
Pesawat sudah mendarat dengan sempurna, semua orang yang berada di dalam pesawat tersebut bergantian untuk turun dari pesawat, suasana sangat ramai ada yang berbincang-bincang ada juga yang sebatas telepon. Dua orang yang mengenakan kacamata hitam itu turun, mereka menarik koper yang entah apa itu isinya intinya kini mereka tidak datang menggunakan pesawat atau jet pribadi, demi meminimalisir terbongkarnya kedatangan mereka Song Lucas dan Lan Dijia datang sebagai wisatawan biasa.
Perjalanan yang panjang, dia meninggalkan orang-orang tercintanya di bumi Tiongkok, dan disini nyawa mereka bisa melayang kapan saja tanpa tahu kapan itu terjadi, mereka memang bisa berhati-hati namun penyusup yang ada di sana tidak bisa di remehkan, nyatanya mereka bisa menyusup dengab sangat baik di sana.
Kini Lan Dijia dan Song Lucas telah sampai di markas besar di situ suasana serasa mencekam, Orang-orang yang di depan mereka menunduk tidak berdaya itu adalah markas Harimau Emas. Bukan tanpa alasan Lucas kesal, bagaimana bisa ribuan orang yang berjaga di markas besar itu hingga sampai kecolongan ada penyusup masuk, dan bagaimana bisa dia mendapatkan tanda pengenal untuk masuk kedalam markas. Mungkin tidak mungkin ada penghianat di dalam markas Golden Tiger tersebut.
__ADS_1
"Kalian tau kan, akibat dari menghianati Song Lucas?"
Lan Dijia membuka suara, dia mengepalkan tangannya erat-erat menahan amarah, baru saja di tinggal sementara namun kondisi markas sudah kurang setabil. Lan Dijia dan Song Lucas hanya datang kesana berdua, dia tidak membawa Neon karena laki-laki itu kini sedang melindungi Anak dan ayah mertuanya.
Suasana tegang tidak dapat di hindarkan, bisik-bisik keributan nampak terdengar dengan jelas di telinga siapa yang datang siapa yang datang. Mungkin seperti itu yang mereka dengar, Dupa bius menyebar di sana wangi semerbak yang mematikan itu tercium hingga ke dalam hidung mereka berdua.
__ADS_1
Song Lucas mengeluarkan kata-kata itu sambil menutup hidungnya, sementara orang-orang di sana adalah orang-orang pilihan mereka bukan berlari kocar kacir namun tetap berdiri hingga beberpad di antara mereka terjatuh karena asap itu. Song Lucas melihat beberapa orang yang datang dengan persiapan misalnya memakai masker atau meminum penawar terlebih dahulu. Tidak sulit untuk menemukan orang-orang yang menggunakan penawar, orang-orang itu terlihat baik-baik saja walaupun dupa bius menyerang mereka.
Song Lucas beranjak pergi namun sialnya pintu ruangan itu di blokir begitu saja hingga tidak bisa di buka sama sekali.
"Sial, kita masuk dalam jebakan." ucap Lan Dijia dengan nafas terengah-engah, dia sudah menghirup asap dari dupa bius tersebut hingga membuat dirinya perlahan-lahan kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Song Lucas masih menutup hidungnya, kini dirinya adalah satu-satunya orang yang masih sadar diantara ratusan anak buahnya dalam ruangan itu, sementara itu sepuluh orang yang masih sadar adalah penyusup dengan persiapan. Mereka maju dan mendekati Song Lucas. Jika itu tempat terbuka atau ruangan tanpa bius, mungkin saja dia bisa melawan 10 oran tersebut, namun saat ini kondisinya berbeda dia berada di dalama ruangan yang kedap udara bahkan anak buahnya di luar tidak akan tau jika di dalam terjadi suasana seperti itu.
"Song Lucas, 15 Tahun yang lalu kamu ratakan markas kami. dan 15 tahun kemudian aku meratakan markas kalian. Kita impas." ucap seseorang diantara mereka.