasa membuat Clara semakin percaya diri melangkah keluar untuk bertemu calon suaminya yang sebentar lagi akan mengucapkan janji suci untuk kali kedua atas dirinya.
"Tante yakin, Angkasa tidak akan bisa memalingkan wajahnya darimu," ucap Gisel ibu tirinya Angkasa.
"Terima kasih, Tante," balas Clara dengan senyuman. Benar saja saat Gisel membawa Clara keluar, mata Angkasa terus tertuju kepadanya, menatapnya kagum dan penuh cinta. Debar jantungnya bahkan tidak bisa dikuasai, keringat dingin di tangannya yang basah karena gugupnya adalah bukti kalau perasaan Angkasa saat ini campur aduk.
Bahkan saat Clara didudukkan di sampingnya, semakin menggila saja debar jantung Angkasa, dia bahkan berpikir kalau Clara bisa mendengarnya debar jantungnya.
"Baiklah, sudah waktunya. Sebaiknya kita mulai acara ijab kabulnya," ucap penghulu kepada Andre yang dijawab dengan anggukan.
Angkasa yang begitu semangat mengucapkan janji sucinya berhasil mengucapkan dalam satu kali tarikan napas, tanpa ada satu kesalahan pun dan saat para tamu undangan dan saksi menjawab sah atas pertanyaan penghulu, keduanya dinyatakan sebagai suami istri.
Clara mencium punggung tangan Angkasa dan pria itu pun mencium kening gadis itu yang diabadikan oleh fotografer yang bertugas untuk meliput acara itu sampai selesai.
Acara pindah ke ruang resepsi. Sudah begitu banyak tamu undangan yang menghadiri dan memadati ruangan itu. Satu persatu tamu undangan menyalami mereka, memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka. Dari rumah sakit rekan dokter dan kepala rumah sakit datang memenuhi undangan Clara begitupun dari kolega Angkasa.
"selamat ya, semoga kalian bahagia," ucap Desta yang menyalami kedua pengantin. Pada saat menjabat Clara, Desta menggenggam tangan gadis itu lebih lama daripada Angkasa. Dia hanya ingin meyakinkan hatinya untuk ikhlas melepas gadis itu, lagi pula Clara juga tidak pernah menerima cintanya.
"Terima kasih sudah hadir dan mendoakan kami," jawab Clara.
__ADS_1