
"Pria itu siapa kamu, sih?" Tanya Bian semakin penasaran. Dia ingat perkataan Vera kalau Clara adalah anak tunggal, lantas mengapa kini tiba-tiba dia punya Abang?
"Kan kemarin udah dia kasih tahu kalau dia abang sepupu ku. Kenapa sih?"
"Gak. Gak papa. Cuma matanya merhatiin kita udah kayak mau telan aku aja, tau gak." Bian jujur merasa sangat tidak nyaman. Dia seolah dianggap ancaman bagi Clara.
"Udah, gak usah dipedulikan. Dia emang rada aneh," sahut Clara masuk ke dalam rumah sakit. Ini adalah hari terakhir mereka di desa itu.
Semua mahasiswa sibuk menyelesaikan catatan mereka dan saat dosen yang menjadi penanggung jawab tiba, semua sibuk mengurus kelengkapan berkas agar bisa kembali ke Jakarta besok pagi.
"Ini, makan siang dulu. Udah jam dua, kamu belum makan," ucap Angkasa mengangsurkan makanan yang dia pesan dari rumah makan Padang yang ada di dekat sana.
Clara memang lapar, tapi kan tidak mungkin dia makan sementara teman-temannya tidak makan. "Nanti aja," ucapnya melihat ke sekelilingnya. Dia sebenarnya malu, tanpa peduli pada dosen dan juga teman-temannya Angkasa begitu saja masuk ke ruangan mereka dan meletakkan di atas mejanya.
"Teman-temannya mu juga dapat kok. Aku beli juga sama mereka. Sekarang kamu makan," ucap Angkasa seolah dia bisa mengerti isi pikiran Clara.
Keenam teman Clara serta dosen, tim medis rumah sakit akhirnya makan bersama. Angkasa yang sadar bukan bagian lingkungan itu kembali keluar menunggu Clara selesai.
"Itu pacar kamu baik banget. Tahu aja kita kelaparan," ucap Dosen pembimbing mereka.
__ADS_1
"Pria itu bukan pacarnya, Pak. Hanya Abang sepupu yang dikasih mandat untuk menjaga Clara," timpal Bian tidak terima jika orang-orang salah duga.
"Oh, bapak kira dia pacarnya Clara. Cocok soalnya. Lagi pula, katanya kalau mirip jodoh, kalian mirip loh."
Clara hanya bisa tersenyum, meringis mendengar pernyataan dosennya.
Pukul tujuh malam semua rampung, dan malam itu mereka mengadakan api unggun di halaman rumah pak Kades sembari memanggang ayam. Perpisahan kecil-kecilan serta ucapan terima kasih dari mahasiswa untuk keluarga pak kades.
Angkasa ikut di undang, tapi dia hanya duduk dan bicara dengan dosen pembimbing mereka, mungkin karena lebih cocok dan nyambung dari segi umur.
"Kita pulang, Yuk?" ajak Angkasa yang melihat Clara menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara dengkulnya.
Dosen mereka juga sudah pamit kembali ke hotel karena memang membawa keluarganya.
Tapi saat menunduk ingin memapah Clara, Angkasa mencium bau minuman yang menyengat.
Di samping dua mahasiswa tergeletak tiga botol kosong yang ditebak Angkasa adalah botol minuman beralkohol.
"Kalian minum?" Hardik Angkasa.
__ADS_1
"Sorry, Bang. Ini emang kita simpan buat perayaan selesainya penelitian kita hari ini. Kita gak nyangka kalau Sita, Lita sama Clara gak bisa minum, pada teler semua. Padahal mereka minum juga sedikit."
Angkasa sudah sangat ingin memukul teman Clara, ada Bian juga di sana, tapi tidak bisa menjaga Clara bahkan memberikan minuman padanya.
Tidak ingin membuang waktu, Angkasa mengangkat Clara, menggendong ke dalam mobil yang dia parkir memang tidak jauh dari rumah pak Kades.
***
"Mas, kenapa panas banget?" ucap Clara meracu. Membuka dinasnya lalu kancing kemejanya.
"Kamu itu gak bisa minum, tapi sok coba untuk minum." Angkasa membaringkan istri mabuknya itu ke atas ranjang, lalu membuka sepatu dan juga kaos kaki Clara.
"Mas, panas. Aku kenapa?" Clara tetap saja ribut, ngoceh hal-hal yang tidak masuk akal.
"Ya, sudah. Sini aku buka. Kalau kamu mabuk malah lebih sopan ya? Manggil Mas, besok paling kamu udah manggil kau lagi sama aku." Angkasa tersenyum, melihat wajah Clara yang tidak terima dengan ucapan Angkasa.
"Sampai kapanpun aku benci sama mu. Tapi tolong, ini kenapa panas sekali? Aku mau buka baju aja," ucap Clara mencoba duduk. Merasa keberadaan Angkasa di dekatnya mengganggu, Clara mendorong tubuh Angkasa lalu dia sendiri membuka bajunya. Di bawah alam sadarnya, Clara juga membuka celana jeans hingga hanya pakaian dalam yang tersisa.
"Aku cantik tidak?" tanyanya mencoba berdiri tegak di depan Angkasa yang melipat tangan di dada, memperhatikan tingkah laku Clara sembari mengulum senyum.
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum? Kamu kira kalau senyum, kamu udah ganteng?" Kembali Clara menghardik. Tapi tanda diduga Angkasa, Clara mendekat padanya, lalu menangkup wajah pria itu dan mendaratkan ciuman di bibir Angkasa.
Ciuman yang terasa indah, dalam dan sangat menggairahkan malam itu...