
"Jadi ini yang kamu bilang kuliah tambahan?" suara yang menggema di belakang kedua insan itu berhasil membuat mereka terperanjat.
Wajah Clara pias. Dia menatap wajah Angkasa yang menatapnya tajam penuh amarah. "Kamu di sini?"
"Kenapa? Kalau aku tadi gak kemari, mana mungkin aku tahu perselingkuhan kalian!"
"Perselingkuhan apa?" balas Clara tidak terima.
"Aku melihatnya langsung, kalian berciuman!"
"Apaan sih, gak usah ngaco!" Clara bangkit dari duduknya begitupun dengan Bian. Sial memang bagi Clara, saat Angkasa datang menemui mereka di parkiran fakultas, Clara sedang meniup mata Bian yang kemasukan debu.
"Hei, Kau! Ada apa dengan dirimu, terus saja mendekati Clara?" Angkasa sudah menarik kerah kemeja Biar hingga membuat pria itu panik.
"Mas, lepasin Bian. Kamu mau apa sih?"
"Aku mau hajar anak ini biar mampus sekalian! Berani benar dia menciummu"
"Mas Kasa, lepasin. Gak ada yang ciuman, tadi ada debu masuk matanya dan aku cuma meniup matanya, kok!" Clara sekuat tenaga melepaskan tangan Angkasa dari baju Bian, setelah lepas justru Bian yang sok cari perkara.
"Kalau kamu dekat memang kenapa? Wajar kalau kami saling suka. Jangan sementang jadi kakak sepupunya, anda bisa sesuka hati membentengi Clara," protes Bian tidak terima.
Demi membela Clara dia berani melawan pria itu, walau tubuhnya lebih besar dari dirinya.
Kini justru Clara yang merasa takut, kalau sampai Angkasa terpancing emosi dan mengatakan kalau mereka bukan sepuluh melainkan suami istri.
"Sepupu? Kamu bilang sepupu? Aku ini..."
"Mas, kita pulang ya. Please...," ucap Clara memohon, menarik tangan Angkasa agar mengikuti. "Kamu pulang deh, Bian. Sampai jumpa lagi."
Angkasa masih marah, itu hal wajar. Dia dongkol bukan kepalang, Clara masih enggan mengakui hubungan mereka. "Kenapa belum jalan?"
Angkasa masih diam. Sedikitpun dia tidak ingin buka bicara. "Jalan, dong."
"Kamu gak ada niat buat minta maaf sama ku?"
__ADS_1
Clara menatap aneh pada Angkasa. Bingung atas perubahan pria itu akhir-akhir ini, yang seolah menunjukkan dirinya benar-benar peduli akan rumah tangga mereka. Seolah dia adalah suami yang menjalankan rumah tangga ini dengan rasa cinta pada sang istri.
"Kenapa aku harus minta maaf? Aku gak salah apa-apa. Harusnya, mas Kasa yang minta maaf, karena udah buat aku malu dan paling buruk memfitnah ku!"
"Kenapa kamu jadi playing victim sementara jelas-jelas aku yang melihat kamu lagi ciuman dengan bocah lemah itu!"
Kembali amarah Clara tersulut. Dia sama sekali tidak ciuman dengan Bian, dan dia juga udah jelaskan pada pria arogan berstatus suaminya itu kalau dia tidak ciuman tapi masih saja pria itu menganggap apa yang dia lihat adalah kebenaran.
"Udah ya, aku juga punya amarah. Aku udah berapa kali bilang, kalau aku gak ciuman. Apa perlu aku bersumpah?" suara Clara meninggi, dia ingin menyadarkan itu bahwa dia tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu.
"Tapi tadi yang aku lihat..."
"Aku cuma meniup debu karena matanya kelilipan kena debu. Terserah kalau gak percaya!"
Angkasa menoleh ke arah Clara, menatap wajah cantik yang kini berubah cemberut karena tuduhannya. Hening sesaat, lalu tiba-tiba suara perut Angkasa berbunyi.
Dia memang tidak makan siang tadi karena berharap bisa makan bareng Clara. "Kamu belum makan siang, Mas?"
"Udah tadi ngopi."
"Makan siang, Mas, bukan ngopi yang aku tanya."
***
"Mmmm?" sahutnya tanpa menoleh, tetap meneliti sayuran yang ada di kotak makannya.
"Lusa mama mau ke sini. Kita pindah ke apartemen dulu, ya?" pintanya lembut. Dia takut kalau sampai Clara menolak, pasti ibunya akan sedih. Dia tahu kalau Agus masih ingin di dekat putrinya, tapi tidak mungkin Angkasa hanya berdua tinggal dengan ibunya sementara Clara di rumahnya.
"Ya udah. Aku juga kangen sama mama," sahutnya tersenyum tulus.
"Kamu bersedia? Ingat loh, mama tahu kita saling mencintai, gak papa 'kan kalau kita satu kamar?"
Gerakan tangan Clara yang ingin menyendok kembali nasinya tiba-tiba terdiam. Benar juga, selama ini mereka tidur terpisah di apartemen Angkasa, bagaimana kalau sampai mertuanya melihat kamarnya sekarang?
"Gak papa, cuma, barang-barang aku?"
__ADS_1
"Justru karena itu, habis ini kita singgah ke rumah pindahkan barang-barangmu ke kamarku, kalau kamar itu kita kunci.
Seperti yang disepakati, keduanya mengunjungi apartemen Angkasa. Clara hanya mengambil beberapa barang yang dianggap penting yang dibutuhkannya nanti di kamar Angkasa.
Clara mengamati kamar mandi kamar tidur Angkasa. Dia tersenyum kala melihat sikat giginya yang diatur pria itu bersampingan dengan milik Angkasa.
"Sudah?" tanya pria itu yang ternyata sedang menunggunya. Clara hanya mengangguk, malu kala melihat tatapan Kasa yang melembut.
***
"Kalian kemana aja sih? kenapa baru pulang sekarang?" tanya Tiara menyambut mereka di depan pintu rumah.
"Memangnya ada apa?" tanya Clara panik, menerobos masuk melewati tubuh Tiara yang menghalangi jalan. Pikirannya tertuju pada yang ayahnya. Dia takut kalau penyakit Agus kembali melumpuhkan pria itu.
"Papa di sini? Papa baik-baik aja, 'kan?" Clara duduk di samping ayahnya yang sedang serius melihat siaran televisi.
"Baik, ada apa? Kenapa wajahmu pucat seperti orang ketakutan?"
Belum sempat menjawab, Tiara sudah ada datang bersama Angkasa di depannya. "Persediaan obat papa kamu habis, jadi harus diambil ke rumah sakit. Aku mau minta tolong sama Angkasa untuk mengantar ke rumah sakit, itu pun karena papamu yang suruh."
Angkasa dan Clara saling melempar pandangan. Mereka tahu kembali Tiara ingin mengambil kesempatan untuk dekat dengan Angkasa. "Bukannya kamu bisa pergi dengan sopir?" Protes Clara.
"Sebentar saja, Cla. Masa jauh beberapa menit dari suami aja kamu gak bisa. Sembari menunggu mereka, kamu bisa temani papa di sini. Kita udah lama gak ngobrol, 'kan?"
Clara tidak punya pilihan selain merelakan suaminya pergi dengan Tiara. Dia juga tahu kalau Angkasa juga merasa keberatan harus pergi dengan Tiara, tapi dia tidak punya pilihan lain, tidak enak menolak di depan mertua. Lagi pula ini untuk mengambil obat Agus.
"Aku pergi ya, Cla. Ucapnya memeluk dan mencium puncak kepala Clara mesra di depan Tiara dan juga Agus. Kalau menurut Clara sikap romantis Angkasa padanya itu palsu, tapi mengapa kata hatinya, itu semua tulus.
***
"Akhirnya kita bisa berduaan Kasa. Kamu gak tahu aku sudah lama menunggu hal ini." Tiara mencoba mendekatkan tubuhnya ke arah Angkasa yang sedang fokus menyetir.
"Kasa, aku belum makan. Kita makan dulu, ya?"
Angkasa masih tidak mau menggubris, hanya diam dan menganggap Tiara batu karang.
__ADS_1
Kesal karena tidak dianggap, Tiara membelokkan setir, hingga Angkasa gelagapan dan mereka hampir saja menabrak pembatas jalan. "Apa kau sudah gila?!" Bentak Angkasa panik.
"Iya, aku memang sudah gila. Aku gila karena cintamu!"