
"Tampaknya kalian larut dalam pembicaraan yang seru, ya?" ujar seseorang yang sudah berdiri di hadapan Clara dan Desta. Keduanya tampak terkejut, tidak menyangka kehadiran Angkasa di hadapan mereka.
"Apa aku mengganggu kalian? tapi aku memang senjata ingin mengganggu," ujarnya menaikkan sebelah alisnya. Gaya tengilnya membuat Clara memutar bola matanya.
"Mas, kenalkan ini dokter Desta, Des, ini mas Angkasa," ujar Clara.
"Calon suami Clara!" sambung Angkasa dengan penekanan yang cukup otoriter.
"Aku tahu, Anda tidak perlu menegaskan hal itu. Selamat semoga kalian berdua bahagia," ucap Desta ngangguk hormat lalu mengambil ponselnya. "Aku duluan ya," selanjutnya lalu pergi ke sana.
"Mas apa-apaan sih? gak lucu tahu kayak anak kecil aja," ucap Clara cemberut.
"Aku cuma nggak ingin milikku diganggu orang lain," balasnya tetap mempertahankan mimik wajah Arogannya.
"Milik, Mas? memang siapa milik Mas?" tantang Clara.
"Tentu saja kamu. Kamu adalah calon istriku sudah takdirmu berada di sisiku. kemanapun kamu pergi bahkan ke ujung neraka sekalipun aku akan mengejarmu!" Mendengar ucapan Angkasa hatinya melambung mendengar hal itu.
"Memangnya urusan dengan Whitney udah selesai? tantang Clara. Dia tidak ingin masalah itu terus berlarut sementara mimpi-mimpi yang indah sudah dia rangkai.
__ADS_1
"Justru karena itu aku ingin mengajakmu menemuinya. Kalaupun nanti dia tidak ingin memutuskan pertunangan itu aku mohon kepadamu, pandanglah aku, lihatlah isi hatiku kita tidak mungkin menyenangkan hati semua orang. Kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain sementara kita menderita, kita berhak memperjuangkan kebahagiaan kita. Jika kita bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain tentu kita akan lakukan, tapi jika dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, justru kita yang menderita itu adalah tindakan bodoh dan aku yakin kamu bukan gadis yang bodoh," papar Angkasa menatap wajah cantik Clara.
Clara membenarkan apa yang diucapkan pria itu kembali dia ingat nasehat ayahnya, saat mengunjungi di luar negeri.
***
White tidak menyangka kalau hari ini Angkasa akan mengajaknya bertemu. Ini bagai mimpi, oleh karena itu, dia sudah berdandan secantik mungkin, berharap penampilannya bisa membuat Angkasa terpesona padanya.
Khayalan indah Whitney melambung jauh, dia pikir mungkin pada akhirnya Angkasa menyadari kalau hanya dirinya yang tulus mencintai pria itu.
Satu jam sebelum janji bertemu Whitney sudah tiba di kafe tempat mereka janjian. Di juga membawa bingkisan untuk diberikan kepada Angkasa. Selama mereka bertunangan, beberapa tahun ini, Angkasa sama sekali tidak pernah menganggap dirinya. Dia bahkan tidak pernah diajak keluar ataupun diapelin.
Whitney tersenyum sembari melambai ke arah angkasa kala melihat pria itu berjalan ke arahnya. "Duh, kamu ganteng banget sih, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku tidak akan mungkin mau melepasmu lagi," ucapnya bermonolog.
Akan tetapi senyum di bibirnya pupus seketika ketika dari belakang tubuh pria itu muncul sosok yang juga dia kenal. "Clara," desisnya tanpa sadar.
Jantungnya sudah mulai berdebar kencang, dia tidak tahu apa tujuan Angkasa membawa Clara untuk bertemu dengannya dan apakah mereka sudah baikan? mengapa mereka bersama berbagai? banyak pertanyaan muncul dalam pikiran Whitney, tapi dia tetap mencoba tenang. Satu hal yang menjadi senjatanya, saat ini dirinya masih tetap menjadi tunangan pria itu, artinya satu langkah lebih di depan daripada Clara.
"Kau sudah datang? sapanya kepada Angkasa dengan tatapan memuja, sementara pada Clara, jangankan menegur, dia bahkan tidak sulit untuk melirik ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Ya seperti yang kau lihat. Masih ingat dengan dokter Clara? Aku juga yakin kau tentu tahu siapa dirinya dan apa arti dirinya bagiku?" ucap Angkasa to the poin. Angkasa memang tipe pria yang suka bicara terus terang.
"Apa maksud dari ucapanmu ini?" Whitney mulai memasang muka judesnya. Sedikit banyaknya dia sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan digiring Angkasa.
"Maksudku adalah kita harus membatalkan pertunangan ini, karena aku akan menikah dengan Clara," terang Angkasa tegas. Tanpa sungkan, dia memegang tangan Clara walau gadis itu sempat menarik tangannya, namun Angkasa menatap tajam kepada Clara seolah memintanya untuk menurut.
ini melihat kemesraan yang coba dipamerkan oleh angkasa dia terbakar ingin sekali dia menyeramkan minumannya kepada wajah dia kalah tentu saja jika sudah berkehendak Terima kasih apapun tidak bisa menggagalkan keinginannya
"Whitney, aku minta maaf kalau kehadiranku, membuat hubunganmu dan Angkasa memburuk, tapi satu hal yang ingin aku katakan kepadamu lebih baik kita melepaskan orang yang tidak mencintai kita, karena jika kau tetap ingin mempertahankannya, maka hal itu akan membuatmu menderita. Aku dan Angkasa sudah pernah menikah tetapi kami berpisah hanya karena keinginan orang lain, nyatanya kami menderita. Dari situ aku banyak belajar bahwa memaksakan apa yang kita kehendaki tidak akan membuat kita bahagia. Aku bersikeras untuk meninggalkannya, pergi dari kehidupan Angkasa karena dulu menganggap diriku menjadi orang ketiga antara Angkasa dan mantannya, tapi aku salah. Dan kini saat Angkasa menunjukkan ketulusannya kepadaku, menunjukkan bahwa di hatinya hanya ada aku, maka aku pun aku memperjuangkan cinta kami," tutur Clara lembut.
Seketika suasana menjadi hening, hanya tangisan Whitney yang terdengar. Clara tahu, pada dasarnya Whitney adalah gadis yang baik, dia pasti akan mendapatkan seorang pria yang baik dan juga mencintainya tulus.
Rasa cintanya kepada Angkasa membuatnya bersikap over protektif, menganggap dirinya akan hancur jika berpisah dari Angkasa. Tapi seperti yang coba Clara jelaskan kepada gadis itu, dia masih muda bahkan lebih mudah daripada Clara, masa depannya masih panjang ada seseorang yang disiapkan untuknya yang pastinya akan mencintai Whitney setulus hati.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku jadi merasa bersalah kalau begini. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk waktu untuk kesediaanmu membantuku selama ini. Aku mungkin tidak tahu diri karena sudah memanfaatkanmu, tapi percayalah aku mendoakan yang terbaik untukmu. Aku bukanlah pria yang pantas untukmu, untuk kau cintai. Aku mohon mengertilah dengan keadaan ini," terang Angkasa yang tidak tahan juga melihat air mata Whitney.
"Apa itu sudah menjadi keputusanmu akhirmu? apa kau tidak mau memikirkannya lagi?" pinta Whitney memelas.
"Tidak akan ada gunanya, Whit. Seperti yang Clara katakan tadi, kau tidak akan bahagia jika hidup denganku karena aku tidak pernah mencintaimu. Hanya persahabatan yang bisa kutawarkan untukmu," ucap Angkasa melirik Clara, seolah minta izin kepada gadis itu untuk memberikan satu pelukan yang terakhir untuk Whitney, dan setelah melihat anggukan Clara, Angkasa segera menarik tubuh Whitey dalam pelukannya. Saat itu Whitey memuntahkan dukanya, dia tahu ini adalah kali terakhir dia bisa memeluk pria yang dicintai itu.
__ADS_1