Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Inisial D


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Gue koq kaya denger pintu kamar gue di ketuk ya. Aduuh, padahal masih ngantuk banget. Bodo amat lah. Gue pun kembali tertidur.


"Chacha! Kamu gak kerja?!" Bunda bersuara sambil menarik selimut yang menutupi muka gue.


Dengan malas gue berkata, "Aduh buuun, ini masih gelap."


Bunda membuka tirai jendela kamar gue, "Masih gelap di US, disini udah buka cabang mataharinya."


Gue mengernyitkan mata dan melirik karena silau. "Tapi ini kan hari minggu bun."


"Hari minggu bantal mu! Ini Jakarta, Indonesia. Bukan Amerika. Sekarang hari senin! Papi mu aja udah berangkat ke kampus."


Gue terkejut dan langsung terbangun, "Ya ampun! Iya ya. Aduh, gimana nih?! Udah jam berapa nih. Waduuuh, mas Rangga pasti ngomel-ngomel nih sama Chacha." Gue bergumam dan mengecek ponsel gue.


"Makanya kalo telponan tuh inget waktu." Tegur bunda.


"Ya semalem kan Skype-an sama Darwin ngeliat disana masih siang bun."


"Ya udah sana cepetan mandi."


Gue pun segera menuju kamar mandi.


Gue gak lagi setiap hari di jemput mas Rangga, soalnya si Darwin itu jadi jealous kalo mas Rangga anter jemput gue terus. Makanya sekarang gue ke kantor majalah sendiri naik motor.


Gue sih udah duga, kalo gue dateng telat, mata orang sekantor tuh tiba-tiba suka jadi tajem banget kaya baru di asah.


Gue duduk dan menyembunyikan kepala gue ke depan layar komputer, pura-pura langsung ngedit foto.


Seseorang tiba-tiba menepuk pundak gue dari belakang, "Heh. Baru dateng lu?!"


Gue terkejut dan menoleh, "Ah, elu mas. Ngagetin aja lu."


"Ya lagian elu, jam segini baru dateng."


"Sorry. Bangun kesiangan gue."


"Abis ronda lu?" Tanya mas Rangga.


"Tau ah." Gue menjawab dan kembali menghadap layar komputer.


Mas Rangga menarik kursi dan duduk disamping gue.


"Cha, weekend ini kita ada kerjaan ngeliput moto-moto nih."


"Acara apaan?"


"Festival musik. Trus kayanya kita mesti disana dari awal sampe selesai, which is sampe malem."


"Ooo, ya udah gak papa."


"Emang lu boleh pulang sampe lewat midnight gitu?" Mas Rangga bertanya.


"Ya boleh lah, kan urusan kerjaan. Bunda sama papi pasti ngerti."


"Bukan bunda sama papi lu, tapi cowo lu. Si Darwin itu."


Gue berpikir, "Hmmm. Kayanya boleh lah. Nanti gue yang jelasin ke dia."


Mas Rangga tertawa kecil, "Aneh lu. Padahal dia jauh di US, tapi lu jujur banget ke dia kalo mau ngapa-ngapain disini."


"Ini bukan aneh, tapi saling menjaga dan menghargai pasangan kita, walaupun jauh."


"Sok tau lu, anak kecil." Mas Rangga mencolek pipi gue dan pergi.


Malam hari.


Gue melihat jam di dinding, udah jam 9 malem aja. Gue mengetik chat untuk Darwin.


Win, udah bgn blm lu?


Darwin pun segera membalas,


Udah. Barusan aja.


Skype gak? Lu masih libur kan?


Masih. Ya udah, gw nyalain laptop dulu.


Gue pun duduk di depan layar laptop gue dan memasang headphone. Gak berapa lama, gue pun terhubung dengan Darwin.


"Lagi ngapain, Win?"


"Abis sarapan gue. Sumpah, gue kangen banget sama lontong sayur."


"Hahaha. Gak ada yang jual ya disana."


"Ya kalo ada yang jual juga pasti beda rasanya. Lontong sayur kebarat-baratan."


Gue tersenyum mendengarnya, "Eh, Win."


"Apa?"


"Lu gak kemana-mana kalo libur gini?"


"Gak sih. Tapi gue mau nyari kerjaan part time nanti. Yang deket-deket kampus ato apartment aja."


"Ooo. Yowis, good luck ya."


"Eh, Cha. Lu kenapa?"

__ADS_1


Gue heran mendengar pertanyaannya, "Kenapa gue?"


"Kayanya ada yang mau lu omongin ke gue."


Gue menghela napas, si Darwin ini tau-tau aja ya kalo gue emang mau bilang sesuatu sama dia.


"Win. Sabtu besok gue ada kerjaan motret bareng mas Rangga, kerjaan liputan dari majalah."


"Ooo, ya udah. Trus?"


"Kayanya gue bakalan di TKP dari pagi sampe midnight, sampe acaranya selesai."


Darwin terlihat mengernyitkan dahinya, "Emang acara apaan?"


"Festival musik." Gue menjawab pelan.


"Haduuuh. Kalo bukan lu yang ke lapangan, emang gak bisa?"


"Ya kan gue tim nya mas Rangga, masa gue gak gabung. Ya gak enak lah gue, apalagi status gue disitu masih internship." Gue menjawab mencoba meyakinkan Darwin.


Darwin terdiam dan terlihat tidak suka.


"Win. Gue janji koq gak bakalan macem-macem. Gak bakalan minum-minum juga. Kalo udah selesai, gue pasti langsung pulang."


"Cha. Gue percaya sama lu, kalo lu gak bakalan macem-macem. Tapi gue gak percaya sama orang-orang disekitar lu." Darwin berkata.


"Mas Rangga maksud lu?"


Darwin mengusap wajahnya, "Aduuh. Gue gak mau bahas dia deh. Soalnya setiap gue ngomongin dia, yang ada kita malah berantem."


"Ya mas Rangga itu kan bukan siapa-siapanya gue. Lagian dia juga gak baru sebulan dua bulan gue kenal."


"Ya udah, terserah lu aja. Yang penting lu hati-hati, mesti bisa jaga diri lu selama gue disini."


"Iya iya, mas Darwin." Gue meledeknya.


"Gak usah pake mas mas, gue gak mau lu sama-samain sama si Rangga." Sahut Darwin cemberut.


"Iya iya. Ya udah ya, gue mau tidur. Besok kesiangan lagi kalo begadang sama lu."


Darwin tersenyum, "Ok deh. Kabar-kabarin ya. I love you. Mmmuach."


"I love you two, three, four. Mmmuach."


Gue pun menyudahi koneksi Skype di laptop gue. Dan merebahkan badan gue ke kasur untuk tidur.


*


Author PoV


Di US.


Dia mengetik di grup chat nya dengan Ferdi dan Adie. Semenjak dia tiba di US, dia membuat grup chat bertiga tanpa Chacha. Tujuannya untuk menanyakan tentang Chacha kepada kedua sahabatnya, karena dia terlalu khawatir dengan Chacha.


Darwin


Guys, udah pd tdr?


Ferdi


Blm lah. Gw malah baru sampe karaoke.


Adie


Gue lg break, masuk sore di hotel. Knp?


Darwin


Sabtu besok lu pd ada acara gak?


Ferdi


Klo weekend ya gw di karaoke lah, lg rame2nya kan. Knp sih?


Darwin


Chacha ada kerjaan motret sabtu bsk. Dan bisa smpe midnight. Lu berdua ada yg bisa tlg liatin Chacha gak?


Ferdi


Gue bisa2 aja sih. Tapi paling gk smpe mlm, coz gw mlm mesti di Karaoke kan, apalagi klo weekend gitu.


Adie


Gw bisa tp rada maleman, balik gawe. Gw msuk pagi sabtu bsk. Kebetulan cewe gw jg mau pulkam, gada dikosan, jd gak ngapel.


Darwin


Ya udah, tolong ya guys. Gw takut dia knp2


Adie


Knp2 gmn? Kan emang kerjaan dia. Btw, acara apaan?


Darwin


Festival musik. Nanti gw tanya Chacha dmn acaranya.


Ferdi


Ya udah gampang

__ADS_1


Darwin


Tp guys, klo bisa sih kalian jgn smpe keliatan Chacha gitu. Dia nanti mikir mcm2 klo tiba2 ngeliat lu berdua disana.


Adie


Ya elah, Win. Itu acara musik kali. Chacha jg pasti gk ngapa2in


Darwin


Bkn Chacha nya yg gw gk percaya, Die. Ini dia ngeliput nya bareng Rangga.


Ferdi


Ooo. Iya dah, ngerti gw.


Darwin


Ok deh, thanks guys.


Darwin meletakkan ponselnya dan melamun. "Koq gue gak percaya banget ya sama si Rangga itu. Tapi masa iya dia kaya si Putra. Udah lah, yang penting si Ferdi sama Adie bisa ngeliatin dia." Darwin bergumam.


Bowie menepuk pundak Darwin, "Woi. Pagi-pagi bengong lu. Keluar yuk, cari yang seger-seger."


"Apaan yang seger-seger? Dingin begini." Sahut Darwin.


"Makanya kita keluar. Si Ronald aja udah ngacir tuh entah kemana." Ajak Bowie.


Darwin pun bangun mengambil jaketnya, dan tak lupa memakai topi pemberian Chacha, "Ya udah yuk. Gue sekalian mau nyari kerjaan."


Mereka berdua pun berjalan menyusuri trotoar jalanan.


"Ternyata, Amerika ya gak keren-keren amat ya Win." Bowie menyeletuk.


Darwin hanya tersenyum mendengarnya. Mereka berdua pun duduk di kursi taman sambil melihat-lihat sekitar.


"Tapi, yang bagusnya disini, duduk di taman gini aja gue udah seneng. Kagak banyak polusi." Kata Bowie.


"Gue malah gak pernah duduk-duduk di taman kaya gini." Sahut Darwin.


"Hahaha. Kenapa? Kesel ya ngeliat banyak yang pacaran kalo di taman."


"Bukan kesel, tapi gak ngeh kalo ada taman. Hahaha."


Ketika mereka berdua sedang tertawa, tiga orang wanita menghampiri mereka. Yang dua pure bule, yang satu orang Indonesia.


"Hei. Kalian salah satu peraih beasiswa MIT, kan? From Indonesia?" Wanita Indonesia itu bertanya.


Bowie dan Darwin menatapnya.


"Iya. Kita dari Indonesia. Mba nya juga?" Bowie bertanya balik.


Wanita tersebut tertawa kecil, "Iya. I'm Indonesian. Gue kuliah di MIT juga, tapi satu tingkat di atas kalian."


"Ooo. Beasiswa juga?" Bowie bertanya lagi.


"No. Independent." Jawab wanita tersebut sambil melirik ke arah Darwin.


"By the way, gue Denia. Ini temen-temen gue, Ashley and Karen." Kata Denia memperkenalkan diri.


"Gue Bowie. And he's Darwin." Sahut Bowie.


Darwin pun tersenyum mengangguk.


Bowie termasuk orang yang periang dan mudah bergaul. Tidak perlu waktu lama-lama bagi dia untuk ngobrol-ngobrol asik dengan para wanita tersebut. Bahkan dia juga menawari mereka untuk membeli es krim yang ada di taman.


"You girls, want some ice cream?" Bowie bertanya.


"Sure." Ashley dan Karen menjawab senang.


"You?" Bowie bertanya pada Denia.


"Gue nggak deh. Kalian aja." Jawab Denia.


"Ooo, ya udah. Lu mau Win?" Bowie bertanya pada Darwin.


Darwin menggelengkan kepalanya, "Nggak."


"Ya udah, gue kesana dulu ya. Come on girls." Bowie pun pergi bersama Ashley dan Karen.


Denia kemudian duduk disamping Darwin. Sebenernya Darwin ngerasa gak enak, tapi dia berusaha untuk tenang.


"So, um. Gimana rasanya jadi freshman di MIT?" Denia memulai pembicaraan.


"Yaaa, biasa aja. Gue gak fresh-fresh amat. Udah pernah kuliah juga di Indo." Jawab Darwin.


"Ooo. Tapi kan kampus disini sama disana beda suasana nya."


Darwin hanya tersenyum kecil mendengarnya.


Denia memperhatikan Darwin dari atas, "Is that D for Darwin?" Denia bertanya sambil menunjuk inisial D di topi Darwin.


Darwin melepas topinya, membelai inisial D tersebut dan tersenyum, "Gak, it's not stand for my name."


"Kalo bukan nama lu, berarti itu inisial siapa? Your girlfriend?" Denia bertanya lagi.


"Yeah, sort of." Darwin menjawab singkat dan memakai lagi topinya. Dia sebenernya kangen banget sama si pemilik topi itu.


Denia bersandar pada kursi dan memandang ke depan. Mereka berdua membisu. Darwin pun hanya sibuk menscroll ponselnya sambil menunggu Bowie.


Denia kelihatan berpikir, 'Koq gue ngerasa ada sesuatu in my heart ya duduk disamping nih cowo. Dia menarik. Tapi Deniaaaaa, he has girlfriend..!' Denia bergumam dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2