
Berkali-kali Angkasa mencoba menemui Clara, tapi selalu tidak berhasil. Sebulan sudah berlalu, tidak sekalipun dia berhasil bertemu dengan Clara.
Tapi Angkasa tidak menyerah. Dia berusaha mencari celah untuk mengintai keberadaan Clara. Mata-matanya mengatakan kalau beberapa Minggu lalu Clara sudah dibawa keluar negri, guna memeriksa keadaan Clara, hanya seminggu dan kini mereka sudah kembali.
Ingin rasanya Angkasa membobol rumah itu, agar dia bisa masuk dan bertemu Clara lagi, atau dia ingin sekali menculik Clara, membawa lari gadis itu, tapi dia ingat ucapan dokter, untuk tidak memaksa Clara mengingat apapun dulu, karena jika dipaksa dia akan merasakan hantaman rasa sakit di kepalanya.
***
Setelah dua bulan tidak masuk kuliah, Clara yang sudah membaik keadaan fisiknya bersikeras ingin kuliah lagi. Agus sudah menugaskan beberapa anak buahnya untuk menjaga Clara yang menjauhkan dari Angkasa.
Dua hari setelah kuliah, Angkasa yang berhasil mengelabui anak buah Agus mendekati Clara dan meminta gadis itu ikut dengannya.
Tentu saja Clara menolak, tapi karena pria itu terus memohon dengan tatapan memelas, Clara setuju untuk ikut.
Taman belakang perpustakaan menjadi pilihan Clara menerima ajakan Angkasa.
"Katakan sekarang, kamu mau apa. Anak buah papa pasti akan mencariku."
"Cla, kamu benar-benar gak ingat padaku?"
Clara masih tetap dengan pendiriannya, tidak mengenal pria yang terus saja mengatakan kalau dia adalah suaminya. Ini lah sialnya, mengapa selama mereka menikah tidak ada satu pun foto saat mereka bersama. Setidaknya itu bisa menjadi bukti untuk meyakinkan Clara.
"Aku Angkasa, suami kamu, kita sudah menikah hampir setahun. Sedikitpun kamu gak punya gambaran tentang aku?"
"Dengar, papa dan Taira sudah menceritakan semuanya. Sebaiknya kamu jauhi aku. Aku tidak mungkin sudah menikah sementara aku belum selesai kuliah. Lagi pula, apa alasan aku menikah dengan mu, sementara kita baru kenal?"
Angkasa tidak punya jawaban untuk itu. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya menikahi Clara demi menyenangkan hati ibunya yang kala itu sedang sakit.
"Itu... "
"Sudah lupakan saja. Apapun jawabanmu aku tidak akan percaya. Lagi pula, kalau memang kamu adalah suamiku, harusnya hatiku berdebar saat melihat ku, walau aku lupa ingatan, tapi tidak mungkin hatiku juga membantu padamu!"
__ADS_1
Clara sudah beranjak, dia muak dengan ucapan pria itu. Tiara dan ayahnya mengatakan kalau pria itu memang ingin memanfaatkan dirinya, berpura-pura jadi suami hanya ingin hartanya.
"Kamu lebih percaya ucapan Tiara, wanita iblis itu dari pada aku? Baiklah Cla, kalau kamu gak percaya ucapanku saat ini, setidaknya berhati-hatilah dengan Tiara."
"Sekarang kau ingin mengadu domba aku dan Tiara? Dia itu sahabat ku, yang sudah menolongku," jawab Clara namun terselip rasa ragu atas pernyataan itu. Dia sendiri merasa tidak nyaman dengan Tiara. Ayahnya yang dulu sangat dekat dengannya, kini dirasa berbeda seperti orang lain.
Selama ingatannya belum kembali, Clara tidak akan percaya pada siapapun.
Angkasa hanya mampu melihat punggung Clara menjauh darinya. Dia tidak ingin memaksa Clara lagi. Dokter yang menangani Clara, akan memberitahukannya perkembangan wanita itu yang setiap Minggu mendatangi rumah sakit untuk kontrol.
Sekarang yang perlu Angkasa lakukan adalah mengubah taktiknya. Dia akan melindungi Clara dari kuku tajam Tiara. Apapun akan dia lakukan, walau nyawanya sendiri yang akan jadi taruhannya.
***
"Lo yakin akan melakukan hal itu?" tanya Rizal saat menemani Angkasa minum. Kali ini mereka minum di balkon apartemen Angkasa. Rizal yang khawatir karena Angkasa tidak mengangkat teleponnya, memutuskan untuk melihat sahabatnya itu.
"Sangat yakin. Hanya ini satu-satunya cara menjaga Clara yang saat ini dalam kondisi seperti ini."
Angkasa mulai menjalankan rencananya. Dia sudah tidak lagi mencari Clara, bahkan sengaja membuat kesan pada Agus dan Tiara kalau dia sudah menyerah pada gadis itu.
Kenyataan itu membuat Agus dan Tiara kini bisa tenang. Terlebih Tiara, dia begitu puas, karena menebak bahwa Angkasa sudah tidak tertarik lagi pada Clara.
"Mas segera urus perceraian mereka," ucapnya menarik selimut, menutupi tubuh polosnya dan memeluk Agus. Wanita itu selalu memberi umpan dulu setiap menginginkan sesuatu dari suaminya.
"Kamu benar. Aku akan segera mengurusnya nanti."
Tiara tersenyum, ini adalah saatnya dia untuk merayakan kemenangannya. Agus sudah terlelap, hingga dia bisa leluasa untuk mengeluarkan minuman beralkohol dari dalam lemari penyimpanan.
***
Beberapa anak buah sudah disebar oleh Angkasa untuk memantau pergerakan Tiara. Dia ingin membuat pertemuan mereka senatural mungkin.
__ADS_1
Tepat sesuai yang direncanakan, Tiara pergi ke salah satu mall untuk berbelanja. Dengan dua tote bag di tangannya, Tiara berjalan sembari memperhatikan etalase toko yang berjejer. Dari arah berlawanan, Angkasa berjalan sembari menelpon Rizal, yang lagi-lagi ada dalam rencana.
"Kasa..." pekiknya gembira, mengamati penampilan pria itu yang kini jauh lebih macho. Wajahnya terlihat semakin tampan dengan ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahangnya.
Pria itu diam. Dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dorongan ingin menjambak Tiara muncul begitu saja.
"Kasa, kamu apa kabar?"
"Baik. Gimana kabar kamu? Sendiri?" tanya Angkasa seolah tidak pernah terjadi apapun pada mereka.
"Baik. Aku sendiri, gimana kalau kita ngobrol di restoran itu?" tunjuk Tiara pada sebuah tempat makan yang diangguk oleh Angkasa.
"Kenapa lihatin aku?" tanya Angkasa mengangkat cangkir kopinya.
"Aku masih gak nyangka kalau kamu masih mau duduk bareng sama aku. Kamu tahu aku senang banget."
"Aku juga. Aku sudah lelah dengan semua pertikaian ini. Dia juga sudah tidak mengingatkan, jadi untuk apa aku teruskan? Aku menyerah pada Clara."
Itu adalah kabar yang paling menggembirakan bagi Tiara. Harapannya selama ini akhirnya terwujud. Apa lagi yang dia inginkan, hanya ini, bisa kembali pada Angkasa.
"Kamu serius?" tanya Tiara. Dia mencoba melihat apakah ini adalah sandiwara Angkasa.
"Serius. Apa kamu tidak tahu kalau aku tidak pernah mendekatinya. Aku sudah tidak peduli. Lebih baik aku lanjutkan hidupku."
"Aku senang kamu akhirnya sadar. Dia tidak pantas untukmu. Sa, apa kita tidak bisa kembali lagi seperti dulu?"
"Bukan aku gak mau. Kau tahu betul, kau adalah cinta pertamaku. Kembali padamu tentu saja menjadi impianku. Tapi Tiara, aku gak mau jadi simpanan mu. Aku gak mau disebut sebagai perebutan istri orang."
Tiara diam sejenak. Rasa gembiranya mendengar ucapan Angkasa membuat akal sehat Tiara hilang. Dalam pikirannya ini adalah kesempatan terakhirnya bisa bersama Angkasa. Dia tidak akan mau kehilangan pria itu untuk kedua kalinya.
"Apa yang kamu inginkan harus aku lakukan?" tanya Tiara sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Tinggalkan suamimu, kembali padaku!"