Kembalinya Dia Sang Pewaris.

Kembalinya Dia Sang Pewaris.
Ayah aku berangkat.


__ADS_3

sore itu di bandar udara setempat, Jesslyn dan Berryl keluar dari taxi online yang dia pesan untuk mengantar nya ke bandar udara. Di dalam taxi tersebut kakek Jesslyn sedang duduk di samping kursi kemudi, dia mengantar cucunya tersebut yang perdana jalan-jalan ke luar negeri.


"Kakek apakah kamu tidak bahagia?" tanya Jesslyn ketika hendak keluar dari dalam mobil.


"Kakek hanya merasa sepi." ucap kakeknya dengan senyuman.


"Kakek, kita pergi tidak lama kenapa kamu merasa seolah-olah kami tidak akan kembali. Ayolah kakek jika seperti ini aku tidak akan tega untuk pergi dari tempat ini. Tiket pesawat sudah dibeli, sungguh sayang sekali." ucap Jesslyn sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Jesslyn, pergilah kamu akan kembali untuk apa tidak rela. Rela kok kakek rela namun kakek hanya merasa sepi saja tidak ada kalian berdua di sini."


Jesslyn mengangguk seakan-akan gadis itu tahu apa yang di khawatirkan kakeknya. Dia menggandeng tangan kakeknya sambil berkata


"Percayalah kakek, aku dan ibu pasti kembali."


Setelah mencium punggung tangan laki-laki tua itu, Jesslyn dan ibunya melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam bandar udara. Jam penerbangan yang di ambil memang malam, sehingga dia akan sampai di Tiongkok esok pagi. Ada hal yang mengganjal di dalam hati Jesslyn dia merasa akan ada hal buruk yang terjadi, bagaimanapun pernikahan dua keluarga besar bukanlah hal kecil.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya waktunya Jesslyn dan Berryl masuk ke dalam pesawat. Sepasang ibu dan anak itu saling memandang satu sama lain, sebelum berjalan masuk menaiki tangga pesawat.


"Apa kamu lapar Jesslyn?" tanya Berryl saat mereka sudah dalam pesawat.


"Tidak ibu, aku sudah makan banyak waktu di rumah."


Jesslyn menjawan sambil memperlihatkan perut mungilnya yang tertutup dengan sweater tersebut, tidak banyak pembicaraan yang terjadi karena di luar sana hari juga sudah gelap hingga membuat mereka mengantuk dan tertidur di dalam pesawat. Berryl tetap duduk di sampingnya sambil memandangi putrinya yang tengah tidur di sebelahnya, berbeda dengan gadis lain Jesslyn tumbuh tomboy seperti layaknya anak laki-laki.

__ADS_1


Namun saat itu Berryl merasakan sedikit ke anehan dalam diri Jesllyn, putrinya tersebut tengah mengeluarkan keringat dingin. Berryl mencoba membangunkan Jesslyn.


Sementara itu Jesslyn tengah bermimpi tentang kebakaran hebat yang membuatnya berpisah dengan ibunya.


"Tidakkk......." teriak Jesslyn kaget hingga membuat penumpang dan pramugari ikut menoleh kepadanya.


"Ada apa?" tanya seorang pramugari yang mendekatinya.


Sementara itu Jesslyn mencoba memulihkan kesadarannya kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak ada apa-apa, sehingga suasana kembali tenang.


"Ibu, barusan aku bermimpi buruk ibu. Aku bermimpi ada kobaran api yang sangat besar, banyak korban di mana mana dan banyak orang berteriak minta tolong dalam mimpi tersebut aku juga terpisah dengan ibu dalam sebuah kekacauan ada seseorang yang menolongku." ucap Jesslyn sambil memeluk ibunya.


Jesslyn memang gadis yang bar-bar namun dia sangat takut jika harus berpisah dengan ibunya dalam keadaan apapun dia ingin selalu bersama dengan ibunya.


Jesslyn kecil menjadi sedikit tenang, dia tau ibunya pasti tidak akan pernah meninggalkannya. Namun berbeda dengan ibunya, dia justru panik dengan mimpi Jesslyn.


Tak butuh waktu lama Jesslyn dan ibunya tiba di kota Tiongkok, sebelum menghadiri pesta Elin esok lusa dia harus mencari tempat tinggal. Namun dia teringat dengan apartemennya dulu waktu sekolah, apakah tempat itu masih di jaga seperti pesan Berryl kepada Elin atau sudah terbengkalai karena terlalu lama tidak di gunakan.


Berryl memanggil taxi dari bandara menuju tempat tersebut, komplek apartemen yang tidak terlalu mewah namun masih cukup nyaman tersebut sangat mudah di jangkau dari segala arah, menurut letak strategisnya.


"Ibu akankah kita tinggal di hotel?" tanya Jesslyn sambil melihat ke luar jendela menyaksikan kelap kelip lampu kota.


"Tidak, kita tinggal di apartemen ibu dulu."

__ADS_1


"Ibu, bukankah itu sudah cukup lama tidak di pakai. Akankah sekarang masih layak pakai."


"Ibu yakin, mami mu akan menjaganya!." ucap Berryl.


"Maksudmu tante Elin?"


"Dulu dia pernah bilang akan menjadikanmu anak angkatnya. Jadi mungkin kamu harus memanggilnya mami."


Jesslyn mengangguk, sementar Berryl terus-terusan menghela nafas, akhirnya mereka kembali ke Negeri dan kota penuh kenangan tersebut.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2