
"Buka pintunya, Yah!" teriak Tiara yang masih tidak terima karena sudah dikurung oleh ayahnya. Awalnya ayahnya mengatakan hanya ingin bicara sebentar tapi begitu dia mau ikut, Burhan justru mengurungnya.
"Kau harus merenungkan apa yang sudah kau lakukan!" Ayah malu! Harusnya kau bersabar sedikit lagi," jawab Burhan dari balik pintu.
Akibat kebodohan putrinya, Agus marah padanya dan akhirnya memecatnya tanpa memberi pesangon. Dia sudah coba merayu, agar diberi kesempatan, tapi tetap tidak diindahkan.
Demi membalaskan sakit hatinya karena sudah dipermalukan oleh Agus, Burhan sudah menyusun rencana untuk mencelakai pria itu lagi. Kalau yang pertama Tiara tidak berhasil kali ini dia pastikan tidak akan gagal lagi.
***
"Papa, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Clara, memilih duduk di sebelah ayahnya.
"Ada apa, Nak?"
"Pa, apa benar aku sudah menikah dengan Angkasa?"
"Jangan menyebut nama pria itu!" seru Agus yang masih menyimpan dendam pada Angkasa.
"Papa gak bisa begitu. Coba papa tanya hati papa, apa benar Angkasa berselingkuh dengan Tiara? Bukankah mereka adalah sepasang kekasih sebelum menikah dengan papa?"
Agus hanya diam. Sekarang dia tidak mempercayai siapapun lagi. "Kau memang sudah menikah dengannya, tapi papa tidak mengizinkan kamu kembali pada pria itu!"
Clara tidak mendebat lagi. Dia tidak ingin membuat hati ayahnya yang sudah terluka semakin sakit. Dia pasrah, biarlah ingatannya menuntunnya. Jika memang dia dan Angkasa ditakdirkan bersatu, maka mereka pasti bersatu.
"Aku ke kamar dulu, Pa." Clara keluar dan mendapati bi Inem yang baru saja dari luar.
"Bi, sini dulu. Temani saya ngobrol ya."
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk.
"Bi, bibi kenal pria bernama Angkasa?"
Seketika bi Inem diam. Dia sudah diperingatkan oleh Agus untuk tidak membahas Angkasa pada Clara.
"Bi, jawab dong."
__ADS_1
"Bibi, jawab dong. Aku harus tahu apa benar Angkasa adalah suamiku?"
Untuk kesekian kalinya bi Inem diam. Dia menggigit bibir bawahnya, dilema apa harus cerita atau tidak. Tapi kalau gak dikasih tahu, dia juga kasihan pada Clara.
"Benar, Non. Den Angkasa adalah suami non."
Clara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menghela napas panjang lalu kembali menatap bi Inem. "Apa benar mereka, maksudku Tiara dan Angkasa adalah pasangan kekasih?"
Bi Inem tahu apa arti pertanyaan ini bagi Clara, tapi dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari nonanya itu, jadi dia memutuskan untuk mengangguk sebagai jawaban.
Hati Clara tergores. Dia baru saja ingin mempercayai Angkasa tapi pria itu nyatanya berbohong padanya. Memikirkan hal itu kepercayaan yang coba dia tumbuhkan di hatinya, seketika pupus.
***
Setelah memikirkan semuanya semalam suntuk hingga tidak bisa tidur, paginya Clara menemui Agus kembali.
"Papa, aku ingin pindah kuliah ke luar negri. Aku ingin kepergianku ini dirahasiakan," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Agus yang tidak menyangka akan mendengar permintaan putrinya itu hanya bisa mendongak dari layar ponselnya, yang baru saja mendapatkan pesan dari asistennya kalau seseorang sudah membobol kantor mereka, yang dicurigai sebagai orang suruhan Burhan.
Clara mengangguk lemah. Lebih baik dia pergi dari orang-orang yang tidak bisa dipercaya. "Jadi urusan perceraianmu, kamu setuju?"
Dengan lemah Clara mengangguk lagi. Mungkin ini yang terbaik baginya.
Semua urusan dengan cepat dilakukan Agus demi memberangkatkan putrinya. Ini juga yang memang dia inginkan, Clara menjauh dari Angkasa.
Melalui koneksi dan nama besarnya, Angkasa bisa mengurus dengan cepat, transkip nilai Clara juga akan segera dikelurkan. Untuk menghilangkan jejak Clara, Agus bahkan menerbangkannya dengan jet pribadi, agar Angkasa tidak bisa melacak kemana Clara pergi.
"Jaga dirimu, Papa. Aku pasti akan merindukanmu." Clara memeluk tubuh pria yang begitu dia kasihi. Mereka sama-sama dikhianati oleh orang yang mereka sayangi, dan mungkin menghabiskan waktu sendiri mungkin bisa mengobati luka hati mereka.
"Kalau papa rindu, papa pasti akan datang padamu. Kamu juga jaga diri. Mari kita lupakan semua. Kita mulai dengan hidup baru."
Clara terbang dengan meninggalkan semua kekecewaan dan juga kenangan yang hingga detik ini belum dia ingat.
***
__ADS_1
Penuh semangat, Angkasa mendatangi kampus Clara, dia sangat merindukan wanita itu. Dia tidak bisa menemuinya selama empat hari ini karena harus mengurus bisnisnya, lalu kesehatan ibunya juga memburuk hingga harus singgah ke Sidney.
Lama menunggu, Angkasa masih bertahan.
Berulang kali menghubungi nomor Clara, tapi tetap tidak ada hasilnya. Nomor itu tidak aktif.
Seorang gadis yang dia kenali sebagai Vera, sahabat Clara berjalan ke arah pintu gerbang kampus. Angkasa pun segera keluar dari mobilnya dan mendekati gadis itu.
"Ver, Clara mana?"
Wanita itu hanya menatap terkejut pada Angkasa. "Apa mungkin selama ini Angkasa tidak tahu perihal Clara yang berhenti kuliah?" batinnya.
"Kamu gak tahu Clara udah gak kuliah lagi?"
"Apa?" Kini berganti Angkasa yang kaget. Kenapa gadisnya harus berhenti kuliah? Dia tahu kalau Clara begitu ingin kuliah, ingin menjadi dokter hebat, seperti yang pernah dia katakan dulu pada Angkasa. "Kenapa Clara berhenti?"
"Gak tahu juga. Pihak kampus cuma bilang ini permintaan Clara, alasannya demi kesehatan Clara. Kepalanya sering sakit, jadi tidak bisa kelelahan dan berpikir banyak hal. Sementara kalau kuliah harus konsentrasi dan banyak tugas yang harus dia kerjakan."
Angkasa dengan wajah pucatnya, segera pergi dari hadapan Vera tanpa mengatakan apapun lagi. Mobilnya segera dia luncurkan ke satu alamat. Bisa atau pun tidak dia masuk nanti, yang terpenting untuk saat ini dia harus menemui Clara, bertanya apa dia baik-baik saja.
Seperti biasa rumah itu dijaga oleh dua orang pengawal di pintu masuk, hingga tidak mungkin Angkasa bisa masuk.
"Lepaskan, aku ingin bertemu Clara!" serunya melepas tangan para pengawal yang coba menghadangnya ingin masuk.
"Pergi dari sini, sebelu kami patahkan lehermu!" hardik para pengawal. Merapatkan barisan demi menghalangi Angkasa masuk.
Berkali-kali pria itu kembali mencoba, tapi tetap saja mereka tidak mengizinkannya masuk. Angkasa bahkan sudah dua kali dipukul di bagian wajah, tapi tetap bertahan. Barulah saat kembali dihajar dua orang bertubuh besar itu, Angkasa tersungkur ke tanah, hampir tidak sadarkan diri. Keduanya menyeret Angkasa dan memasukkan paksa pria itu ke dalam mobilnya.
Setelah melaporkan pada Agus kalau Angkasa jatuh pingsan di depan rumah mereka, pria berhati dingin itu meminta pada anak buahnya untuk mengantarkan Angkasa ke apartemennya.
"Jangan lupa, beri dia peringatan agar jangan mendekati rumah ini lagi!"
Hampir dua hari Angkasa berbaring di ranjang. Kaki tangan dan juga wajahnya sangat terasa sakit hingga tidak memungkinkan untuk keluar.
Mendengar bel berbunyi, Angkasa yang berharap kedatangan Clara tertatih membuka pintu.
__ADS_1
"Mau apa lo kemari!"