Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Kembang Di Antara Kumbang


__ADS_3

Menjelang malam.


Kita berempat pun pamit kepada bapak, ibu, dan Laras.


"Pak, bu. Kita semua pamit ya. Terima kasih loh kita semua udah dibolehin nginep disini." pamit Adie sambil menyerahkan sebuah amplop ke bapak.


"Iyo toh. Sama-sama yo. Makasih juga buat aden-aden semua. Hati-hati yo di jalan." sahut si bapak.


Gue dan yang lainnya pun tersenyum mengangguk.


"Win, lu yang bawa mobil ya. Sampe midnight aja, abis itu gantian sama gue." kata Ferdi ke Darwin


"Ya udah iya." jawab Darwin.


"Kunci mobil sama Chacha. Gue ke Laras dulu ya bentar." sahut Ferdi ke gue, Darwin dan Adie.


Gue menyerahkan kunci mobil ke Darwin.


Kita bertiga pun masuk ke mobil, Darwin menyalakan mesin mobilnya.


"Ngapain sih si Ferdi itu? Dia jadi ngajak si Laras ikut kita?" gue bertanya.


"Kagak. Laras gak dikasi pergi sama bapak nya." jawab Adie.


"Lah, terus. Itu ngapain dia nyamperin Laras?" gue bertanya lagi sambil meminum air dibotol.


"Ya pamitan lah. Masa Ferdi cabut gitu aja. Apalagi udah abis one night stand, ya kan." jawab Adie sambil nyengir.


Gue yang mendengar cerita Adie sampe tersedak air minum gue sendiri.


"What?!" gue terkejut sambil menoleh ke Darwin dan Adie.


Darwin hanya tersenyum singkat.


"Lu kaya gak tau Ferdi aja sih, Cha." kata Adie ke gue.


"Ya gue tau dia. Tapi gue gak ngira aja kalo dia begitu juga sama Laras. Kasian kan si Laras, dia itu lugu, polos. Pasti dia ngarepinnya lebih tuh sama Ferdi." gue menyahut.


"Makanya si Ferdi lagi pamitan tuh sekarang." sahut Adie sambil menunjuk Ferdi yang lagi ngobrol sama Laras.


Gue melihat ke arah Ferdi dan Laras.


Laras keliatan menunduk dan sedih. Entah apa yang Ferdi bilang ke dia.


Gue menghela napas dan menggelengkan kepala.


"Gue gak gitu kok, Cha." sahut Darwin tiba-tiba sambil ngeliat gue yang duduk disamping dia.


"Hah? Maksud lu?" gue bertanya karena gak ngerti apa maksud dia.


Dia tersenyum menatap gue.


Pintu belakang mobil terbuka,


"Udah yuk. Kita cabs." sahut Ferdi yang masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Adie.


"Ok." sahut Darwin yang langsung melajukan mobil.


Ferdi membuka setengah jendela dan menyalakan rokoknya.


"Win. Kalo ada drive thru kita mampir ya. Gak usah lewat tol lah. Lewat malang aja. Paling besok pagi kita udah nyampe." kata Ferdi ke Darwin.


"Iye, gampang. Gue udah liat kok rutenya." jawab Darwin.


"Fer. Lu apain si Laras?" gue yang penasaran bertanya ke Ferdi.


"Hah? Diapain?" jawab Ferdi balik bertanya ke gue.


"Tadi gue liat kayanya si Laras nangis deh. Lu pehape-in dia ya."


"PHP-in gimana?"


Gue menghela napas, "Fer. Dia itu kan lugu, polos. Gadis desa. Kasian kan kalo lu sampe bikin dia berharap lebih sama lu."


"Yaa makanya tadi gue udah bilang ke dia. Gak usah terlalu berharap sama gue. Kalo kita berjodoh, pasti kita ketemu lagi kok. Gitu gue bilang ke dia."


"Hadeeeh. Pantesan dia nangis." gue bergumam.


"Kenapa emangnya, Cha? Lu jealous ya?" tanya Ferdi ke gue sambil nyengir.


Gue membalikkan badan dan menoleh dia. Gue melempar botol minum gue ke dia.


"Gak usah GR. Jealous kok sama lu. Buang-buang waktu." gue bergumam.


"Ooo, jadi buang-buang waktu nih. Kalo yang deket sama Laras kemaren itu Darwin, gimana? Lu jealous nya juga buang-buang waktu?" Ferdi bertanya sambil ngeledek gue.


Gue menatap Darwin yang masih mengemudi.


"Jangan bawa-bawa gue. Gue bukan Don Juan kaya lu." sahut Darwin sambil melirik Ferdi dari spion.


"Hahaha. Lu sama Chacha sama aja. Udah cepetan cari drive thru. Gue laper nih." balas Ferdi ke Darwin.


Gue duduk terdiam dan memandang ke arah luar jendela.


'Mungkin yang di bilang Ferdi bener. Kalo Darwin yang deket sama Laras kemaren, pasti gue udah uring-uringan. Tapi, masa sih?' gue berkata dalam hati.


*


Setelah beberapa jam perjalanan, kita berempat pun udah makan malam via drive thru.


Gue melihat ke kursi belakang, Adie dan Ferdi tertidur.


Gue melirik ke Darwin yang serius nyetir.


"Lu kalo ngantuk tidur aja." sahut Darwin ke gue.


'Damn! Kok dia bisa ngeh sih kalo gue lagi ngeliatin dia.' gue bergumam dalam hati.


"Nggak Win. Kalo gue tidur, lu gak ada yang nemenin nyetir, nanti lu jadi ikutan ngantuk." gue menjawab.


Darwin hanya tersenyum.


Gue pun menyalakan musik dari player mobil.


"Dengerin Radiohead bukannya malah makin ngantuk ya." kata Darwin nyengir.


"Ya itu kan kalo sambil minum-minum. Ini kan kita gak ada yang mabok." gue menjawab.


Gue sebenernya mau nanya sesuatu ke Darwin. Tapi, gue gak siap sama jawaban dia.


Jadinya ya gue cuma nyanyi-nyanyi pelan aja.


"Kenapa, Cha?" Darwin tiba-tiba bertanya.

__ADS_1


"Hah? Kenapa apanya?" gue bertanya balik.


"Ya elu kenapa? Ada yang mau lu omongin ke gue?"


'Waduh. Kok dia bisa tau sih? Jangan-jangan dia bisa baca pikiran gue lagi.' gue bergumam dalam hati.


"Nggak kok, Win. Gak ada yang mau gue omongin ke lu." gue menjawab.


"Bener gak ada?" tanya Darwin lagi.


"Iya. Gak ada."


"Ooo. Ya udah."


'Sebenernya banyak banget yang gue mau omongin, terutama masalah sikap dan omongan lu ke gue kemaren, Win. Tapi...' gue berkata dalam hati.


Gak kerasa gue malah terlelap dan tidur.


*


"Win. Gantian gak?" suara Ferdi yang terbangun.


"Ya udah nih, boleh." jawab Darwin sambil menepikan mobil ke pinggir jalan.


Darwin dan Ferdi pun keluar dari mobil dan berganti posisi.


"Chacha gak usah dibangunin, Fer. Biarin dia tidur." kata Darwin ke Ferdi.


"Iye. Tapi lu gak jealous nih, kalo dia disamping gue. Hehe." kata Ferdi nyengir.


Darwin menjitak pelan kepala Ferdi, "Ngapain gue jealous sama lu. Chacha juga gak mau jadi cewe lu."


Darwin pun masuk ke kursi belakang mobil.


Ferdi pun mengendarai mobilnya.


"Ini si Adie tidur apa tewas sih? Bener-bener gak bergerak loh dia." gumam Darwin.


"Yaa, emang dia kalo tidur begitu kan. Kecuali lu teriak di kupingnya, kuliah pagi cepetan. Baru dia bangun. Haha." jawab Ferdi tertawa.


*


Gue menggeliatkan badan. Kayanya gue udah tidur lumayan lama.


Gue melirik membuka mata. Udah pagi.


Gue menoleh ke samping,


"Ih! Kok lu sih yang bawa mobil?"


Ferdi nyengir ngeliat gue,


"Kenapa emangnya? Emang enakkan siapa yang bawa mobil, gue apa Darwin?"


Gue menoleh ke kursi belakang, Darwin dan Adie masih tertidur.


"Kapan kalian ganti posisi? Kok gue gak dibangunin?" gue bertanya ke Ferdi.


"Lu lagi tidur nyenyak soalnya. Darwin gak tega bangunin lu." jawab Ferdi.


Gue mengangguk-angguk.


"Fer. Masih jauh gak?"


"Kebelet nih gue. Pengen pipis."


"Pake botol kosong aja."


Gue memukul Ferdi,


"Lu pikir gue sama kaya lu. Kalo ada pom bensin, berhenti dulu lah."


"Haha. Iya iya. Sekalian gue juga mau isi bensin."


Tak berapa lama, Ferdi pun membelokkan mobil ke pom bensin.


Gue pun segera turun dan ke toilet.


Darwin dan Adie pun terbangun.


"Kenapa berhenti?" tanya Darwin.


"Tuh, tuan putri kebelet pipis. Sekalian mau isi bensin." jawab Ferdi.


"Chacha keluar sendirian?" tanya Darwin kaget.


"Iya lah. Masa sekeluarga." jawab Ferdi.


"Aduuh. Nanti dia kenapa-kenapa lagi. Ini kan daerah orang. Yang ngeliat dia juga pasti asing." sahut Darwin yang juga mau keluar dari mobil.


"Lu mau kemana?" tanya Ferdi.


"Nyusul Chacha lah. Sekalian gue juga kebelet." jawab Darwin keluar dari mobil.


"Gue juga kebelet deh." sahut Adie mengikuti Darwin keluar dari mobil.


"Lah. Gue juga kebelet kali." gumam Ferdi melihat dua sahabatnya keluar dari mobil menuju toilet.


Setelah membasuh muka, gue pun keluar dari toilet.


Gue ngeliat Darwin lagi duduk.


"Win." gue menyapa dia.


"Eh, Cha. Udah selesai? Lu gak papa kan di dalem?" tanya Darwin.


Gue heran ngedenger dia,


"Menurut lu gue di dalem ngapain dan sama siapa?"


"Ya lagian lu sendirian ke toilet. Ini kan bukan daerah lu, Cha."


"Trus kalo gak sendirian, sama lu gitu ke toilet nya? Yang ada di gerebek kali."


"Bukan gitu juga maksud gue,"


"Eh, lu berdua pada debat apaan sih?" Adie yang tiba-tiba menghampiri gue dan Darwin.


Gue dan Darwin menatap Adie.


"Eits, kalo lu lagi pada berantem, gue kagak ikut-ikutan dah. Mendingan gue beli gorengan disitu." sahut Adie nyengir sambil menuju ke tukang gorengan.


"Eh, tunggu Die. Gue ikut!" gue berseru dan menyusul Adie.

__ADS_1


Gue dan Adie memakan gorengan.


"Enak juga nih, pagi-pagi makan ginian. Gue juga mau ngopi dah. Lu mau gak, Cha?" tanya Adie ke gue.


"Ngopi dimana?"


"Tuh. Starling." jawab Adie sambil menunjuk ke arah tukang kopi keliling.


"Iya deh. Gue mau."


"Ok. Lu tunggu disini aja ya."


Gue pun mengangguk sambil terus memakan gorengan.


Darwin menghampiri gue dan duduk disebelah gue.


Gue melihat dia memakan sesuatu.


"Mau?" tanya Darwin ke gue.


"Apaan itu?" gue bertanya balik.


"Pecel sayuran. Enak." jawab Darwin sambil menyodorkan sesendok ke mulut gue.


Seperti biasa, dia suka nyuapin gue.


Gue pun memakannya,


"Enak juga." gue bergumam.


Setelah memarkirkan mobil, Ferdi pun menghampiri kita.


Dia pun mengambil dan memakan beberapa gorengan.


"Enak lu pada ya. Gak inget sama gue." gumam Ferdi.


"Iyalah. Ngapain inget-inget lu. Nanti nafsu makan gue ilang." sahut Darwin.


"Bisa aja lu kaleng kerupuk." sahut Ferdi nyengir.


"Ya bisa lah, serbet warteg." balas Darwin nyengir.


Adie pun menghampiri kita dengan dua gelas kopi ditangannya.


"Nih, Cha." Adie mau memberikan kopi ke gue.


Gue baru aja mau berdiri dan mengambil kopi gue, tapi Ferdi duluan yang keburu mengambil kopi dari tangan Adie.


"Thank you, Die." kata Ferdi nyengir sambil meminum kopinya.


"Yaaaah." gue menggerutu.


"Hehehe.." Ferdi cuma menertawakan gue.


"Nanti gue beliin." sahut Darwin ke gue.


Gue kembali duduk disamping Darwin. Sementara Ferdi dan Adie berdiri dihadapan kita dan menyalakan rokok.


"Minta donk. Rokok gue di mobil." gue berkata ke Ferdi.


Ferdi memberikan bungkus rokoknya, tapi di ambil oleh Darwin.


"Lu jangan ngebul disini. Banyak orang." kata Darwin ke gue.


"Lah. Kenapa emangnya?" gue bertanya agak kesal.


"Ini bukan Jakarta." jawab Darwin singkat.


"Hadeeeh. Ya udah lah, gue ke mobil duluan. Sini kunci mobil lu, Fer." gue meminta kunci mobil ke Ferdi dan meninggalkan mereka bertiga.


Ferdi dan Adie cuma senyum-senyum aja melihat kelakuan Chacha. Sementara Darwin hanya menggelengkan kepalanya.


Ferdi duduk disamping Darwin,


"Win. Chacha itu bukan tipe cewe yang suka dilarang-larang. Kan lu tau dia gimana." kata Ferdi ke Darwin.


"Iya, gue tau. Tapi gue gak mau orang-orang mikir negatif tentang dia. Dia kan cewe." jawab Darwin.


Penjual gorengan pun senyum-senyum melihat tingkah mereka berempat.


"Mas semua ini dari Jakarta toh?" tanya penjual gorengan tersebut.


"Iya mas." jawab Adie.


"Ooo. Sama mba nya yang tadi juga?" tanya penjual gorengan lagi.


Darwin langsung menatap tajam sang penjual gorengan.


"Iya mas. Sama yang cewe tadi." jawab Adie.


"Dia cewe sendirian?"


Ferdi menahan Darwin yang keliatan geram dengan pertanyaan penjual gorengan.


"Iya. Emangnya kenapa mas?" Adie bertanya dengan tenang.


"Oalah. Ndak papa toh mas. Mba nya itu cantik. Pantes lah kalo cowonya sampe tiga. Terus, akur-akur semua lagi cowonya." jawab penjual gorengan senyum.


"Haha.. Gak usah dibahas mas, nanti ada yang kebakaran jenggot." sahut Adie sambil membayar semua gorengan yang telah dimakan mereka berempat.


Ferdi nyengir sambil terus menahan Darwin yang terlihat kesal dengan pernyataan si penjual gorengan.


"Lu gak usah kesel, Win. Dia gak tau siapa Chacha. Dan gak penting buat kita kasih tau dia. Chill bro." bisik Ferdi ke Darwin.


Darwin menghela napas dan menyalakan rokoknya.


"Mas'e bertiga hebat yo. Akur. Padahal punya pacar nya sama." kata penjual gorengan lagi.


"Haha.. Mas, kita bertiga bukan pacar dia." sahut Adie tertawa.


"Hah? Kalo bukan pacar si mba nya, terus siapanya?" tanya nya heran.


"Pikir aja sendiri mas." kata Ferdi berdiri kemudian mengajak Darwin dan Adie kembali ke mobil.


Penjual gorengan tersebut memperhatikan kepergian mereka ke mobil.


Dia melihat Chacha yang keluar dari mobil dan bercanda-canda dengan para sahabatnya.


Sesekali Darwin mengacak-acak rambut Chacha, Ferdi merangkul pundak Chacha, dan Adie yang meledek Chacha.


Mereka berempat terlihat tertawa bersama.


"Oalah. Itu baru yang namanya, kembang di antara kumbang. Aku yakin, pasti salah satu dari mereka akan jadi kumbang untuk si kembang selamanya." gumam si penjual gorengan tersebut sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2