Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 40


__ADS_3

Suara pria itu mengagetkan Clara hingga menoleh ke belakangnya. Vera yang bersama gadis itu hanya bisa mengangguk lemah pada Angkasa. Dia bertemu beberapa wanita lalu dengan Vera dan menceritakan masalahnya.


Beruntung wanita itu mengerti hingga ikut membantu Angkasa. Vera senagaja pamit dari hadapan mereka berdua. "Gak usah pergi, Ver, lo tetap di sini," ucap Clara. Saat baru masuk kuliah, Vera yang tidak tahu kejadian kecelakaan Clara, hanya coba memahami ucapan Angkasa yang mengatakan jangan memaksa Clara untuk mengingat semuanya.


"Gue tunggu di kelas aja, ya." Tanpa menunggu lebih lama Vera meninggalkan mereka. Gadis itu tahu sebelum hilang ingatan, Clara sangat mencintai Angkasa, jadi sebagai teman yang baik yang kebetulan jadi saksi cinta mereka, memilih untuk memberi kesempatan bagi keduanya.


"Apa yang mau kau bicarakan lagi? Aku gak sudi ngomong dengan mu!" Clara memasang wajah jutek bahkan tetap membelakangi Angkasa. Pria itu harus berusaha memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Clara.


"Cla, aku mohon dengarkan aku. Mungkin saat ini kamu gak ingat padaku, tapi percayalah, aku adalah suamimu, dan dalam hatimu ada cinta untukku. Aku sadar, niat awal mendekatimu tidak baik, tapi setelahnya, aku justru merasakan cinta padamu."


Amarah Clara memuncak. Bisa-bisa pria itu mengatakan kalau dia mencintainya sementara tadi malam Clara jelas mendengar ucapan Tiara.


"Kau menjijikkan. Kau bisa berkata seperti ini, sementara kau adalah kekasih Tiara, dan bukankah kalian dulu hampir memiliki anak?"


Mengingat peristiwa semalam, dada Clara kembali sakit. Dia tidak menyangka kalau pria yang mendatanginya waktu itu, yang mengaku suaminya justru bermain api dengan ibu tirinya.


"Kau salah. Itu adalah akal-akalan Tiara agar ayahmu menceraikannya. Aku gak pernah tidur dengannya, sejak dulu masa kami bersama hingga saat ini. Aku mohon percaya padaku."


"Hanya orang gila yang akan percaya ucapanmu. Aku sudah dengar alasan Tiara yang meminta cerai dari ayahku hanya karena ingin menikahimu!"


"Clara, satu-satunya jalan agar wanita busuk itu tidak lagi memanfaatkan ayahmu dan menjadi duri dalam hubungan kita, aku terpaksa bersandiwara. Aku mengatakan akan kembali padanya asal dia mau bercerai dengan suaminya, papa kamu."

__ADS_1


Tatapan marah dari Clara membuat Angkasa serba salah. Bohong salah, jujur juga makin salah.


"Tega kamu ya merusak kebahagiaan papaku?" bentak Clara berdiri dari duduknya.


"Aku terpaksa. Aku hanya ingin menyelamatkan om dan juga kamu. Untuk apa dia hidup dengan wanita munafik, yang hanya memanfaatkan harta papamu dan juga memanfaatkannya untuk memisahkan mu dariku."


Clara masih tidak mau dengar, dia beranjak berjalan meninggalkan Angkasa. "Cla, coba dengarkan aku, dia ingin memisahkan kita. Apa kamu pikir aku gak menyelidiki kecelakaan yang terjadi padamu dan om Agus? kamu gak ingat, saat itu kamu ada bersamaku, lalu om datang dan membawamu pulang. Saat ke apartemen ku, kenapa mobilnya baik-baik saja, tapi saat pulang justru terjadi kecelakaan karena remnya blong seperti penuturan om Agus? Jelas ini ada campur tangan Tiara."


Langkah Clara terhenti. Dia memang belum ingat apapun juga, tapi ucapan pria itu masuk akal. Bagaimana mungkin mereka bisa tidak menyelidiki hal itu. Kalau dipikir-pikir berarti benar ada yang ingin membunuh mereka.


Melihat Clara yang tampaknya sudah mulai terbuka pikirannya, Angkasa semakin bersemangat. "Coba kamu pikirkan, saat pertama kali kamu sadar, dia berusaha menjauhkan ku denganmu, membuat seolah aku adalah pengaruh buruk bagimu, tapi kemarin malam, dia meminta cerai karena aku mengatakan mau kembali padanya. Coba kamu pikirkan, Cla, dia punya niat buruk pada kita."


Clara diam. Kepalanya sakit. Berdenyut hingga dia harus duduk dulu. Dia jadi bingung harus percaya pada siapa. Lagi pula kalau melihat penampilan Angkasa, tidak ada gunanya dia mendekati Clara kalau hanya ingin menjebak, karena Angkasa adalah pengusaha sukses


Angkasa sudah duduk di samping Clara, memberi gadis itu pijatan lembut di kepalanya. Lumayan, setidaknya Clara bisa sedikit rileks, tapi menyadari apa yang mereka lakukan, Clara pun menarik diri darinya.


"Aku gak tahu harus percaya pada siapa. Aku sama sekali gak ingat hubungan kita," ucapnya melembut. Clara sadar tidak seharusnya dia menghakimi pria itu. Bagaimana kalau dia memang dulu mencintai Angkasa?


"Aku akan bersabar menunggu ingatanmu kembali. Asal kamu percaya padaku. Aku akan buktikan pada papamu, kalau tuduhan Tiara itu bohong semua. Satu tujuanku sudah tercapai, yaitu ingin menjauhkannya dengan Tiara."


Tampaknya Clara sudah melunak. Dia bahkan mau diantar oleh Angkasa pulang walau hanya batas 200 meter dari rumah.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Clara membuka seatbelt nya dan berniat turun.


Angkasa ingin sekali menahan gadis itu, dia ingin memeluknya walau sesaat, tapi diurungkannya. Dia tidak ingin membuat Clara takut dan kembali berpikir macam-macam padanya, jadi dia memilih untuk mengangguk.


Pintu mobil sudah dibuka dan satu kaki Clara sudah turun. "Aku masuk dulu, makasih udah diantar."


Lagi-lagi Angkasa hanya mengangguk. Dia tidak boleh memasang wajah sendu, sejauh ini saja dia sudah berterima kasih. Clara baru saja berdiri dan akan menutup pintu mobil sebelum dia kembali menunduk untuk mengatakan isi pikirannya sejak tadi. "Aku akan coba mempercayaimu."


Itu adalah suplemen penambah semangat bagi Angkasa. Dia siap mengarungi samudra bertarung melawan kematian sekalipun asal Clara mempercayainya.


Tepat saat pria itu berlalu dari sana, ponselnya berdering. Senyum sini mengembang di bibirnya. "Ya, Sayang?"


"Kamu kemana saja, kenapa baru ini nomor kamu bisa dihubungi?" suara Tiara tampak kesal dan serak. Dia tebak, gadis itu pasti baru saja menangis.


"Maaf, aku tadi banyak pekerjaan hingga tidak melihat ponselku. Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?"


"Apanya yang baik, papaku datang menangkapku , membawa ku pulang ke rumah dan sial, kini aku dikurung!" Terdengar Tiara menarik cairan dalam hidungnya, bukti dia menangis sejak tadi.


"Ikutkan saja dulu apa mau ayahmu. Kamu diam di rumah, lihat apa rencananya, lalu kabari aku. Lusa aku kembali ke Jakarta."


"Sa, tapi benarkan ya, kamu akan menikahiku?"

__ADS_1


"Mana mungkin sih aku bohong." Angkasa menyeringai, sampai matipun dia tidak akan mau menikah dengan wanita gila ini.


"Lantas, perceraian kamu dengan Clara gimana? Sudah kamu urus?" desak Tiara. Dia tidak ingin memberi celah dan perpanjangan waktu untuk Angkasa mengulur waktu. Bisa gawat kalau nanti ingatan Clara kembali dan mereka masih belum bercerai, Clara bisa menolak bercerai dari Angkasa, karena Tiara tahu sejatinya Clara memang cinta pada Angkasa.


__ADS_2