Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 38


__ADS_3

Angkasa menatap dengan senyum menyeringai, saat punggung Tiara yang berjalan ke arah rumahnya. Sejauh ini rencananya berhasil. Wanita itu sudah masuk dalam jebakan. Angkasa memberinya waktu dua Minggu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Agus.


"Tapi apa yang harus aku katakan padanya agar dia mau menceraikanku?" tanya Tiara bimbang. Dia masih bingung, bahkan sejujurnya dia belum yakin kalau Angkasa bersungguh-sungguh akan ucapannya.


Tapi kalau ingin membantah ucapan pria itu, dia pun takut kalau Angkasa tidak lagi memberinya kesempatan.


"Sayang, aku tahu kamu wanita pintar. Kamu pasti tahu cara mengatasi pria itu. Pikirkan hubungan kita," ucap Angkasa membelai pipi Tiara. Disentuh selembut itu oleh pria yang dia suka, tentu saja Tiara semakin yakin.


"Kau tidak pantas untuk dicintai siapapun. buruk hatimu akan membawa derita bagi orang lain," umpat Angkasa berlalu dari sana.


***


"Mas, aku mau bicara," ucap Tiara saat itu. Agus yang tengah berada di ruang kerjanya, melepaskan kaca mata dan meletakkan di atas meja kerja.


"Ada apa?"


Tiara menelan salivanya. Nyalinya menciut, ada perasaan tidak enak untuk mengatakan niatnya, terlebih kala melihat wajah memuja Agus padanya. Tapi apa yang dikatakan Angkasa benar, dia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang tidak dia sukai.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama Mas. Maaf, tapi aku gak bisa lagi bersama mas. Aku ingin cerai."


Agus yang ingin bangkit, kembali terduduk. Dia menatap tajam ke arah Tiara, mungkin wanita itu hanya bercanda atau bisa jadi dia salah dengar.


"Kamu ngomong apa sih, Tiara?"


"Aku ingin kita bercerai, Mas."


"Kau gila atau bagaimana? Apa yang kau bicarakan?"


"Aku serius, Mas. Maaf aku selama ini sudah mencoba berada di sisimu, tapi tetap tidak bisa. Aku gak mencintaimu. Dan selama ini aku masih bertahan juga karena permintaan papa. Aku ingin bahagia dengan pilihanku."


Wajah Agus berubah kaku. Baru tadi malam mereka bergumul di ranjang, dan sore ini Tiara sudah meminta cerai padanya.


"Jangan mempermainkan ku, Ra. Aku tidak suka. Kamu pikir bisa seenaknya pergi dari sisiku?"

__ADS_1


Agus sudah terlanjur merasa nyaman terhadap Tiara. Bahkan dalam hatinya sudah hadir bulir-bulir cinta yang semakin lama semakin kuat.


"Apa mas mau bersama wanita yang terus memikirkan pria lain?"


"Siapa pria itu?" hardik Agus, harga dirinya terluka. Selama ini dia menganggap Taira adalah dewi dalam hidupnya, nyatanya Wanita itu hanya siulan rubah betina.


"Mas gak perlu tahu, yang jelas, dalam kehidupanku, hanya ada pria itu. Dia adalah jiwaku."


"Kalau begitu, jangan harap aku akan menceraikanmu, jika kau hanya mengarang. Aku tahu, mungkin ini adalah gertakan mu. Apa yang kau inginkan? Uang? perhiasan? Aku akan berikan," ucap Agus menganggap itu hanya ancaman Tiara untuk meminta uang.


"Gak Mas. Aku minta cerai. Aku sudah gak peduli dengan uang dan hartamu."


"Begitu, lalu untuk apa kau menikah dengan ku? Apa kata ayahmu nanti jika dia tahu kau minta cerai padaku?" tidak ada lagi keramahan yang terlihat di wajah Agus.


"Aku tidak peduli. Aku sudah muak menjadi bonekanya."


Perdebatan terus terjadi, tanpa mereka tahu kalau di depan pintu ruangan itu Clara yang sejak tadi mendengar suara cekcok itu sudah berdiri di depan pintu, mendengarkan semua pembicaraan mereka.


Agus yang melihat kesungguhan di wajah Tiara, menjadi kalap. Dia tidak ingin melepaskan Tiara, terlebih alasan gadis itu tidak masuk akal. Ada pria lain yang dia cintai katanya? Sumpah demi apapun Agus tidak akan percaya. Itu hanya akal-akalannya saja.


"Begitu? Kasihan sekali kau pria tua bangka!" umpat Tiara kesal karena Agus tidak mengindahkan permintaannya. Dia tidak akan menyerah. "Kau sungguh menyedihkan, kau masih mau bersama wanita yang dulu sudah mengandung anak pria lain?!"


Duar!


Wajah Agus pias. Menatap tajam mata Tiara dengan emosi dan kebencian. "Apa maksudmu?"


Tiara sudah kehabisan ide. Dalam pikirannya, hanya tersisa keinginan untuk berpisah dari Agus. Begitu besarnya rasa cintanya pada Angkasa hingga dia tidak lagi memedulikan perasaan Agus yang selama ini sudah memberikan segalanya padanya. Bahkan ayahnya tidak jadi masuk penjara juga karena ditolong oleh Agus.


"Anak yang dulu aku kandung adalah anak Angkasa. Semua yang dia dan Clara katakan dulu adalah benar. Kami ini kekasih, Bahkan hingga saat ini. Jadi, aku minta lepaskan aku!"


Darah Agus mendidih. Dia ingin sekali membunuh Tiara saat ini juga. Benarkah selama ini sudah begitu jauh mereka membohonginya?


Di balik pintu, Clara yang tidak mengerti, tapi dibawa-bawa mencoba memahami. Tiara menyebut ada keterlibatan Angkasa, dalam hatinya bertanya apakah Angkasa yang dimaksud adalah pria yang mengaku suaminya?

__ADS_1


"Apakah yang pria itu yang jadi bahan perdebatan papa dan Tiara? Jadi pria yang mengaku sebagai suamiku, ternyata adalah kekasih Tiara? ibu tiriku?" pekiknya dalam hati, benar-benar terkejut.


Plak!


Terdengar suara tamparan yang begitu keras dari dalam, Clara sampai terkesiap menutup mulutnya. Dorongan untuk masuk ke dalam menjadi lebih besar.


Begitu pintu dibuka, keduanya manusia itu sedang berhadapan seolah ingin saling membunuh.


Di dalam ruangan itu Tiara memegangi pipinya dengan penuh luka dan benci pada Agus.


Begitupun sebaliknya, Agus menatap Tiara dengan sorot membunuh. Harga dirinya benar-benar diinjak oleh keduanya.


"Kau menjijikkan! Baiklah, aku pun tidak sudi memelihara rubah betina seperti mu! Dengarkan, Tiara Binti Ahmad Burhan, aku talak tiga kau malam ini!"


Bukan sedih, justru senyum mengembang di bibir Tiara. Kini dia sudah bebas dari ikatan dengan Agus. Terima kasih!" ucapnya dingin berbalik dan kini berhadapan dengan Clara.


"Apa yang kau katakan itu benar? Kau mengandung anak dari pria yang mengaku sebagai suamiku itu?"


Tiara gugup. Bagaimana kalau suatu hari ingatan Clara kembali? Apakah dia akan merebut Angkasa darinya?


"Benar. Dulu aku hamil anak Angkasa, dan sekarang kami ingin kembali bersama."


Plak!


Satu tamparan lain di pipi Tiara. Dia tidak tahu apakah itu untuk sakit hatinya atau untuk sakit hati papanya, yang jelas ada perasaan sakit di sudut hatinya mengetahui Angkasa pernah memiliki hubungan yang jauh dengan Tiara.


"Aku akan terima tamparan ini, bila perlu aku siap menerima lebih dari ini, yang terpenting kini aku bisa mendapatkan Angkasa!"


Tiara pergi dengan senyum kemenangan. Dia bergegas mengemas barangnya dan segera angkat kaki dari sana.


"Papa," ujar Clara mendekati ayahnya yang sudah terduduk di kursinya. Pria itu menunduk dan saat putrinya memegang bahunya, Agus mendongak memandangnya.


"Maafkan Papa, Cla. Harusnya dari awal papa tahu kebusukan mereka."

__ADS_1


"Sudahlah, Pa, tidak pantas ditangisi manusia breng*sek seperti mereka!"


__ADS_2