
Day by day. Kampus.
Beberapa hari ini kayanya gue ngerasa ada yang aneh sama Darwin. Dia sering banget tiba-tiba ngilang dari gue, Ferdi, atau Adie. Kalo kita juga lagi bareng-bareng, dia banyak diemnya.
Gue baru keluar dari gedung. Adie seperti biasa, kalo kuliah selesai, dia pasti langsung ngapel sama cewenya. Dia bagus sih ngejalanin hubungan sama cewenya, saling percaya dan konsisten. Untung cewenya gak posesif amat.
Gue ngeliat Darwin baru keluar dari perpus, "Tumben dia ke perpus." gue bergumam.
"Win!" gue memanggil dia.
Darwin berhenti dan menoleh ke gue, "Eh, Cha."
"Lu tumben ke perpus." gue berkata ke Darwin.
"Iya, kan lagi bikin skripsi."
Gue melihat dia, "Tapi kok gak bawa laptop?"
Muka Darwin langsung nyengir aneh, "Ya gue kan cuma liat-liat buku referensi aja, bukan sambil ngetik di perpus."
"Win, jangan lupa ya." tiba-tiba ada seorang cowo yang keluar dari perpus dan menepuk pundak Darwin langsung pergi. Darwin cuma mengangguk aja.
Gue gak kenal sama cowo itu.
"Siapa Win?" gue bertanya.
"Temen." jawab Darwin.
"Temen? Kok gue gak pernah liat dia?" gue bertanya heran.
"Ya elu kan sibuk wara wiri, jadi lu nggak ngeh." kata Darwin.
Gue cuma terdiam mengangguk, Darwin pun melangkah pergi.
"Win, tunggu." gue ngejar dia.
"Apaan?" tanya Darwin.
"Win, lu kok akhir-akhir ini kayanya aneh deh."
"Aneh? Aneh gimana?"
"Ya elu suka tiba-tiba ngilang dari kita."
"Nggak ah. Perasaan lu aja kali."
Ponsel gue berbunyi, Putra yang telpon, gue angkat.
"Ya, Put?"
"Kamu dimana, yang? Aku nungguin di taman ya. Kita jadi makan siang bareng kan?" tanya Putra.
"Iya jadi. Nanti aku kesitu."
"Ya udah, jangan lama-lama ya."
"Iya." gue menjawab dan menutup telponnya.
Darwin memperhatikan gue, "Mau pergi sama cowo lu?"
"Cuma mau makan aja." gue menjawab.
"Cha, cowo lu itu bukan orang baik-baik."
Gue heran ngedengernya, "Maksud lu?"
"Ya maksud gue, cowo lu itu gak bener. Dia ada maksud jahat sama lu."
"Lu ngomong apa sih, Win?!" gue sedikit berteriak.
"Cha,"
__ADS_1
"Win. Kenapa sih lu malah bikin gue down sama cowo gue? Putra salah apa sih sama lu? Sampe lu bisa bilang kalo dia punya niat jahat sama gue? Lu bisa buktiin kalo dia emang mainin gue?"
"Emang gue belom ada bukti, Cha. Tapi,"
Gue memotong perkataan Darwin, "Win, gue gak nyangka lu kaya gini. Kenapa lu selalu jelek-jelekin Putra? Bukannya lu bilang kalo gue seneng, lu juga seneng? Tapi kok sekarang lu malah seakan-akan ngebuat gue untuk jauhin dia? Padahal, gue kira lu akan selalu dukung gue, tapi lu malah mau bikin gue down. Mulai sekarang, lu gak usah peduliin gue lagi. Gue mau dijahatin kek, dibaikin kek, itu urusan gue." gue berseru ke Darwin dan pergi ninggalin dia.
Darwin terdiam menatap sahabat yang disayanginya marah dan meninggalkannya.
"Gue sayang sama lu, Cha. Gue gak akan bisa untuk gak peduli sama lu. Gue akan buktiin kalo Putra emang gak bener." gumam Darwin.
*
Gue berjalan ke arah taman dengan penuh kekesalan. Darwin itu biasanya yang paling ngerti gue. Orang yang paling ngedukung gue. Kenapa sekarang dia tiba-tiba bilang kalo Putra ada niat jahat sama gue. Itu kan sama aja kaya dia ngejelek-jelekin cowo gue.
Gue menghampiri Putra yang lagi ngobrol sama temen-temennya.
"Put,"
Putra menoleh ke gue dan langsung merangkul gue dan mengecup kepala gue, "Hei sayang."
"Cieee, dateng juga nih yang ditunggu." ledek temannya.
Putra hanya tersenyum ke temannya, dia menatap gue yang lagi kesel.
"Yang, kamu kenapa? Kok mukanya gitu banget?" tanya Putra.
"Gak papa. Aku cuma laper." gue menjawab.
"Ooo. Ya udah ayo, kita makan. Kamu mau makan dimana?"
"Dimana aja, yang penting gak dikampus."
Putra mengangguk dan pamit ke temen-temennya, "Gue cabut duluan ya."
Temen-temennya pun mengiyakan, "Jangan lupa, Put. Siapin sarung sebelum tempur. Haha.." kata temannya ke Putra.
Putra menggandeng gue dan memberikan jari jempol ke temannya tanpa menoleh mereka.
*
Kosan Darwin.
Darwin terlihat kesal, dia mengambil gitarnya dan memainkan beberapa melody untuk melampiaskan kekesalannya.
Adie dan Ferdi datang, "Woi, tumben amat maen gitarnya begitu? Pindah aliran jadi punk rock lu?" tanya Adie meledek.
Darwin menatap mereka, berhenti bermain gitarnya dan menghela napas.
Dia menyalakan rokoknya, "Chacha marah sama gue." kata Darwin ke Adie dan Ferdi.
Adie dan Ferdi menatapnya heran, "Kenapa lagi?" tanya Adie.
"Lu udah ungkapin ke dia, Win?" tanya Ferdi penasaran.
Darwin menggelengkan kepalanya, "Gak Fer. Bukan itu."
"Trus, kenapa dia marah sama lu?" tanya Ferdi.
"Gue bilang ke dia kalo cowonya bukan orang baik-baik."
"Hah?" Adie dan Ferdi terkejut.
"Kok lu bisa bilang gitu? Lu sendiri yang bilang kalo Chacha udah mulai sayang sama cowo nya. Lah elu malah ngomong gitu ke Chacha, ya marah lah dia." kata Ferdi.
"Iya, Win. Lagian lu kalo ngomong ke Chacha gak ada bukti juga percuma. Pasti dia gak percaya." kata Adie.
Darwin menghembuskan asap rokoknya, "Die, Fer. Kalian berdua peduli dan sayang kan sama Chacha?" tanya Darwin.
"Itu mah gak perlu ditanya kali. Kita berempat kan udah saling dukung dan ngeback-up. Ya kali kita gak peduli sama dia." kata Adie.
"Putra ada rencana jahat ke Chacha. Sebenernya bukan dia aja sih, tapi dia dan temen-temennya." kata Darwin.
__ADS_1
Adie dan Ferdi terkejut,
"Hah? Serius lu Win?" tanya Ferdi.
Darwin mengangguk, Ferdi langsung berdiri ingin meninggalkan kamar Darwin.
"Lu mau kemana?" Darwin bertanya ke Ferdi.
"Gue mau hajar lah si Ferdi sama temen-temennya." jawab Ferdi.
Darwin menariknya, "Jangan dulu. Gue belom ada bukti soalnya. Kalo lu maen tampol, nanti malah lu yang disalahin. Trus, nanti Chacha malah marah juga sama lu."
"Win, emangnya si Putra sama temen-temennya mau jahatin si Chacha apaan sih?" tanya Adie.
Darwin menghela napas dan menceritakan ke Adie dan Ferdi apa yang diceritakan oleh Galang kepadanya.
"Ooo, gitu ceritanya." sahut Adie sambil berpikir.
"Iya. Makanya gue juga bingung gimana ngebuktiinnya ke Chacha." kata Darwin.
"Trus, mereka mau ngelakuinnya kapan?" tanya Adie lagi.
"Menurut Galang, mereka akan ngelakuin itu nanti pas malem pelepasan kelulusan kita. Which is tinggal berapa bulan lagi." jawab Darwin.
"Kalo gitu, gue habisin mereka dulu sebelum malem kelulusan." kata Ferdi geram.
"Iya. Abis itu lu malah gak jadi lulus dan malah masuk penjara." kata Darwin ke Ferdi.
Adie yang terlihat berpikir, "Win, kayanya untuk saat ini biarin aja dulu deh si Chacha sama Putra. Soalnya, kalo kita makin larang Chacha, apalagi sampe ngasih tau dia niat busuk Putra dan temen-temennya, yang ada Chacha malah bakalan marah ke kita, apalagi kita gak ada bukti. Kalo dia marah bisa aja kan dia bilang ke Putra. Gue takut malah Chacha langsung dikerjain Putra kalo dia tau kita udah tau rencana dia."
"Jadi maksud lu, gue tetep ngebiarin dia jalan sama Putra, gitu?" tanya Darwin.
"Yaaa, mau gak mau, Win. Sambil lu terus ngumpulin bukti. Lu juga jangan terlalu percaya sama si Galang, bisa aja kan dia salah, atau dia yang sebenernya mau jahat ke Putra, jadi ngadu domba lu." kata Adie.
Darwin berpikir dan mengangguk, "Iya juga sih. Gue akan nyari cara gimana ngegagalin rencana Putra dan temen-temennya."
Ferdi yang mendengar penjelasan Adie hanya menggaruk-garuk kepalanya, "Gue sebenernya gak begitu ngerti maksud lu, Die. Tapi intinya, kapan kalian kasi kode ke gue buat nampol si Putra sama temen-temennya, gue langsung meluncur." kata Ferdi.
Darwin dan Adie tertawa, "Haha.. Lu mah bisanya langsung senggol bacok sih ya. Tuh, kaya Adie donk. Di analisa dulu kasusnya, jadi kaya detektif Conan." kata Darwin meledek Ferdi.
"Ah, dia kan kebanyakan baca komik aja, sama kaya lu. Kelamaan analisanya." kata Ferdi.
"Haha.. Analisa itu penting, Fer. Supaya kita gak asal nuduh aja." kata Adie ke Ferdi.
*
Di sebuah cafe.
Putra ngajak gue makan di sebuah cafe. Karena gue sebenernya masih kesel sama Darwin, jadi kurang nafsu makan. Gue cuma makan dikit, sisanya gue aduk-aduk aja.
Putra duduk di depan gue, "Yang, kok gak dimakan? Cuma di aduk-aduk doank." kata Putra ke gue.
Gue menyendok sedikit makanan, dan memasukkan ke dalam mulut gue.
Putra duduk disamping gue, dia merapikan rambut gue ke samping pipi, "Kamu kenapa sih? Kayanya dari tadi kamu gak mood." Putra bertanya.
Gue menoleh ke dia, "Put, kamu sebenernya gimana sih sama aku?"
"Gimana apanya?" tanya Putra.
"Kamu gak lagi mainin aku kan?" gue balik bertanya.
"Ya ampun yang. Aku kan udah jelasin semuanya ke kamu. Kamu mau aku gimana lagi supaya kamu yakin kalo aku serius sama kamu dan gak mainin kamu." kata Putra.
Tangan gue merangkul pinggangnya, dan gue bersandar di pundaknya, "Put, aku tuh udah mulai sayang sama kamu. Makanya aku gak mau kalo ada yang kamu sembunyiin dari aku."
Putra membelai lembut rambut gue, "Yang, aku juga sayang sama kamu. Aku udah bilang ke kamu, kalo aku gak bohongin kamu."
Gue semakin tenggelam didalam dadanya, entah apa yang gue rasain. Gue juga keinget omongan Darwin tentang Putra.
'Apa iya cowo gue ini ada niat jahat ke gue? Sementara perlakuan dia ke gue selama ini malah lembut banget. Bulu kucing aja bisa kalah lembut dari dia.' gue bergumam dalam hati.
__ADS_1