Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Over Dosis


__ADS_3

Kosan Darwin.


Dia kembali ke kamarnya. Pikirannya bercampur aduk. Dia mengeluarkan gitarnya, menyambungkan ke speakernya dan mulai memainkan.


Karena dia tau penghuni kosan lagi ada dikampus semua, dia pun membesarkan volume di speakernya, suara melodi gitarnya terdengar kencang.


Dia teringat sesuatu, dia mengambil sebotol minuman dari lemarinya. Blue label punya Ferdi, yang waktu itu dititip dikamarnya. Dia membuka botol tersebut dan meminumnya, straight.


Dia menyalakan rokok dan kembali memainkan gitarnya.


'Lu pacaran sama Putra? Tapi kok lu gak bilang ke gue? Trus kok lu diem aja dipeluk dia? Selama ini gue siapa dimata lu, Cha?' Darwin bergumam dalam hati.


Darwin menenggak lagi minumannya, dan terus memainkan melodi gitarnya.


'Gue gak rela kalo lu jadi cewe orang. Gue tuh sayang sama lu, Cha. Bukan sebagai sahabat gue.' dia berkata dalam hatinya.


*


Selesai makan.


Gue pengen banget ngebul, tapi si Putra di depan gue.


"Put, kamu gak nemuin temen-temen band kamu dulu?" gue bertanya ke Putra.


"Iya nanti. Kenapa?" tanya Putra.


Gue cuma menggelengkan kepala.


Putra menatap gue tersenyum, "Mau ngebul ya?"


"Iya. Makanya kamu pergi sana."


"Ya udah ayo, jangan ngebul disini. Banyak orang. Kamu ke mobil aku aja, dibuka pintu nya kalo mau ngebul. Aku ke temen-temen aku dulu." kata Putra sambil memberikan kunci mobil ke gue.


Gue pun berjalan ke parkiran kampus bareng dia.


"Kamu tunggu dimobil aja ya. Aku juga mau ke temen-temen kelas aku disana." kata Putra sambil menunjuk ke arah temen-temen kelasnya yang lagi nongkrong di taman kampus.


Gue cuma mengangguk dan mengambil rokok di tas.


Gue memperhatikan dia bersama temen-temen kelasnya. Gue gak kenal sama mereka, karena mereka juga anak pariwisata, beda gedung jadi gue gak kenal.


"Mereka ngobrolin apa ya, kok kaya sambil nunjuk-nunjuk kesini." gue bergumam.


Gue menyalakan rokok, "Who cares lah. Paling-paling obrolan cowo, sama ngomongin pengakuan Putra tadi di panggung."


"Eh, Cha!" suara Natalia ngagetin gue.


"Eh, Nat! Ngagetin aja lu." gue keluar dari mobil dan berdiri di depannya.


"Cha, thank you ya hari ini udah bantuin cuma-cuma."


"Iye, gak masalah."


"Congrats ya, jadi cewenya Putra." kata Natalia nyengir.


"Lu kasi selamat atau ngeledek nih?"


"Haha.. Kalian cocok kok. Dia anak band, lu tomboi, kalo jalan berdua jadi kaya sodara bukan pacaran."


"Berarti cocokan jadi sodara namanya."


"Gak gitu juga maksud gue. Tapi cowo lu itu hebat. Dia berani ngumumin siapa cewenya di panggung. Sampe dosen-dosen juga tau."


Gue berpikir, "Nat, menurut lu, gue mesti seneng apa nggak jadinya?"


"Yeee, masa gitu aja lu nanya. Ya lu harusnya seneng lah. Berarti cowo lu itu beneran sayang sama lu, dia serius sama lu."


"Kalo lu jadi gue gimana?" gue bertanya ke Natalia.


"Ya gue pasti seneng lah. Abis itu, gue akan jagain cowo gue baik-baik, supaya gak direbut cewe lain." jawab Natalia.


Gue nyengir, "Nat, lu mau gak gantiin gue jadi cewenya Putra?"


"Hah? Lu gila ya?"


"Gak gila kok. Ya kan daripada lu single gak jelas, cuma pehape-in cowo-cowo doank."


"Iiih, tapi gue juga ogah pacaran sama cowo lu. Lagian dia juga suka nya sama lu."


Tak berapa lama, Putra menghampiri gue dan Natalia.


"Hey, lagi ngobrolin apa nih? Kok seru kayanya." tanya Putra.


Gue dan Natalia berpandangan tersenyum.


"Put, jagain deh nih cewe lu. Terutama dari mata-mata cewe yang kaya mau ngelabrak dia. Secara lu udah banyak bikin cewe patah hati tadi." kata Natalia ke Putra.


Putra tersenyum dan memeluk gue dari belakang, "Iya lah, pasti gue jagain. Lagian mana ada cewe yang berani ngelabrak dia, sebelum dilabrak pasti Chacha udah pasang muka angker duluan."


Gue cuma tersenyum kecut sambil ngelirik Natalia.


Natalia cuma nyengir, "Ini kok yang love bird malah cowonya ya." kata Natalia sambil pergi ninggalin gue dan Putra.


Gue membalikkan badan, "Put, kamu bisa gak, gak usah tiba-tiba meluk aku, atau cium aku?"


"Loh, kenapa? Kamu kan pacar aku. Kamu malu?"


"Bukan malu. Tapi kan jadi gak enak, tadi waktu di lapangan aja, semua orang jadi ngeliatin aku."


Putra tersenyum, "Ya biarin aja. Aku emang pengen semua orang tau, kalo kamu pacar aku. Jadi mereka juga gak akan macem-macem sama kamu."


"Tapi aku gak pernah ada di situasi kaya tadi, semua orang ngeliatin, aku langsung diem mematung kaya gak bisa gerak."


"Haha.. Nanti juga lama-lama kamu terbiasa. Udah yuk kita berangkat ke cafe, temen-temen aku udah duluan kesana katanya." kata Putra sambil masuk ke mobil.


Malam semakin larut, gue nungguin Putra yang lagi nyanyi. Disebuah meja disamping panggung kecil cafe.


Entah udah berapa gelas minuman yang gue minum, tapi semuanya cuma soda dan punch.


Sebenernya kalo kesininya sama sahabat gue pasti gak bete, karena gue bisa ketawa-ketawa bareng mereka.


Gue jadi inget mereka, weekend gini mereka pada ngapain ya dikosan. Biasanya kalo gue dirumah, kita berempat video call-an sambil main game.


*


Kosan Darwin.


Suasana hening, gak ada lagi suara gitarnya. Kamarnya juga gelap.


"Si Darwin ada dikamarnya gak ini. Dia ngilang tiba-tiba tadi." kata Adie ke Ferdi.


Mereka ke kosan Darwin, Ferdi setengah mabok. Dia hanya tertawa kecil.


"Darwin pasti patah hati tuh sama pengakuan si Putra tadi." kata Ferdi.


"Patah hati? Ngapain dia patah hati?" tanya Adie.


"Yah, elu mah. Gak peka luh." jawab Ferdi berhenti di depan kamar Darwin.


"Kok pintunya ketutup, kamarnya udah gelap." gumam Ferdi.

__ADS_1


"Masa udah tidur dia weekend gini." kata Adie.


Ferdi mencoba membuka pintu kamar Darwin, "Eh, gak dikunci nih."


Mereka pun masuk dan menyalakan lampu. Mereka sangat terkejut melihat Darwin. Terlebih lagi Ferdi, dia melihat botol Blue Labelnya terbuka dan habis.


"Win!" seru Adie membangunkan. Tapi Darwin gak merespon.


"Gila nih si Darwin, masa sebotol di abisin sendirian. Mana ini kiriman bokap gue. Gue aja sayang-sayangin gak minum makanya gue titip disini, lah ini malah abis." kata Ferdi memegang botol kosongnya.


Adie terus berusaha membangunkan Darwin.


"Fer, kayanya si Darwin gak sadar deh."


"Iyalah, orang mabok sebotol."


"Bukan itu maksud gue, lu liat nih mulutnya."


Ferdi kaget melihat busa yang keluar dari mulut Darwin, "Ini mah bukan gak sadar lagi. Ayo cepetan kita ke rumah sakit."


Ferdi dan Adie membopong tubuh Darwin keluar kamar.


"Fer, naik apa nih kita?" tanya Adie.


Ferdi sambil mengeluarkan ponselnya, "Taksi online, udah deket kok taksinya."


Azis yang melihat segera menghampiri dan membantu membopong Darwin, "Kenapa nih dia?"


"Gak usah banyak nanya, cepet bantuin." kata Ferdi.


Mereka berempat pun naik ke dalam taksi dan membawa Darwin ke rumah sakit.


Di dalam taksi, "Die, coba lu telpon Chacha."


"Dia udah tidur kali Fer kalo dirumah jam segini." jawab Adie.


"Si Chacha pasti gak ada dirumah." kata Azis santai.


"Sok tau lu, Zis." kata Adie.


"Emang gue tau. Tadi, abis pensi dia jalan sama cowonya. Setelah ditelusuri, katanya dia ke cafe tempat kerja cowonya." Azis cerita.


"Eh btw, ni kita gak usah ke RS, kejauhan. Ke klinik 24 jam yang di perempatan situ aja." kata Azis.


"Klinik?" tanya Ferdi.


"Iya, klinik itu udah biasa nanganin anak-anak kosan yang OD, pingsan, kecelakaan atau apalah. Tapi gak bisa nanganin patah hati sih. Hehe.." jawab Azis.


"Kok lu tau aja sih. Salah jurusan juga lu kayanya kuliahnya." kata Adie nyengir.


"Apa juga tau gue mah."


"Ya udah, pak. Ke klinik perempatan situ aja ya." kata Ferdi ke supir taksi.


Adie pun mengeluarkan ponselnya.


*


Di cafe.


Putra lagi break nyanyi. Dia nyamperin gue dan duduk disamping gue. Gue cuma lagi muter-muterin gelas aja.


"Yang, kamu bosen ya?" dia bertanya.


Gue mengangguk, "Iya. Kamu masih lama ya?"


Putra melihat jam ditangannya, "Gak terlalu sih, tinggal berapa lagu lagi."


"Tumben malem-malem gini telpon." gue bergumam dan menjawab telpon nya.


"Hei, ngapain telpon malem-malem?" gue bertanya ke Adie.


"Lu dimana Cha?" tanya Adie.


"Di cafe, kenapa?"


"Cha, Darwin OD. Gue sama Ferdi ada di klinik sekarang. Kalo bisa lu kesini ya."


Gue kaget banget dengernya, Darwin OD? Gue tau dia banget, gimana dia dulu sebelum kuliah. Gue cepet-cepet ngambil tas.


Putra ngeliatin gue, "Kamu mau kemana? Siapa yang telpon?"


"Put, Darwin gak sadar ada di klinik. Aku mau kesana sekarang."


"Cha,"


"Put, please. Kamu mau anterin aku atau aku pergi sendiri aja?"


Putra mengambil kunci mobil dan stnknya.


"Nih, kamu bawa aja mobil aku. Tapi jangan ngebut ya, nanti malah kamu yang kenapa-kenapa."


Gue ngambil kunci dan stnk mobilnya, gue gak enak sama dia sebenernya.


"Put, aku..."


Putra tersenyum dan memegang muka gue, "Aku percaya kamu kok. Kamu hati-hati ya nyetirnya. Mobil nanti kamu bawa pulang aja, aku bisa pulang sama temen-temen aku." dia berkata sambil mencium pipi gue.


"Makasih ya, Put." gue langsung keluar dari cafe dan mengendarai mobil ke klinik.


Putra memandang gue pergi, "Chacha, lu polos banget sih. Gue jadi beneran suka sama lu. Tapi kalo gue larang lu, pasti lu malah ngejauh dari gue." gumam Putra.


"Lu kenapa bisa OD, Win. Udah tau kalo lu itu...." gue bergumam sendirian di dalam mobil.


*


Klinik.


Gue segera turun dari mobil dan masuk. Gue ngeliat Ferdi dan Adie lagi duduk nungguin Darwin yang tidur dengan opname dihidungnya dan infus ditangannya.


"Fer, Die." gue menyapa mereka. Mereka berdiri ngeliat gue dateng.


"Cha." kata Adie.


"Darwin kenapa?" gue bertanya.


"Gue juga gak tau pasti, dia kan tadi tiba-tiba ngilang dari lapangan. Pas kita nyariin dia ke kosan, kita udah nemuin dia gak sadar." kata Adie.


"Dia minum?" gue bertanya.


"Iya. Sebotol Blue Label gue, straight." jawab Ferdi.


Gue kaget dan menghela napas, ada rasa kesel dihati gue, tapi gue juga gak tau kesel sama siapa.


"Lu kenapa biarin dia minum sebanyak itu?! Sendirian lagi. Straight lagi. Lu tau gak kalo dulunya Darwin itu gimana. Darwin dulunya seorang junkie, udah berapa kali dia OD. Sampe dia berhenti pake. Dia emang cuma minum-minum sekarang, tapi kalo sampe salah dikit atau dia kebanyakan minum, pasti dia langsung tepar kaya gini. Dan yang terburuk, dia bisa lewat." gue marah ke Ferdi dan Adie, sampe gue ngeluarin air mata.


Wajah Ferdi berubah marah juga, "Lu sendiri kemana, Cha?! Lu juga gak ada sama Darwin atau kita. Lu sibuk pacaran sama cowo lu! Dari kemaren-kemaren juga lu gak pernah nongkrong bareng kita lagi. Lu kemana?!" Ferdi berbalik memarahi gue.


Adie berusaha menenangkan Ferdi dan gue, "Guys, kita di klinik ini. Gak usah ribut disini."


Kata-kata Ferdi membuat gue termenung. Mungkin yang dia bilang bener. Gue terlalu sibuk sama diri gue sendiri, gue terlalu sibuk ngurusin perasaan gue ke Darwin sampe-sampe gue kehilangan waktu bersama mereka.

__ADS_1


"Heh! Ngapain pada ribut? Berisik!" tiba-tiba Darwin mengeluarkan suara, walaupun masih lemah.


Kita bertiga menoleh ke dia dan nyamperin dia.


"Lu udah sadar, Win?" tanya Adie.


"Belom. Gue cuma melek." jawab Darwin nyengir.


"Hadeeh. Udah sekarat masih aja becanda." kata Adie.


Darwin berusaha bangun bersandar, dia melepaskan opname dari hidungnya, "Gue gak perlu pake ginian."


"Win, mau gue tambahin lagi gak? Dikamar gue masih ada Jack tuh." kata Ferdi ngeledek.


"Boleh lah. Dua sloki aja ya." kata Darwin nyengir.


"Sorry Fer, minuman lu gue abisin." kata Darwin.


"Ya elah, santai aja kali. Lagian itu gak beli kok, entar gue minta kirimin lagi." jawab Ferdi.


Darwin menoleh ke gue, gue menatapnya.


"Cha,"


Gue duduk disampingnya, di depannya.


"Win, kira-kira lu udah mendingan gak? Kalo udah, mau keluar malem ini apa besok aja?" tanya Ferdi ke Darwin.


"Malem ini aja, Fer. Gue gak betah disini, bau obat." jawab Darwin.


"Ya udah, gue urusin administrasi dulu ya. Yuk Die." Ferdi mengajak Adie keluar dari ruangan meninggalkan gue dan Darwin.


Gue mulai bicara, "Win,"


"Eh, Cha. Gimana cowo lu? Kok lu gak bilang-bilang ke gue sih kalo lu punya pacar?" Darwin bertanya.


"Win, sorry ya gue gak bilang-bilang ke lu. Soalnya gue takut lu marah."


Darwin tersenyum, "Iyalah gue marah, tapi bukan karena lu punya pacar. Tapi karena lu gak cerita-cerita ke gue."


Gue terdiam, 'Jadi bukan karena dia ada rasa sama gue. Gue pikir dia marah karena gue punya pacar.' gue berkata dalam hati.


"Lu nangis ya?" tanya Darwin memegang ujung mata gue.


"Hah? Nggak. Masa seorang Chacha nangis." gue ngejawab sambil menahan air mata gue.


Dia memegang tangan gue, "Cha, kalo lu seneng, gue juga seneng kok. Lagian, kerjaan gue juga jadi berkurang kan. Lu gak perlu lagi gue jagain 24 jam, ada cowo lu yang bisa jagain lu sekarang."


Gue memeluk dia, "Lu ngomongnya udah kaya mau pergi aja. Gue kan udah bilang ke lu, kalo gue maunya di jagain sama lu."


Darwin membelai kepala gue, "Cha, gue tetep jagain lu kok. Lu kan udah gue anggep kaya ade gue sendiri. Cuma sekarang gak kaya dulu lagi, lu punya cowo yang mesti lu jaga perasaannya. Tapi lu tetep kok jadi gurita kecil gue."


Gue melepaskan pelukan gue, 'Jadi selama ini gue adalah adik buat dia.' gue bergumam dalam hati.


Darwin memandang gue tersenyum, "Cowo lu tuh punya nyali, dia berani ngumumin ke seluruh kampus kalo dia cowo lu. Jadi gak bakal ada cowo-cowo lain yang deketin lu. Kalo gue, mungkin gue gak seberani dia."


"Jadi menurut lu, gue harusnya seneng?"


"Cha, cewe mana sih yang gak seneng kalo cowonya bawain lagu buat dia, terus bilang kesemua orang kalo dia pacarnya."


Gue terdiam, 'Mungkin gue doank kali cewe yang gak seseneng itu.' dalam hati gue berkata.


"Ya udah iya. Tapi lu jangan OD gini lagi sih, gue gak mau ngeliat lu kaya dulu lagi, sampe masuk rehab." gue berkata ke Darwin.


"Iya iya. Gue tadi cuma kebablasan aja, minum sendirian, maen gitar. Gak sadar lah gue, minumannya juga enak lagi." jawab Darwin nyengir.


Ponsel gue berdering, nyokap gue telpon. Gue mengangkat telpon nya.


"Cha? Kamu dimana? Kok belum pulang?" tanya nyokap.


"Maaf bun, Chacha kayanya gak pulang deh. Darwin masuk rumah sakit."


"Hah? Kok bisa?" tanya nyokap.


Darwin meminta ponsel gue, dia mau ngomong sama nyokap gue.


"Halo bunda. Ini Darwin."


"Win? Kamu kenapa masuk rumah sakit?"


"Gak papa bun, ini di klinik kok bukan rumah sakit, Chacha lebay ngomong nya. Darwin cuma kebanyakan minum aja trus perut kosong."


"Ya ampuuun. Bunda bilangin mama kamu ya."


"Gak usah bun. Nanti mama malah khawatir, besok disuruh berhenti kuliah lagi. Ini Darwin udah mendingan kok, malem ini juga keluar kok dari klinik."


"Bener kamu gak papa?"


"Iya bun, makasih ya. Maaf ya bun, Chacha nya lagi Darwin repotin dulu jadi gak pulang malem ini."


"Ooo, ya udah kalo gitu. Kamu cepet sembuh ya Win"


"Makasih bunda." sahut Darwin mematikan telpon.


Ferdi, Adie, suster, dan seorang dokter pun datang. Darwin di cek oleh dokter.


"Bisa keluar sekarang kan dok?" tanya Darwin.


Dokter mengangguk, "Bisa. Tapi jangan sampe balik lagi ya." kata dokter tersenyum dan menyuruh suster melepaskan infus dari tangan Darwin.


Kita berempat keluar dari klinik, Darwin di gandeng sama Ferdi dan Adie, karena dia masih lemas.


"Eh, mana si Azis?" tanya Adie.


Gue heran, "Azis?"


"Iya, tadi kita kesini sama dia juga. Kok sekarang tiba-tiba ngilang dia." jawab Adie.


Gue tertawa, "Ya emang dia kaya jalangkung kan. Tiba-tiba nongol, tiba-tiba ngilang. Dateng gak di jemput, pulang gak di anter. Tapi selalu dateng diwaktu yang tepat."


"Iya sih." kata Adie ketawa.


Gue mengajak mereka ke mobil.


"Mobil siapa ni?" tanya Ferdi.


"Putra." gue menjawab.


"Wuih, bukan cuma supir pribadi aja ya dia. Besok-besok bukan mobil lagi yang dia kasi ke lu, rumah juga bisa dikasi ke lu lagi." ledek Ferdi ke gue.


"Ini bukan dikasi, tapi dipinjemin. Dia masih kerja soalnya tadi, jadi gak bisa nganterin gue kesini."


Kita berempat pun masuk ke mobil.


Gue menyetir, Ferdi duduk disamping gue. Darwin dan Adie duduk dibelakang.


Dari spion gue ngeliat Darwin yang nyender sambil ngeliat keluar jendela.


'Gue adalah adik buat dia. Berarti, mulai besok gue gak perlu lagi nyembunyiin hubungan gue sama Putra. Gue bisa cerita apa aja sama dia.' gue bergumam dalam hati.


Darwin melihat Chacha dari spion, 'Walaupun sebenernya gue gak rela lu punya pacar, tapi ngeliat lu seneng kaya tadi di lapangan udah cukup buat gue. Meskipun bukan gue cowo yang meluk lu dan bawain lagu buat lu.' kata Darwin dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2