
Kali ini Desta bersikeras meminta untuk mengantarkan Clara pulang ke rumah. Clara hanya bisa menuruti kemauan pria itu, karena merasa tidak enak. Suasana diantara mereka menjadi canggung sejak Desta mengungkapkan perasaannya kepada Clara.
Awalnya Clara pikir Desta hanya menggodanya, lantas Clara pun menyambut dengan balik menggoda Desta.
"Ya udah kalau gitu kita nikah aja," ucap Clara sembari tersenyum.
"Kapan kamu ingin aku melamarmu? besok? lusa?," sambar Desta yang membuat warna merah muncul di pipi Clara.
"Sudah ah jangan menggodaku lagi," kata Clara membuang muka.
"Aku tidak menggodamu, aku sungguh-sungguh menyukaimu dan ingin menikahimu, Cla."
Clara yang terkejut hanya bisa diam. Lidahnya kaku tidak tahu harus menjawab apa beruntung salah seorang suster menghampiri mereka mengatakan bahwa ada pasien yang memerlukan bantuan mereka.
"Panggilan datang," ucap Clara dari duduknya.
Kalau Clara berpikir akhirnya dia bisa bernafas lega karena terlepas dari pertanyaan Desta yang tidak pernah dia duga sama sekali, kali ini Clara justru tidak bisa bernapas sama sekali. Dadanya sesak, wajahnya pucat bahkan mulutnya terkatup saat melihat pasien yang harus dia tolong.
Dia jelas kenal siapa pria itu, tidak akan mungkin lupa walaupun ingatannya kembali hilang.
"Dok," ucap suster itu menarik Clara ke alam nyata, membuyarkan lamunan Clara yang bengong mengamati wajah kaku pria itu.
Angkasa berbaring di ranjang dorong dengan wajah penuh darah. Bahkan dari belakang kepalanya, darah mengucur deras.
"Ini pasiennya?" tanya Clara lebih seperti bisikan.
"Benar, Dok. Korban tabrak lari. Dia banyak kehabisan darah dan tidak sadarkan diri, Sok. Kita harus segera mengoperasinya."
Kaki Clara lemas, sungguh tidak bisa lagi menopang tubuhnya untuk berdiri lebih lama lagi saat tubuhnya akan roboh suster itu dengan cepat segera menangkap tubuh Clara dan memapahnya ke kursi yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Clara masih terus mengamati dari tempatnya, membingkai wajah Angkasa yang masih jelas dia ingat. Wajah pria yang sudah mengajarkannya arti cinta dan juga sebuah pengkhianatan.
Entah apa yang ingin alam semesta tunjukkan kepadanya, bertahun-tahun lamanya dia menghindari pria ini, tapi kini seolah ini adalah takdir hidupnya dia harus bertemu dengan Angkasa kembali. Ironisnya, tangannya yang akan menyelamatkan nyawa mantan suaminya itu.
"Dokter baik-baik saja?" tanya suster yang kembali membuyarkan lamunan panjang Clara.
"Saya baik-baik saja, Sus. Tolong bersihkan lukanya dan siapkan ruang operasi kita akan segera melakukan operasi. Mana keluarganya?"
"Keluarganya belum datang dokter, tapi pihak kepolisian sudah menghubungi. Mungkin dalam perjalanan," terang suster Wati.
"Are you oke? kamu terlihat pucat. Kalau kamu sakit biar aku yang menggantikanmu mengoperasi pasien itu," ujar Desta Saat memasuki ruang dokter.
"Aku baik-baik saja, Des. Serius, kamu nggak perlu khawatir aku bisa menangani. Hanya operasi kecil," jawabnya tersenyum.
Perlu waktu lima menit bagi Clara untuk menyiapkan hatinya. Dia pergi melalui pintu samping di dekat ruang operasi, hanya untuk menghirup udara segar, membiarkan udara itu melewati paru-parunya dan mengurangi rasa sesaknya hingga dia bisa bekerja dengan profesional. Setelah merasa dirinya siap, Clara mulai mengganti pakaiannya dan mempersiapkan diri memasuki ruang operasi.
"Dokter, Anda baik-baik saja?" tanya Wati mendekat dan menyentuh pundaknya. Wati juga membantu Clara untuk bangkit dan keluar dari ruang operasi itu.
Clara permisi ke kamar mandi, di sana dia menangis kembali tersedu-sedu. Sungguh perasaannya campur aduk, dipertemukan kembali dengan Angkasa. Tapi di atas semua itu dia merasa bersyukur bisa menyelamatkan hidup pria itu.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin bisa menghindari pria itu terus. Saat dia siuman, aku bertugas menjelaskan bagaimana keadaannya dan juga mengecek perkembangannya. Siapkan hatiku, Ya Allah untuk menerima kenyataan yang paling pahit sekalipun," batin Clara dengan isak air matanya. Dia tahu mungkin Angkasa sudah menikah dan dia bisa saja tidak sanggup bertemu dengan istri Angkasa.
"Dokter Clara, keluarga tuan angkasa ingin menemui anda. Mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter yang sudah menyelamatkan nyawa anggota keluarga mereka," ucap Wati menemui Clara di ruangannya.
"Baik, saya akan menemui mereka," jawab Clara.
***
Clara menarik nafas panjang lalu menghembuskannya sebelum memasuki ruangan kepala rumah sakit. Dia tidak tahu siapa saja yang akan dihadapinya di sana, yang jelas keluarga angkasa yang ada di dalam sana mungkin ada yang mengenalnya.
__ADS_1
"Selamat malam," ucap Clara menyapa orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Oh dokter Clara, silahkan masuk. Bapak Ibu, ini dokter Clara yang sudah mengoperasi tuan angkasa dan operasinya berhasil dengan baik. Kita tinggal tunggu pasien siuman," ucap dokter Tomo, kepala rumah sakit.
Desta yang juga ada di ruangan itu melirik ke arahnya dan merasa khawatir melihat keadaan wanita itu yang tampak kacau dan kelelahan.
"Clara," pekik pria bule, yang Clara ingat adalah Ayah dari angkasa. Semua orang yang di ruangan itu juga kaget ketika pria berumur hampir 60 tahun itu memanggil namanya.
Seorang gadis seusia Angkasa berada di samping pria itu yang ikut juga menatapnya penuh selidik. Tatapannya seolah ingin bertanya ada hubungan apa dirinya dengan keluarga Angkasa.
"Halo, Om. Apa kabar?" sapa Clara kikuk.
Andrew tidak langsung membalas sapaan Clara. Ayah Angkasa itu masih terkejut bisa bertemu dengan Clara di rumah sakit ini.
"Kamu yang sudah menyelamatkan Angkasa?" susah payah Andre membuka mulutnya. Clara hanya balas dengan anggukan hormat.
"Wah, ternyata anda dan dokter Clara sudah saling mengenal?" tukas dokter Tomo.
"Anda benar. Clara sudah seperti keluarga kami sendiri. Dia..."
"Om, tante mana?" potong Clara agar Andre tidak melanjutkan pembicaraannya. Clara tahu Andre ingin mengatakan bahwa Clara adalah mantan istri Angkasa.
"Waktu berlalu dengan cepat Clara, lima tahun lalu setelah kamu berpisah dengan Angkasa, mamanya meninggal dunia," terang Andre.
Sontak seluruh orang di ruangan itu kembali menyoroti Clara. Gadis itu sendiri terkejut mengetahui kabar bahwa ibunda Angkasa yang dulu begitu baik terhadapnya kini sudah menghadap Sang kuasa.
"Maksud Anda, dokter Clara dan tuan Angkasa pernah...." Dokter Tama tidak lagi melanjutkan ucapannya karena kini dia sudah mengerti situasinya.
Sementara gadis yang berdiri di samping Andre menatap tajam kepada Clara. Gadis itu bernama Whitney, dia adalah tunangan Angkasa. Dia juga sudah tahu mengenai masa lalu Angkasa yang sudah pernah menikah. Wajar kalau Whitney membenci Clara, karena dia masih curiga calon suaminya itu masih menyimpan rasa terhadap mantan istrinya yang sudah lama menghilang.
__ADS_1