
"Papa apa-apaan, sih? Aku tahu Angkasa mungkin salah sudah menampar istri papa, tapi gak harus minta kami cerai juga 'kan, Pa?"
Napas Agus tampak baik turun masih menahan amarah. "Kalau hanya itu, mungkin papa tidak akan semarah ini. Kamu tahu kalau mereka ternyata... Mereka adalah mantan kekasih. Dia marah pada Tiara karena sudah menikah dengan papa, dan itulah alasannya menikahi kamu, ingin balas dendam pada papa, dan juga pada Tiara. Tapi masih belum cukup, dia memaksa Tiara untuk meninggalkan papa, Tiara gak mau, dan akhirnya menampar wajah ibu tiri kamu!"
Clara terkejut mendengar penuturan Agus. Pria itu benar-benar sudah dicuci otaknya oleh Tiara. Wanita busuk itu tega memutarbalikkan fakta.
Reaksi Angkasa justru berbeda. Dia malah tersenyum kecut, lalu berubah jadi tawa. Dia tidak menyangkal semua ucapan Agus, tapi ada beberapa bagian yang sudah jelas diubah wanita ular itu.
Katanya dia menampar karena wanita itu tidak mau kembali padanya? Dasar gila!
"Kenapa kamu tertawa?" Hardik Agus menatap tajam pada Angkasa. "Kamu lihat kan Cla, dia kalah malu karena sudah niat busuknya kini sudah terbongkar!"
"Cla, kamu harus percaya pada apa yang dikatakan papamu," sambar Tiara masih ingin memanas-manasi keadaan.
"Diam kau, dasar wanita busuk!" Umpat Angkasa mengepal tinjunya. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, tidak memikirkan sikap sopan santun pada Agus karena mengatai istrinya, yang dia inginkan saat ini adalah mencekik batang leher Tiara dengan tangannya sendiri.
"Kau mau menyangkal? Katakan di depan mas Agus dan Clara kalau niat awal mu mendekati Clara untuk balas dendam padaku dan juga pada suamiku?" tantang Tiara yang dia tahu Angkasa tidak akan bisa mengelak lagi.
Ayah dan anak itu diam sesaat menunggu jawaban Angkasa. Dia melihat bola mata Clara yang menatapnya, memohon agar dirinya tidak membenarkan ucapan Tiara.
Tapi Angkasa bukan pria yang munafik, yang tidak mau mengakui perbuatannya kalau salah. "Cla, aku bisa jelaskan," ucapnya mendekati Clara, namun Agus segera menghadang langkahnya.
"Katakan saja, biar anakku bisa dengar, dan sadar betapa buruknya pria yang sudah dia nikahi ini!"
"Mas..." suara Clara begitu pelan, menggambarkan rasa kesedihan dan kecewanya. Haruskah dia menambah luka itu. Tapi harga dirinya sebagai pria menegur hatinya untuk mengatakan kebenarannya. Kalau memang hubungan mereka mau dipertahankan, maka pondasinya harus kuat.
"Maafkan aku, Cla. Aku akui awalnya aku hanya ingin balas dendam, tapi sekarang aku benar-benar...."
__ADS_1
"Cukup! Tidak perlu lagi kau mengatakan apapun! Segera pergi, dan aku akan mengurus perceraian kalian!"
Kalau tadi Clara begitu frontal membela Angkasa, tidak kali ini. Ada bulir bening di bola matanya yang indah, dan itu buat perasaan Angkasa sakit. Dia sudah bersumpah akan membahagiakan Clara, tapi kini malah membuat wanita itu sedih.
"Cla... dengarkan aku..."
Agus sudah menyeret Angkasa keluar rumah dengan menarik bajunya. Sampai di depa pintu, pak Komar datang tergopoh-gopoh membantu majikannya mengeluarkan Angkasa dengan paksa.
Setengah berlari Clara lari menuju kamarnya. Memuntahkan semua kesedihannya dengan air mata. Hujan diluar sana kembali turun bahkan lebih deras dari sebelumnya.
Seolah mewakili perasaannya yang saat ini hancur lebur. Tangisan sesunggukkan berubah jadi jeritan tertahan.
Tiba-tiba petir menyambar. Dia begitu ketakutan. Dia suka hujan tapi tidak dengan petir dan suara gemuruh, yang nantinya listrik pasti bisa padam.
Dari tempatnya, di balik jendela kamarnya, Tiara dengan wajah penuh kemenangan juga tengah mengamati ke seberang rumah, melihat Angkasa dengan penyesalannya berdiri merenung di bawah guyuran hujan.
Suara gemerisik angin yang begitu kencang membuat gorden kamarnya terangkat dan matanya bisa melihat di luar sana, seseorang sedang berdiri menatap kamarnya, di bawah siraman hujan.
Clara berdiri mendekat, bersembunyi di balik gorden hingga Angkasa yang masih tetap berdiri di sana tidak melihatnya.
"Dasar bodoh, pulang lah, Mas. Jangan begini, kamu bisa sakit," gumamnya lebih pada diri sendiri.
Clara yang tidak tahan segera menghubungi nomor Angkasa untuk memintanya pulang, tapi ternyata suara dering ponsel pria itu justru bergema di ruangan itu. Dia baru ingat, pria itu tidak membawa ponsel atau apapun.
Clara segera turun setelah menyambar ponsel dan juga jaket jeans milik Angkasa.
"Clara, kamu mau kemana?" Tanya Agus yang masih setia memantau. Dia tidak akan masuk ke kamar kalau Angkasa belum juga pergi dari sana.
__ADS_1
Sampai kapanpun Agus tidak akan mengizinkan Clara menemui Agus lagi. Bila perlu, dia akan mengirim Clara kembali ke Sidney.
"Aku cuma mau kasih ini, Pa. Angkasa gak bawa apa, gimana dia bisa pulang."
"Sini, biar pak Komar yang kasih!" Sahut Agus setelah berpikir sejenak. Tapi Clara tidak mau, dia bersikeras ingin memberikannya langsung pada Angkasa.
"Papa bilang masuk ke kamarmu."
"Papa, dia suamiku. Imamku, aku masih jadi istrinya yang sah." Clara sudah berlari meninggalkan ayahnya, membuka pintu dan berlari ke luar tanpa memakai payung, hingga tubuhnya juga basah kuyup.
"Cla, kamu kenapa ke sini gak pake payung? Nanti kamu sakit," ucap Angkasa menguatkan suaranya ditengah bising air hujan.
"Ini, kamu pulang, Mas," ucap Clara menyerahkan jaket dan juga ponsel milik Angkasa yang juga sudah basah. "Aku mohon. Jangan seperti anak kecil, kalau kamu berdiri di sini juga tidak akan menyelesaikan masalahnya."
"Tapi kita harus bicara, Cla. Aku ingin menjelaskan semuanya dengan sebenar-benarnya. Aku mohon."
"Gak sekarang, Mas. Kasih aku waktu."
Angkasa mengangguk, dan berjanji akan pergi dari sana. "Masuklah, aku akan pulang. Kamu istirahat, jangan lupa segera mandi air hangat, kamu udah basah."
Tepat saat itu suara petir kembali menggelar, dan Clara yang kaget, spontan masuk ke dalam pelukan Angkasa.
"Jangan takut, aku ada di sini." Angkasa memilih mengantar Clara sampai depan rumah demi mengurangi rasa takut wanita itu, baru setelahnya pergi dari sana.
Malam itu Clara hanya bisa menghabiskan malamnya dengan air mata yang membasahi bantalnya, sementara bantal yang biasa dipakai Angkasa dia peluk erat, mengurangi rasa rindu, tapi juga kecewa di hatinya.
"Aku bahkan gak siapa yang harus ku percaya. Aku benci padamu, aku sakit hati, tapi mendengar papa ingin mengurus perceraian kita, mengapa hatiku rasanya gak terima? Kenapa sakit? Angkasa Mahesa, apa benar aku gak pernah ada di hatimu? Apa semua ini hanya bagian rencanamu? Dan bodohnya aku sudah memberikan hati dan juga tubuhku padamu!"
__ADS_1