Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Hari Wisuda


__ADS_3

Hari Wisuda.


"Bun. Kemaren waktu merit bunda, kan Chacha udah di lukis-lukis mukanya. Masa sekarang pas wisuda juga sih." gue mengeluh ke nyokap yang lagi moles-moles muka gue.


"Ya kan nanti supaya bagus di fotonya." jawab nyokap.


Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya selesai juga muka gue di acak-acak sama nyokap.


"Papi udah berangkat duluan ya bun?" gue bertanya ke nyokap.


"Iyalah. Kan dia dekan, masa datengnya bareng kamu mahasiswa yang mau di wisuda." jawab nyokap sambil masuk ke mobil.


Gue yang menyetir mobil dan nyokap duduk disamping gue.


Ponsel gue berdering, gue melihat mas Rangga yang telpon.


Gue menjawab telponnya dengan speaker phone di mobil,


"Halo mas,"


"Eh, Cha. Dimana? Kapan mau belajar foto? Kebetulan hari ini gue gak sibuk, kalo lu sempet maen aja ke studio." kata mas Rangga.


"Yee mas. Gue lagi otw ini. Hari ini gue wisuda." gue menjawab.


"Oooh. Ya sorry, gue gak tau. Hehe. Ya udah deh, next time aja. Nanti lu kabarin gue aja ya."


"Iya iya. Nanti gue kabarin lu kalo gue mau ke studio lu."


"Sip. By the way, selamet ya akhirnya di wisuda. Makan-makannya gue tunggu loh."


"Hahaha.. Iya deh, gampang. Makasih ya mas. See you."


"See you. Bye."


Gue pun menutup telponnya.


"Kok kayanya seneng banget di telepon sama Rangga?" nyokap bertanya ke gue.


"Ya seneng lah bun. Chacha kan udah lama banget gak ketemu dia, malah sempet lupa. Untung kemaren ketemu dia di nikahan bunda." gue menjawab.


"Yakin senengnya karena udah lama gak ketemu aja? Bukan karena yang lain?" tanya nyokap sambil senyum-senyum.


Gue heran ngeliat nyokap, "Maksudnya, bun?" gue bertanya heran.


"Kamu sama Rangga itu udah dewasa loh. Kalian bukan anak SMP dan SMA lagi. Kalau dulu kalian suka bareng ya karena bunda sering titipin kamu ke tante Ranti." jawab nyokap.


"Ya emang kita berdua udah dewasa. Trus kenapa?" gue bertanya lagi.


Nyokap tersenyum menggelengkan kepalanya, "Udah dewasa tapi kok gak ngerti maksud perkataan bunda apa."


Gue mengernyitkan dahi dan terdiam, 'Ini maksud nyokap gue apaan sih.' gue bergumam dalam hati.


*


Gue memarkirkan mobil diparkiran convention hall.


Gue keluar dari mobil sambil membawa tas kamera gue.


Nyokap menggandeng gue masuk ke lobi convention hall.


Gue melihat tiga sahabat gue lagi ngobrol, "Win." gue memanggil Darwin.


Setelah Darwin memberikan bukti percakapan antara Putra dan teman-temannya ke papi, dewan kampus pun akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan Darwin wisuda dan mendapatkan ijazah kelulusannya.


Sementara Putra, nilai-nilai akademis nya ada yang di kurangi di beberapa mata kuliah. Dan dia gak jadi di nobatkan sebagai mahasiswa terbaik dari fakultasnya tahun ini.


Darwin menoleh ke gue dan tersenyum, "Hei, gurita. Cakep juga pake toga."


"Haha. Iya, Cha. Cakepan lu." kata Ferdi menambahkan.


"Guys. Please. Hari ini gak ada ledek-ledekkan yaa. Gue seneng soalnya bisa wisuda bareng kalian." gue berkata ke mereka.


"Iya, iya. Eh, kita berempat foto dulu donk sebelum masuk." ajak Adie.


Gue mengangguk dan menyalakan kamera gue, "Bun, tolong fotoin kita berempat ya. Yang bagus ya bun." gue menyerahkan kamera gue ke nyokap.


Kita berempat pun berpose dengan banyak gaya sambil tertawa.


Para wisudawan dan wisudawati pun duduk di kursi yang telah disediakan.


Setelah mendengarkan beberapa sambutan, testimonials, dipanggilah mahasiswa satu persatu untuk naik ke podium dan diberikan miniatur simbol kelulusan.


Hingga tiba nama gue di panggil, "Danisha Dawson. Putri dari bapak Derrick Dawson dan Ibu Diana Paradista." kata MC memanggil nama gue.


Setelah sekian lama, gue mendengar lagi nama bokap gue.


Gue kadang aneh juga, kenapa bokap gue dulu malah jadi junkie dan sakau.


Gue melangkah menuju meja dewan kampus.


Papi berdiri sambil tersenyum. Ini aneh gak sih, papi gue sendiri yang wisudain gue.


Gue menundukkan kepala di depannya agar papi bisa memindahkan tali di topi toga gue.


Dia pun menjabat tangan gue, "Selamat ya." kata papi ke gue.


"Iye. Cepetan lah." gue menjawab sambil nyengir.


Gue pun melangkah menuruni podium dan duduk lagi di kursi.


Nopee menarik gue dan berbisik, "Cha. Ternyata bokap lu itu bule ya?"


"Iya. Emang kenapa?"


"Pantesan mata lu gue liat-liat kok agak abu-abu cokelat ya."


"Lebay luh."


"Lu punya sepupu bule donk, Cha. Kenalin donk ke gue." kata Nopee lagi.


"Sepupu bule?" gue bertanya heran.


"Iya. Yang cowo dan kira-kira seumuran kita." jawab Nopee.

__ADS_1


"Hadeeh. Almarhum bokap gue itu anak tunggal. Makanya gue juga gak punya ade atau kakak. Tunggal juga."


"Ooo, pantesan." jawab Nopee.


Gue menggelengkan kepala dan melihat ponsel gue.


Ada chat dari Putra. Gue membukanya.


Putra


Cha. Aku mau ngomong sm kmu, aku janji ini yg terakhir. Please.


Gue membalasnya,


Ya udah. Ngomong aja. Bisa kan di chat.


Putra


Gak di chat, Cha. Abis ceremony, aku tunggu kmu di foyer lobby.


Gue menghela napas dan membalasnya,


Ya udah.


*


Setelah acara wisuda selesai, beberapa mahasiswa beserta keluarganya pun berfoto untuk mengabadikan moment tersebut.


Gue menuju foyer lobby untuk menemui Putra.


Gue melihat dia udah ada disana dan berdiri menunggu gue.


Gue menghampiri dia, "Put."


Putra membalikkan badan dan menatap gue.


Gue melihat tatapannya, yang dulu selalu gue liat kalo kita lagi berdua.


Gue terdiam menatapnya.


Putra meraih dan menggenggam tangan gue, "Cha. Dengan sepenuh hati, aku bener-bener minta maaf sama kamu."


Gue menarik tangan gue, "Iya Put. Aku udah maafin kamu kok. Tapi semua gak bisa kaya dulu lagi."


Putra melangkah mendekati gue, "Cha. Please. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Jujur, aku memang sayang sama kamu. Aku juga gak bisa ngelupain kamu."


Gue terdiam menatap wajahnya, gue gak tau apa yang gue rasain terhadapnya.


Dia bilang kalo dia beneran sayang sama gue. Walaupun gue juga udah mulai sayang sama dia, tapi semua hilang pas gue tau semuanya.


"Put, aku..." gue mencoba menjawab.


"Cha. Aku tau kamu juga sayang sama aku. Kalo kamu gak sayang, kamu gak akan membalas semua ciuman yang aku kasih ke kamu." kata Putra ke gue.


Gue mengalihkan pandangan gue, "Put. Aku mohon, kamu lupain aku. Aku juga akan ngelupain kamu. Lagi pula, kamu juga udah punya tunangan. Aku yakin, dia yang terbaik yang mama kamu pilihkan buat kamu."


Putra meraih kedua tangan gue, menggenggam dan meletakkan di dadanya.


Matanya mengeluarkan sedikit air mata, "Ketika aku kehilangan kamu, pada saat itu juga aku sadar kalau rasa sayang aku begitu besar buat kamu. Lovi memang cewe yang dipilih mama untuk aku, tapi aku cuma cinta sama kamu."


"Put. Nanti juga kamu akan mencintai Lovi. Cinta itu datang karena terbiasa." gue berkata ke Putra.


Putra menggelengkan kepalanya dan mencium kedua tangan gue, "Nggak, Cha. I only want you."


Gue hanya terdiam melihat dia begitu.


Tiba-tiba datang dua orang, seorang wanita dan Lovi.


Gue gak tau kalo si Lovi ini hadir juga di wisuda Putra.


Gue langsung melepaskan tangan gue dari Putra.


Lovi langsung merangkul pinggang Putra.


Wanita tersebut melihat gue dengan tatapan sinis, gue gak kenal dia.


"Ma, Lov." sahut Putra ke mereka.


'Ooo. Jadi ini mamanya Putra. Pantes lah anaknya membangkang, lah emaknya horor gini.' gue bergumam dalam hati.


"Kamu ngapain disini, Put?" tanya mamanya.


Putra menatap gue, "Nggak mam. Cuma lagi ngobrol."


'What?! Ini cowo juga gak berani kan bilang ke emaknya kalo dia sayang sama gue. Padahal barusan dia bilang kalo dia cinta sama gue.' gue bergumam dengan kesal.


"Ya sudah. Jangan lama-lama ngobrol sama cewe lain. Habis dari sini kamu sama Lovi mau fitting baju pengantin." kata mamanya lagi sambil melirik gue.


'Oh my God. Pengen rasanya gue sahutin nih emak. Dia pikir gue bakalan cemburu apa, kalo anaknya mau fitting baju pengantin sama si Lovi.' gue menggerutu dalam hati.


Gue cuma menghela napas di hadapan mereka.


Putra masih tetap menatap gue, dari tatapannya gue melihat takut dan kesedihan. Tapi ya mestinya dia bisa lebih berani untuk menolak, kan dia cowo.


Seseorang merangkul pinggang gue dari belakang dan mengecup kepala gue, "Dicariin. Taunya ada disini. Kita foto berdua dulu yuk."


Gue menoleh, 'Darwin. My savior. Untung lu dateng.' gue berkata dalam hati.


Putra menatap ke arah gue dan Darwin dengan penuh heran.


Gue pun tersenyum dan melingkarkan tangan gue di pinggangnya, "Oiya. Kita belum foto berdua ya. Ya udah yuk."


Gue dan Darwin pun membalikkan badan dan pergi meninggalkan mereka.


Gue berkumpul dengan sahabat gue dan teman-teman yang lain. Kita semua bercanda dan bercerita.


Darwin tetap berada disamping gue dan menggandeng gue. Beberapa orang yang gak kenal kita mengira gue dan Darwin pacaran.


"Eh, besok kita langsung berangkat ya." ajak Ferdi.


"Kemana?" tanya Adie.


"Ke surga." jawab Ferdi kesal.

__ADS_1


"Hah?" jawab Adie.


"Ya adventure lah, ke bromo." kata Ferdi.


"Oiya. Okelah. Cus gue mah." jawab Adie.


"Win, Cha. Gimana?" tanya Ferdi.


"Ayo. Berangkat nya dari rumah Darwin kan?" gue bertanya.


"Iya. Dari rumah Darwin aja. Gue pulang dulu nganterin bokap nyokap, nanti malem gue kerumah lu, Win." kata Ferdi ke Darwin.


"Iye, gampang." jawab Darwin.


"Lu jemput gue dulu Fer, sebelum kerumah Darwin." kata Adie.


"Iya. Lu pikir gue bakalan ninggalin lu apa." jawab Ferdi.


"Cha." Nyokap memanggil gue.


Gue menoleh ke arah nyokap. Dia dan papi menghampiri gue.


Gue nyengir melihat papi, "Pap, dibuka aja kali nih baju toga papi sama kalung-kalung gede ini. Haha."


"Yeee, jangan ngeledek papi ya. Papi juga sebenernya udah gak betah. Tapi gak enak, masih ada pak rektor sama owner." jawab papi.


Gue tersenyum mendengar papi.


"Cha. Yuk, ikut." ajak papi.


"Kemana?" gue bertanya.


"Perjamuan makan siang. Sama para dewan kampus." jawab papi.


"Hah? Sama para pejabat dan owner?" gue bertanya.


"Iya."


"Ah, nggak mau ah. Papi aja sama bunda."


"Yeee.. Masa anaknya gak ikut."


"Ya gak papa. Chacha males ah, makan-makan sama para pejabat."


"Trus, kamu mau kemana?" tanya nyokap ke gue.


"Ya pulang lah. Kan ada bu Surti, nanti Chacha makan dirumah aja. Lagian papi bawa mobil kan, jadi bunda pulang naik mobil papi aja." gue menjawab.


"Ya sudah kalo gitu. Papi culik bunda kamu dulu ya." kata papi sambil menggandeng bunda pergi.


"Gue juga deh, guys. Gue cabut juga ya, nanti malem gue kerumah lu, Win." pamit Ferdi ke kita.


"Ok sip." jawab Darwin.


"Gue juga Win, Cha. Sampe nanti malem ya." pamit Adie ke kita.


Gue mengangguk.


Tinggal gue dan Darwin, orang tua Darwin pun menghampiri kita.


"Win. Mau pulang sekarang?" tanya mamanya.


Darwin menoleh ke gue, dan menatap mamanya lagi, "Mam, Darwin pulang bareng Chacha deh. Chacha pulang sendirian, bunda sama papinya lagi jamuan makan siang."


"Ooo, ya udah kalo gitu. Mama sama papa duluan ya. Yuk, Cha." pamit mamanya.


"Iya tante." gue menjawab.


Gue menghela napas.


"Gue gak akan ninggalin lu sendirian." kata Darwin ke gue.


Gue tersenyum, "Iya. Gue tau."


Darwin melepaskan baju toganya.


"Kok dilepas?" gue bertanya.


"Ya mau ngapain dipake terus. Kan udahan acaranya." jawab Darwin.


"Iya juga sih." gue bergumam.


Gue pun ikut membuka baju toga gue.


Darwin tersenyum memandang gue, "Kayanya gue jadi terbiasa nih ngeliat lu feminine pake kebaya gini."


"Yeeee. Tetep yah, ngeledek."


"Gue gak ngeledek kok. Ya walaupun tetap dengan sneakers di kaki lu. Tapi, lu tetep keliatan cantik."


Gue melipat baju toga gue, "Udah, gak usah kebanyakan muji gue. Ayo cepetan. Nih, lu yang bawa mobil." gue memberikan kunci mobil ke Darwin.


Darwin pun keliatan beda setelah membuka toganya, dia terlihat keren kaya waktu di acara gala dinner di hotel.


Di dalam mobil.


"Kita makan dulu yuk." ajak Darwin.


"Makan dimana? Pake baju begini?" gue bertanya.


"Ya gak papa kali pake baju begini. Anggep aja abis kondangan. Haha."


"Abis kondangan tapi malah makan ditempat lain."


"Kan makanannya gak enak ditempat kondangan. Jadi laper lagi."


"Haha.. Bisa aja lu, Win. Ya udah lah yuk. Terserah lu deh mau makan dimana."


"Ok." sahut Darwin dengan senang.


Gue menatapnya yang lagi menyetir mobil. Ada senyum kesenangan di wajahnya.


Udah lama banget gue gak ngeliat dia seseneng dan selepas ini.

__ADS_1


Gue juga seneng sih, bisa pergi berdua dia. Padahal, kita udah sering banget pergi berdua aja.


Tapi, gak tau kenapa kok hari ini gue senengnya beda ya bisa pergi berdua dia.


__ADS_2