Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 18


__ADS_3

Pernikahan itu tampaknya membawa pengaruh positif bagi Alma. Wanita itu seakan punya gairah untuk sembuh dan hidup lebih lama lagi.


"Mama harus kembali ke Singapura, meneruskan pengobatan di sana. Mama janji, begitu sembuh mama akan mengunjungi kalian," ucap Alma menggenggam tangan Clara.


Angkasa sudah meminta untuk merawat ibunya di Indonesia saja, tapi Andre tetap bersikeras membawa istrinya ke Singapura karena dokter yang berkompeten yang selama ini mereka tunggu sudah kembali ke Singapura.


Demi kesehatan ibunya, Angkasa pun menyetujui ibunya pergi. Keduanya mengantar Andre dan Alma ke bandara hingga pesawat berangkat, Angkasa masih setia menunggui.


"Tante Alma sudah berangkat, gue mau balik," ucap Clara bangkit dari duduknya.


"Aku antar. Jadi ngambil barang-barang kamu di rumahmu?"


"Jadi. Tapi kau gak perlu mengantar. Aku udah besar, tahu jalan," ucap Clara jutek. Dia tidak ingin bersikap manis pada Angkasa karena memang itu tidak dibutuhkan saat ini mengingat tidak ada lagi yang perlu dijaga perasaannya.


Mereka hanya akan bersandiwara kalau di depan orang tuanya ataupun orang tua Angkasa.


"Ayolah, Cla. Jangan keras kepala. Biar aku antar." Angkasa tidak ingin berdebat, intonasinya cukup jelas tidak ingin dibantah, jadi Clara hanya bisa mengikuti langkah pria itu.


Tiga hari sudah mereka menikah, karena setelah pernikahan hingga hari ini mereka menemani Alma di rumah sakit, jadi tidak terlalu memusingkan harus pulang ke rumah siapa untuk tidur. Tapi hari ini, persoalan itu menjadi beban pikiran Clara.


Dia tidak mungkin tinggal dengan ayahnya walau sangat ingin karena sudah ada diperjanjikan yang dibuat Angkasa, syarat darinya mereka harus tinggal di atap yang sama.


Mobil Angkasa berhenti di depan rumah mertuanya. Sejujurnya dia malas untuk menginjakkan kaki di sini, hanya satu alasannya tidak ingin bertemu dengan Tiara, tapi dia tidak enak hati pada mertuanya jika menjaga jarak dan tidak ingin berkunjung.


Memikirkan hal itu, Angkasa ikut turun, mengikuti langkah Clara yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Kasa, aku ingin kita bicara." Tiara sudah mencegatnya di depan pintu masuk.

__ADS_1


"Maaf, saya ingin masuk," sahutnya dingin, mengabaikan perkataan Tiara. Dia takut kalau Agus atau paling parah Clara memergoki mereka lagi. Dia tidak ingin Clara berpikir kalau dirinya masih berhubungan dengan ibu tirinya yang rada gila ini.


"Kasa, aku mohon, jangan cuekin aku. Aku gak bisa hidup tanpamu. Aku berjanji akan akan membuang bayi ini, asal kau mau kembali padaku. Please Kasa, terima permohonan ku," bujuk Tiara tanpa malu.


"Kau jangan gila, Tiara! Aku tidak menyangka kau bisa sekeji itu, ingin membuang bayimu hanya untuk bisa kembali padaku? Aku benar-benar telah salah menilai mu. Beruntung aku sadar sekarang!" Angkasa mendorong pelan tubuh Tiara agar dia tidak menghalanginya masuk.


Di rumah keluarga, Angkasa melihat mertuanya yang duduk di depan televisi, begitu serius menikmati berita sore itu.


"Belum ada titik terang, Pa?" Tanya Angkasa ikut duduk di sebelah Agus yang saking seriusnya tidak memperhatikan kedatangan Angkasa.


"Eh, kamu Kasa. Iya, masih alot nih. Sepertinya di bawah tekanan hingga tidak satupun tersangka ini mau mengungkap kebenarannya," ujar Agus mengkaji berita pembunuhan seorang perwira.


"Kamu datang sama Clara? Papa kok gak lihat dia?" Tanya Agus menyadari kalau putrinya tidak tampak.


"Clara di kamarnya, Pa. Lagi berkemas mengambil barang-barangnya yang mau dibawa ke apartemen."


Angkasa hanya mengangguk memenuhi permintaan ayah mertuanya.


"Pergilah, bantuin Clara. Dia memang rada manja dan agak keras kepala, tapi dia gadis yang baik dan hatinya juga lembut. Pintar-pintar mu lah menghadapi dia. Sekarang dia sudah menjadi istri mu. Tanggung jawab ku menjaga kini ada padamu. Kalau dia sulit diatur, atau kau sudah tidak mencintainya lagi, papa mohon jangan mengangkat tangan atas dirinya, kamu cukup menghubungi, maka aku akan menjemputnya pulang," ucap Agus menepuk pundak Angkasa. Lagi-lagi Angkasa hanya mengangguk mengerti.


Baru akan berdiri, Clara sudah tiba dengan satu koper yang dia seret.


"Papa," ucapnya memeluk sang ayah yang sudah tiga hari tidak dia temui. Selama di rumah sakit menjaga Alma, Clara tentu saja tidak pulang, pakaiannya pun di antar Agus melalui bi Inem ke rumah sakit atas inisiatif pria tua itu.


"Udah ah, masa udah jadi istri, masih peluk-peluk papanya di depan suaminya pula. Gak takut apa kalau Angkasa menganggap kamu masih bocah?" Goda Agus yang sebenarnya juga merindukan putrinya itu.


"Papa nanti aku sering nginap di sini, ya?"

__ADS_1


"Kapanpun kamu mau nginap, papa pasti senang, asal kamu ke sini atas seizin suamimu."


Tubuh Clara membeku. Kembali dia diingatkan akan statusnya. Padahal ini hanya pernikahan pura-pura, ayahnya tampak serius menanggapi pernikahannya ini dan terlihat sangat gembira untuknya.


Saat pamit pulang, Clara yang berjalan bersama Angkasa berpapasan dengan Tiara yang sejak tadi duduk di luar. Mana mungkin dia sanggup melihat kebersamaan Clara dengan Angkasa.


"Ka-Kalian sudah mau pulang? Kenapa gak nginap di sini?"


"Lain kali, kami pasti nginap di sini m Tapi untuk saat ini, kami hanya ingin tinggal berdua, menikmati masa bulan madu kami," ucap Angkasa merangkul mesra pundak Clara menarik gadis itu lebih dekat dengannya.


Wajah Tiara memerah menahan amarah. Dari wajahnya jelas dia tidak terima. Clara menangkap hal itu, jadi membiarkan tangan Angkasa bergelayut di pundaknya dan kini turun di pinggang rampingnya. Dengan begini, Clara berharap Tiara akan membuang pikiran gilanya untuk meninggalkan ayahnya. Apalagi kalau benar itu anak ayahnya.


Sementara bagi Angkasa, menunjukkan kemesraan mereka bertujuan agar Tiara bisa melupakannya dan membunuh perasaannya pada Angkasa.


Angkasa yang merasa bersalah pada Agus karena selama ini bersikap curang dengan mencumbu istrinya, membuatnya ingin menjauh dari Tiara selamanya.


Tiara hanya bisa memandangi punggung kedua orang itu dalam balutan amarah. "Kau tidak perlu berakting seolah kau mencintai Clara, Aku tahu di hatimu hanya ada aku. Kau menikahinya juga karena tidak ingin membuat ibumu sedih. Aku tahu kau hanya mencintaiku, Kasa. Tunggulah Sayang, aku akan membereskan semua ini, dan segera menjadi Tiara mu yang dulu."


"Terima kasih sudah mau ikut serta dalam sandiwara ini. Aku tahu kau pasti terluka saat melihat kekasihmu itu bersedih," sindir Clara setelah mereka berada di dalam mobil.


Angkasa hanya diam, tidak ingin terpancing oleh provokasi Clara. Dia tahu gadis itu menyimpan selaksa kebencian padanya dan juga Tiara. Jadi, apa pun yang akan dia jelaskan tidak akan ada gunanya.


Clara yang tidak mendapatkan perlawanan justru semakin membenci Angkasa yang menganggap apa yang dia katakan adalah kebenaran.


***


"Kau bisa pakai kamar utama. Nanti aku akan pindahkan barang-barangku ke kamar yang lain," terang Angkasa setelah mereka berada di apartemen.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku tidak akan lama di sini. Jadi, aku akan tinggal di kamar tamu aja. Anggap aku tidak ada di sini, karena aku juga akan melakukan hal yang sama."


__ADS_2