Kembalinya Dia Sang Pewaris.

Kembalinya Dia Sang Pewaris.
Bunga Kan Mekar.


__ADS_3

Saat ini Jesslyn sedang berada di teras rumahnya, dia memetik satu persatu kelopak bunga yang ada di dekatnya. Beberapa pelayan dan juga pengawal silih berganti melewatinya namun tidak ada satu orang pun yang berani menegur Jesslyn.


Namun tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah besar tersebut, mobil yang tidak asing bagi Jesslyn namun asing bagi orang-orang yang ada di sana. Mobil tersebut adalah milik keluarga Ji, wajar jika asing bagi orang-orang itu karena biasanya Jimmy datang dengan mobil ibunya bukan mobil tersebut.


Jimmy turun dari mobilnya di ikuti oleh pengawal yang ada di belakangnya.


"Kak kenapa kamu tidak lagi menemuiku? Apakah kamu sudah bosan menjadi kakakku? Salahku apa?." Jimmy mencecar Jesslyn dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dan tidak masuk akal namun gadis itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Bukan begitu Jim, kakak sibuk. Aku harus mempersiapkan ujianku untuk melompat kelas, jika aku gagal pantaskah aku menjadi calon pewaris. Lagian ayah sampai saat ini tidak ada kabar sama sekali."


"Kamu kira cuma ayahmu, ayahku juga menhilang tanpa jejak." ucap Jimmy kesal sambil meraih dan menggigit kue yang terdapat di atas meja tempat Jesslyn duduk.


Dua orang tersebut duduk dan termenung, Jimmy yang awalnya ceria juga ikut terbawa suasana dia ikut merindukan ayahnya karena sudah hampir satu tahun mereka tidak berjumpa. Sementara itu Elin dan Antonio sibuk bekerja, mereka tidak bisa untuk memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal. Banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang perlu di selesaikan oleh mereka setelah Song Lucas meninggalkan perusahaan seperti masalah yang tidak ada hentinya.

__ADS_1


Namun kabar bahagia terjadi, di rumah sakit Berryl sudah mulai sadarkan diri. Pihak rumah sakit berkali-kali menelfon Song Lucas atau Antonio namun tidak ada jawaban sama sekali, dan kini mereka hendak menelfon Song Jesslyn Ivona namun mereka sedikit takut dengan pewaris tunggal tersebut.


"Sudah telfon saja, ini adalah kabar bahagia." ucap salah satu dari dokter yang merawat Berryl.


"Tapi kondisi nona Berryl belum stabil, bagaimana jika dia tidak sadarkan diri lagi." ucap salah satunya.


"Mereka sudah menunggu sebelas tahun untuk hari ini, mana etika dokter kalian."


Benar saja dokter muda tersebut mengambil telepon tersebut kemudian menekan tombol panggil dan tutttt... benar-benar tersambung. Sedangkan Jesslyn masih sibuk di teras dengan kelopak bunga dan Jimmy Lan.


",Jimmy kamu lihat bunga ini, dari kuncup dan mekar namun tetap saja rapuh biarpun cantik. Aku tidak ingin rapuh Jimmy, namun aku sama saja tidak memiliki ayah dan ibu." ucap Jesslyn dengan sendu.


"Bukan tidak punya, hanya saja mereka sedang berjuang di posisinya masing-masing. Kamu yakin kan bunga kuncup ini pasti akan mekar, jika kamu yakin pasti kamu bisa."

__ADS_1


Senyum sumringah Jimmy Lan membuat Jesslyn mengangguk Bunga Kan Mekar, mungkin saja suatu saat tuhan akan menjawab doa-doanya.


"Nona, dari tadi ponsel anda terus berdering." ucap Neon sambil menyodorkan benda pipih milik Jesslyn tersebut, sekilas Jesslyn menatap layar tersebut.


"Telfon dari rumah sakit," ucap Jesslyn sambil sesegera mengambil benda pipih tersebut.


Dengan secepat kilat Jesslyn mengangkat telefon tersebut kemudian menyalakan Loudspeaker bermaksud agar Jimmy juga ikut mendengar isi dari panggilan tersebut.


"Hallo nona besar, Dokter Josh disini ingin Memberitahukan bahwa nyonya Song sudah sadarkan diri namun kondisi beliau belum stabil. Apa nona besar bisa datang kemari?"


dokter yang bernama Josh tersebut mengatakan itu dengan sopan yang di jawab dengan biasa saja oleh Jesslyn.


"Baik aku akan segera kesana." ucap Jesslyn sambil mematikan benda tersebut.

__ADS_1


__ADS_2