
Pilihannya yang diberikan Angkasa memang ada dua, tapi tidak satupun yang menyenangkan hati Clara. kalau dia memilih untuk tidak pergi, maka dia tidak akan mendapatkan nilai. Kalau dia memilih pergi, dia harus membawa pria itu ikut bersamanya.
Setelah menimbang dengan berat hati, Clara memilih untuk pergi dengan membawa Angkasa dengan beberapa persyaratan.
"Ingat, kau berada jauh dari ku. Kalau mau pantau dari jarak jauh. Jangan sampai dosen apalagi teman-teman ku tahu kalau kau itu... kau..."
"Apa?" desak Angkasa tersenyum. Dia tahu apa kelanjutan dari kalimat yang tertunda itu.
"Iih, dasar menyebalkan. Pokoknya, jangan sampai orang tahu kalau kita sudah menikah!"
***
Beruntung bagi Angkasa, tidak jauh dari tempat Clara melakukan kunjungan itu, terdapat hotel yang walau bukan hotel bintang lima, tapi nyaman untuknya beristirahat.
Sementara Clara bersama teman satu timnya yang ada tujuh orang, menginap di rumah warga di dekat rumah sakit. Selama tiga hari, mereka akan melakukan rangkaian kegiatan dan observasi mengenai kesehata masyarakat setempat dan penanggulangan penyakit yang baru-baru ini marak di daerah itu.
Kalau malam, Angkasa mungkin tidak bisa memantau Clara, tapi kalau pagi hingga berakhirnya kegiatan para mahasiswa kedokteran itu di sore hari, Angkasa bisa mengikuti mereka dengan berpura-pura menjadi pengusaha yang ingin meninjau lokasi proyeknya.
Clara dan teman-teman sibuk mencatat setiap yang dikatakan lihat puskesmas atau saat kunjungan ke rumah sakit daerah. Angkasa terus mengamati dan tidak pernah sedetikpun Clara jauh dari pengamatannya.
"Maaf, bapak dari kota juga? Dosen?" Sapa kepala desa yang menjadi wali mereka sekaligus menemani mereka di desa itu.
Karena ternyata para dosen dan dokter yang harusnya menemani dan mengawasi mereka akan datang di hari ketiga untuk melihat hasil kerja mereka.
"Bukan, saya investor yang ingin membantu pengembangan desa ini," jelas Angkasa berimprovisasi. Clara yang menyimak pembicaraannya dengan kepala desa sempat tersenyum karena pak kades berhasil membuatnya gugup.
Angkasa yang sempat melihat senyum mengejek gadis itu pun melirik tajam, dan berjanji akan membalaskan nanti.
__ADS_1
"Lihat gak, pria tampan yang ada di sana? gila ganteng banget. Dia pasti pria kaya raya, lihat aja penampilan. Mana ganteng banget lagi," ucap salah satu bidan desa yang saat itu bertugas memberi keterangan pada mereka.
"Iya, aku mau ngajak dia kenalan, siapa tahu kecantol sama kecantikanku," timpal temannya yang lain.
Anehnya, Clara yang mendengar hal itu justru tidak senang. Dia cemburu, tapi sekuat mungkin dia tepis. Clara mengalihkan pandangannya pada catatan medis seorang pasien.
"Cla, Lo lihat deh cowok cakep di sebelah sana, gila dia cakep banget. Udah beberapa hari ini gue lihat dia selalu ada di sini. Ini pertanda buat gue, mungkin dia jodoh gue kali, ya," ucap Lita yang tersenyum menggoda ke arah Angkasa.
Clara yang ikut jengah entah mengapa ikut melihat ke arah Angkasa dan tepat saat itu pria tengil itu pun tengah melihat ke arahnya dan tersenyum.
"Lihat kan, dia tersenyum sama gue. Duh, ganteng banget," lanjut Lita penuh percaya diri. Padahal jelas-jelas Angkasa melempar senyum pada Clara.
"Udah yok, jangan mikirin cowok melulu, pikirin nih tugas kita. Lagian, cowok kayak gitu aja didemenin," ujar Clara menarik tangan Lita.
Setengah jam berlalu, Clara pikir saat dia kembali ke pintu masuk utama rumah sakit itu, Angkasa sudah pergi, tapi dugaannya salah. Pria itu justru masih ada di sana, sedang berbincang dengan para dokter yang terlihat kecentilan padanya.
Walau Angkasa tampak bersikap biasa saja pada para dokter muda itu, tapi nyatanya Clara tetap menyalahkan Angkasa.
"Kita pulang sekarang, yuk?" ajak Clara, tapi Lita menolak karena ingin menyapa Angkasa. Clara semakin makan hati. "Gak bisa, gue harus bicara sama Casanova breng*sek itu!" umpatnya menendang batu kecil yang ada di halaman rumah sakit.
"Udah selesai tugasnya?" Sapa Bian, teman kuliahnya dan kebetulan satu angkatan dengan Clara. Bian yang sejak awal kepindahan Clara ke kampus itu sudah menunjukkan rasa tertariknya pada Clara, tapi karena Clara tidak punya perasaan padanya, terpaksa Clara sering jaga jarak dengan pria itu.
"Eh, kamu Bian. Udah, ini," ucapnya mengangkat map coklat tempat berkas yang tadi mereka salin.
"Kami juga sudah. Kita pulang bareng? Ada sungai jernih banget. Kita main ke sana yuk? Teman-teman yang lain juga udah ke sana. Aku datang buat jemput kalian berdua. Kita mana?"
Clara hanya menunjuk dengan pandangannya ke arah Lita yang mengajak bicara Angkasa
__ADS_1
Kami juga sudah. Kita pulang bareng? Ada sungai jernih banget. Kita main ke sana yuk? Teman-teman yang lain juga udah ke sana. Aku datang buat jemput kalian berdua. Kita mana?"
Clara hanya menunjuk dengan pandangannya ke arah Lita yang mengajak bicara Angkasa.
"Siapa pria itu? Dari kemarin aku lihat dia berkeliaran di dekat sini," tanya Bian yang penasaran pada Angkasa.
"Gak tahu. Udah kita gabung sama yang lain aja. Kita tinggalkan mereka," ucap Clara menarik tangan Bian yang dengan senang hati mengikuti langkah Clara.
Dari tempatnya, Angkasa tentu saja bisa melihat kepergian Clara dan tangan gadis itu yang memegang lengan Bian. Walau dia bicara dengan siapapun sejak tadi, ekor matanya tetap melirik ke arah Clara agar gadis itu tidak hilang dari pandangannya.
Angkasa sudah ingin beranjak, tapi kepala rumah sakit kembali mengajaknya bicara mengenai bantuan pengadaan alat-alat di rumah sakit yang mampu membantu para pasien di rumah sakit itu.
***
"Kenapa wajah lo cemberut, sih? Ada apa?" Tanya Bian yang sudah duduk di atas batu besar di tengah sungai, sementara ke empat teman mereka yang lain heboh mandi dan mengumpulkan batu-batu berbentuk indah dan aneh untuk dibawa pulang.
"Gak papa. Udah mandi sana," ucap Clara mencoba tersenyum dan mulai menyiram Bian dengan air sungai yang dingin.
Bian yang tidak terima lantas menyiram Clara kembali. Gadis itu berdiri, dan dengan sekuat tenaga, menyiramkan air ke arah Bian, lalu lari karena pria itu pun membalas. Saat saling siram dan mengelak, Clara terjatuh kakinya tersandung batu tajam hingga luka di lutut menganga dan mengeluarkan darah segar, sementara pergelangan kakinya pun keseleo. Clara meringis kesakitan dan dengan cepat dikerumuni teman-temannya yang sejak tadi asik mandi.
"Aku gendong naik ke atas, Cla," ucap Bian menawarkan bantuannya.
"Tidak perlu...," ucap suara tegas dari belakang mereka.
Sontak semua orang menatap Angkasa yang sudah berada di sana dengan wajah dingin dan tatapan taja.
Angkasa menyingkirkan tangan Bian, dan mengambil alih tempatnya untuk memapah Clara berdiri. "Naik..." Hardiknya jongkok di genangan air agar Clara bisa naik ke punggungnya.
__ADS_1