
Angkasa datang menjemput Clara sore itu. Mata pria itu menatap tajam saat masuk ke dalam ruangan Clara, gadis itu sedang bicara dengan Desta membahas grafis kesehatan seorang pasien.
"Tuh, pawangmu datang," ucap Desta pelan sembari menyikut Clara agar menoleh ke belakang mereka.
Saat Clara mendapati suaminya sedang berdiri diambang pintu, Clara tersenyum lembut dan melambai mengajak Angkasa masuk.
"Apa masih lama? Aku sudah tidak sabar memelukmu dan bergelut bersama di ranjang," ucap angkasa dengan suara yang kuat sengaja agar dusta mendengar ucapannya
"Dasar gak tahu malu, kau menjijikkan! kau tidak perlu memanas-manasiku! Aku tahu kalian berdua saling mencintai lebih baik, aku pergi dari ruanganmu ini!" seru Desta pura-pura merajuk.
Clara hanya bisa yang tertawa melihat kelakuan kedua pria itu yang seperti anak kecil saling sikut.
Sebelum kembali ke rumah, keduanya sehingga ke swalayan untuk belanja. Angkasa ingin masak untuk Clara yang disambut gembira wanita ini.
***
"Kau yakin bisa mengiris bawang itu?" tanya Clara yang diminta Angkasa duduk dan hanya mengamati pria itu memasak.
"Aku pastikan kau akan mengakui kalau aku serba bisa, baik di ranjang atau pun di dapur," kata Angkasa menunjukkan kemampuannya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Angkasa setelah masakan terhidang dan mereka mulai menikmati makan malam, spaghetti penuh dengan cita rasa nikmat yang dihidangkan dengan penuh cinta kasih.
"Enak banget. Suami aku memang terbaik, Makasih ya Sayang udah dimasakin," puji Clara berkata jujur.
Selesai makan malam, keduanya bersama-sama membersihkan piring kotor lalu berpelukan menuju kamar.
__ADS_1
Malam itu begitu romantis bagi keduanya, terlebih bagi Clara yang diperlakukan sangat spesial. Angkasa memujanya tubuhnya dengan segenap perasaan pria itu, menyentuh setiap jengkal kulit Clara yang lembut terbakar oleh rangsangan Angkasa.
Malam panas pun tidak bisa dihindari keduanya. Pada awal permainan, Angkasa yang memegang kendali, dia yang lebih banyak berperan aktif menyalakan alarm gai*rah Clara.
Tapi seperti artikel yang Clara baca, tidak ada kata malu dalam kamus suami istri. Berdua bersama-sama menciptakan kepuasan bersama. Jadi, Clara memulai dari dirinya. Dia naik ke atas tubuh suaminya, bermain dengan lidah yang menjulur mencercap bagian sensitif Angkasa. Pria itu meng*rang kembali, membelai rambut Clara lalu menarik tengkuk gadis itu agar dia bisa melu*mat bibir menggoda milik Clara.
"Sayang...," ucap Angkasa dengan mata elangnya, memohon pada Clara agar menghentikan penyiksaan ini dan segera memenuhi keinginan inti Angkasa.
Gadis itu mengerti. Clara mengangkat tubuhnya, lalu seketika menjatuhkan dirinya ke pinggul Angkasa, membenamkan seluruh milik pria itu dalam dirinya, kalau mulai bergerak tipis-tipis.
Angkasa tidak bisa membuka matanya, dia menikmati setiap gerakan lentur Clara yang mematikan dan sangat nikmat.
Gerakan Clara semakin cepat seiring mengerasnya milik Angkasa dan semakin cepat hingga bukti ga*irah Angkasa meledak di dalam diri Clara. Gadis itu menutup mata memohon agar rahimnya bisa segera dibuahi.
"Sangat nikmat, terima kasih, Sayangku," bisik Angkasa dengan senyum kepuasan di bibirnya yang mengantarkannya dalam tidur nyenyak nya.
***
"Selamat pagi Angkasa, ini aku membawakan mu sarapan pagi," ucap Tiara yang sudah berdiri di depan Angkasa.
Angkasa yang tidak menyangka akan dihadang oleh Tiara, hampir saja jatuh terjungkal ke belakang. Tiba-tiba saja, Tiara menghalanginya di depan kantor memberikan rantang berisi makanan yang dia bawa dari rumah untuk Angkasa.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila? Untuk apa kamu membawa makanan itu? Aku nggak bisa menerimanya, itu buat kamu aja. Aku sudah membawa bekal yang dibuat oleh istriku dari rumah," ujar Angkasa dingin, meninggalkan Tiara yang malu dilihat oleh sekuriti dan karyawan lain.
Mungkin selamanya Tiara tidak akan pernah bisa ikhlas melepaskan Angkasa, karena di saat ini dia sudah diberi kesempatan untuk berdekatan dengan pria itu, maka akan dimanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
Kalau dulu saja dia bisa memisahkan Angkasa dengan Clara, Tiara yakin dia juga akan berhasil kali ini. Tiara hanya cukup menjadi orang yang teraniaya dan selalu menyedihkan, hingga kedua orang tidak tega untuk menyingkirkan dirinya. Berpura-pura menjadi orang yang menyedihkan, hingga dia tidak dicurigai kala memecah belah mereka hingga pada akhirnya dia bisa mendapatkan Angkasa.
Saat tiba di depan pintu ruangannya, Angkasa yang kembali teringat kelakuan Tiara di bawah tadi segera menghampiri Rina, sekretaris. "Rina, tolong kamu temui divisi yang memperkerjakan Tiara, suruh mereka memberi wanita itu teguran agar tidak lagi mengganggu saya atau melakukan hal aneh yang membuat saya tidak nyaman," perintah Angkasa.
Siangnya Rizal mengajaknya makan siang bersama. Angkasa yang merasa bosan di kantor pun menyetujui permintaan sahabatnya itu. Tapi ternyata, itu bukan hanya makan siang biasa, Rizal tidak sendiri, dia bersama dua orang wanita yang ternyata adalah teman kuliah mereka dulu.
Reunian dadakan itu berlanjut hingga ke tempat karaoke. Mereka memesan kamar VIP agar bisa lebih nyaman saat berbincang mengenang masa-masa kuliah dulu.
"Aku nggak nyangka kalau kamu sudah nikah," ucap Rere gadis, yang dulu sempat naksir padanya.
Angkasa yang mendengar hanya tersenyum. "Tidak selamanya Arjuna berkelana mencari cinta, dia pasti menemukan tambatan hatinya, kan?" ujar Angkasa penuh bangga. Dia sangat berbangga hati bisa mendapatkan istri secantik Clara yang juga seorang dokter bedah saraf.
"Jadi kamu mau bilang, kalau sekarang kamu jadi suami yang setia?" kali ini Katy yang memancing Angkasa.
"Tentu saja aku suami setia dan sebentar lagi aku berharap istriku segera hamil agar keluarga besar kami menjadi sempurna dengan hadirnya bayi kecil yang lucu." Ucapan Angkasa itu bukan semata-mata hanya isapan jempol, karena setelah tadi malam bermimpi, seorang anak kecil mendatanginya dan tersenyum padanya, membuat perasaan Angkasa paginya, tiba-tiba saja ingin memiliki seorang putra.
Dia ingin bisa bermain dan membahagiakan anaknya. Menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya, hingga masa tuanya.
Angkasa berjanji dalam dirinya, apa yang dialami dari ayahnya tidak akan pernah dirasakan anaknya. Dia akan menjadi ayah yang selalu ada untuk anak-anaknya nanti, agar setelah dewasa anaknya tidak benci kepadanya seperti dia membenci ayahnya waktu itu
"Aku salut dengan keputusanmu menikah. Biasanya sih CEO yang sukses, menikah adalah hal terakhir yang akan dilakukan dan biasanya itu pasti dilakukan saat dia berumur 50 tahun."
"Aku justru berharap bisa lebih cepat bertemu dengan istriku, agar kami bisa menikah lebih cepat," terang Angkasa. "Sejujurnya, aku sangat takut kehilangan istriku, bagiku, dia adalah segalanya."
"Secantik apa sih istrimu? apa dia lebih seksi dan lebih menggai*rahkan dibandingkan aku?" ucap Rere yang sudah bangkit dan duduk di samping Angkasa.
__ADS_1