Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 23


__ADS_3

Clara tidak bisa menolak kala Angkasa membawanya pulang ke hotel setelah kembali ke klinik untuk mengobati lututnya. Sedangkan pergelangan kakinya yang keseleo, oleh istri kepala desa menyarankan untuk diurut oleh nenek kang urut tradisional di desa itu.


"Au... sakit..." pekiknya mencengkram baju Angkasa ketika rasa sakit itu datang setiap sang nenek mengurut kakinya.


Angkasa tentu saja tidak tega. Dia mengambil tangan Clara yang memegang bajunya, memindahkan ke tangannya. Angkasa ingin memberikan kekuatan yang dia punya pada gadis itu.


"Auuu.... sakit... udah, Nek." Air mata Clara bahkan sampai keluar karena merasakan sakit yang luar biasa.


"Bentar lagi, Nak. Ini hampir selesai," timpal wanita yang mungkin sudah berusia 65 tahun itu.


"Pelan-pelan, Nek. Kasihan Clara. Saya mohon, pelan-pelan ya, Nek."


"Ini gak bisa pelan. Memang harus begini biar urat-urat nya yang sempat keseleo bisa dikembalikan lagi."


Satu jam menahan rasa sakit, akhirnya masa penyiksaan itu berlalu juga. Tenaga Clara sudah sangat habis teriak, menangis dan juga bertahan saat diurut tadi.


Mereka kembali ke hotel. Pak kades sempat bertanya pada Angkasa, mau membawa Clara kemana, dan ada hubungan apa di antara mereka, karena dosen mereka menitipkan para mahasiswa itu padanya.


"Saya...."


"Dia Abang sepupu saya, Pak. Papa yang minta dia ikut buat jagain saya," sambar Clara menjelaskan sebelum Angkasa mengatakan yang sebenarnya.


"Oh, begitu. Jadi nak Clara sama tuan Angkasa ini menginap di mana?"


"Maaf, Pak. Biar Clara bisa beristirahat dengan nyaman, malam ini biar dia nginap di hotel aja," ucap Angkasa.


"Tapi besok pagi saya akan kembali ke sini lagi, Pak," imbuh Clara.


Semua temannya menyimpan banyak tanya tapi tidak satupun yang berani buka suara karena merasa bersalah terhadap Clara dan juga wajah tidak bersahabat Angkasa membuat mereka tidak nyaman.


"Kamu mau mandi? Biar aku bantu mandikan?"

__ADS_1


"Gak usah macam-macam deh!" Bola mata Clara melotot penuh waspada. Jangan-jangan pria itu mengajaknya menginap di sini karena punya niat jahat.


"Macam-macam apa? Aku cuma mau bantuin kamu. Pakaian kamu itu basah, belum lagi kau kesusahan untuk membuka. Kamu tenang saja, kalau aku memang menginginkan hal itu, aku pasti mendapatkannya karena kau adalah istriku, aku berhak walau akan melanggar kontak. Peduli apa pada kontrak. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Aku juga punya hati, kamu sedang sakit," ucapnya melipat tangan di dada. Gadis itu masih saja tidak percaya akan ketulusannya.


Clara merasa celananya, masih basah karena memang berbahan jeans pasti susah untuk kering di badan.


Clara diam. Dia jadi malu untuk meminta tolong pada Angkasa. "Buruan...!"


"Apa?" Tanya Angkasa menggoda istrinya yang super jutek itu.


"Bantuin buka. Tadi katanya mau bantuin." Angkasa hanya tersenyum samar. Bisa gawat dia sampai tertawa di depan Clara.


Angkasa hanya membantu membuka pakaian gadis itu, lalu mengisi air hangat di bathtub. "Sudah, kamu bisa mandi. Atau mau dimandikan sekalian?"


Clara tidak menjawab, menghempaskan pintu kamar mandi tepat di depan batang hidung Angkasa.


***


Clara terpaksa keluar hanya dengan menggunakan bathrobe. Pakaiannya semua tinggal di rumah pak kades, dan bodohnya dia sama sekali tidak ingat untuk mengambil pakaian sebelum pergi bersama Angkasa ke hotel.


Pandangan Clara langsung tertuju pada bungkusan yang dipegang pria itu. "Dari mana? Kalau mau pergi-pergi kasih tahu aku dong," ucapnya memonyongkan bibirnya. Sempat takut saat melihat Angkasa tidak ada di sana, sementara dia tidak memakai pakaian. Bagaimana kalau ada orang masuk?


"Aku pergi beli makan. Tadi aku sudah mengetuk pintu kamar mandi, permisi mau beli makan, tapi gak ada sahutan dari dalam, ya sudah aku tancap gas."


Clara jadi malu sendiri. Terang saja dia tidak dengar, selama berendam tadi, dia memakai earphone dengan volume full.


"Kamu sudah lapar?"


Clara yang kalah malu mengangguk lemah, tapi mana nyaman makan kalau gak pakai baju, belum lagi dia tidak memakai dalaman.


Seolah paham apa yang ada dipikiran Clara, Angkasa menyerahkan satu bungkusan lagi. Sebuah Tote bag kecil yang berisi pakaian dala*m.

__ADS_1


"Ini?"


"Semoga kamu suka. Aku hanya menerka-nerka ukuranmu karena belum pernah memegang."


Kalimat Angkasa mendapat pelototan lagi dari Clara yang membuatnya tertawa nyaring.


"Tidak ada yang menjual pakaian, itu juga aku beli di swalayan kecil yang ada di seberang hotel ini. Untuk pakaian, kamu pakai baju aku dulu. Pakaian mu tadi sudah aku kasih sama layanan laundry hotel ini."


Clara hanya diam, mendengar semua ucapan Angkasa. Pria itu begitu menjaga dan mengurusnya dengan baik. Siapapun yang melihat perhatian pria itu pasti berpikir kalau Angkasa sangat mencintai dirinya. Nyatanya, dia melakukan hal itu karena balas jasa, Clara mau menikah dengan Angkasa dan membuat ibunya bahagia akan hal itu.


Satu stel pakaian tergeletak di tepi ranjang. Kaos oblong putih kedodoran, dan juga boxer yang pastinya jadi celana pendek jika Clara yang memakainya.


Malu-malu Clara keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian Angkasa. "Sini, aku udah siapkan makan malamnya," sambut Angkasa menatap dewi malam secantik rembulan yang kini berada di depannya.


Clara gugup hingga tidak berani untuk melangkah lagi. Namun, tangan Angkasa yang menengadah memintanya untuk mendekat, membuat sedikit rasa gugup Clara seolah hilang.


Dia duduk di depan Angkasa, hanya beralaskan karpet kamar. Angkasa sengaja mengajak Clara makan dengan duduk di lantai, agar suasana makan malam itu lebih nikmat.


"Terima kasih," ucapnya pelan. Dia layak mengatakan hal itu, dan Angkasa berhak mendapatkannya.


"Untuk?"


"Semua yang kau lakukan untuk ku hari ini."


"Itu kewajiban ku. Selama aku menjadi suamimu, aku bertanggung jawab menjagamu, memastikan tidak ada orang yang menyakitimu, sekalipun orang itu adalah aku."


Seandainya kau melakukan hal itu karena mencintaiku, bukan karena balas budi atau pun karena janjimu pada ayahku...


Clara menepis semua pikiran sentimentil itu, tidak ingin larut dengan suasana.


"Buka mulutmu," ucap Angkasa sudah menyodorkan tangannya yang berisi makanan ke depan Clara.

__ADS_1


Gadis itu termangu, menatap heran pada Angkasa, tapi sorot mata pria itu seolah menghipnotis hingga tanpa sadar, Clara membuka mulutnya.


Clara ingin sekali menangis haru. Dia tidak berani menatap Angkasa. Dia bisa kalah. "Please, jangan terlalu baik padaku, nanti aku bisa lupa kalau ini hanya pernikahan pura-pura."


__ADS_2