Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Konsekuensi


__ADS_3

Gue mengajak Darwin ke kamar gue untuk ngebersihin luka di wajahnya.


Darwin duduk di ujung tempat tidur. Gue menarik kursi dan duduk di depannya.


Gue membasuh luka di bibirnya dengan kapas dan air hangat.


"Ouch. Bisa pelan gak?" protes Darwin.


"Lagian, siapa suruh berantem." gue menjawab.


"Ya gue udah kesel sama dia." kata Darwin.


Gue menghela napas dan terus membersihkan luka-lukanya.


"Lu tuh, mestinya gak perlu berantem begini. Kan semalem udah di wakilin sama Ferdi." gue berbicara.


"Kalo Ferdi kan ngewakilin lu. Kalo gue mah pribadi nampol dia." jawab Darwin.


"Pribadi? Emangnya lu ada masalah pribadi sama Putra?" gue bertanya heran.


Darwin memegang tangan gue yang lagi membasuh pipinya. Gue berhenti membasuh dan menatapnya.


Darwin menatap gue dalam, "Cha, gue..."


Gue merasa wajahnya terus mendekat ke gue. Kayanya dia mau nyium gue lagi.


Entah kenapa, gue malah terdiam mematung.


He's one centimeter di depan gue.


Tiba-tiba pintu kamar ada yang buka, Nopee masuk berdua Natalia.


"Cha." sahut Nopee.


Gue langsung memundurkan kursi gue dari depan Darwin.


Darwin juga langsung berdiri salah tingkah.


"Eh, Nop." gue menjawab.


Nopee dan Natalia nyengir ngeliat gue.


Darwin mengambil kapas dari tangan gue dan membasuh lukanya sambil menghadap ke cermin.


"Win. Taunya lu ada disini." kata Natalia ke Darwin.


"Iya. Kenapa?" tanya Darwin.


"Lu dicariin sama pak Dekan." jawab Natalia.


"Pak Dewa?" tanya Darwin.


"Iyalah. Siapa lagi." jawab Natalia nyengir.


Darwin mengernyitkan dahinya heran, "Ngapain pak Dewa nyariin gue?"


Natalia mengangkat bahunya, "Mana gue tau. Kayanya gara-gara lu berantem sama Putra deh." jawab Natalia.


"Hah? Kok pak Dewa bisa tau?" tanya Darwin sambil melirik ke gue.


"Ya kan elu berantemnya tadi di pantai. Terus banyak mahasiswa juga yang ngeliatin lu berantem. Mungkin ada yang ngadu." kata Nopee.


Darwin menghela napasnya dan menaruh kapas.


"Ya udah. Gue temuin pak Dewa dulu deh. Dia ada dimana?" tanya Darwin.


"Di meeting room lantai tiga. Lu kesana aja. Di pintu meeting room nya ada logo kampus kita kok." jawab Natalia.


"Ooo. Ok deh." kata Darwin melangkah menuju pintu kamar.


"Tunggu, Win." gue menyahut.


Darwin berhenti dan menoleh ke gue.

__ADS_1


"Gue ikut." gue berdiri dan menghampiri Darwin.


"Cha. Kan cuma gue yang dipanggil papi lu. Lagian ini emang salah gue kok. Gue duluan yang nampol Putra. Jadi ya gue akan terima semua konsekuensinya nanti." kata Darwin.


"Gak usah cerewet. Ayo." gue langsung menarik tangan Darwin dan keluar dari kamar.


"Mana ada yang percaya kalo mereka berdua gak pacaran. Ya kan, Nat?" gumam Nopee ke Natalia ketika Chacha dan Darwin pergi meninggalkan kamar.


"Iya." jawab Natalia nyengir.


*


Gue dan Darwin masuk ke meeting room.


Ada papi dan beberapa rekan dosen lainnya. Mereka semua menatap ke arah gue dan Darwin.


"Saya kan cuma memanggil Darwin aja, gak termasuk kamu." kata papi sambil menatap gue.


"Iya. Tapi saya tau kenapa dia dipanggil. Dan itu ada hubungannya dengan saya, pak Dewa." gue menjawab.


"Darwin. Apa benar kamu yang memulai perkelahian dengan Putra tadi di pantai?" tanya papi ke Darwin.


"Iya. Bener pak. Memang saya yang memukul dia duluan." jawab Darwin.


"Kamu tau, apa konsekuensinya? Kamu telah berbuat onar di hotel ini, dan mencoreng nama baik kampus kita, terutama fakultas saya." kata papi.


Gue melirik ke arah dekan fakultas pariwisata. Dia mengangguk-angguk. 'Pasti ni dia belain si Putra. Mahasiswa kesayangannya. Why this seems not fair.' gue bergumam dalam hati.


"Iya, pak. Saya akan terima semua konsekuensinya." jawab Darwin tegas.


Papi menghela napasnya dan melirik gue, "Kemungkinan besar, ijazah kelulusan kamu gak akan bisa dikeluarkan oleh kampus dan kamu gak akan ikut wisuda." kata papi.


Gue menoleh ke Darwin. Dia kelihatan tenang banget. Sementara gue udah gemes banget denger omongan papi. Kalo aja gak ada rekan-rekan dosennya, gue udah marah-marah kali.


"Baik, pak. Saya terima itu. Terima kasih. Dan maaf, kalo perbuatan saya udah membuat nama baik fakultas kita tercoreng. Saya permisi." jawab Darwin sambil menuju pintu keluar meeting room.


Gue terkejut mendengarnya, gue mengejar Darwin, "Win. Tunggu."


"Win. Kok lu diem aja sih. Mereka kan gak tau kenapa lu bisa mukul Putra. Ini bukan pure salah lu." gue berkata ke dia.


Gue tau seluruh orang yang ada di ruangan menatap ke arah kita.


Darwin memegang lengan gue, "Cha. Alesan gue mukul Putra, selain karena elu, gue juga emang gak suka sama dia. Tapi, gue rasa orang-orang disini gak perlu tau alesan gue. Karena itu menyangkut lu. Pribadi lu. Gue gak mau mereka semua berpikir jelek tentang lu, karena lu mau dikerjain sama Putra."


"Tapi, Win..."


"Cha. Apalah artinya selembar ijazah buat gue. Yang penting elu gak kenapa-kenapa. Dan gue puas udah mukul orang yang nyakitin lu." jawab Darwin tersenyum.


Dia pun membuka pintu dan keluar dari ruangan.


Gue menunduk menahan kekesalan gue. Gue menghembuskan nafas, dan melihat ke arah papi dan rekan-rekannya.


Gue berjalan menghampiri mereka.


"Bapak dekan dan para dosen yang terhormat." gue berkata.


Semua menatap gue.


"Apa kalian semua disini tau, kenapa Darwin bisa memukul Putra seperti itu?" gue bertanya dengan nafas yang menderu.


"Yaa pasti kan karena kamu. Kamu itu kan pacarnya Putra. Menurut Putra, Darwin itu cemburu sama dia. Makanya Darwin memukul dia." jawab pak Dekan pariwisata.


'What? Jadi Putra ngomong begitu.' gue bergumam dalam hati.


Gue menggelengkan kepala.


"Saya memang pacarnya Putra. Tapi saya udah putus sama dia semalem. Sebelum Darwin dan Putra berkelahi hari ini." gue menjawab.


"Ooo, ya berarti bener apa yang dibilang Putra. Kalian putus, Putra berusaha untuk membuat kamu kembali lagi, tapi ada Darwin yang menghalangi." jawab pak Dekan itu lagi.


Gue maju menghampiri dia yang duduk dikursinya, "Apa Putra juga cerita ke bapak, kenapa saya mutusin dia?" gue bertanya dengan penuh amarah.


"Yaa pasti masalah biasa lah. Kamu cemburu juga karena Putra pasangan dengan cewe lain waktu gala dinner." jawab nya santai.

__ADS_1


Gue meremas kertas yang ada dimejanya karena gue menahan kekesalan gue.


Papi berdiri ke belakang gue. Memegang pundak gue, "Danisha. Kamu inget, kamu sedang berhadapan dengan siapa." kata papi pelan.


Gue berpikir, percuma juga kalo gue beberin rencana Putra dan temen-temennya ke gue semalem. Bapak ini pasti gak bakalan percaya. Apalagi gue gak ada bukti.


Gue melepaskan kertas-kertas di meja dan berdiri dengan tegak.


"Papi. Maksud saya, pak Dewa. Seharusnya anda dan rekan-rekan anda semua disini, bisa mendengar dan membuat keputusan dari kedua pihak. Bukan hanya dari satu pihak aja. Bukan hanya mendengar dari salah satu orang yang dengan nilai akademis tinggi, prestasi bagus, dan kesayangan para dosen." gue berkata sambil memperhatikan para pejabat kampus.


"Danisha," papi mau mencoba berbicara.


Gue menatap papi tajam, "Pak Dewa. Kalo bunda saya tau apa yang sebenernya akan terjadi sama saya semalam, saya yakin bukan hanya anda saja yang akan ditinggalkan oleh bunda saya. Tapi kampus ini juga akan dituntut ke pengadilan, terutama Putra. Permisi." gue keluar dari ruangan dengan menahan kekesalan gue.


Pak Dewa memperhatikan gue keluar dari ruangan dengan wajah penuh pertanyaan.


'Ada apa sebenernya.' gumam Pak Dewa dalam hatinya.


*


Gue melangkah cepat menuju kamar Darwin.


Setelah beberapa kali memencet bel, Ferdi membukakan pintu.


"Elu, Cha. Horor banget muka lu." kata Ferdi ke gue.


"Darwin mana, Fer?" gue bertanya.


"Tuh, lagi ngebul di balkon." jawab Ferdi.


Gue berjalan ke arah balkon, Ferdi menahan tangan gue.


"Darwin udah cerita ke gue. Dia berantem sama Putra dan di panggil pak Dewa kan." kata Ferdi.


"Fer, ini tuh bukan salah Darwin sepenuhnya. Putra aja yang udah cerita macem-macem ke dekan fakultasnya."


"Iya, gue tau. Gue ke bawah dulu ya, laper. Gue gak bisa mikir kalo laper." kata Ferdi nyengir.


"Iya." gue menjawab.


Gue ke balkon dan duduk dikursi disamping Darwin.


"Win. Sorry ya, gara-gara gue malah lu yang jadi kena." gue memulai pembicaraan.


Darwin tersenyum menoleh ke gue, "Cha. Kan gue udah bilang gak papa. Lagian ijazah itu cuma selembar kertas. Gak masalah buat gue."


"Kenapa sih gak lu bilang aja tadi kalo lu berantem sama Putra karena dia dan temen-temennya mau ngerjain gue. Kan lu punya semua buktinya." gue bertanya.


Darwin menghela napasnya dan menggeser kursinya ke depan gue, "Gue gak mau bikin lu malu. Semua yang mau di lakuin Putra dan temen-temennya itu kan aib. Lu cewe, Cha. Yang harus dijaga kehormatannya."


Gue menatap wajahnya. Gue bener-bener gak nyangka dengan jawaban dia.


Darwin memegang pipi gue dengan tangannya, "Ngebongkar semuanya di depan dosen-dosen dan dekan, sama aja kaya ngomongin seolah-olah lu bukan cewe baik-baik yang mau di tidurin sama Putra dan di jadiin taruhan sama mereka. Dan gue gak mau itu."


Gue meneteskan air mata mendengar dia berkata begitu.


Gue menangis bukan karena gue sedih, tapi gue begitu beruntung punya sahabat kaya dia.


Bahkan apa yang dilakuin dia lebih dari sekedar seorang pacar buat gue.


Darwin mengusap air mata gue dengan kedua tangannya.


Dia tersenyum, "Gue udah janji akan selalu jagain lu kan."


Gue memeluk dia, "Makasih ya Win. Lu lebih dari sekedar pacar, sahabat, atau saudara. Gue gak tau apa itu namanya."


"Penjaga lampu petromak." sahut Darwin.


Gue tersenyum dan terus memeluk dia.


Gue beruntung berada dekat dengan dia dan dua sahabat gue yang lain, Adie dan Ferdi.


Gue beruntung bisa kenal mereka.

__ADS_1


__ADS_2