
Elin masih duduk di atas ranjang dengan gaun pengantinnya, di sampingnya ada Jesslyn yang masih dalam keadaan pingsan. Dia tidak tau harus berbuat apa hampir semua dokter dari seluruh rumah sakit datang kesana untuk mengobati pasien namun kenyataannya tidak ada yang masuk ke dalam Villa itu untuk mengobati dirinya, mungkin semua ini memang sudah di rencanakan.
Elin Ji membelai rambut Jesslyn, air matanya bercucuran dia tidak tau harus apa ketika gadis itu bangun dan di sisi lain kakinya terasa sakit akibat tertimpa reruntuhan saat berusaha menyelamatkan diri bersama suaminya dia beberapa kali mendesis pelan.
Sementara itu kekacauan di luar benar-benar tidak bisa di pahami lagi. Semua orang kocar kacir kesana kemari ada yang bisa atau mau di bawa kerumah sakit ada juga yang menangis terisak dan banyak juga yang pingsan karena ketakutan.
Lautan manusia di depan Villa megah itu , bencana datang di saat yang tidak tepat. Jika targetnya adalah dirinya kenapa mesti melibatkan ratusan nyawa manusia, kenapa tidak meledakkan villa nya saja. oh iya rumahnya adalah tempat pribadi tidak semua orang bisa masuk.
Seketika Elin juga teringat kakeknya, bagaimana kondisi laki-laki tua itu sekarang dan dimana dia berada. Ingin rasanya dia keluar untuk mencari kakek nya namun dia tidak bisa meninggalkan Jesslyn di dalam rumahnya sendirian.
"Ughhh.... Ugh...." gadis kecil itu mulai sadar, dia membuka matanya sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing dia menggeleng-gelengkan kepala membuyarkan pandangan mata kaburnya dan melihat ke depat, hanya terdapat Elin Ji di sana.
"Bibi Elin, dimana ibuku?" tanya Jesslyn sambil berusaha duduk.
"Maaf Jesslyn, ayahmu sedang berusaha mencarinya."
"Seharusnya aku tidak menyetujui keinginan ibu untuk datang ke neraka ini. Ibuku hilang persis seperti dalam mimpiku."
__ADS_1
Jesslyn menangis gadis kecil itu sudah tidak kuat menahan rasa sakit di dadanya, andaikan saja dia tidak izin untuk mengambil minum mungkin saat ini dia masih bersama ibunya dalam keadaan apapun.
"Bibi Elin. Ibu pernah berjanji untuk tidak meninggalkan aku, dia pasti baik-baik saja." ucap Jesslyn menguatkan dirinya.
Teriakan dan suara tangis orang-orang diluar membuat dirinya sadar bahwa saat itu bukan hanya dirinya yang kehilangan keluarga namun orang-orang di luar juga sama.
"Bibi aku ingin melihat keluar." ucap Jesslyn sambil menunjuk ke arah luar.
"Jesslyn, aku mau ikut tapi kaki ku, harus nya aku tidak mengadakan pesta pernikahan ini. jika pesta ini tidak ada maka ibumu, kakekku dan orang-orang tidak akan menghilang ataupun kehilangan nyawanya."
Jesslyn melihat ke arah Elin, kaki nya berdarah hingga baju putih yang dia gunakan sebagian menjadi berwarna merah.
"Aku menyuruh nya untuk pergi mencari ibumu dan kakekku bagaimanapun keadaan mereka."
Jesslyn yang sudah sadar itu turun dari tempat tidur, dia masih merasakan pusing di kepalanya namun jiwa besarnya bangkit. Dia adalah gadis kecil namun pengalaman yang mengajarinya tumbuh dewasa, di sudut ruangan dia melihat kotak p3k kemudian dia turun dan mengambil kotak putih tersebut.
"Bibi biar ku bersihkan lukamu, ibu pernah bilang jika kita terluka hal pertama yang perlu di lakukan adalah membersihkan lukanya dan kemudian membalutnya agar tidak terinfeksi kuman dan bakteri."
__ADS_1
"Beruntung sekali ibumu memiliki putri secerdas dirimu."
"Mami, jangan menangis dan jangan lupa sekarang aku juga putrimu."
Jesslyn membersihkan luka Elin, walaupun kepalanya masih pusing namun dia tetap membantu orang di depannya itu. mungkin seharusnya dia membenci wanita itu namun dia selalu berusaha untuk berpikiran jernih, bukan wanita itu pelakunya dia hanya bagian dari keluarga Ji.
Elin mengangguk sambil tersenyum, benar gadis di depannya adalah putri angkatnya. Sementara Jesslyn sudah selesai memperban luka di kaki Elin. Setelah itu selesai dia menghampiri lemari pakaian yang besar kemudian membuka lemari tersebut, nampak sekali baju-baju baru yang tersusun rapi kemudian dia mengambil satu yang paling simple.
"Mami ayo ganti baju dulu, pakaian mu sudah kotor terkena reruntuhan dan juga darah."
Elin tersenyum dia meraih gaun yang di ambil Jesslyn kemudian di depan gadis itu juga dia menukar pakaiannya. Ingat Elin hanya terluka di kaki bukan di tangan jadi masih sangat mudah hanya untuk mengganti pakaian. sementara resleting yang ada di punggung nya Jesslyn lah yang membantunya membukanya.
Jesslyn mengamati tubuh yang ada di depannya terlihat beberapa luka lebam mungkin saja itu karena benturan reruntuhan saat dia melarikan diri.
"Jesslyn ayo keluar. Kita lihat apa di luar perlu bantuan kita."
Jesslyn mengangguk dia mengikuti elin yang berjalan tertatih tatih keluar dari kediaman besar itu dia melihat rumah megah atau manison mewah tempat dia di besarkan kini runtuh setengahnya tapi dia melihat ibu dan adik tirinya baik-baik saja.
__ADS_1
Bagaimana dia selamat tanpa luka sedikitpun. Sementara dia melihat ayahnya terduduk tak berdaya disana.