
Angkasa pulang dalam keadaan mabuk. Rizal lah yang mengantarnya dan menjelaskan pada Clara, kalau mereka pada tiba-tiba bertemu dengan beberapa teman kuliah mereka, hingga mengajak Angkasa untuk minum dengan teman-temannya.
"Sayang, kenapa aku melihatmu ada dua?" ujar Angkasa mencoba menangkap tubuh Clara, tapi pria itu tidak bisa meraihnya hingga akhirnya, pria itu jatuh terjerembab ke atas kasur. Clara dengan sabar membuka sepatu dan juga kemeja suaminya yang sudah bau bercampur aroma parfum dan alkohol, bahkan parahnya Clara mencium bau parfum wanita dan menemukan bekas lipstik.
Clara berusaha berpikiran lurus, mungkin saja teman-temannya tidak sengaja menempelkan lipstik itu ke baju Angkasa.
Walaupun hatinya sangat panas, Clara tetap mengurus suaminya. Dia pergi ke dapur, mengambil air hangat dan handuk untuk membasuh pria wajah pria itu, membersihkan sebagian tubuhnya agar dia bisa tidur.
Clara mengamati suaminya. Enak sekali jadi laki-laki, ingin pergi minum dengan teman-temannya hingga mabuk, sementara wanita? apa Angkasa sebisa menerimanya?
Tapi walaupun demikian Clara mencoba menyikapi dengan bijaksana. Hal itu adalah lika-liku kehidupan orang berumah tangga, dia tidak ingin terlalu mengekang suaminya, membatasi ruang lingkup suaminya tidak memperbolehkan bergembira dengan teman-temannya, hanya saja seharusnya Angkasa ingat waktu.
Besok, Clara akan memutuskan untuk mengajak Angkasa bicara. Dia boleh pergi dan bersenang- senang dengan teman-temannya, asal jangan pulang dalam keadaan mabuk dan harus diantar orang.
Angkasa bangun dan segera mencari keberadaan istrinya. Seperti biasa Clara menguasai dapur, untuk membuat sarapan dan bekal makan siang mereka nanti di kantor.
"Selamat pagi, Sayang kau sudah rapi, memang ini sudah jam berapa?" tanya Angkasa memperhatikan tangan Clara dengan telaten menyusun dan meletakkan bekal mereka ke dalam tote bag.
"Sudah hampir jam sembilan, ini bekalmu nanti kalau ke kantor. Aku berangkat," ucap Clara dingin.
"Tapi Cla, kepalaku pusing, aku butuh air hangat," ucapnya mengikuti langkah istrinya.
Clara menoleh dan mendengus kasar. Dia kembali lagi ke dapur membuat teh hangat beserta perasaan jeruk lemon dan madu, lalu memberikannya kepada Angkasa dan menunggu pria itu menghabiskan minuman itu, sebelum dipanggil lagi untuk melayani pria.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya menyerahkan gelas bekas minumnya. Lalu Clara menerimanya dan membawanya ke wastafel, mencuci gelas itu dan menyusunnya di rak piring.
"Aku berangkat sekarang," ucap Clara tanpa senyum.
"Pakaianku mana?" tanya Angkasa kemudian.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan semua pakaian yang kau butuhkan, aku letakkan di atas tempat tidur. Pergilah mandi nanti kau terlambat. Aku berangkat," ucapnya kesekian kalinya, menarik tangan Angkasa untuk mencium punggung tangan pria itu.
***
Di rumah sakit, Clara tidak bisa berkonsentrasi, ia meminta Desta untuk menggantikannya memeriksa pasien di kamar melati.
Clara ingin sekali profesional, tapi dia takut pikirannya yang kaca saat ini membuatnya salah menyuntikkan pasien dan lebih baik dia menenangkan diri dulu.
"Pulanglah, Cla. Kau saat ini sedang tidak dalam kondisi yang baik," ucap Desta.
Akhirnya Clara mengangguk dan pergi ke toko buku terbesar di kota itu. Kebiasaannya saat pusing bukan pergi ke salon atau belanja tapi dia justru mengunjungi toko buku.
Dia juga ingin mencari buku referensi mengenai yang satu jenis metode pengobatan bedah syaraf yang saat ini sedang dikembangkan di rumah sakit Eropa.
Toko buku di siang hari tidak terlalu ramai, mungkin karena ini masih jam sekolah, anak-anak masih belum bubar dan datang ke mari, hingga dia mempunyai tempat untuk duduk dan membaca buku tersebut.
Asyik membaca buku yang ada di tangannya seseorang menyodorkan satu buah buku bersampul warna biru, yang sejak tadi dia cari tapi tidak menemukan di rak, dan justru mendapati seorang pria memberikannya buku tersebut.
"Boleh aku duduk?" lanjutnya minta izin kepada Clara.
Clara yang masih diam mengamati pria itu hanya mengangguk, dia sama sekali tidak mengenal pria itu, tapi sikapnya yang sopan dan juga terlihat orang yang berpendidikan membuat Clara tidak takut.
Lagi pula mereka berada di tengah keramaian, apa belum bisa dilakukan pria itu? kalau sampai dia macam-macam Clara tinggal memanggil security untuk menolongnya.
"Dari mana Anda tahu kalau saya butuh buku ini? Memang bener buku ini yang saya cari," ucapkan tersenyum ke arah pria itu.
Saat saya melihat Anda membaca buku itu," ucapnya menunjukkan dengan pandangan ke arah buku yang saat ini sedang dipegang Clara.
"Oh iya, justru karena saya tidak menemukan buku yang Anda tawarkan ini hingga saya mengambil yang ini," terang Clara.
__ADS_1
"Anda praktek di rumah sakit mana?" tanya pria itu berhasil menebak profesi Clara yang seorang dokter.
"Permata Bunda." Sejenak Clara mengamati pria itu dengan tatapan singkat, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mencoba berbicara santai dan meneliti siapa sosok yang ada di depannya ini.
"Sepertinya saya pernah melihat Anda," ucap Clara, akhirnya dia mengingat pernah pertemuan pria itu.
"Di Jerman mungkin," ucapnya santai.
Clara mencoba memutar ingatannya. Wajah pria itu memang sangat familiar, saat dia sudah menemukan memorinya terhadap pria itu, mata Clara membulat dan mulutnya menganga.
"Dokter Rain?" pekiknya terlihat kegembiraan di wajahnya. Pria itu adalah dokter yang paling pintar dan yang paling sabar, selalu membantunya dulu saat seminar beberapa kali. Clara adalah utusan dari rumah sakit tempat dia bekerja.
"Akhirnya kau mengingatku," ujar pria itu tertawa renyah.
"Maafkan saya, Dok. Saya benar nggak ingat," seru Clara.
"Tidak apa-apa saya memang sangat menyedihkan, sering dilupakan oleh orang-orang. Kamu apa kabar?" tanya dokter Rain menyapa Clara.
"Saya baik, Dokter. Dokter sedang apa di Indonesia?" Clara balik bertanya.
"Saya diundang untuk mengadakan seminar di beberapa rumah sakit tapi sepertinya saya akan menerima tawaran untuk bekerja di rumah sakit Charity," ucapnya.
"Saya ingin sekali datang ke seminar Anda, Dokter. Apa saya bisa mendapat undangan secara gratis?" tanya Clara malu-malu.
"Tentu saja dokter. Nama anda dokter Clara, iya kan?"
Clara mengangguk lalu setelah membeli beberapa buku yang dia butuhkan, mereka pun keluar dari toko buku itu mencari restoran yang ada di dekat sana untuk sekedar minum kopi sembari berbincang.
Clara sangat mengidolakan dokter Rain yang sangat pintar dan banyak dikagumi orang. Pria itu juga penulis buku best seller mengenai bidang kesehatan.
__ADS_1
"Dokter tinggal dimana?" tanya Clara basa-basi, dia begitu gugup berhadapan dengan dokter Rain, sehingga memutar otak untuk mencari bahan pembicaraan.
"Untuk sementara saya tinggal di Jakarta Selatan, daerah Kemang. kebetulan saya punya apartemen di sana yang sudah lama tidak saya tempati. Saya mendapat tawaran bekerja di rumah sakit Charity, mereka membutuhkan dokter bedah saraf yang kompeten dan sepertinya saya akan menerima tawaran itu," jawabnya tersenyum penuh makna.