
Desta pria bijaksana memahami keadaan Clara yang tidak ingin mengatakan apapun padanya dipercaya akan ada waktunya gadis itu mau bercerita
"Kenapa? kok ngelihatnya gitu amat?" tanya Clara tersipu malu. Mereka sedang minum secangkir kopi di kantin rumah sakit.
"Nggak, kok. Hanya saja semakin penasaran, ingin mengenalmu lebih jauh lagi."
Clara hanya bisa terdiam, tertunduk malu mendengar ucapan Desta. Clara yakin pria itu pastinya sekali menanyakan mengenai masa lalunya bersama Angkasa, tapi dengan bijaksananya, dia bisa menahan lidahnya untuk tidak berucap.
"Gimana kalau kita hari ini pulang kerja kita pergi nonton?" tawar Desta.
Clara yang memang sumpek dan ingin merasakan udara segar menerima ajakan Desta.
Clara bisa melihat, sebisa mungkin Desta melakukan berbagai hal untuk membuatnya terhibur.
Selesai menonton, Desta mengajak Clara untuk makan dan setelahnya ingin mengajaknya ke cafe eskrim, tapi Clara menolak destinasi yang ketiga dengan alasan terlalu kenyang dan ingin segera pulang saja.
Desta adalah pria yang sangat baik, tapi dia tetap tidak bisa membuka hatinya untuk membalas perasaan pria itu.
***
Keesokan harinya suster mengabarkan bahwa Angkasa sudah siuman. Keadaannya sudah membaik dan saat ini sedang ditemani oleh keluarganya.
Sumpah demi apapun, Clara ingin sekali menjauh dan tidak bertemu dengan pria itu, tapi dia tidak bisa karena memang tugasnya untuk melakukan visit dan juga memberi penjelasan mengenai kondisi kesehatan pria itu saat ini.
Clara begitu gugup, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah pertemuan mereka yang pertama setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan setelah bercerai.
Setelah memantapkan hatinya dan berusaha mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup di depan Angkasa nanti, Clara masuk ke dalam ruangan itu dengan senyum membingkai di wajahnya.
Beruntung Clara melakukan visit hari ini bersama dua orang suster dan satu dokter yang sedang koas sehingga dia tidak terlihat terlalu gugup untuk menemui Angkasa seseorang diri.
__ADS_1
Begitu masuk, Clara melihat Whitney berada di sisi ranjang sedang menggenggam erat tangan Angkasa dengan erat.
"Selamat pagi," sapa Clara dengan senyum di bibirnya. Senyum terpaksa yang harus dilatih beberapa hari ke depan untuk ditampilkan di hadapan Angkasa. Dia harus terlihat gembira setelah berpisah dengan pria itu.
Angkasa yang melihat kedatangan para dokter yang dipimpin oleh seorang gadis yang dia kenal dari masa lalunya, membuat wajahnya terkejut. Dia bahkan berusaha untuk duduk namun, salah seorang dokter yang datang bersama Clara menahan dan memintanya untuk tetap rebahan agar bekas operasinya tidak berdarah lagi.
Dalam keterkejutannya, Angkasa hanya dia, menatap tajam wajah Clara yang masih berbicara pada Whitney perihal keadaannya. Sedetikpun Angkasa tidak melepaskan pandangannya dari wajah Clara, dia terus mengamati dan yakin bahwa wanita itu adalah mantan istrinya.
Whitney yang melirik Angkasa yang masih betah menatap Clara, hanya bisa menahan sakit hatinya, dengan tetap bersikap tenang. Clara harus menjelaskan keadaan Angkasa pada Whitney, karena hanya dia satu-satunya keluarga yang menunggu Angkasa.
"Baik, ada yang mau ditanyakan mengenai perkembangan kesehatan pasien?" ucap Clara memfokuskan pandangannya pada Whitney saja. Dia tidak mungkin sanggup untuk menatap wajah Angkasa.
"Tidak ada dokter terima kasih," jawab Whitney singkat.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."
"Bisakah kau menjaga matamu dengan tidak terus menatapnya saat aku ada di dekatmu? kau tahu betapa sakitnya hatiku melihat calon suamiku menatap wanita lain dengan begitu perasaan. Kau jahat Angkasa!" ucapan Whitney melepas genggaman tangannya
Angkasa tidak peduli dengan apa yang diucapkan gadis itu. Ini bukan salahnya, wanita itu yang berambisi menjadi tunangannya atas permintaan ibunda Angkasa sebelum meninggal dunia.
Benar adanya, Angkasa seharusnya berterima kasih kepada Whitney karena mau berpura-pura bertunangan dengannya, sehingga ibundanya bisa pergi dengan tenang.
Tapi tampaknya tunangan pura-pura itu dianggap ini sebagai keseriusan. Dia meminta pada ayahnya untuk menentukan hari pernikahannya dengan Angkasa.
Andre yang gembira karena anaknya kembali menata hati, menyetujui permohonan Ayah Whitney dan menetapkan tanggal pernikahan mereka, tiga bulan mendatang.
"Bagaimana?" tanya Desta saat Clara masuk ke ruangan para dokter.
Clara yang tidak mengerti arti pertanyaan pria itu, mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Apa? tanyanya balik, menaikkan sebelah alisnya.
"Pertemuan pertama kalian setelah sekian lama tidak bertemu. Bagaimana, Kau pasti gugup, kan?" goda Desta meletakkan segelas teh hangat beraroma jasmin, yang sejak tadi dia seduh dan ingin dia berikan pada Clara.
Clara hanya membalas dengan senyuman seraya menerima cangkir yang disodorkan Desta. "Kamu baik banget, sih udah buatkan aku teh hangat, tau aja aku haus," ucap Clara mengalihkan pembicaraan.
Sumpah, dia sendiri tidak nyaman membahas masalahnya dengan Angkasa. Clara memerlukan waktu untuk menata hatinya setelah pertemuan pertamanya tadi dengan Angkasa.
Desta yang tahu bahwa gadis itu ingin menceritakan hal apapun yang berhubungan dengan Angkasa, jadi dia tidak memaksa, Desta akan menunggu hingga Clara nyaman untuk bercerita padanya.
"Makan siang yuk? udah laper," ajak Desta yang diangguk oleh Clara.
Seperti kemarin, hari ini kembali Clara harus mengunjungi ruangan Angkasa untuk mengecek perkembangan kesehatan pria itu. Berbeda dari kemarin, hari ini lebih ekstrem, karena dia harus memeriksa tubuh Angkasa.
Clara berusaha untuk profesional. Dia meletakkan alat di dada Angkasa, mendengarkan debar jantung pria itu yang dari berdetak tiga kali lipat dari orang pada umumnya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Clara pamit, dan saat gadis itu berbalik, refleks Angkasa menangkap pergelangan tangannya. Angkasa yang tersadar, melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Clara pergi.
Tiba waktunya untuk Angkasa pulang dari rumah sakit. Dia memang minta segera pulang. Dia terus menunggu kedatangan Clara yang bertanggung jawab untuk memberikan suray izin dia pulang, namun penantiannya sia-sia, karena ternyata dokter lain yang menyampaikan kepadanya untuk mewakili Clara yang sedang tidak masuk karena sedang sakit.
"Kamu ke mana lagi?" tanya Whitney. Begitu mereka tiba di depan rumah Angkasa, mendapati pria itu menghentikan taksi yang kebetulan lewat.
"Aku ada urusan di kantor, kamu pulanglah. Terima kasih sudah mengantarku."
Hanya satu tujuannya, dia ingin menemui Clara dan ingin menanyakan banyak hal pada gadis itu.
Angkasa tiba di depan rumah yang dulu pernah dia tinggali berapa waktu lamanya dengan istrinya. Bertahun lamanya, dia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Namun, setelah kemunculan Clara, dia akan masuk dan mencari gadis itu. Jika Clara mencoba bersembunyi darinya, maka Angkasa akan menggeledah seluruh ruangan di rumah itu, sampai dia menemukan Clara dan meminta penjelasan dari gadis itu.
"Kau? Mau apa kau kemari?"
__ADS_1