
Beberapa hari kemudian.
Gue baru aja keluar dari gedung kuliah, "Cha, gue duluan ya. Mau ngapel." kata Adie nyengir.
"Ngapel kok siang-siang."
"Iyalah. Kosan Bunga kalo malem serem yang jaganya."
Gue tersenyum mengangguk.
"Cha, aku mau ngomong." suara Putra tiba-tiba ada dibelakang gue.
Gue membalikkan badan dan ngeliat dia, kok gak manis kaya biasanya.
"Ngomong apa?" gue bertanya.
Putra menarik tangan gue, "Ayo ke mobil."
Gue ngelepasin tangan gue dari genggamannya, "Aw, sakit."
Putra diem aja dan terus berjalan ke parkiran mobilnya, gue pun ngikutin dia.
Ini cowo kenapa, udah berapa hari gak ketemu, trus pas ketemu malah begini. Emang pacaran itu gak enak juga ya.
Putra membuka pintu mobilnya, "Masuk." dia menyuruh gue.
Gue pun duduk di kursi penumpang disampingnya, dia menyalakan mesin mobilnya, tapi mobil tetap diparkiran.
"Apaan sih, Put?" gue bertanya lagi.
Putra menatap gue tajam, gue gak pernah ngeliat dia kaya gitu. Biasanya dia itu manis banget, sampe ngalah-ngalahin gula.
"Cha, kamu kemana aja selama aku gak ada?" dia mulai bertanya.
Gue heran sama pertanyaannya, karena dia juga setiap hari selalu nelpon gue dan nanyain gue lagi dimana dan ngapain.
"Ya kuliah, pulang, kuliah, pulang. Emang mau kemana lagi?" gue bertanya balik.
"Kamu kok bohongin aku?" Putra bertanya lagi.
"Bohongin kamu? Bohong apaan?"
"Kamu ke kosan Darwin kan?"
Gue mencoba mengingat-ingat.
"Iya, waktu itu aku kesana. Kan mau benerin laptop."
"Kamu bilang kamu gak jadi ke kosannya, karena kamu ngejaga perasaan aku." kata Putra.
Gue pun teringat, 'Ya ampun. Iya ya, waktu itu gue bilang begitu ke Putra. Tapi kan itu karena gue bingung mesti jawab apa.' gue berkata dalam hati.
"Iya, tapi ternyata besokannya aku kesana, karena laptop aku belum bener juga." gue ngejawab.
Putra mengambil ponselnya, "Ke kosannya benerin laptop sampe peluk-pelukan gini?" dia ngasih liat foto gue yang lagi bersandar dibahu Darwin, Putra kedengeran marah.
Gue mengambil ponselnya, dan ada sekitar 4 foto gue sama Darwin, 'Siapa yang candid gue sama Darwin?' gue bertanya dalam hati.
"Kamu mau bilang apa lagi? Kamu mau bilang kalo itu bukan kamu?" tanya Putra.
"Nggak. Emang itu aku lagi senderan ke Darwin." gue menjawab.
"Kamu selingkuh dibelakang aku?" tanya Putra lagi.
Gue menatap dia tajam, "Selingkuh?"
"Put, denger ya. Jauh sebelum aku kenal sama kamu, aku itu udah kenal sama Darwin duluan. Aku udah biasa kaya gini sama dia. Lagian ini cuma senderan aja kok."
"Biasa kamu bilang? Jangan-jangan kamu sama dia udah,"
Gue memotong omongan dia, "Put, kamu kalo ngomong hati-hati ya. Kamu jangan samain aku sama cewe-cewe lain yang keluar masuk kosan sama cowo-cowonya. Aku tau siapa Darwin lebih dari siapa pun. Dan dia gak pernah nyentuh aku dalam keadaan apapun. Dia, Ferdi, atau pun Adie. Jadi aku minta kamu juga jangan ngejelek-jelekin mereka."
"Tapi aku ini cowo kamu, Cha. Aku aja gak pernah tidur bareng kamu."
"Ya lebih baik jangan."
"Kok kamu bilang gitu?"
"Ya iya. Karena kamu pacar aku, makanya aku bilang gitu."
Putra terlihat kesal dan duduk memandang ke depan.
"Aku minta, kamu gak usah ketemu lagi sama temen-temen kamu itu, terutama sama Darwin." kata Putra.
Gue langsung menoleh ke dia, "Kamu bilang apa? Gak usah ketemu lagi sama mereka?"
"Iya." jawab Putra dingin.
"Gak bisa. Mereka itu udah kaya sodara aku sendiri, malah lebih dari sekedar sodara."
"Kalo kamu gak mau dan gak bisa, mendingan kita..."
"Putus?" gue bertanya. Putra cuma diem aja.
"Ok, fine. Gak masalah." gue berkata sambil membuka pintu mobil.
Putra menoleh dan berusaha menahan gue, "Cha, bukan itu maksud aku."
Gue berbalik dan melepaskan tangan dia dari tangan gue, "Put, kalo kamu kasi aku pilihan diantara mereka atau kamu, kamu udah tau apa jawaban aku." gue pun pergi ninggalin dia.
__ADS_1
Gue berjalan menuju gerbang kampus dengan kesal.
"Hhhkkk. Punya cowo ternyata lebih ribet daripada ngerjain soal statistik." gue bergumam dengan kesal.
Sebuah mobil berhenti disamping gue, "Cha, ikut yuk."
Gue ngeliat ke mobil itu, "Ferdi?"
"Iya, lu pikir siapa? Ayo masuk." ajak Ferdi.
Gue pun masuk kedalam mobilnya, dan duduk disampingnya, "Mobil siapa ini?"
Ferdi cuma tersenyum gak ngejawab, dia nyetir sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kita jalan yuk, Darwin sama Adie udah nungguin di depan." kata Ferdi.
Ferdi berhenti di depan jalan, Darwin dan Adie pun masuk kedalam mobil.
"Chacha kenapa, Fer?" tanya Darwin. Dia gak sadar kalo gue ada dimobil juga.
"Gak tau. Lu tanya aja nih sama orangnya." jawab Ferdi sambil menarik gue supaya Darwin dan Adie ngeliat gue.
Gue nyengir di depan mereka, "Hai guys."
"Lah, kok lu ada disini? Kata Ferdi lu sakit." tanya Adie ke gue.
Darwin pun gak kalah kagetnya, dia langsung memegang jidat gue, "Lu sakit, Cha?"
Gue heran sama pertanyaan mereka, gue ngelirik Ferdi yang senyum-senyum sambil nyetir.
"Lu bilang ke mereka gue sakit?" gue bertanya ke Ferdi.
"Iya, supaya mereka keluar dari kandangnya." jawab Ferdi nyengir.
Adie menjitak kepala Ferdi sambil nyengir, "Sial lu. Kena prank donk gue."
Gue ketawa aja ngeliat mereka bertiga saling serang dan ngeledek.
"Fer, ini mobil siapa ngomong-ngomong?" tanya Adie.
"Jangan-jangan lu pinjem sama orang juga bilangnya kalo mau nganterin Chacha sakit lagi." kata Adie lagi.
"Nggak kok. Ini mobil gue." jawab Ferdi santai.
"Mobil lu?" gue, Darwin, dan Adie kompak bertanya.
"Iya, tadi pagi baru dateng. Supir bokap yang anterin. Gue parkir dikampus, soalnya gak muat parkir dikosan." jawab Adie.
"Kok tiba-tiba?" gue bertanya.
"Iya Cha. Soalnya waktu kemaren Darwin kolaps, gue bingung juga gak ada kendaraan, sampe pake taksi online, untung ada malem-malem, coba kalo gak ada, trus kita keburu telat bawa Darwin ke klinik, gimana coba. Makanya, gue minta kirimin mobil ke bokap gue. Gue bilang aja disini susah kalo cari makan malem-malem, mesti pake mobil." jawab Ferdi.
"Yaa gue kan anak tunggal, Die. Bokap gue pasti ngasih kalo gue minta apa-apa, daripada anaknya kelaperan ya kan. Hehe.. Besok-besok kalo gue minta kawin juga pasti dikasih." kata Ferdi tertawa.
"Lu kan udah sering kawin." Darwin nyeletuk.
"Haha, tau aja luh Win." kata Ferdi.
"Eh, Cha. Lu tadi kenapa sama cowo lu?" Ferdi tiba-tiba bertanya ke gue.
"Hah? Kenapa?" gue bertanya balik.
"Tadi gue liat kok lu di mobil dia, trus lu keluar sambil marah-marah. Makanya gue langsung chat makhluk dibelakang ini supaya keluar, dan ngajak lu jalan." kata Ferdi.
Gue menghela napas, gue gak mungkin bilang kalo gue berantem sama Putra karena mereka terutama Darwin.
"Yaa cuma masalah diantara pacaran aja, Fer. Beberapa hari ini kan gue gak ketemu dia, mungkin jadi krisis kepercayaan jadinya."
"Dia jealous ya, sama kita?" tanya Ferdi.
"Fer, gak usah ngomongin dia lah. Males gue. Btw, kita mau kemana ini? Gue masih pake seragam loh." tanya gue ke Ferdi.
"Lu nanti pake aja tuh kaos gue ada di belakang. Lu gak usah pulang ya, takutnya kita sampe malem nih." jawab Ferdi.
"Hah? Gue belom bilang ke nyokap. Motor juga masih dikosan Adie."
"Win, coba lu telpon nih nyokap nya Chacha, bilangin kalo dia nginep malem ini." kata Ferdi ke Darwin.
Gue membalikkan badan dan menatap Darwin.
"Mau nginep gak?" Darwin bertanya ke gue.
"Apa gak boleh sama cowo lu? Jadi gue izin ke nyokap apa ke cowo lu nih?" tanya Darwin lagi.
Gue cuma diem aja, gak ngejawab. Darwin mengeluarkan ponselnya dan menelepon nyokap gue, speakerphone.
"Halo bunda,"
"Halo Win. Ada apa Win?"
"Bun, Darwin minta izin ya, Chacha gak pulang malem ini."
"Emangnya kenapa Win?"
"Soalnya kita mau ke..."
"Mau makan ketan, tante." teriak Ferdi.
"Eeh, itu suara Ferdi ya?"
__ADS_1
"Iya tante, ini Ferdi. Kita izin ngajak Chacha jalan ya. Soalnya dia lagi galau. Pulangnya malem kayanya, jadi Chacha nginep aja ya."
"Chacha nya mana, Win?"
"Iya bun, ini Chacha."
"Kamu galau kenapa?"
"Gak usah dengerin Ferdi, bun. Dia kan asal kalo ngomong."
"Ooo, kalian bertiga aja? Adie gak ikut?"
"Hai tante bunda cantik, ini Adie. Aku ikut kok, tan. Masa aku gak di ajak, nanti aku nangis sendirian dikosan." kata Adie nyengir.
"Ooo, ya udah kalo gitu. Kalian hati-hati ya. Jangan mabok kalo bawa mobil."
"Ok tante." teriak Ferdi.
"Fer, makan ketan? Makan ketan aja kok jauh banget sih?" gue bertanya ke Ferdi.
Ferdi tersenyum dan memberhentikan mobilnya.
"Tuh, lu liat. Padahal cuma di gerobak aja. Tapi yang mau makan ketannya ngantri, berarti enak kan. Ayo turun." ajak Ferdi.
Mereka bertiga keluar dari mobil, soalnya gue mesti ganti seragam sama kaos dulu. Yah, walaupun gue masih pake rok.
Barang-barang gue semua kan ada dikosan Darwin.
Gue keluar menyusul mereka. Darwin menarik tangan gue untuk duduk disampingnya.
Pesanan pun datang, ketan keju susu, ketan durian, ketan oreo susu, ketan milo, dan teh pahit sepoci. Ini sih enak menurut gue. Tapi seporsinya banyak banget.
"Lu tau aja, Fer ada tempat ngemil enak." kata Adie ke Ferdi.
"Tau lah. Gue kalo gabut dikosan kan suka nyari yang viral-viral di henpon." jawab Ferdi.
Kita berempat ngobrol dan tertawa. Saling icip-icip ketannya masing-masing. Darwin yah, seperti biasa, dia suka nyuapin gue.
Kita berempat pun kekenyangan. Setelah membayar, kita berempat menyalakan rokok dan berjalan ke mobil.
Ferdi mengendarai mobilnya, dan berhenti di sebuah lapangan yang gak jauh dari tempat makan ketan tadi.
"Mau ngapain ke lapangan malem-malem?" tanya Adie.
"Nongkrong lah. Gak liat luh, banyak juga yang nongkrong." jawab Ferdi sambil menunjuk beberapa mobil.
"Mereka nongkrong di dalem mobil, Fer. Goyang lagi mobilnya." kata Darwin.
Kita berempat keluar dari mobil.
Ferdi tertawa, "Ya itulah orang-orang aneh. Mendingan goyang dikamar kali daripada di mobil gitu."
"Ini kita berempat jadinya ngeliatin mobil goyang aja nih?" tanya Adie.
"Haha.. Iya. Gak ada ide gue." jawab Ferdi.
"Eh, gabut kaaan." gue meledek mereka.
"Trus, lu ada ide?" tanya Ferdi.
Gue mengangguk, "Iya."
"Ngapain?" tanya Darwin.
"Kita lomba yuk." gue berkata.
"Lomba? Lomba apaan malem-malem gini? Muterin lapangan?" tanya Adie.
"Nggak." gue menjawab senyum-senyum.
"Trus?" tanya Ferdi.
"Kita kan abis makan ketan. Kita lomba kentut yuk. Pasti pada mules kan lu semua." jawab gue nyengir.
Mereka bertiga bengong.
"Kita bikin nada, yang paling banyak dan panjang kentutnya, dia yang menang. Gimana?" gue bertanya.
"Yuk, emang gue mules. Pasti gue yang menang kalo kentut mah. Hehe.." jawab Adie.
"Yang menang dapet apa nih?" tanya Ferdi.
"Dapet rokok, sebungkus dari yang kalah. Jadi yang menang dapet tiga bungkus." gue menjawab.
"Waah, lumayan buat tiga hari." kata Adie.
Darwin hanya tertawa, "Ya udah ayo. Kentut doank mah, gue juga jago." kata Darwin.
"Eh, bentar." gue ngeluarin ponsel gue untuk ngerekam moment berharga ini.
"Ok, siap ya." gue menghitung sampai tiga.
Dan kita berempat pun memasang posisi masing-masing, mengeluarkan bunyi-bunyian sambil tertawa.
Gue pun merekam ekspresi mereka masing-masing. Gue ngerasa seneng banget malam ini jalan sama mereka. Ya, mereka. Sahabat gue yang gak bisa gue tukar sama apapun.
Cowo gue? Ya udahlah, males juga gue mikirin dia. Yang penting gue ada bersama orang-orang yang sayang sama gue, tanpa syarat dan tanpa peduli seberapa besar suara kentut gue. Hahaha..
'Dasar cewe aneh. Pantesan si Darwin suka sama lu.' gumam Ferdi dalam hatinya sambil tertawa.
__ADS_1