
Whitney berjalan sempoyongan tanpa arah selesai pulang dari acara pernikahan Angkasa. Dia tentu saja datang bersama ayahnya menghadiri pesta mereka. Whitney tidak mau orang menganggap dia tidak ikhlas melepaskan, walaupun sebenarnya dia belum ikhlas sepenuhnya.
Langkahnya membawa Whitney ke sebuah bar. Dia berdiri di depan pintu melihat lurus ke dalam, hatinya sedang mendebat apakah lebih baik dia pulang saja atau singgah untuk minum segelas dua gelas.
Kata orang minuman bisa membuat kepala ringan dan beban terasa hilang seketika. Jadi dia putuskan untuk masuk, membeli minuman untuk membuatnya lebih rileks.
Saat Whitney masuk ke dalam, suasana bar di malam itu begitu ramai, banyak pengunjung yang bercerita, tertawa, bergembira hingga berjoget seolah mereka tidak punya beban hidup, padahal kenyataannya mereka hanya melupakan masalah itu untuk sesaat karena besok pagi setelah kembali sadar mereka akan mengingat kembali masalahnya masing-masing.
Whitney duduk di depan meja bartender dan memesan satu minuman yang tampak bening dan diberi satu buah ceri di dalamnya. Ia segera menyesap minuman itu. Aroma yang kuat dari minuman itu seolah membakar hidungnya.
Dalam satu teguhkan Whitney memindahkan rasa kecut dari minuman itu. Isi gelasnya sudah berpindah ke dalam mulutnya. Begitu melewati tenggorokan, terasa terbakar, dan sakit, namun minuman itu dapat membuatnya lebih rileks sehingga dia memesan kembali.
"Tampaknya Anda juga dilanda masalah," sapa seseorang yang duduk di sampingnya. Pria itu mengamati witney saat meneguk gelas pertamanya dan menebak dia adalah peminum amatiran karena wajahnya yang menunjukkan rasa kecut dari minuman itu tidak bisa dia tahan, lidahnya menjulur karena terasa terbakar.
Whitney yang tidak peduli dengan sapaan pria itu hanya kembali meneguk minumannya sampai habis.
"Hai aku berbicara kepadamu, tampaknya kau masih sangat muda. Apa umurmu sudah 17 tahun hingga diperbolehkan masuk ke tempat ini?" kembali pria itu mengajaknya bicara Whitey yang masih tetap tidak menanggapinya.
"Urus saja urusanmu, jangan mengganggu kesenangan orang karena kesenanganmu juga tidak aku ganggu, kan?" jawab Whitney jutek.
Bukan tersinggung atau menarik diri pria itu justru tertawa terbahak-bahak. "Aku tebak kamu pasti lagi patah hati, jangan bilang kalau kamu juga baru pulang dari pesta pernikahan orang yang kamu suka," ujar pria itu memperhatikan gaun pesta yang dikenakan Whitney.
"Dari mana kau tahu? kau benar aku mencintai pria bodoh yang ternyata lebih mencintai wanita lain. Dia sama sekali tidak menganggapku, tidak sedikitpun hatinya bisa aku miliki. Apa kau tahu padahal aku lebih cantik dari istrinya," ucap Whitey mulai berceloteh, tampaknya pengaruh minuman itu sudah mulai bereaksi mempengaruhi alam bawah sadarnya.
"Kenapa bisa kebetulan sekali, ya? Aku juga baru patah hati, gadis yang aku taksir juga menikah hari ini. Kenalkan, aku Desta," ucap pria itu menyodorkan tangannya ke hadapan Whitney.
__ADS_1
Merasa mendapat teman sepenanggungan, Whitney menerima uluran tangan Desta dan menyebutkan namanya.
keduanya terlibat dalam pembicaraan seputar para mantan mereka yang hari ini sedang melangsungkan pesta pernikahan. "Mereka di sana bahagia, tertawa gembira sementara kita di sini minum dan saling menghibur dengan perasaan hati yang hancur ini," kata Whitney tertawa sarkas.
"Bagaimana kalau kau menikah saja denganku?" ujar Desta yang juga Mulai mabuk.
"Menikah denganmu? Kau ingin menjadikanku istri mu yang ke berapa?" tantang Whitney yang ikut tertawa. Dia tahu Desta sedang bercanda, melamarnya satu jam setelah mereka berkenalan.
"Aku serius, Ayahku ingin menjodohkanku dengan seorang wanita yang tidak aku sukai nah, kalau kau mau berpura-pura menjadi pacarku, aku kan sangat berhutang budi padamu dan suatu hari saat kau juga butuh bantuanku aku bersedia membantumu, pegang janjiku," tutur Desta mengambil gelasnya dan mendetingkan ke gelas Whitney.
Untuk sesaat, Whitney berpikir, dia teringat bahwa ayahnya juga mengancam akan menjodohkannya dengan Beni, mungkin dengan bantuan pria ini Ayahnya akan menyerah dan membiarkannya bebas memilih siapapun pria yang dia sukai nantinya.
"Baiklah kalau begitu, katakan kapan kita bertemu dengan ayahmu dan setelah itu kita harus bertemu dengan ayahku," balas Whitney setuju ikut juga mengangkat gelasnya.
"Nanti aku kabarin, sekarang kita tukaran nomor telepon," lanjut Desta mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
"Lo tahu nasib gue apes banget. Saat bersama pria itu, aku jadi tunangan palsunya dan kini kau menawarkan aku untuk menjadikan aku sebagai kekasih palsumu juga. Apakah selamanya aku ditakdirkan hanya menjadi pasangan palsu?" ringis Whitney meneteskan air mata.
***
Begitu membuka mata, Whitney sudah dihadapkan dengan ayahnya yang berdiri di depan ranjangnya. Perlahan Whitney mencoba menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke kamar dengan pandangannya.
"Ada apa Papa?" tanya Whitney mengurut keningnya yang terasa berdenyut.
"Kau masih tanya ada apa? apa yang sudah kamu lakukan, kemana Whitney, putriku yang polos yang tidak pernah menyentuh minuman haram itu? kau bahkan pulang dengan mabuk," salah ayahnya yang begitu marah saat diberitahu oleh pelayan, Whitney pulang pukul 02.00 pagi dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
"Papa sudahlah kepalaku sakit, jangan ceramahin aku untuk hari ini biarkan aku sendiri. Aku sedang patah hati, Pa. Seharusnya Papa mendukungku bukan malah memarahiku," ringisnya menjambak rambutnya, berharap rasa sakit itu bisa sedikit hilang
Geri terlalu sayang kepada Whitney, dia tidak ingin memojokkan putrinya terlalu keras hingga memilih untuk keluar dari kamar itu.
Setelah kepergian ayahnya, ingatan Whitney akan kejadian tadi malam mulai muncul. Dia minum dengan seseorang bernama Desta dan membicarakan perihal saling membantu untuk menyelamatkan mereka dari paksaan orang tua nya dan benar saja, saat memeriksa ponselnya, Whitney mendapati satu pesan dari Desta.
'Lusa aku tunggu di hotel Mega Star pukul 02.00 siang.'
Selesai membaca pesan itu, gadis itu hanya melempar ponselnya ke arah kakinya dan kembali menarik selimut untuk tidur lagi.
***
Sementara di kamar lain, di salah satu hotel bintang lima, sepasang pengantin yang tidak baru lagi, baru saja selesai membersihkan diri mereka setelah menyelesaikan empat kali pertempuran sejak malam tadi.
"Kenapa kita harus pulang sih? kita di sini aja dulu, ya?" pinta Angkasa yang masih ingin berduaan dengan istrinya.
"Nggak bisa gitu dong, Mas kita harus ketemu dengan ayahmu dan juga tante Gisel. Mereka sudah mengadakan perjamuan untuk kita dan mengundang beberapa keluarga inti jadi kita harus bergegas," ucap Clara menyapukan kembali bibirnya pada bibir Angkasa.
"Aku masih tidak bisa melepaskan bibir penuh kenikmatan ini walau hanya sesaat. Kita bisa saja bilang, kalau kita sedang tidak enak badan," tawar Angkasa berusaha untuk membujuk istrinya kembali.
Walaupun sudah empat kali, Angkasa belum puas, dia masih ingin menikmati Clara lebih dan lebih lagi. Dia selalu merasa kurang dan begitu candu bermain di tubuh istrinya.
"Cla, kamu jangan hamil dulu ya." Tiba-tiba Angkasa mengucapkan kalimat yang membuat kening Clara berkerut. Apa mungkin dia salah dengar?
"Maksudnya, Mas?"
__ADS_1
"Aku masih ingin menikmatimu hanya untuk ku sendiri, jadi kita jangan langsung punya bayi, ya."