
Dalam ruangan itu Sepertinya hidup dan mati sudah di tentukan, Lucas menatap seluruh ruangan anti peluru tersebut dan ruangan itu juga merupakan ruangan kedap suara. Jadi wajar jika orang yang berada di luar ruangan tidak mendengar apa yang terjadi di dalam sana. Song Lucas masih mempertahankan kesadarannya sementara Lan Dijia dan yang lain-lain sudah kehilangan kesadaran karena menghirup gas bius di sana.
Kringgg.... kringgg.... Kringgg... Bunyi dering suara ponsel Song Lucas memenuhi seluruh ruangan orang-orang yang ada di dalam tertawa semua.
"Song Lucas, tidakkah kamu ingin menjawab panggilan untuk hari terakhirmu." ucap seseorang dengan sombongnya. Song Lucas mengambil ponselnya namun dia tidak menjawab telefon melainkan menyalakan alaram darurat ruangan itu.
Sial sungguh tidak terduga, bunyi darurat menyebar keseluruh penjuru markas semua anak buah Song Lucas berbondong-bondong untuk menolong Lucas. Sementara itu kode darurat markas sampai hingga ke ponsel Neon, laki-laki yang memiliki tugas paling berat itu menatap sebentar ke arah ponselnya kemudian menatap lagi ke arah Antonio yang sedang menggantikan Song Lucas bekerja.
"Ada apa kamu menatapku seperti itu?" tanya Antonio yang merasa aneh dengan tatapan Neon.
"Tuan besar, ada kode darurat dari markas. Apakah kita perlu memberitahu nona Jesslyn?"
"Tidak perlu, lakukan saja tugasmu lindungi Jesslyn. Selebihnya jangan banyak berfikir, Jesslyn harus tetap sekolah dengan baik. Oh ya, hubungi teman-temanmu yang disana suruh mereka mengoptimalkan semua yang bisa mereka lakukan untuk menolong Presdir Song, aku tidak ingin cucuku menjadi yatim."
__ADS_1
"Baik tuan."
Neon bergegas keluar dari ruangan itu, dalam perjalanan nya dia bertemu Elin Ji. Gadis itu sangat mengkhawatirkan suaminya namun sama dengan kakek Jesslyn dia juga tidak ingin Jimmy Lan tahu kondisi ayahnya di Eropa.
"Neon, kamu jemput mereka berdua pulang sekolah. Ada yang ingin ku diskusikan dengan paman Antonio."
"Baik Nyonya."
"Paman, bagaimana ini apa yang harus di lakukan untuk menolong Dijia dan Song Lucas."
Elin berucap dengan panik, dia sangat khawatir hal buruk terjadi kepada mereka berdua di luar sana.
"Elin ji, sudah jangan khawatir aku sudah melakukan sesuatu. Lagian mereka tidak selemah itu, bagaimana mereka bisa mati dalam satu jebakan." ucap Antonio sambil menatap wajah sahabat putrinya itu.
__ADS_1
Keheningan kemudian terjadi, siapa Antonio sebenarnya dan apa yang dia lakukan untuk menolong Song Lucas dan Lan Dijia. Namun Elin tidak berani bertanya lebih jauh dia hanya berharap semua sesuai dengan apa yang di katakan oleh Antonio.
Dering suara panggilan ruang presdir, Antonio mengangkat telepon tersebut kemudian meletakkan di telinganya ternyata itu adalah telefon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa Berryl sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar berkat cairan yang diberikan oleh Antonio. Antonio menanggapi itu dengan bahagia, dia bilang akan datang ke rumah sakit setelah cucunya pulang sekolah. mungkin saja orang pertama yang ingin di lihat Berryl adalah Jesslyn putri kesayangannya.
Antonio mengatakan itu dengan bangga kepada Elin, sementara Elin tidak terlalu bahagia ada sedihnya juga.
"Paman bagaimana jika Berryl bangun dan menanyakan Song Lucas, bagaimana kita menjelaskannya."
.
.
.
__ADS_1