
"Aku mohon kalian tinggal di sini, ya? Sampai papa kamu pulang," pinta Tiara mencari jalan agar bisa dekat dengan Angkasa.
Sebenarnya Angkasa tahu niat Tiara yang ingin menahan mereka, tapi demi menjaga pikiran Clara yang pasti akan menuduhnya, Angkasa memilih diam. Bisa saja dia mengatakan pada Tiara kalau Clara sudah tahu, tapi dia masih ingin melihat Tiara masuk dalam perangkapnya sendiri.
Angkasa sudah sadar. Dia tidak ingin lebih wanita itu lebih jauh menipu Agus, jadi Angkasa akan mengikuti permainan Tiara hingga satu kesempatan dia bisa membuka kebusukan Tiara di depan Agus.
Langkah pertama yang harus dia lakukan saat ini adalah mendapatkan kepercayaan dari Clara. Kalau gadis itu sudah menganggapnya teman, maka dia pasti akan membela Angkasa di depan Agus.
"Baiklah. Kamu akan tinggal," ucap Clara yang memang diminta oleh ayahnya tadi. "Istirahat lah," ucap Clara beranjak keluar.
Itu yang ditunggu Tiara. Saat Clara sudah tidur, dia akan masuk ke kamar Angkasa. Dia tahu, kalau mereka sudah akan tidur bersama, karena Tiara sempat mendengar perdebatan mereka yang membuat Tiara menyimpulkan kalau mereka tidak akur.
Menurut Tiara mungkin Clara sudah tahu kalau Angkasa tidak mencintainya dan hanya memanfaatkan demi menyenangkan baru ibunya.
Satu jam berlalu, Tiara yang sudah memperkirakan mereka sudah tidur, turun dari tempat tidurnya.
Tiara mulai mengecek dari kamar tamu di lantai dua, tiga kamar itu kosong. Mungkin di lantai bawah," cicitnya mengendap-endap berjalan ke lantai bawah.
Tapi sama saja, semua kamar di lantai satu juga kosong. "Tidak mungkin mereka tidur dalam satu kamar!" umpatnya kesal kembali naik ke atas.
***
Orang yang sedang dicari Tiara memang berada di kamar Clara. Sejam lalu pertengkaran kecil terjadi diantara mereka.
"Kenapa harus tidur di sini? Di rumah ini ada banyak kamar, kau bisa pilih yang mana kau suka," ucap Clara tidak terima kala mendapati Angkasa juga ikut masuk saat dia memasuki kamarnya.
"Aku gak mau. Aku mau tidur di mana kau tidur. Kau tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Aku akan tidur di sofa itu," jawab Angkasa menunjuk sofa di samping ranjang.
__ADS_1
"Gak usah buat kesal. Untuk apa kita harus tidur di kamar yang sama? Gak perlu berdrama, papa juga gak ada di sini. Keluar sana!" Seru Clara melipat tangan di dada.
Tapi Angkasa tidak mengindahkan pengusiran itu. Dia tetap berjalan menuju ranjang, mengambil satu bantal dan meletakkan di sofa. Clara yang marah seolah dipermainkan pria itu, memutuskan untuk pergi dari kamar itu. "Oke, kalau kau ingin tidur di sini, silakan! Biar aku yang pergi!" Clara sudah berjalan ke arah pintu, tapi langkahnya terhenti kala Angkasa mengatakan sesuatu padanya,
"Aku bisa saja tidur di kamar lagi, tapi aku kenal Tiara. Wanita itu akan mendatangiku. Mungkin kau tidak peduli karena sudah tidak percaya padaku, dan terlanjur mencap sebagai pria brengsek, tapi satu hal yang perlu kau ketahui, aku tidak ingin memberi celah padanya. Aku bertahan di sini denganmu, merupakan salah satu caraku, untuk menunjukkan padanya, kalau aku tidak lagi tertarik padanya, dan ingin mengabdikan hidupku hanya untuk istriku saja."
Clara berperang dengan batinnya. Tentu saja ucapan yang terdengar tulus dari dalam hati Angkasa itu tidak serta merta dia percaya, tapi ucapan Angkasa menohok nalarnya.
Kalau memang dia ingin memutus rantai perselingkuhan Tiara dan Angkasa semi ayahnya, sekali lagi ini semua demi ayahnya, harusnya dia juga bisa menjalankan sandiwara ini.
Jika Tiara sudah melihat tidak ada lagi kesempatan baginya untuk merayu Angkasa, dia mungkin bisa berubah jadi wanita baik-baik yang setia pada ayahnya.
Itulah alasan Clara tidak jadi memilih tidur di kamar tamu. Tapi hal itu justru mendatangkan sengsara bagi Clara. Tidur satu kamar dengan Angkasa membuatnya tidak bisa memejamkan matanya.
Angkasa bahkan sudah tidur dengan nyenyak, terdengar dari deru napasnya yang terdengar teratur.
Saat itu sangat indah. Bahkan Clara sangat terbuai hingga mustahil bisa membedakan ciuman itu palsu.
Larut dalam pikirannya, Clara membalik badannya membelakangi Angkasa dan mencoba memejamkan matanya.
***
Pagi-pagi sekali, Agus sudah tiba di rumah. Dia langsung menemui Tiara yang menanyakan keadaan wanita itu.
"Anak kita, Mas...," ucapnya tersedu-sedu, meletakkan kepalanya di dada Agus seolah benar-benar berduka atas keguguran yang dia karang.
"Sudah, Ra. Ikhlaskan, mungkin anak itu belum menjadi rezeki kita."
__ADS_1
Angkasa melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal. Sandiwara Tiara benar-benar memperdaya Agus. Padahal ini semua pasti ulang Tiara.
Angkasa yakin, keguguran ini tidak terjadi begitu saja. Dia ingat, beberapa kali Tiara mengatakan padanya akan membuang janin itu asal dirinya mau kembali pada Tiara. Jadi, Angkasa yakin, Tiara memang sengaja membuang calon bayinya.
"Papa, kami pamit dulu. Aku harus ke Badui siang nanti. Sekalian aku pamit sama papa," ucap Clara yang sudah mepet waktu. Dia harus pulang ke apartemen, untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat nanti.
"Badui? Ngapain?" Tanya Agus yang mewakili rasa penasaran Angkasa.
"Ada tugas dari kampus, Pa. Meninjau desa Xy untuk meneliti penyakit yang lagi marak di sana."
"Tapi itu sangat berbahaya, Cla. Kasa, kenapa kamu mengizinkan istrimu pergi sejauh itu? Ke tempat terisolasi dan berbahaya lagi," ucap Agus melihat Angkasa, meminta pertanggung jawaban pria itu.
"Aku akan menemaninya, Pa. Aku akan menjaga Clara di sana."
Bola mata Clara membulat, menoleh ke arah Angkasa. Walau itu hanya untuk menyenangkan hati papanya, Angkasa tidak perlu berbohong hingga seperti itu.
"Kamu pamit pulang, Pa." Kali ini Angkasa yang pamit, mencium punggung tangan Agus.
Selama dalam mobil, Clara ingin sekali menuntut penjelasan pada pria itu, tapi Angkasa fokus menyetir, dan Clara juga gak tahu harus mulai dari mana. Kalau dia meminta penjelasan dengan marah, dia takut konsentrasi Angkasa menyetir jadi buyar, bisa-bisa terjadi kecelakaan.
"Jangan ditahan, kalau ada yang mau ditanya, silakan," ucap Angkasa tersenyum.
"Kau tahu betul apa yang ingin aku tanyakan padamu!"
"Mengenai keberangkatan mu? Atau ikutnya aku dalam perjalananmu?" Tantang Angkasa.
"Aku peringatkan kau, jangan terlalu bersikap berlebihan di depan papa. Kau gak perlu berperan jadi menantu yang baik, karena aslinya kau memang pria brengsek!"
__ADS_1
"Aku tidak berbohong. Satu katapun tidak ada kebohongan yang aku ucapkan tadi pada papamu. Aku memang berniat untuk ikut denganmu!"