
Clara menikmati wajah panik Tiara. Kalimatnya memang bertujuan untuk membuat kedua pasangan pengkhianatan itu mendapat hukuman yang setimpal, dimulai dari hukuman kejut.
"Kamu ini bercanda aja," ucap Agus mengusap rambut Clara penuh sayang. Hati Clara yang melemah karena hal itu. Dia tidak akan tega melihat ayahnya menderita karena perbuatan Tiara.
"Aku serius, Pa. Mas, kamu serius gak sama aku? Kalau iya, nikahi aku secepatnya," ucap Clara menengadah menatap mata Angkasa. Hatinya sakit teriris.
Awalnya dia hanya bercanda tadi, hanya membuat panik Tiara, tapi melihat wajah bahagia ayahnya membuatnya berpikir untuk mengorbankan diri. Membiarkan dirinya menikah dengan Angkasa, dengan begitu mereka tidak lagi selingkuh dibelakang ayahnya. Tapi siapa yang bisa menjamin?
"Mas Kasa, kok bengong? Kamu mau kan nikahi aku? Atau sebenarnya aku cuma mainan kamu aja?"
Angkasa gelagapan. Ayah dan anak itu sedang menunggu jawabannya. Dia sendiri tidak berani melirik Tiara. "Aku pasti ingin menikahimu. Tapi saat ini, aku sedang mengerjakan proyek besar, mungkin tiga bulan lagi, aku akan melamar mu, boleh kan, Om?"
Agus tersenyum, main mata pada Clara lalu mengangguk. "Om masuk dulu ya." Agus sudah melangkah ke dalam, tinggallah Tiara yang tampak bengong, masih ingin melihat apa yang Clara dan Angkasa akan bahas.
"Makasih ya, Sayang," ucap Clara tepat di hadapan Tiara, menyapukan bibirnya pada bibir pria itu. Clara memang tidak melihat wajah Tiara karena dia membelakangi gadis itu, tapi dia yakin kalau saat ini Tiara pasti marah besar pada Angkasa.
"Mas, aku mandi dulu, ya," ucap Clara meninggalkan Angkasa. Dia ingin mengambil napas dan menenangkan hatinya untuk sesaat. kedekatan dan ciuman pria itu nyatanya masih memberi dampak yang sangat besar padanya.
"Sini!" Tiara menarik tangan Angkasa menuju pintu samping. Setelah melihat Clara naik ke lantai atas, Tiara buru-buru keluar dari dapur untuk menemui Angkasa. Dia ingin protes pada pria itu, karena sudah menerima ciuman Clara.
"Apa sih, Sayang. Mau dibawa kemana aku? Kau gak takut suamimu akan melihat kita?"
Plak! Tiara menampar wajah Angkasa sebagai bentuk ras kesalnya.
"Tiara, ada apa?"
"Itu balasan karena kau sudah menerima ciuman gadis bodoh itu. Harusnya kau tolak. Apa katanya? Ingin menikah denganmu? Jangan harap!"
__ADS_1
Angkasa hanya tertawa, tapi buru-buru ditahan Tiara dengan menutup mulut pria itu. "Kecilkan suaramu!"
"Aku suka kalau kau sudah cemburu seperti ini. Artinya kau benar-benar mencintaiku."
Tiara tidak menjawab, mulutnya langsung melahap bibir pria itu dalam dan lama. Tanpa mereka sadari seseorang dibalik pintu itu sudah merekam aksi mereka.
"Pasangan busuk, menjijikkan!"
***
Agus begitu panik, kala mendapati istrinya pingsan di kamar mandi. Segera memboyong Tiara ke rumah sakit, karena tidak ingin terjadi hal buruk pada istrinya.
"Selamat ya, Pak. Istri bapak sedang hamil saat ini. Usia kandungan dua bulan ya, Pak," terang sang dokter setelah selesai melakukan USG.
Tidak terkira betapa gembiranya Agus. Memiliki anak kembali tidak pernah dia impikan, tapi kalau Allah sudah memberikannya rezeki berupa seorang anak, maka hanya bersyukur yang bisa dia lakukan.
Sementara itu, berbeda dengan Agus, Tiara justru pucat ketakutan. Mengetahui dirinya hamil sama saja dengan mimpi buruk. Apa yang harus dia katakan pada Angkasa? Berulang kali pria itu mengingatkannya untuk menjaga jarak dengan Agus.
"Itu gak mungkin, Kasa. Mana mungkin aku mau disentuh pria tua itu. Lagi pula, dia selalu tidur lebih awal, jadi kami tidak sempat melakukan hal seperti yang kau pikirkan itu," jawabnya meyakinkan Angkasa kala itu.
Kini semua semakin runyam. Dia hamil anak Agus. Seandainya saja Angkasa mau diajaknya bercin*ta, sekalipun dia hamil, maka tidak jadi soal itu anak siapa. Dia tinggal mengaku pada Kasa kalau itu anaknya.
"Sial!" Umpatnya dalam hati, memukul, mencubit perutnya saat berjalan keluar dari ruangan dokter. "Apa yang harus aku lakukan pada bayi ini? Kenapa bayi ini harus ada?"
***
Beberapa hari belakangan ini, Angkasa selalu datang ke rumah Clara tanpa diundang sekalipun, tidak seperti dulu, gadis itu harus merengek agar pria itu bisa main ke rumahnya.
__ADS_1
Perubahan sikap Clara ini lah justru yang menarik perhatian Angkasa. Gadis itu tidak lagi memberi perhatian padanya seperti biasa, baik hanya sekedar mengirim pesan untuk menanyakan sudah makan atau belum. Melihat perubahan itu, rasa penasaran Angkasa semakin besar, sehingga malam itu juga dia datang menemui Clara.
"Mas Kasa, kemari lagi?" Ucapnya membuka pintu karena bi Inem sedang keluar.
"Kau tidak suka, aku datang?" Tanya Angkasa menatap wajah Clara yang semakin cantik.
"Kemana saja aku selama ini, mengapa baru menyadari kalau Clara ternyata sangat cantik," batinnya dalam hati.
"Tentu saja suka. Aku senang malah," sahutnya berbohong. Dia tahu, kedatangan Angkasa ke rumahnya bukan ingin bertemu dengannya, melainkan dengan selingkuhannya,Tiara.
Asyik berbincang, Agus dan Tiara pulang. Wajah Tiara tampak pucat, hingga ingin permisi naik ke atas.
"Kita makan dulu. Sebentar saja. Kamu harus jaga kesehatan," ucap Agus memapah Tiara. "Kalian ikut makan, kita makan malam bersama."
Wajah Tiara pucat. Padahal dia meminta izin untuk naik agar Agus tidak membuka berita kehamilannya di depan Angkasa. Matilah dia sekarang!
"Ada apa dengan Tiara? Kenapa wajahnya terlihat pucat?" Tanya Clara. Bukan karena simpati, dia tahu kalau ayah dan ibu tirinya pergi ke rumah sakit untuk periksa. Dia justru berharap Tiara kena penyakit yang serius sebagai balasan untuk wanita culas itu.
"Apa kau sakit? Maksudku, apa Tante kurang enak badan?" Ralat Angkasa menyadari cara bertanya yang terlalu akrab dengan Tiara, itu semata-mata karena dia mengkhawatirkan wanita itu.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih,"ucap Tiara gugup. Meminum air putih di gelas yang ada dihadapannya.
"Tiara tidak sakit, dia baik-baik saja. Malam ini papa ingin menyampaikan kabar gembira untuk kita semua, terlebih untuk Clara. Papa tahu kamu pasti akan suka mendengarnya."
Clara hanya tersenyum tipis, itu pun demi menghargai ayahnya yang tampaknya begitu gembira. Apapun berita itu yang berhubungan dengan Tiara, dia tidak akan tertarik.
"Clara, kamu akan punya adik. Tiara saat ini sedang hamil."
__ADS_1
Duar! Clara dan Angkasa sontak terkejut, mendengar berita yang baru disampaikan Agus. Terlebih Angkasa yang menatap tajam dan penuh emosi ke arah Tiara yang kini tertunduk ketakutan. "Dasar wanita breng*sek!" Umpat Angkasa.
Clara pun demikian. Garpu yang tadi dia pegang, mengencang di tangannya. Ingin sekali dia tancapkan ke dada Angkasa. "Dasar pria breng*sek!" Clara ikut mengumpat, menganggap janin yang ada dikandungan Tiara adalah anak Angkasa.