
Senin pagi.
Darwin udah ada dirumah Chacha, dia mau bareng ke kampus sama Chacha.
Darwin menunggu Chacha yang lagi siap-siap.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah Chacha, Putra keluar dari mobilnya, dia menjemput Chacha.
*
"Bawa laptop gak ya." gue bergumam sambil memakai jaket gue.
"Gak usah lah, ribet."
Gue pun ngambil kunci motor, keluar kamar dan keruang tamu.
"Ayo, Win. Kita berangkat." gue ngajak dia sambil menarik retseleting jaket.
"Cha," Darwin menyahut.
Gue mengangkat kepala, "Apa?" dan kaget karena ada Putra disampingnya.
'Yah, kok Putra jemput gak bilang-bilang.' gue bergumam dalam hati.
Putra tersenyum dan nyamperin gue, "Kamu udah siap, yang? Yuk berangkat."
"Put, tapi aku tadi mau bareng Darwin." gue berkata pelan karena gue takut dia marah.
"Gak papa, Cha. Gue jalan duluan aja." kata Darwin yang mau keluar rumah.
"Bareng aja, Win. Sama gue. Mobil gue gak sempit-sempit amat kok." kata Putra ke Darwin.
"Gak jadi bawa motor, Cha?" nyokap gue nanya tapi ngeledek.
"Gak usah tante, biar Chacha sama saya aja." jawab Putra.
"Jadi kalian berangkat bertiga?" tanya nyokap lagi.
"Iya tante." jawab Putra.
"Bun, Chacha jalan dulu ya." gue mencium nyokap dan keluar.
Darwin dan Putra pun pamit.
Di mobil.
Gue duduk samping Putra, Darwin sendirian di kursi belakang. Sumpah, ini situasi yang bener-bener gak enak. Canggung.
"Yang, kamu pasti belum sarapan kan. Kita beli sarapan dulu ya, kaya biasa." kata Putra ke gue.
"Terserah kamu lah." gue menjawab.
Putra pun membelokkan mobilnya ke drive thru. Dia memesan makanan seperti biasa, dan memberikan kantong makanannya ke gue.
"Darwin juga pasti belum sarapan, kamu kasi juga ke dia ya." kata Putra ke gue.
Gue mengambil satu burger dan ngasih ke Darwin, "Ni Win. Makan lah."
Darwin mengambil burger tersebut, "Thanks."
Gue pun mulai makan.
"Heeem, enak banget ya. Lupa sama yang nyetir." gumam Putra sambil ngelirik ke gue.
Gue pun nyengir, "Sorry."
Gue menyiapkan burger Putra, dan menyuapi dia.
"Yang, jangan berantakan lagi ya saosnya." kata Putra sambil terus menyetir mobil.
Gue mengambil tissue dan mengelap mulutnya, "Gak berantakan banget kok."
Putra membelai kepala gue dan tersenyum, "Makasih ya."
Darwin yang melihat mereka hanya terdiam, 'Gimana caranya gue ngerebut Chacha dari dia. Orang mereka berdua aja keliatannya mesra begitu.' gumam Darwin dalam hati.
"Win, kata Chacha lu jago main gitar ya?" Putra bertanya ke Darwin.
"Hah? Gak jago, biasa aja." jawab Darwin.
"Punya band donk? Main musik apa?" tanya Putra lagi.
"Nggak. Gue gak ngeband. Main gitar sendirian aja."
"Ooo. Gak ada rencana main di cafe-cafe atau bikin single solo gitu?"
"Nggak. Gue gak jago bikin lagu, trus gak mau juga maen di cafe-cafe."
"Darwin itu egois. Maen gitar buat dirinya dia sendiri aja. Gak mau kalo orang-orang ngeliatin dia." gue menambahkan.
"Yaa gak papa sih. Namanya juga hobi, ada yang mau tampil, ada yang nggak." kata Putra tersenyum.
"Lu lagi rekaman album, Put?" tanya Darwin.
"Iya. Jadinya gue jarang ke kampus. Makanya gue kaget waktu ada yang ngirim foto-foto lu berdua Chacha. Sorry ya, Win. Waktu itu gue udah marah-marah sama lu. Tapi Chacha udah ngejelasin kok ke gue." jawab Putra.
"Gak papa Put, wajarlah lu jealous. Oiya, ngomong-ngomong, yang ngirim foto-foto itu ke elu, siapa ya?" tanya Darwin.
Gue yang ngedenger pertanyaan Darwin, langsung mengalihkan pembicaraan. Gue gak mau Darwin tau kalo Shanti yang ngirim foto-foto itu, karena gue berencana mau nanya ke Shanti hari ini. Gue menumpahkan sedikit kopi gue ke jok mobilnya, "Aduh, Put. Yaaah. Jok mobil kamu ketumpahan kopi aku."
Putra langsung menoleh ke gue, "Ya ampun, yang. Kamu kok gak hati-hati pegangnya. Ya udah, di lap tissue aja."
Darwin pun ngebantuin gue untuk ngelap jok mobil yang ketumpahan kopi gue.
Akhirnya kita sampe kampus. Putra memarkirkan mobilnya. Kita bertiga pun keluar dari mobil.
"Thanks ya, Put. Burger sama tumpangannya." kata Darwin menepuk pundak Putra.
Putra mengangguk tersenyum.
Putra berdiri di hadapan gue, dia melingkarkan kedua tangannya di pundak gue, "Mau ngebul yaaaa." dia ngeledek gue.
"Ya udah tau pake nanya." gue menjawab.
__ADS_1
Putra menempelkan dahinya ke gue, "Aku ke kelas dulu ya. Jangan banyak-banyak. Love you." dia mencium kening gue dan tersenyum.
"Iya." gue langsung mebalikkan badan dan pergi bersama Darwin ke gedung kelas gue.
"Gak nyangka, gue." kata Darwin.
"Apaan?"
"Lu bisa diem juga ya kalo di depan cowo lu. Gak bawel kaya biasanya." ledek Darwin.
"Soalnya gue juga bingung mau ngomong apa sama dia. Ya kali gue mau sayang-sayangan sama dia di depan lu."
"Haha.. Emang kenapa kalo lu sayang-sayangan di depan gue?"
Gue menggandeng dan menarik tangan dia, "Gak usah banyak tanya kaya dosen pembimbing skripsi, udah ayo cepetan, gue pengen ngebul banget nih."
Darwin nyengir dan menggelengkan kepalanya.
Perkuliahan pun selesai. Semua kelas bubar, bener-bener udah kaya anak ayam kocar kacir kalo kaya gini.
Gue menunggu seseorang, Shanti. Gue mau nanya apa maksud dia candid gue sama Darwin.
Gue ngeliat dia keluar gedung sama Vania, temennya.
Gue berjalan di belakang dia dan langsung menarik tangannya, "Gue mau ngomong."
Shanti kaget karena gue menarik dia ke taman kampus. Karena disitu gak terlalu banyak orang.
Vania pun mengikuti gue dan Shanti.
Shanti melepaskan tangannya, "Mau ngomong apa sih lu, Cha?"
"Shan, lu kan yang candid gue sama Darwin di kosan dia?"
Shanti dan Vania berpandangan.
"Maksud lu apa?" tanya Shanti.
Gue menghela napas, 'Cewe nih ya, gak bisa gitu langsung aja bilang iya atau nggak gitu. Pake nanya maksud gue apa.' gue bergumam dalam hati.
"Maksud gue, gue mau tanya, maksud lu apa moto-motoin gue sama Darwin trus lu kirim ke Putra."
Shanti senyum sinis ke gue, "Ya supaya cowo lu tuh tau, kalo lu bukan cewe baik-baik yang dia bangga-banggain, lu selingkuhin dia juga dibelakang dia."
Gue menahan kekesalan gue, "Kalo ngomong hati-hati ya."
"Emangnya kenapa? Lagian, lu juga ngapain udah punya cowo tapi masih aja sering ke kosan Darwin."
"Itu bukan urusan lu."
"Jelaslah urusan gue. Karena ada elu, gue juga jadi susah deketin Darwin. Lu selalu menghalangi dia untuk deket sama cewe lain. Lu sadar gak, Cha? Kalo selama ini, lu itu jadi bayang-bayangnya Darwin, lu renggut kebebasan dia buat suka sama cewe lain. Bahkan sampe lu sendiri udah punya cowo, lu masih aja jadi bayang-bayangnya Darwin." kata Shanti ke gue.
"Lu gak tau apa-apa tentang gue dan Darwin. Jadi lu gak usah sok tau, gue gak pernah renggut kebebasan Darwin untuk dia suka sama cewe lain."
Gue membalikkan badan dan mau pergi ninggalin Shanti dan Vania.
"Mana ada temenan peluk-pelukan gitu. Pasti kalian juga sering ML bareng. Mungkin juga lu di gilir sama Ferdi dan Adie." kata Shanti meledek.
Ngedenger dia ngomong gitu ke gue, gue bener-bener gak bisa nahan kekesalan. Gue berbalik dan nyamperin dia, gue langsung nampar muka dia. Plak!
Gue manatap dia tajam, gue dorong dia sampe jatoh, dan gue tonjok mukanya. Shanti pun melawan gue. Terjadilah perkelahian antara gue dan Shanti.
Vania panik dan berteriak-teriak.
Beberapa mahasiswa pun berusaha melerai, mereka menarik gue dan Shanti.
Dan sialnya, ada dosen yang ngeliat, "Kalian! Ke ruang dekan sekarang!"
'Anjrit!' gue mengumpat dalam hati. Gue memegang bibir gue yang sedikit memar.
*
Kosan Darwin.
Darwin sedang bermain gitar, ditemani oleh Ferdi dan Adie. Mereka bertiga sambil ngobrol-ngobrol.
"Jadi tadi pagi, lu jadi obat nyamuk donk, Win." ledek Adie ke Darwin.
"Gak terlalu sih. Si Putra juga minta maaf ke gue di depan Chacha."
"Trus lu maafin?" tanya Ferdi.
"Ya iyalah. Masa gue mau marah-marah. Lagian, Chacha juga kayanya sayang sama si Putra." jawab Darwin.
"Ah, gak percaya gue kalo Chacha sayang beneran sama cowonya." kata Ferdi.
Seseorang berlari ke kamar Darwin, Azis.
"Win, si Chacha berantem tuh." kata Azis terengah-engah.
Darwin, Ferdi, dan Adie berpandangan, "Berantem?"
"Biarinlah, paling sama cowo yang usilin dia." kata Ferdi.
"Bukan sama cowo. Sama cewe, si Shanti. Anak kelasan lu. Orang sampe bonyok tuh muka mereka." kata Azis.
"Shanti?" Ferdi dan Darwin berpandangan.
"Udah sana cepetan, mereka dibawa ke ruang dekan." kata Azis lagi.
Mereka bertiga pun langsung berdiri dan pergi ke kampus.
*
Ruang dekan.
"Dia yang nyerang saya duluan pak." kata Shanti ke dekan fakultas.
Gue cuma diem-diem aja sambil ngeliatin ruangan dekan. 'Enak juga ya di dalem sini, udah adem, ada sofa buat selonjoran. Minum tinggal pencet, nonton tv tinggal nyalain.' gue bergumam dalam hati.
"Danisha. Apa bener begitu?" tanya pak dekan.
"Hah? Apa pak?" gue bertanya. Gue ngeliat pak dekan menghela napas, "Ooo itu. Iya pak, emang saya yang nampar dia duluan. Trus, dia bales saya, saya bales lagi, dia bales lagi, begitu terus cycle nya sampe ada yang narik kita dan ngebawa kita ke ruangan ini. Padahal, lagi seru-serunya tadi pak." gue menjawab.
__ADS_1
Pak dekan menggelengkan kepalanya dan berdiskusi dengan seorang dosen yang melihat kita berantem.
"Kamu saya skors." kata pak dekan ke gue.
Gue cuma diem aja gak jawab. Tiba-tiba pintu ruangan diketuk.
Seorang cowo masuk, dan itu cowo gue Putra.
"Maaf pak," kata Putra.
Gue mengeryitkan alis dan menatap dia. Putra cuma memberikan kode ke gue untuk diem.
"Ya, ada apa ya? Kamu..." kata pak dekan ke Putra.
"Saya Putra Mahendra. Mahasiswa pariwisata." jawab Putra.
"Trus, kamu mau ngapain?" tanya pak dekan.
"Pak, bapak boleh tanya dekan pariwisata siapa saya. Saya adalah salah satu mahasiswa terbaik dengan nilai yang bagus. Saya kesini karena Danisha pacar saya. Saya meminta bapak agar dia gak perlu di skors. Mengingat ini juga lagi sibuk-sibuknya bimbingan skripsi. Saya yang akan menjamin dia, pak. Saya janji, Danisha gak akan berbuat kekacauan lagi, berantem, atau mencelakai mahasiswa mahasiswi disini. Kalau sampai dia berbuat itu lagi, nilai-nilai saya jaminannya, dan saya siap dikeluarkan dari kampus ini." kata Putra tegas.
Gue kaget ngedenger dia ngomong gitu, "Put. Kamu gak perlu begitu. Ini emang salah aku kok. Aku yang emang nyerang dia duluan." gue berbisik ke Putra.
Putra memegang muka gue dan tersenyum, "Gak papa. Aku sayang kamu."
Pak dekan kelihatan berpikir, dia menghubungi dekan pariwisata. Mereka terlihat ngobrol-ngobrol ditelepon.
"Baik, kalo gitu. Tapi kamu jangan nyesel ya, Put. Kalau tiba-tiba pacar kamu ini berbuat onar lagi." kata pak dekan ke Putra.
Putra mengangguk, "Baik pak. Terima kasih."
"Ya sudah, kalian boleh keluar. Kamu juga, Shanti." kata pak dekan ke kita.
Putra menggandeng tangan gue keluar, Shanti terlihat masih kesel sama gue.
Kita bertiga keluar dari ruang dekan, gue ngeliat tiga sahabat gue berjalan nyamperin gue.
"Cha, lu berantem? Kenapa?" tanya Ferdi ke gue.
Gue baru mau ngejawab, tapi Putra langsung ngomong.
"Chacha gak papa. Gue mau bawa dia ke dokter dulu." kata Putra menarik tangan gue.
Dia berhadapan sama Darwin, "Win, coba lu bilangin sama temen sekelas lu tuh. Dia gak perlu cemburu sama Chacha sampe ngirim foto-foto itu ke gue." kata Putra yang langsung pergi menggandeng gue ninggalin ketiga sahabat gue dan Shanti.
Shanti menghampiri Darwin, "Win, temen lu itu bar-bar juga. Liat nih muka gue sampe kaya gini dibikin dia." kata Shanti dengan manja.
Darwin menatapnya dingin, "Chacha pasti punya alesan kenapa dia sampe nyerang lu." kata Darwin sambil pergi meninggalkan Shanti.
Shanti bengong menatapnya.
Ferdi dan Adie menghampirinya, "Jadi elu yang motoin Chacha sama Darwin dan lu kirim ke Putra? Gila, gak nyangka gue." kata Ferdi menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Shanti.
"Gue juga gak nyangka, Shan. Lu suka sama Darwin apa Putra?" tanya Adie tersenyum sinis ke Shanti dan pergi meninggalkannya sendirian.
*
Di mobil Putra.
"Put, kita gak usah ke dokter ya. Aku gak papa kok." gue ngomong ke Putra yang lagi nyetir.
"Gak papa gimana. Gak liat tuh bibir kamu memar gitu."
Gue berkaca pada spion mobilnya, "Ya cuma memar dikit doank."
"Dikit? Trus ini apa nih, di pipi kamu." kata Putra sambil menyentuh pipi gue.
Gue ngerasain nyeri, "Ouch."
"Sakit?" tanya Putra.
"Sedikit."
Ponsel gue berbunyi, Darwin yang telpon. Gue ngelirik ke Putra.
"Angkat aja." kata Putra.
Gue pun menjawab telponya,
"Cha," kata Darwin.
"Ya?"
"Lu dimana? Gimana memar lu? Tadi gue liat muka lu pada merah-merah."
"Gak papa kok, Win. Ini juga lagi otw ke dokter sama Putra."
"Lu langsung pulang? Gue perlu bilangin bunda gak?"
"Gak usah, Win. Nanti gue sendiri aja yang bilang ke bunda."
"Cha, sebenernya ada apa sih? Ini pasti ada hubungannya sama gue kan?"
"Nanti aja gue ceritanya, sekarang gak mood."
"Ya udah. Nanti kabarin gue lagi ya."
"Iya." gue pun menutup telponnya.
Gue menghela napas dan bersandar pada jok mobil.
Putra melirik gue, dia membelai lembut kepala gue.
"Yang, jangan berantem lagi ya. Masa cewe aku lebih garang daripada aku." kata Putra ngeledek.
Gue ngeliat ke dia, 'Kenapa si Putra ini baik banget ke gue. Sampe-sampe dia ngejamin nilai-nilai dia dan rela dikeluarin dari kampus kalo gue berantem lagi.' gue bergumam dalam hati.
"Itu namanya saling melengkapi, kalo cowonya kalem, berarti cewenya yang garang." gue menjawab Putra.
Putra tertawa, "Yah, bibir kamu sampe memar gitu. Gimana aku mau nyiumnya nanti."
Gue nyubit pinggangnya dengan keras.
"Aduh! Sakit yang. Kebiasaan kamu."
__ADS_1
"Kamu yang kebiasaan, m-o-d-u-s. Modus."
Putra tersenyum, merangkul kepala gue dan mencium lembut kepala gue.