
Elin Ji berjalan tertatih-tatih kakinya pincang karena hantaman reruntuhan bangunan, mereka berdua bergegas untuk melihat keadaan di luar. Banyak orang mengutuk itu adalah karma keluarga Ji , ada juga yang menyalahkan dirinya sendiri karena datang ke pernikahan berbahaya tersebut.
"Jesslyn, dimana ibumu dimana kakekku." ucap Elin sambil mengeluarkan air mata dia menatap puluhan orang tak bernyawa di halaman manison besar tersebut, hari sudah larut dan yang selamat di evakuasi ke hotel terbaik milik keluarga Ji, yang sakit di kirim ke rumah sakit sementara yang meninggal masih ada di sana.
Berryl menggengam tangan Elin kemudian melagajak wanita itu melangkah maju, menutupi rasa sakit dia melihat satu persatu mayat yang tergeletak berharap tidak ada ibunya di sana.
"Kakekkkkk....." teriak Elin ketika mendapati laki-laki tua yang paling menyayanginya tergeletak tidak bernyawa.
"Kakek, kenapa kakek tinggalin Elin. Bagaimana Elin menjalani hidup jika tidak ada kakek."
Elin menangis tersedu-sedu namun laki-laki tua dalam pelukannya tidak menjawab, nyawanya sudah berpisah dengan raganya hingga mungkin saja dia masih menertawakan kejadian konyol keluarga Ji yang merenggut nyawanya dari surga.
"Mami, maaf apa pak supir yang kemarin menjemput ibu dan aku masih hidup?"
Jesslyn bertanya sembari menepuk pundak Elin yang tengah menangis, Elin menoleh kepada gadis kecil itu. Ibunya hilang namun dia berusaha untuk tetap tenang, bagaimana bisa gadis se kecil itu menyembunyikan kesedihan dengan sangat sempurna.
" kejadian ini janggal tidak mungkin rumah ini meledak begitu saja."
"Jesslyn sayang, maafkan aku. Andaikan mami tidak menyebarkan berita pernikahan di tv internasional ini tidak akan terjadi."
"Tidak ini bukan salahmu. Seseorang telah merencanakan ini, kini aku hanya perlu menangkap orangnya dan membalas dendam tentang ibuku."
Jesslyn kecil menahan amarah, sorot matanya tajam dia benar-benar tidak akan melupakan kejadian ini karena hingga saat ini ibunya belum juga di temukan.
Hoshh... Hoshh.. Hoshh... tiga orang mendekati mereka dan bertanya-tanya kenapa mereka ke luar dari dalam Villa , kondisi di luar sangat tidak stabil. Tiga orang itu adalah Lucas, Elesh dan paman supir.
"Paman Supir, anda di sini. Aku ingin melihat hasil dari kamera pengawas yang kamu pasang. Aku akan membunuh semua orang yang menyakiti ibuku."
Jesslyn mengepalkan tangan di antara banyak orang dia hanya berfikir untuk membalas dendam saja sementara yang lainnya sibuk berfikir bagaimana menyelamatkan orang lain.
__ADS_1
"Apa tidak perlu kita tunda besok nona?"
"Paman, aku tidak ingin pelaku melarikan diri terlalu jauh."
Gadis itu berfikir terlalu jauh, kenapa ada gadis kecil seperti itu itu jauh di luar dugaan jika gadis kecil lainnya pasti sudah menangis meraung-raung ketika ibunya hilang namun dia justru berencana untuk menangkap pelakunya terlebih dahulu. Apakah dia tidak khawatir tentang ibunya, dia khawatir hanya saja dengan membalaskan dendam kepada pelaku mungkin arwah semua orang yang telah tidak bisa tenang di alam baka.
Supir pribadi Elin tersebut menyerahkan ponselnya ke pada Jesslyn dan memperlihatkan beberapa sudut kamera pengawas yang dia pasang. Namun sebagian kamera tersebut rusak karena ledakan tersebut hingga membuat petunjuk nyaris putus begitu saja.
"Paman, apa ada komputer atau laptop yang bisa digunakan?" tanya Jesslyn kembali, untuk apa komputer atau laptop.
"Jesslyn, di Villa ku ada laptop. ayo kembali aku akan memberikan itu untukmu."
Elin berucap sambil mengusap air matanya dia harus membantu Jesslyn untuk balas dendam bukan malah menangis tak berguna di halaman, sementara Lucas dan Dijia dia sudah mengerahkan orang-orangnya untuk memanggil beberapa alat berat agar bisa mempermudah pencarian korban karena titik lokasi terjadinya ledakan sudah di tentukan dan tidak mungkin orang-orang bertebaran ke belakang makan di prioritaskan dulu di titik lokasi.
"Paman apakah kamu bisa menemukan ibuku. Hatiku tidak tenang,"
Baru pertama kalinya dia bertemu dengan putrinya wajar jika dia merasa gemetar atau sedikit khawatir kehadirannya di tolak oleh putrinya sendiri.
Dia juga hanya seorang ayah biasa bukan ayah yang baik karena selama enam tahun dia tidak bisa menemukan keberadaan putrinya itu.
"Jesslyn, ada yang ingin mami katakan padamu. Mami tau ini bukan momen yang tepat namun kamu harus tau siapa laki-laki yang kamu panggil paman itu. Jesslyn maafkan mami tapi dia adalah ayah kandungmu Song Lucas."
Elin memegang pundak Jesslyn, gadis kecil itu sedang berusaha mencerna maksud dari kata-kata sahabat ibunya itu.
"Ayahku."
Jesllyn kebingungan mendadak dia kebingungan, ayahnya adalah Lucas, sepertinya hal itu tidak mungkin ibunya bilang dia ada hanya karena kecelakaan dengan pemuda mabuk.
"Tunggu sebentar, Ayahku? Tapi ibu bilang ayahku adalah seorang pemuda mabuk yang tidak sengaja meninggalkan benih di rahimnya. Mana mungkin ayahku adalah paman Song, ini mustahil bibi. Kamu jangan bercanda bibi, oh tidak mami. Ini tidak lucu."
__ADS_1
"Jesslyn, maafkan aku. Aku sudah mencarimu selama 5 tahun namun tidak bisa menemukan jejak kalian sama sekali."
"Jadi perusahaan yang berusaha ku bobol beberapa waktu lalu milikmu."
Semua orang yang mendengar itu kaget bukan main, bagaimana bisa seorang gadis kecil berusia lima tahun lebih beberapa bulan membobol sistem perusahaan, tapi itu tidak mustahil ketika ada gen Song Lucas di dalam darahnya.
"Tidak apa-apa kamu mau membobol atau menghancurkannya, Song Group itu milikmu." ucap Lucas dengan santainya.
"Baiklah ayah presiden direktur song, kirimkan aku beberapa orangmu yang ahli dalam it dan tugas terpentingmu adalah mencari ibuku."
Song Lucas menggeleng kan kepala pertama kalinya dia di perintah sejak menduduki kursi presiden direktur dan itu perintah dari putrinya yang baru berusia lima tahun,
"aku akan membobol satelit dan menutup semua jalur penerbangan, laut dan juga darat."
Jesslyn Ivona, gadis itu bukanlah anak yang berbeda dia hanya seorang gadis kecil yang suka bermain namun iq nya membuat dirinya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa di lakukan oleh anak se usianya contohnya adalah tentang IT.
"Baik, aku akan melakukan itu. Setelah semua nya selesai aku akan memindahkan margamu menjadi Song Jesslyn Ivona. Kamu akan memiliki dua marga."
"Harusnya kamu menikahi ibuku sebelum memberikan aku marga, lagian kakekku belum tentu setuju kamu menjadi ayahku."
Song Lucas berlutut kemudian dia memegang kedua tangan gadis kecil yang merupakan putri biologisnya tersebut.
"Tidak peduli kakekmu setuju atau tidak, dia tidak akan bisa memisahkan ikatan darah ayah dan anak. Jesslyn kamu tau saat aku menarikmu keluar dari reruntuhan aku merasa sakit melihatmu tak berdaya. Jika beliau tidak percaya aku akan mengajakmu tes dna lain kali."
.
.
.
__ADS_1