
Rizal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat keadaan Angkasa yang masih terlihat bekas luka hajar di pipinya.
"Lo baik-baik aja? Apa ini oleh-oleh dari calon mantan mertuamu?" tanya Rizal masuk ke dalam, membuka kulkas dan mengambil sebuah botol yang berisi minuman dengan kadar alkohol rendah. Rizal memilih duduk di sofa. Tidak lama, pria itu melemparkan sebuah amplop ke atas meja.
Angkasa yang masih berdiri melihat sekilas ke arah amplop itu. Samar dia menangkap nama lembaga yang ada di pojok amplop. Rasa cueknya diawal berubah jadi antusias. Perasaannya tidak enak.
Dibukanya, lalu dibaca dengan seksama. Wajahnya pias, matanya membulat sempurna melihat ke arah Rizal. "Dari mana Lo dapat ini?"
"Dari ruangan lo. Gue nyariin lo tadi. Lo gak ingat kita ada meeting penting hari ini, tapi kata sekretaris lo, Lo nya gak ada, gak masuk. Begitu gue lihat ini amplop, langsung gue bawa kemari."
Sekali lagi Angkasa membaca isinya. Tidak ada yang berubah. Ada namanya dan juga nama Clara. Bahkan wanita itu sudah menandatangani surat perceraian itu.
Mata Angkasa nanar memandangi kertas itu. Sejurus kemudian dia melihat Rizal, seolah ingin bertanya pendapat pria itu.
"Itu asli. Dan lihat amplop satunya lagi," ujar Rizal seolah paham apa arti tatapan Angkasa.
Bergegas, dengan tangan gemetar dia membuka amplop yang masih tersegel. Itu surat tangan Clara. Di sana gadis itu menjelaskan keinginannya untuk segera berpisah dari Angkasa, dengan sadar dan tidak dibawah tekanan. Dia juga menitipkan suray untuk Angkasa.
'Angkasa,
Maaf jika surat ini mengejutkanmu. Tapi izinkan aku mengatakan apa yang aku rasakan dan ingin aku sampaikan padamu walau hanya melalui secarik kertas. Aku tidak bisa melanjutkan kembali pernikahan kita. Baik karena masa lalumu juga karena aku yang tidak kunjung mengingatmu. Aku ambil pilihan untuk melepasmu. Aku juga sudah bertemu seorang pria yang sangat baik, yang dikenalkan ayahku. Aku akan menikah dengannya dan ikut kemanapun langkahnya. Aku menunjuk pengacaraku untuk mewakiliku untuk mengurus perceraian ini. Tertanda, Clara Dinata.'
Angkasa meremas surat itu dan dilemparkannya ke sembarang tempat. Hatinya hancur. Dia sudah melakukan semuanya demi bisa bersama Clara. Mengorbankan dirinya agar Tiara bisa lepas dari keluarga mereka, inikah balasan yang pantas untuknya?
Dia ingin tidak percaya pada surat itu, tapi tulisan tangan Clara jelas menandakan dia yang menulis surat itu.
"Sudah lupakan dia. Lo harus bangkit, lihat apa yang sudah mereka berikan sama lo. Wajah lo babak belur, dan sekarang ditambah dengan suara cerai," ucap Rizal berpihak pada sahabatnya.
__ADS_1
Dia tahu tahu kalau sahabat itu salah, tapi masa tidak diberikan satu kesempatan lagi baginya memperbaiki kesalahannya.
"Lo pulang, Zal. Gue mau sendiri dulu. Gue butuh waktu memikirkan semua ini," balas Angkasa dingin. Hingga detik ini masih belum percaya kalau dirinya ditinggalkan Clara.
"Oke gue pulang. Tapi lo ingat, jangan gila sampe lo kepikiran buat bunuh diri!"
Selepas kepergian Rizal, Angkasa merenung. Memikirkan perjalanannya hingga hari ini. Memikirkan semua pengorbanannya, memohon pada Clara untuk memberinya satu kesempatan, tapi apa balasannya? gadis itu justru pergi meninggalkannya.
"Inikah yang kau mau, Cla? Inikah yang kau inginkan? Apa benar sedikitpun kau tidak ingin mengingatku kembali? Memberikanku satu kesempatan lagi?" ucapnya bermonolog.
Hari itu hingga malam tiba, Angkasa menghabiskan kesendiriannya dengan minuman. Berharap dia bisa lupa, dan besok ketika dia terbangun dia sudah melupakan penderitaannya.
Satu botol habis, lalu dengan emosi melemparkan ke dinding ruangan. Angkasa menghabiskan lima botol malam itu hingga bisa membuatnya tidak sadarkan diri.
Pada hari kedua, dia terbangun, berdiri memandangi wajahnya di depan cermin. Satu hal yang dia simpulkan saat ini, harga dirinya sudah diinjak-injak Clara dan juga Agus, lantas apa yang perlu dia pertahankan lagi?
"Baiklah Clara, kalau perpisahan yang kau inginkan, aku pun tidak menginginkan kebersamaan kita lagi. Cerai mungkin jalan yang terbaik buat kita. Enyahlah kau dari pikiranku!" ucapnya lebih ke udara, merosot ke lantai hingga menangis tersedu-sedu.
Saat Tiara mengkhianatinya, yang muncul hanya dendam dan ingin mengambil kembali Tiara yang dia anggap adalah miliknya. Hanya itu, hingga dia bersedia untuk menjebak Clara demi balas dendam pada Tiara.
Tapi kehilangan Clara membuatnya sadar, kalau selama ini dia salah, dan dia sudah tidak berhak mendapatkan maaf dari Clara.
Harga dirinya yang terasa diperko*Sa keluarga itu membuatnya bertekad untuk melupakan gadis itu.
Dengan kesadaran penuh, Angkasa menandatangani surat itu, dan meminta pengacaranya yang menangani untuknya.
Keesokan harinya Angkasa yang sudah menyimpan lukanya di dasar hati, memulai harinya. Masuk ke kantor dan menyibukkan dirinya dengan bekerja hingga bisa melupakan Clara.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu? Aku sudah mencarimu kemana-mana. Apa kamu mengkhianatiku? Jangan bilang kamu kembali pada Clara?"
Tiba-tiba saja Tiara muncul menghadangnya di parkiran kantornya. Dia melihat gadis itu, lalu tersenyum kecut. "Minggir, kau menghalangi jalanku," sahut Angkasa mendorong sedikit pundak Tiara.
Wanita itu tentu saja terkejut. Beberapa hari menunggu kedatangan pria itu di kantornya karena tempat ini yang dia tahu, tapi setelah bertemu, kenapa tanggapan Angkasa begitu dingin padanya?
"Kamu kenapa sih, Kasa?"
"Dengar, mulai sekarang, jangan pernah mendekati aku lagi, mendatangiku ke sini, atau pun mencoba mencari alamat rumahku."
"Apa maksudmu?" Mata Tiara sudah berkaca-kaca. Seminggu lalu dia dibebaskan ayahnya karena dia mengatakan pada ayahnya akan memberikan banyak uang karena pengganti Agus juga pria yang kaya, pengusaha sukses.
Awalnya Burhan tidak setuju, tapi karena Tiara memberitahu nama perusahaan Angkasa dan juga foto mereka yang dulu, Burhan pun setuju melepas anaknya. Hatinya sedikit terhibur, walau tidak jadi mendapatkan harta Agus, setidaknya pasangan anaknya saat ini adalah pria kaya juga.
"Maksudku, kau jangan lagi berharap padaku. Dulu kau meninggalkanku, sekarang aku yang meninggalkanmu. Sorry, tapi kau sudah tidak berarti lagi untukku," terang Kasa sedikit tidak berminat. Dia malas berhadapan dengan Tiara.
"Angkasa Mahesa, aku peringatkan kau! Jangan pernah mempermainkanku. Aku sudah mengorbankan segalanya, apapun yang kau minta sudah aku lakukan. Kau minta aku bercerai dengan suamiku, aku sudah lakukan, lantas apa lagi yang kurang?"
"Bercerai dengan om Agus sudah seharusnya kau lakukan, karena kau memang tidak mencintainya. Kau hanya memperalat dirinya untuk mewujudkan keinginanmu dan ayahmu. Jadi, dengan atau tanpa campur tangan ku, kau pasti akan meninggalkan setelah apa yang kau ingin bisa kau dapat."
"Brengsek kau, Angkasa. Aku bahkan sudah membunuh anakku dengan Agus demi bisa bersamamu. Aku mengaborsi darah daging Agus hanya demi bisa mendapatkanmu," ujar Tiara dengan lelehan air mata.
"Jadi, itu memang anakku, dan kau sudah membunuhnya?!"
*
*
__ADS_1
*
Gais, maaf agak muter dulu, ikutin aja alurnya. Aku ingin membuat mereka pisah dulu, lalu nanti bertemu, kembali menyatukan cinta mereka dengan perjuangan keduanya. Ini sampai akhir bulan end kok. Jadi jangan komplen, plis🙏🤭