Kekasihku, Pacar Ibuku

Kekasihku, Pacar Ibuku
Chapter 28


__ADS_3

Doa Clara didengar Tuhan. Agus sudah sadar dan kini sedang disuapin bubur oleh Clara. Hanya ada mereka berdua di kamar itu. Angkasa kembali atas paksaan Clara dan karena harus kembali bekerja. Sementara Tiara Clara tidak tahu kemana wanita itu, dia juga tidak peduli.


"Papa, aku mohon jangan sakit lagi. Apapun yang terjadi papa harus kuat," ucap Clara menggenggam tangan Agus. Gadis itu tebak, mungkin ayahnya sudah tahu mengenai perselingkuhan Tiara dengan Angkasa hingga sampai kena serangan jantung.


"Kamu udah tahu kalau Tiara minta pisah dari papa?"


Clara mengangguk. Dia juga tidak ingin menyembunyikan apapun dari ayahnya.


"Hufffh! Dari awal harusnya papa sadar, mana mungkin ada wanita yang mau menikah dengan papa dan mengurus papa di masa tua ini."


Ada riak kesedihan yang jelas tergambar di sana. "Pa..."


"Papa mungkin akan memenuhi keinginan Tiara. Sebaiknya kami berpisah saja, lagi pula mungkin dia ingin meraih kebahagiaannya."


Clara hanya mengangguk. Dia mendukung apapun yang diinginkan ayahnya itu. Di tengah pembicaraan mereka, Tiara masuk dan menghampiri Agus.


"Mas, mas sudah siuman?"


Clara menyingkir. Dia membiarkan ayahnya untuk bicara dengan Tiara, menyampaikan apa yang ingin dia katakan.


Clara memilih untuk menunggu di kantin rumah sakit. Kepalanya juga terasa sakit karena kurang tidur dan juga masuk angin. Saat di kantin itulah, dia mendengar para perawat yang tanpa sadar kalau dia adalah keluarga Agus, membicarakan kondisi ayahnya.


"Kasihan, serangan jantung yang diderita pasien di kamar 203 itu membuat kanker yang dia derita semakin bereaksi cepat."


Jantung Clara seketika berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tahu, hanya ayahnya yang dirawat di rumah ruangan itu, dan juga mengalami serangan jantung.


Kanker kata mereka? Papaku... oh Tuhan, ada apa ini, apa yang terjadi sebenarnya?


Clara tidak menyelesaikan minumnya yang baru diantar pelayan kantin. Meninggalkan uang 50 ribu di atas meja, lalu bergegas ke dalam ruangan ayahnya.


Terlihat Agus yang sedang memegang tangan Tiara, tampak tersenyum bahagia bersama wanita itu. "Pa..."


"Clara... kami sudah bicara. Papa juga sudah mengatakan niat papa yang ingin berpisah, tapi Tiara ingin kami mencoba sekali lagi."

__ADS_1


"Benar Cla, mungkin karena keadaanku yang baru kehilangan bayiku, hingga membuat pikiranku kacau. Aku akan selalu merawat ayahmu, berada di sisinya."


***


Clara jelas tahu kalau Tiara berbohong, tapi dia juga tidak ingin membuat riak kecewa di hati ayahnya hingga memilih untuk mengikuti alur permainan Tiara. Seujung kuku pun kini dia tidak percaya pada wanita ular itu.


Setibanya di rumah, Agus meminta agar Clara dan suaminya tinggal bersama ayahnya saja. Tentu saja Clara menolak, tapi sampai pada titik kalimat ayahnya yang mengatakan kalau dia ingin ada di dekat Clara, karena merasa mungkin sudah tidak lama lagi masa hidupnya, Clara tidak bisa menolak.


"Aku gak setuju!"


Clara sudah bisa menebak jawaban Angkasa, tapi dia tidak peduli. Baginya yang terpenting adalah kesehatan ayahnya.


"Terserah kalau kau gak mau, aku pergi sendiri."


"Terus, kalau papa nanya aku dimana?"


"Aku bilang udah kawin lagi sama janda!"


***


"Tuan minta non ikut makan malam. Udah ditungguin, Non."


"Iya bi, makasih."


Clara harus bersabar melihat akting Tiara yang sok mesra di depannya, melayani ayahnya bak istri yang peduli.


"Angkasa mana? Kenapa belum datang juga?" Tanya Agus sebelum memasukkan nasi ke mulutnya.


"Dia sibuk, Pa. Lagi pula yang penting kan aku udah di sini, jagain, papa," sahutnya tersenyum.


"Gak bisa begitu dong, Cla. Suami istri itu harus seturut. Kemana suami pergi, istri juga harus ikut. Suami apa yang tidak bisa mengerti keadaan mertuanya? Mas, kamu harus tegur Angkasa. Biar dia bisa menghormati mas dan keluarga ini," ucap Tiara memulai menebar racunnya.


"Iya, apa yang dikatakan Tiara benar. Jangan mentang-mentang udah nikah sama kamu jadi gak ada sopan santunnya."

__ADS_1


"Papa, dia bukan gak mau ke sini, tapi sibuk. Papa ngertiin dia juga dong, Pa." Suara Clara dibuat selembut mungkin.


Clara sudah mulai bisa menebak alurnya. Tiara ingin mempengaruhi papanya, agar membenci Angkasa, jika beruntung dia juga akan menghasut ayahnya untuk menceraikan mereka, dan dia bisa kembali lagi menggoda Angkasa.


"Dasar wanita laknat!" umatnya dalam hati, menarik napas dan kembali menikmati makan malamnya yang sejujurnya isi perutnya sudah mendorong ingin keluar.


"Selamat malam, Pa, semuanya, maaf aku terlambat. Ada banyak kerjaan di kantor," ucap Angkasa berjalan ke arah istrinya dan tanpa aba-aba mencium puncak kepala Clara.


"Akhirnya kamu datang juga. Papa pikir kamu gak mau melihat keadaan papa."


"Mana mungkin, Pa. Orang yang berharga bagi istriku, juga merupakan orang yang penting bagiku."


Clara mengulum senyum. Sepertinya dia, Angkasa dan juga Tiara adalah pelakon yang hebat. Semua bisa memainkan peran masing-masing dengan baik.


Makan malam berlangsung hikmat. Hanya sesekali saja Agus mengajak Angkasa bicara, itu pun membahas masalah pekerjaan.


"Makan yang banyak, Kasa. Ini aku yang masak, aku yakin kamu pasti suka," ucap Tiara menyendok udang balado yang memang makanan kesukaannya ke piring Angkasa.


Kalau dipikir-pikir, di atas meja ini memang banyak menu makanan, yang anehnya Clara tahu bukan makanan kesukaannya ataupun ayahnya.


"Luar biasa sekali cara kerja pikiran anda, ya, nona Tiara!" batinnya.


"Terima kasih, tapi aku udah lama gak makan udang, kulitku suka gatal," sahut Angkasa menyisikan udang yang diberikan Tiara tadi ke piring lain dengan sendok.


Clara ingin sekali tertawa, bahkan ingin mencium pria itu sebagai hadiah karena sudah bertindak benar. Sepertinya mereka akan menjadi pasangan yang solid, asal jangan dikemudian hari, Tiara mendapati kalau Angkasa akan kembali jatuh hati pada Tiara.


Makan malam bak di neraka usai. Angkasa pamit untuk mandi dan berganti baju. "Aku temani suami aku dulu ya, Pa." Clara memang sengaja menekankan kata suami, agar Tiara terbakar api cemburu.


"Kau mau apa?" Tanya Clara yang mendapati Angkasa sedang membuka kemejanya.


"Mau mandi lah, memangnya mau apa?" Angkasa melanjutkan kegiatannya, tidak hanya membuka kemeja tapi kini membuka celana kerjanya.


"Hei, jangan dibuka di sini, dong."

__ADS_1


"Memangnya kenapa, sih? Kita kan udah suami istri, isinya aja udah kamu pake," sahut Angkasa mengedipkan sebelah matanya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku bisa gila kalau harus tetap satu kamar dengan pria ini! Gak bisa, bisa-bisa akan ada malam khilafah bagian kedua!"


__ADS_2