
Angkasa sesudah kembali dari rumah Clara, meninggalkan banyak pertimbangan dalam diri Clara. Pria itu mau kembali pulang ketika Clara berjanji akan memikirkan tawaran Angkasa padanya. Kalau hati kecilnya ditanya dia ingin sekali menjawab saat itu juga bahwa dia menerima pria itu kembali padanya tapi seperti yang dia katakan tadi ada Whitney di antara mereka.
"Kau harus memikirkan Whitney. Aku tidak ingin karena kebahagiaan kita ada orang yang terluka, selesaikan dulu dengannya dan satu hal aku nggak mau kalau Whitney menganggapku sebagai perebut kekasih orang lah lain."
"Dia tidak mungkin berpikiran seperti itu karena dia tahu dari awal pertunangan ini bukan didasarkan oleh cinta ini hanya sifatnya untuk menolong. Aku tidak pernah memaksanya untuk mau bertunangan denganku, dialah yang mengajukan diri. Aku yakin dia akan mengerti dengan keputusanku," ujar Angkasa penuh keyakinan.
***
"Dok, ada tamu," ucap suster Wati yang sudah berdiri di depan pintunya. Untuk sesaat Clara mengerutkan dahinya. Perasaan dia tidak ada janji dengan pasien untuk konsultasi ataupun dengan orang lain. Lantas siapa orang yang ingin menemuinya?
"Kalau begitu tolong antar dia ke sini ya, Wat. Makasih ya," ucapnya sembari tersenyum.
Clara sama sekali tidak menebak kalau tamu yang ingin menemuinya adalah Tiara, wanita yang berasal dari masa lalunya yang dulu sempat menjadi ibu tirinya. Dia tidak mungkin mengusir wanita itu, ini rumah sakit dan dia harus menjaga etika.
"Ada perlu apa kau mencariku?" tanya Clara dengan nada tidak bersahabat.
"Aku datang menemuimu untuk meminta hakku. Bagaimanapun aku adalah istri ayahmu," ucap Tiara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia tampak tenang, seakan dia yakin bahwa apa yang ingin dia capai akan dia dapatkan.
"Jadi kau kemari untuk mengungkit harta? maaf aku tidak bisa memberikannya padamu, selain karena pernikahanmu dengan ayahku adalah pernikahan siri yang artinya kau tidak punya hak, ayah juga tidak mencantumkan namamu sebagai ahli warisnya. Jadi dengan sangat menyesal aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan," ujar Clara tegas.
__ADS_1
Sudah terlalu banyak kesalahan Tiara, dari berselingkuh dengan Angkasa, hingga menggugurkan janinnya. Kini, tanpa malu gadis itu datang padanya untuk menanyakan harta warisan. Padahal saat ayahnya sakit hingga akhirnya meninggal, dia sendiri tidak muncul.
"Tapi aku butuh uang itu. Aku mohon kepadamu, kasihani aku, saat ini aku sedang hamil," ucap Tiara memohon.
Nasib dari gadis itu memang sangat tragis, ketika dia berpisah dari Agus dan ayahnya pun dipecat dari perusahaan ayah Clara, Tiara akhirnya dijodohkan ayahnya kembali dengan seorang pria yang sudah beristri. Menikah sirih untuk kedua kalinya dan kini semua lebih buruk dari yang pertama karena Tiara hanya dijadikan istri pajangan. Dia hamil, dan sialnya, suami jatuh miskin karena sahamnya anjlok, dan perusahaannya kini bahkan sudah alih kelola oleh Angka yang sudah membeli perusahaan itu.
"Aku minta maaf tapi aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan," ucap Clara mempertahankan nadanya.
Dia masih ingat semua perlakuan wanita itu. Bagaimana saat wanita itu mempermainkannya dan juga ayahnya, karena Tiara 'lah, dia dan Angkasa harus berpisah. Tapi saat ini wanita itu sedang hamil, rasa ibanya sebagai sesama wanita pun tidak bisa terbantahkan.
"Aku hanya bisa membantumu dengan ini," ucap Clara seraya membuka laci kerjanya dan menuliskan sejumlah angka di atas kertas itu. "Ambillah," ucapnya menyerahkan selembar cek kepada Tiara yang diterima dari situ karena rasa haru.
Clara hanya bisa menghela napas. Apa yang kau tanam itu yang akan kau tuai. Tiara mungkin sudah mendapatkan balasannya, tapi Tapi sebaiknya dia harus mulai melupakan masa lalu dan memaafkan kalau orang yang pernah berbuat salah kepadanya seperti kata ayahnya bukankah dia punya hak untuk mengejar kebahagiaan anda sendiri
"Makan siang yuk?" kepala Desta sudah menyempil di balik pintu. Melihat wajah pria itu dia jadi ingat pembicaraannya kemarin dengan Angkasa.
"Yuk, sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Clara bersemangat. Dia sudah memutuskan jika nanti masalah Angkasa dan Whitney bisa diselesaikan dengan baik dan masih diberi kesempatan untuk bersama lagi dengan pria itu, maka Clara harus tegas menjelaskan kepada Desta bahwa mereka berdua tidak mungkin bisa bersama.
Desta pria yang baik, dia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada pria itu. Dia juga berhak mendapatkan kebahagiaannya, mendapatkan wanita yang lebih baik darinya dan yang terpenting mencintai pria itu. Bagaimanapun dipaksakan dia tidak bisa berpindah hati, dia tetap hanya bisa mencintai Angkasa saja.
__ADS_1
Ada apa nih sepertinya ada hal seru yang mau diceritakan sama aku ujar Desta memulai pembicaraan pesanan mereka sudah di order dan tinggal menunggu lumayan kantin rumah sakit itu mengantarkan kemeja mereka
"Kamu pasti masih ingatkan pria yang pernah menjadi pasienku itu?" ujar Clara memilah kalimat untuk memulai penjelasannya. Dia harus berhati-hati karena apapun yang akan dia katakan, Clara tahu akan menyakiti hati Desta.
Dia bukan tidak tahu bahwa pria itu pun menaruh hati padanya, justru karena itulah dia ingin menjelaskan saat ini juga kepada Desta itu bahwa tidak ada lagi harapan untuk mereka bisa bersama dan sebaiknya Desta melupakan perasaannya.
"Angkasa, kan? mantan suami kamu? "tembak Desta tersenyum. Pria itu memang terkenal dengan kebiasaannya yang ceplas-ceplos dan terus terangnya.
Clara yang mendengar hanya bisa menelan salivanya, dia selalu di skakmat oleh omongan Desta, tapi dia pun berusaha untuk menguasai dirinya.
"Iya benar dia, dan kamu tahu kemarin saat aku tidak masuk kerja dia datang menemui ku di rumah. Singkatnya dia memintaku untuk kembali padanya."
"Dan jawabanmu?" potong Desta yang sudah bisa menebaknya.
"Sejujurnya di dalam hatiku, masih menyimpan perasaan untuk Angkasa. Dia adalah cinta pertamaku, dan aku tidak munafik akan hal itu, tapi aku sadar bahwa saat ini ada orang lain di antara kami jadi, aku memintanya untuk menyelesaikan dulu masalahnya dengan catatan Aku tidak ingin ada yang terluka saat kami bersama nanti," kata Clara seolah tidak yakin. Pasti akan sulit menjalin hubungan tanpa ada yang tersakiti.
"Jadi begitu." Senyum di bibir Desta terlihat getir. Sebenarnya dia sudah menduga hari ini akan datang hanya saja dia tidak mengira bahwa kenyataan ini terlalu cepat datangnya.
"Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Aku memang berharap kepadamu, karena aku mencintaimu, tapi jika aku tidak bisa berada di hatimu maka aku pun tidak ingin memaksamu" ucap Desta masih berusaha tenang. "Aku punya harga diri, jadi aku hanya bisa mendoakan semoga kau berbahagia."
__ADS_1