Kembalinya Dia Sang Pewaris.

Kembalinya Dia Sang Pewaris.
Bocornya Mesin Uap A1.


__ADS_3

Hari sudah mulai terang, Jesslyn sudah bersiap untuk ikut ayahnya pergi ke perusahaan. Dia hanya seorang gadis kecil namun tanggung jawabnya begitu banyak, dia masih harus belajar dan terus belajar tidak perduli sekecil apapun umurnya.


Kini Jesslyn sudah berada di depan cermin rias, kamarnya yang besar dan mewah namun tidak memutup kehampaan di hatinya. Dia sangat berharap untuk di temani ayah dan ibunya dalam penampilan hingga membuat dirinya sempurna, namun harapan hanyalah sebuah harapan bahkan hingga detik ini belum ada tanda-tanda ibunya akan sadar dari mimpi indahnya.


Koma selama 10 tahun, kenapa tidak mati kehabisan oksigen atau lainnya. Jelas itu tidak mungkin terjadi, Song Lucas adalah pemimpin mereka hingga saat ini Song Group akan terjun ke industri robot , Song Group sudah menjadi rajanya dari segala bisnis.


Jesslyn adalah seorang gadis remaja, dia tampil begitu feminim hari ini, dengan balutan drees sederhana dia pergi untuk menemui ayahnya. Dia berjalan menuruni tangga rumahnya sambil celingak celinguk mencari posisi ayahnya, namun laki-laki itu tidak terlihat di manapun, hingga dia bertemu seorang pelayan yang tengah membersihkan sebuah vas antik di ruang tamu.


"Bibi, dimana ayahku?" tanya Jesslyn dengan nada biasa saja namun terkesan dingin.


"Tuan besar sedang berada di ruang makan nona, beliau bilang sedang menunggu anda untuk sarapan bersama."


"Baiklah, lanjutkan kerjamu. Aku akan menyusul ayah."


"Baik nona besar."


Jesslyn melangkahkan kakinya menuju ruang makan, suara hells berpadu dengan lantai marmer sejak kapan dia memiliki kecantikan menawan namun dengan aura seperti ayahnya. Gadis itu benar-benar bisa menempatkan diri dimanapun dia berada. Gadis itu berjalan sambil memegang ponsel miliknya.


Sampainya di ruang makan dia melihat tiga orang sedang berada di sana, yaitu kepala pelayan, Neon dan Song Lucas.


"Selamat pagi ayah," sapa Jesslyn dengan ceria, dia duduk tepat di depan ayahnya yang sedang membaca koran dan menikmati secangkir kopi.


"Ayah apakah aku cantik?" lanjut Jesslyn sambil bangkit berdiri kemudian berputar-putar di depan ayahnya yang sedang menikmati kopi paginya.


"Tentu saja, putriku yang paling cantik. Tapi kamu harus mennjaga Etika, gadis 16 tahun jangan beranggapan seperti anak kecil."


"Ayah bisa aja, aku hanya melakukan di depan ayah saja tidak ada orang lain."


Jesslyn kembali duduk kemudian dia memotong steak yang ada di atas meja menjadi beberapa bagian kemudian menyerahkan itu kepada ayahnya. Sarpan pagi steak kenapa bukan sandwich semua itu tergantung permintaan mereka.


"Ayah, makan dulu. Minum kopi sebelum sarapan berbahaya untuk lambung."

__ADS_1


Lucas mengangguk, sejak adanya Jesslyn hidupnya semakin hangat gimana caranya Berryl mendidik putri sebaik Jesslyn hingga menjadi bocah yang penuh pengertian.


"Paman pelayan, bisa tolong ambilkan susu."


"Tentu saja nona."


Pelayan tersebut membungkuk kemudian pergi dari tempat itu, dia kembali ke dapur untuk menyiapkan susu permintaan Jesslyn. Setelah selesai dia kembali untuk menyerahkan susu tersebut.


Selesai sarapan, Jesslyn dan Lucas diantar oleh Neon pergi ke perusahaan. Mereka menaiki satu mobil karena itu sudah cukup untuk pergi bersama.


Sementara itu di rumah Elin, Elin tengah menegur putranya yang sibuk bermain game pagi hari. Hari yang cerah seperti itu mestinya dia pergi berolahraga bukan malah duduk sambil bermain game.


"Jimmy Lan? apakah kamu belum selesai dengan benda itu."


"Ayolah mami. Ini sebentar lagi akan selesai," ucap Jimmy sambil terus memainkan benda tersebut.


"Andaikan saja kamu memiliki sedikit kecerdasaan Jesslyn pasti mami tidak akan kesal sama kamu."


"Mami, anakmu itu aku atau dia."


"Jimmy, apa yang barusan kamu katakan. Kamu tau ayahnya lah yang membuat perusaan Ji dan Lan tidak jadi bangkrut waktu ledakan 10 tahun yang lalu. dan kamu tau Jim, ibunya jatuh koma karena saat itu mendorongku untuk keluar. Andai saja dulu dia tidak menyelamatkan aku terlebih dahulu, mungkin saat ini yang terbaring di bangsal adalah aku. dan kamu belum lahir ke dunia ini." ucap Elin Ji dengan amarah, air matanya berkaca-kaca mengenang tragedi kelam saat dia sedang berada di ambang kehancuran disaat seluruh dunia mengutuknya keluarga pembawa sial Song Lucas dan Jesslyn masih Berdiri di sisinya.


"Ibu maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu."


Jimmy memeluk ibunya yang tengah menangis mengingat hal itu sementara ayahnya sudah pergi pagi-pagi sekali.


"Sampai kapanpun Jesslyn adalah kakakku , aku tidak akan membandingkan diriku dengannya."


Elin mengangguk kemudian memeluk pangeran kecilnya itu, sementara Jimmy dalam batinya tertanam janji untuk membalas budi kepada keluarga Song dan keluarga Ivona.


"Ibu, siang nanti ayo kita kunjungi bibi Berryl di rumah sakit."

__ADS_1


Mendengar ajakan itu Elin mengangguk, ini pertama kalinya Jimmy Lan mengajukan permintaan untuk mengunjungi Berryl biasanya dia akan memaksa putra tunggalnya itu untuk mengunjunginya namun saat ini justru bocah kecil itu memiliki inisiatif.


Sementara itu di sisi lain, Jesslyn, Song Lucas dan Neon sudah tiba di induk perusahaan Song karena di sanalah sistem A1 akan di kembangkan. Di susul mobil Lan Dijia di belakang mereka,


Dua orang pengawal yang bertugas di pintu masuk membuka dua pintu tersebut, Jesslyn dan Song Lucas keluar dari mobil tersebut setelah itu Neon memarkirkan mobil tersebut.


Itu adalah pertama kalinya Jesslyn menginjakkan kakinya secara langsung di pusat Song Group, gedung pencakar langit tersebut merupakan induk dari bisnis keluarga Song.


Beberapa orang menyapa Mereka, ada yang panik karena dan berhamburan kesana kemari.


"Paman ada apa?" tanya Jesslyn saat se-seorang tengah berlari ke arah mereka. Laki-laki yang di tatap Jesslyn itu mendekat kemudian menunduk.


"Maaf Nona, Maaf Tuan Presdir. Terjadi kebocoran gas di ruang percobaan A1. Jika ini tidak di kendalikan, bisa menyebar ke seluruh perusahaan."


"Apakah gas itu beracun paman?" tanya Jesslyn lagi.


"Menurut penelitian sih tidak nona, tapi cukup berbahaya bagi pernafasan. Apalagi jika orang yang menghirup memiliki penyakit asma atau sesak nafas."


"Baiklah, matikan semua kendali. dan evakuasi semua orang yang dekat dengan ruangan itu. Jika ada yang sesak, sakit tolong segera bawa ke rumah sakit."


Laki-laki itu menatap Song Lucas ini pertama kalinya dia diperintah oleh seorang gadis yang datang bersama presdirnya itu. dia jelas terlihat bingung.


"Lakukan saja semua yang dia katakan, dia adalah putriku Song Jesslyn Ivona, mulai sekarang kamu dan kalian semuanya wajib memanggilnya Nona Besar."


"Baik tuan."


Dia kemudian bergegas untuk melakukan semua yang di katakan Jesslyn, pertama adalah memutus atau mematikan kendali kemudian mengevakuasi orang-orang yang bekerja dekat dari bagian itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2