Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 54


__ADS_3

Angkasa dan Clara masih betah meneruskan perang dingin di rumah tangga mereka. Keduanya merasa benar, keduanya merasa bahwa merekalah yang dirugikan atas sikap pasangan mereka.


Sepulang kerja, keduanya akan sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Angkasa akan mengurung diri di ruang kerjanya, sementara Clara juga akan menyibukkan dengan laporan catatan kesehatan pasiennya.


Saat tiba untuk makan malam, keduanya akan berkumpul di meja maka dengan hening. Layaknya dua orang asing yang kebetulan duduk di meja yang sama. Tapi Clara tidak akan mau mengajak Angkasa bicara lebih dulu, sebelum pria itu berjanji untuk membuang semua pengalaman yang dia simpan di laci nakas.


Kadang Clara merasa sedih kenapa pernikahannya baru hitungan hari sudah terbentur masalah yang panjang seperti ini. Dia merasa kalau dirinya gagal sudah menjadi sumber kebahagiaan Angkasa.


Angkasa mendatangi Clara yang sedang mencuci piring di wastafel, tapi baru mendekat ke arahnya, Clara yang sudah selesai mencuci piring terbalik keluar dari dapur menuju kamar tidur mereka. Angkasa ngomong napas kasar suaranya cukup diuji untuk menghadapi istri yang sedang ngambek.


"Sampai kapan kita diam-diam begini?" tanya Angkasa melipat tangan di dada.


Clara masih tetap diam, tidak menanggapi ucapan Angkasa, dia tetap fokus mengoleskan serum ke wajahnya dan mengamati dari air sudut matanya, Angkasa yang sedang memandangnya.


"Aku mau kita ngobrol, kita harus bicarakan apa yang kau tidak sukai dan apa yang tidak aku sukai agar rumah tangga ini bisa berjalan dengan baik," ucap Angkasa.


Merasa mendapat jalan untuk mengatakan apa yang mengganjal di hatinya, Clara pun mengubah duduknya menghadap ke arah Angkasa. "Baiklah, karena kamu mengajakku berdiskusi, mengajakku bicara, maka mari kita bahas," sambar Clara.


Wajah Clara menantang, dia menatap tajam ke arah Angkasa. Dia tidak ingin merasa terintimidasi hanya karena Angkasa adalah kepala keluarga dan dia hanya seorang istri, terbukti justru Angkasa yang gugup menatap istrinya.


"Ladies first," ucap Angkasa mempersilahkan Clara bicara lebih dulu.


"Aku ingin tanya mengapa kau tidak ingin kita segera punya anak," tanya Clara dengan nada datar.

__ADS_1


Aku kan sudah bilang alasannya kemarin, aku tidak ingin perhatianmu dibagi antara aku dan anak kita. Aku masih ingin berduaan denganmu karena kita masih pengantin baru, ingin menikmati bersamaan seolah kita masih pacaran. Kalau kita sudah punya anak tentu saja perhatianmu akan tersita lebih banyak pada anak dan rumah tangga kita. Kau akan mengabaikanku dan aku tidak suka itu! Aku ingin memberikan kebahagiaan di dunia ini untukmu, belanja dan memberikan semua apa yang kau inginkan, karena kalau kita punya anak tidak bisa melakukan itu semua," terang Angkasa.


"Pikiranmu terlalu sempit. Justru kebahagiaan kita kan lebih sempurna karena kita sudah mempunyai anak. Kita bisa membawa dia jalan-jalan bersama kita. Perhatianku tidak akan berkurang untukmu. Kita bisa mengambil orang untuk membantuku mengurus anak saat kamu membutuhkanku," terang Clara lembut. Dia bangkit dari duduknya, menarik tangan Angkasa dan duduk di tepi ranjang.


"Kalau kau mencintaiku, aku mohon, jangan pakai pengaman itu saat bercinta denganku. Aku tidak suka, dan perasaanku sedih karenanya," ucap Clara menangkup kedua pipi Angkasa dan mengecup bibir pria itu sekilas.


"Baiklah, Sayang. Aku akan menuruti keinginanmu, tapi kita jangan bertengkar lagi ya?"pinta Angkasa.


Clara hanya tersenyum sembari mengangguk. Senyum dan anggukan Clara sebagai penanda kalau mereka sudah berdamai.


Malam itu, Angkasa menunaikan kewajibannya, memberikan yang terbaik bagi Clara malam, yaitu hanya dengan dirinya tanpa mengikutsertakan pengaman di antara mereka. Dia percaya yang Maha Kuasa tahu kapan waktu yang tepat menitipkan anak pada mereka. Perdebatan ingin punya anak sekarang atau nanti, hanya akan menimbulkan pertengkaran di tengah rumah tangga mereka, hingga akan sulit menemukan kebahagiaan.


***


Clara sudah mengingatkan permainan mereka akan membuat keduanya terlambat, tapi Angkasa yang masih candu akan istrinya mengatakan akan bermain dengan cepat. Kenyataannya, tidak ada kata cepat dalam kamus Angkasa.


Beruntung pagi ini Clara tidak punya jadwal visit pasien jadi dia akan stay di ruangannya saja.


Selamat pagi, Pak ada seseorang menunggu Bapak," ucap Rina sekretaris barunya.


"Siapa, Rin?" tanya Angkasa


"Katanya teman lama Bapak. Saya juga nggak kenal, Pak, tapi katanya dia sudah buat janji dengan bapak. Itu orangnya, Pak," ujar Rina menunjuk arah sofa tempat para tamu menunggu Angkasa.

__ADS_1


Angkasa hampir saja tidak mengenali wanita itu melihat badannya kurus kering dan rambutnya, serta pakaian yang tidak terurus membuat Tiara tampak begitu mengerikan.


Angkasa yang tidak ingin bertemu dengan Tiara, meminta Rina untuk memanggil sekuriti untuk mengusir wanita itu. "Jangan pernah biarkan dia masuk ke gedung ini, apalagi berusaha untuk menemui saya!" perintah Angkasa.


"Tunggu Angkasa, aku mohon izinkan aku bicara sebentar saja. Aku tidak akan mengganggumu, sekali Ini saja," pinta Tiara.


Angkasa kembali berbalik menghadap wanita itu. "Apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin memohon pekerjaan kepadamu. Tolong beri aku pekerjaan, apapun akan aku kerjakan demi bisa menyambung hidup. Kasihani aku, Angkasa demi hubungan yang pernah ada di antara kita," ucap Tiara sengaja mengeraskan suaranya. Dia ingin membuat kesan bagi Rina, kalau dia bukanlah wanita biasa, dia punya hubungan di masa lalu dengan Angkasa.


Pekerjaan apa yang bisa kau lakukan? lagi pula Kenapa kau minta pekerjaan denganku? kamu kan masih memiliki suami," hardik Angkasa.


"Aku sudah cerai dengannya, Angkasa. Kau sendiri tahu, aku hanya istri sirihnya lagi pula kau sudah membeli perusahaannya, dia sudah bangkrut dan kembali ke kampung halamannya bersama istrinya, membuangku begitu saja," terang Tiara.


Angkasa sebenarnya tidak ingin berurusan lagi dengan wanita itu, tapi melihat kondisi Tiara yang sangat memperhatikan dia tidak tega. Bagaimanapun, wanita itu pernah mengisi hari-harinya dulu walaupun pada akhirnya perbuatannya sangat menjijikan.


Tiara 'lah yang membawanya keluar dari keterpurukan,menyelamatkan dirinya saat frustrasi ketika keluar dari rumah saat bertengkar dengan ayahnya yang menikah lagi. Tiara yang menyemangatinya, membuatnya kembali hidup saat itu, walaupun dia juga yang menghancurkan masa depan Angkasa.


"Rina tanyakan divisi mana yang kosong yang bisa menempatkan Tiara di sana, tapi jangan tempatkan dia di lantai ini!" perintah Angkasa


"Terima kasih, Angkasa. Aku akan mengingat kebaikan hatimu ini," ucap Tiara penuh rasa haru.


"Satu hal yang perlu kau ingat, aku memberimu pekerjaan bukan karena memikirkan apapun, tapi hanya karena kasihan melihat keadaanmu saat ini. Kau seperti gembel! dan satu lagi jangan pernah menginjakkan kaki di lantai ini atau kau akan kehilangan pekerjaanmu!" ancam Angkasa.

__ADS_1


__ADS_2