Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 35


__ADS_3

Clara baru saja selesai mandi, kala mendengar bel berbunyi. Dari nada bel yang ditekan berulang-ulang, Clara bisa menebak kalau orang yang berdiri di depan pintu apartemen sudah sangat tidak sabar untuk masuk.


Clara bergegas ke kamarnya, memakai pakaian seadanya agar bisa segera membuka pintu. Tubuh Angkasa demam kembali setelah sempat turun, tapi perawatan dari Clara sedikit banyaknya membuat pria itu membaik, dan saat ini Angkasa pasti masih terlelap, setelah Clara mengoleskan minyak ke tubuhnya, memijit apa kadarnya, hingga akhirnya bisa tertidur pulas.


Tampaknya Angkasa juga mendengar suara bel yang berulang kali ditekan, hingga keduanya bertemu di ruang tamu. "Siapa ya?" tanya Angkasa penasaran. Clara maju lebih dulu, membuka pintu dan tanpa dia duga orang yang kini berhadapan dengannya langsung menampar Clara.


Plak!


"Papa..." Clara memegang pipinya yang terasa berdenyut.


"Pa...." Angkasa yang terkejut segera menghampiri Clara, memeriksa pipi istrinya yang tadi ditampar mertuanya.


"Diam kamu, brengsek! Kamu kan yang menghasut anak saya untuk menentang saya? Kamu yang mempengaruhi dia untuk datang kesini? Ayo pulang!" Agus sudah menarik tangan Clara, hingga batas pintu, buru-buru Angkasa menarik tangan Clara.


"Dia tetap di sini, Pa. Dia istri aku, tempatnya ada di sisiku." Angkasa sudah tidak peduli lagi, yang dia tahu, dia harus mempertahankan Clara di sampingnya.


"Lepaskan. Ini anakku!"


"Dia istriku!" Gelegar suara Angkasa membuat Agus terhenyak hingga melepas tangan Clara. "Terserah kalau anda tidak percaya padaku, menganggap aku pria brengsek, tapi satu hal yang pasti, saya serius dengan Clara dan ingin membahagiakannya."


"Terserah kamu mau bilang apa, tapi yang pasti, saya tidak akan membiarkan anak saya hidup dengan pria brengsek seperti mu!"


Angkasa kembali menarik Clara dengan paksa.


"Papa lepas, Pa. Aku mau bersama mas Angkasa," pinta Clara memohon. Tapi Agus terlalu marah untuk mendengarkan permohonan anaknya.


"Saya bilang lepaskan istri saya, kalau tidak, jangan salahkan saya kalau bersikap kasar pada Anda!"


Clara yang melihat amarah Angkasa menjadi khawatir kalau sampai kedua pria yang berarti dalam hidupnya ini bertengkar karena masing-masing ingin mempertahankan dirinya.


Ayahnya tentu mempertahankan harga dirinya, tidak akan mungkin melepaskan dirinya. Jadi lebih baik dia yang mengalah lebih dulu.


"Mas, lepaskan tanganku. Biarkan aku pulang dulu ya," pinta Clara dengan linangan air mata.

__ADS_1


Angkasa menggeleng. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau sampai dia melepas Clara sekarang, dia akan sulit untuk melihat gadis itu kembali.


"Mas...." pintanya dengan bola mata sendu yang lebih dari suara hatinya memohon.


Angkasa tidak punya pilihan lain, melepaskan tangan wanita itu yang lebih memilih melepaskan tangannya. Sampai pintu tertutup, Angkasa masih berdiri di tempatnya dengan tatapan kosong dan hampa.


***


Angkasa menghabiskan malamnya di bar bersama Rizal. Dia tidak ingin sendiri karena pasti akan membuatnya semakin stres memikirkan Clara.


"Lo tenang dulu, kasih Clara waktu menjelaskan pada ayahnya seberapa penting lo untuk dia."


Sudah satu jam memberi nasehat pada Angkasa, tapi pria itu tetap memilih diam.


"Lebih baik gue pulang, kepala gue sakit!" Angkasa hendak berdiri tapi Rizal menarik kembali tangan sahabatnya itu.


"Gue antar."


"Gak usah, gue bisa sendiri!"


"Gue antar, Lo lagi mabuk, gue takut lo mengalami kejadian kayak gini, nih!" Rizal menunjukkan berita yang disertakan dengan foto di salah satu grup whatsap milik Rizal.


Bola mata Angkasa terbuka lebar kala melihat mobil yang separuh sudah dalam keadaan penyok, rusak berat. Rasa penasarannya membuatnya menggeser ke foto berikutnya hingga terlihat wajah Agus yang bersimbah darah mengucur dari keningnya.


"Clara!" Serunya berdiri, menyambar jaketnya dan berlari keluar ruangan. Rizal yang tidak paham, hanya berusaha mengejar Angkasa.


"Gue yang bawa!" Rizal sudah merebut kunci mobil Angkasa dan keduanya meluncur meninggalkan tempat itu.


Perlu satu jam untuk Angkasa bisa sampai di rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Angkasa mencari informasi mengenai kecelakaan yang dialami mertua dan juga istrinya, hingga mengubah rute perjalanan, dari tujuan utama tempat kejadian berbelok menuju rumah sakit.


Hatinya mencelos, seakan lompat dari tempatnya, tidak mampu lagi berpikir jernih. Bayangan wajah Agus yang terluka parah, membuatnya berpikir buruk terhadap keadaan Clara saat ini. Biasanya pengemudi akan lebih ringan lukanya dari orang yang di sampingnya.


"Maaf, saya mau melihat korban kecelakaan yang baru saja terjadi di daerah Kemang," ucapnya dengan napas tercekat. Kaki tangannya gemetar, seolah tidak mampu lagi menapaki lantai.

__ADS_1


"Anda siapa?" tanya suster yang kebetulan dia temui, yang tepat membawa Agus dan Clara ke ruang IGD.


"Saya suaminya suster."


Wanita itu hanya mengangguk, membawa Angkasa ke satu ruangan, namun tidak diperbolehkan masuk. "Bapak tunggu di sini, dokter sedang melakukan pertolongan."


"Tapi bagaimana keadaan istri saya?"


"Dokter yang akan menjelaskannya nanti, Pak. Saya permisi dulu," terang sang suster menekan tombol dengan jarinya hingga pintu terbuka. Hingga pintu kembali tertutup, Angkasa hanya bisa melihat dengan mata yang sembab.


"Cla... Dia pasti akan baik-baik saja kan, Zal?"


"Kamu tenangkan dirimu. Clara pasti baik-baik saja."


Dua jam menunggu, akhirnya dokter dan dua orang perawat lainnya ke luar dari ruangan itu. "Maaf dokter, bagaimana keadaan istri saya?"


"Bapak keluarga pasien yang baru masuk karena kecelakaan lalu lintas itu?"


"Saya suaminya, Dok."


"Bapak bisa ikut ke ruangan saya, biar saya jelaskan bagaimana keadaan pasien saat ini."


***


Tubuh Angkasa lemas mendengar keterangan dari dokter. Clara sudah menjalani operasi seizin ayahnya sebelum jatuh pingsan.


Operasinya berjalan lancar, bagaimana hasilnya harus menunggu pasien siuman lebih dulu.


Angkasa mengepal tangannya. Firasatnya terbukti, harusnya dia tidak membiarkan Clara pergi. Kini dia hanya bisa berharap istrinya itu segera sadar, dan dia bisa mengatakan kalau dia sangat mencintainya. Angkasa tidak akan melepaskan Clara lagi, apapun alasannya.


Tapi keberuntungan belum berpihak kepada Angkasa. Berhari lamanya, Clara masih belum siuman.


"Untuk apalagi kau meratapi gadis itu? Dia tidak akan pernah kembali. Apa kau tidak dengar apa kata dokter? Ada gumpalan di otaknya hingga membuat dia masih tidak sadarkan diri," ucap Tiara yang keluar dari ruangan Agus, mendatanginya hanya untuk menyiksa batin Angkasa

__ADS_1


Tapi sedikitpun Angkasa tidak termakan oleh omongan Tiara, yang membuat wanita itu semakin kesal. Dia pikir setelah melenyapkan Clara, Angkasa akan kembali padanya.


Semua rencananya gagal. Dia pikir dengan meminta orang menyabotase mobil suaminya di parkiran apartemen Angkasa, akan membuat kecelakaan itu sebagai pengantar ayah dan anak itu pada jurang kematian. Kecintaannya pada Angkasa, membuat Tiara menjelma menjadi iblis!


__ADS_2