
Pagi harinya tidak bisa di pungkiri, tamu undangan dari berbagai belahan penjuru dunia menyaksikan ikatan cinta yang tejadi pada pasangan itu. Tepat pukul 10.00 Elin hendak melangsungkan upacara pernikahannya.
Sementara itu Berryl tengah memakai gaun yang terbuka bagian pinggang nya, gaun itu nampak cantik untuk tubunya yang indah dan ramping. Walaupun dia adalah ibu satu anak namun dia masih sangat cantik dan tubuhnya terawat dengan baik. Gaun itu telah di siapkan oleh Elin beberapa waktu lalu di Apartemen miliknya sementara gaun Jesslyn dia menggunakan gaun yang dia bawa dari Rose Garden.
"Ibu apakah kamu gugup?"
"Tidak ibu hanya tidak menyangka setelah sekian lama akhirnya aku kembali ke negara ini."
"Ibu yah semua kemungkinan itu pasti ada."
Jesslyn berucap selayaknya orang dewasa, gadis kecil itu selalu di penuhi kejutan-kejutan kadang dia bersikap manis layaknya gadis seusianya dan kadang juga dia bersikap selayaknya dirinya adalah orang dewasa.
namun kini gadis itu baru berusia lima tahun, dia adalah gadis taman kanak-kanak yang sebentar lagi akan masuk ke sekolah dasar. Jesslyn duduk di samping ibunya sementara Berryl dia mencoba menata rambut Jesslyn, dia menyayangi Jesslyn tanpa memandang jika gadis itu lahir hanya karena kesalahan satu malam. Saat ibu dan anak itu sedang berbincang-bincang mereka mendengar bunyi pintu di ketuk.
"Nona Berryl, apakah anda sudah siap? aku adalah supir nona besar Ji yang di utus untuk menjemput anda." ucap seorang pria di balik pintu.
Berryl masih ingat jelas wajah laki-laki itu walaupun sudah lebih dari enam tahun tidak berjumpa dan kerutan di wajahnya sudah bertambah selebihnya tidak ada yang berubah dari penampilan supir pribadi Berryl tersebut.
"Tuan kenapa anda sendiri yang menjemput saya?" tanya Berryl saat dia sudah membuka pintu apartemennya.
"Karena nona besar tidak percaya pada siapapun kecuali saya nona. Keselamatan anda adalah prioritas." ucapnya sambil membungkuk.
"Sudah jangan berlebihan, ayo kita berangkat."
"Mari nona."
"Jesslyn jangan mengacau di pernikahan bibi Elin, kamu harus patuh dan juga jangan menjauh dari ibu."
"Baik ibu."
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju parkiran lantai bawah, di dalam lift tidak ada pembicaraan apapun dari mereka bertiga suasana terasa hening tapi sangat serius.
__ADS_1
"Paman , apakah di kediaman Ji ada tempat yang menyimpan banyak bahan mudah meledak dan terbakar?" tanya Jesslyn dalam keheningan tersebut.
"Ada nona, itu di gudang bawah tanah."
"Letakkan kamera tersembunyi di sana dan perketat pengawasan tempat itu."
"Kenapa nona kecil berbicara seperti itu." supir Elin tersebut terheran-heran mendengar ucapan gadis kecil yang tidak pernah atau belum pernah dia temui sebelumnya itu, namun menurut informasi nona muda nya dia adalah Jesslyn Ivona yang merupakan putri dari sahabat karib Elin tersebut.
"Ibu kamu masih ingat mimpiku, aku bermimpi ledakan itu berasal dari lantai dansa kediaman Ji dan itu menyebabkan Manison besar itu roboh setengahnya. Namun walaupun itu hanya mimpi ku harap paman lebih berhati hati karena ada banyak serigala berbulu domba yang akan hadir."
Supir Elin tersebut termenung benarkah gadis yang ada di depannya itu berusia lima tahun, bahkan dia bisa memikirkan apa yang tidak terpikirkan olehnya. Dia adalah anak kecil namun kenapa pemikirannya jauh lebih dari yang bisa dia bayangkan, di saat anak lainnya sibuk dengan mainan mereka dia sudah bisa menyusun strategi untuk memperbaiki keadaan.
"Baiklah nona kecil, kamu benar mimpi hanya bunga tidur namun kita benar-benar harus lebih waspada."
Jesslyn mengangguk sementara Berryl tidak tau harus menjawab apa atas kata-kata anaknya yang dia nilai berlebihan tersebut, namun dalam hati ibu muda tersebut merasa bangga ketika anaknya bisa mengingatkan orang lain agar lebih waspada dengan kejamnya keadaan.
mobil terus melaju dengan pesat menembus padatnya jalanan karena memang hari itu orang-orang berbondong-bondong datang ke kediaman Ji hanya untuk menyaksikan pernikahan berharga dua sejoli tersebut dan tujuan lainnya adalah untuk mengait rekan bisnis yang baru.
Setelah di jalan sekian lama akhirnya mereka sampai ke kediaman Ji, supir tersebut langsung membawa Berryl dan putrinya pergi ke ruang tempat Elin berada.
"Elin aku datang." ucap Berryl sambil membuka pintu.
gadis yang sedang di rias itu langsung menghambur begitu saja memeluk Berryl, air matanya bercucuran ketika dia bertemu sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu.
"Sudah enam tahun dan kamu masih cengeng saja. Sudah berhenti menangis make up mu luntur."
Elin tersenyum kemudian melihat ke samping Berryl, seorang gadis kecil tengah menatap acuh tak acuh seakan-akan biasa saja dengan kejadian di matanya.
"Kamu memang mirip seperti dia Jesslyn." ucap Berryl.
"Dia siapa bibi?" tanya Jesslyn terpaku.
__ADS_1
"Dia ibumu. Ibumu selalu bersikap acuh terhadap hal sepele."
Nyaris saja Elin menyebutkan tentang Lucas, ayah biologisnya Jesslyn.
"Kenapa kamu memanggilku bibi, apakah ibumu tidak mengajarimu untuk memanggilku mami."
"Aku merasa itu terlalu canggung, anda adalah nona besar Ji dan sebentar lagi akan menjadi nyonya muda Lan bagaimana bisa aku memanggil orang seperti anda mami."
"Tidak mau aku mau kamu panggil aku mami."
Elin mulai lagi merengek-rengek seperti anak kecil membuat Jesslyn menggeleng-gelengkan kepala kemudian menyetujui hal itu, mulai sekarang dia memanggil Elin dengan panggilan mami.
"Aku punya ibu tapi aku tidak punya ayah, ada baiknya juga ada mami." ucap Jesslyn menunduk.
"Siapa bilang kamu tidak punya ayah, mulai sekarang kamu harus panggil paman Lan dengan sebutan papi jadi termasuk ayah kamu." ucap Elin sambil menarik lengan Dijia, laki-laki itu benar-benar menerima anak Lucas sebagai anak angkatnya namun itu lebih baik jadi dia bisa dekat dengan keponakan kecilnya.
Setelah itu mereka menunggu Elin selesai berhias, tamu di luar sudah ribuan orang yang datang ingin menyaksikan janji cinta tersebut sementara Mona dan nyonya Shireen sedang menjalankan rencananya.
"Ibu kapan ledakan itu."
"Lakukan selesai upacara." ucapnya dengan senyuman.
"Kenapa menunggu selesai upacara?"
"Biarkan dia bahagia sebelum maut menjemputnya."
"Baiklah."
Setelah berbicara tentang hal itu mereka berdua mengikuti tuan besar Ji dan kakek Kong untuk menyapa para tamu sedangkan supir kepercayaan Elin dia sedang memasang beberapa kamera tersembunyi di gudang bawah tanah dan beberapa sudut dari kediaman Ji.
gudang itu selain menyimpan kilang minyak, juga menyimpan anggur koleksi tuan besar Ji hingga membuat tempat yang penuh alkohol itu sangat mudah di ledakkan.
__ADS_1