
Sabtu siang.
Gue lagi ngetik skripsi dikamar. Gue ngintip ke jendela kamar, "Wuih, males banget keluar. Matahari buka cabang disini."
Gue pun ngelanjutin ngetik.
Gue baru aja mau nyalain rokok, pintu kamar gue diketuk, "Cha. Ada yang nyari tuh." suara nyokap.
Gue bangun dan ngebuka pintu kamar, "Siapa bun?"
"Putra. Dia mau ketemu kamu katanya."
Gue menghela napas.
"Kenapa? Kalian berantem ya? Dia cemburu ya?" ledek nyokap.
"Gak tau bun. Punya cowo malah ribet."
"Ya udah sana, temuin dulu. Kalo Darwin yang dateng kan pasti dia langsung ke kamar kamu." ledek nyokap lagi.
Dengan males gue pun turun kebawah, dan nemuin Putra.
Gue duduk agak jauh dari dia. Dia nyamperin gue.
"Yang, aku mau ngomong." Putra memulai pembicaraan.
"Ya udah ngomong." gue menyahut.
"Ya jangan disini, kita jalan yuk."
"Gak mau, panas diluar."
Putra tersenyum, "Kan pake mobil, gak jalan kaki."
"Udah sana keluar, daripada di depan laptop terus, nanti pake kacamata mau?" kata nyokap gue tiba-tiba.
Gue menoleh ke nyokap dan menatapnya dengan mata melotot. Nyokap gue cuma nyengir aja.
'Aduh, si bunda. Orang gue lagi males gini, apalagi sama Putra keluarnya.' gue bergumam dalam hati.
"Yuk, yang." ajak Putra.
'Ni cowo emang aneh, kemaren marah-marah, sekarang manggil sayang.' gue bergumam dalam hati dan menatapnya.
"Ya udah ayo. Tapi aku gak mau ganti baju. Males." gue berdiri mengambil topi, ponsel, rokok, dan dompet.
Diperjalanan.
"Yang, maafin aku ya." Putra memulai pembicaraan.
"Kenapa?"
"Kemaren aku udah marah-marah sama kamu. Sampe ngomong yang nggak-nggak ke kamu. Abisnya aku tuh jealous banget ngeliat kamu sama Darwin."
"Aku kan dulu udah pernah bilang ke kamu siapa dia, siapa sahabat aku. Jadi kayanya kamu gak perlu berlebihan gitu juga."
Putra terdiam, tak berapa lama mobilnya memasuki kawasan pantai. Dan berhenti disekitar pantai.
"Mau ngapain kesini?" gue bertanya.
"Mau bakar ikan." jawab Putra tersenyum.
"Beneran?
"Iya. Kamu belum makan kan?"
Gue menggelengkan kepala, "Belom sih, tapi aku gak suka makan ikan. Alergi."
"Ya udah, kamu makan yang lain. Ayo."
Karena gue laper dan takut masuk angin karena angin laut kenceng, ya gue cuek aja makan. Kalo masalah makan mah gue gak pernah jaim. Soalnya kalo jaim jadi laper.
Gak enaknya kalo jalan sama Putra, setiap abis makan ini yang gue gak bisa ngebul.
"Mau ngebul ya?" tanya Putra ngeledek gue.
"Nah, tuh tau."
Putra melihat ke sekilingnya, "Ya udah, ngebul aja, gak rame kok disini. Tapi satu batang aja ya."
Gue menarik napas lega, 'Akhirnya.' gue bergumam dalam hati.
Putra meninggalkan gue dan duduk di bangku dekat pantai. Selesai ngebul, gue pun nyamperin dia dan duduk disampingnya.
"Udah ngebulnya?" tanya Putra.
Gue cuma mengangguk.
"Put, kita ngapain sih di pinggir pantai gini? Kamu mau nyeburin aku ke laut ya, karena kamu kesel?" gue bertanya.
Putra menoleh ke gue, dia ngebalik topi di kepala gue kebelakang dan tertawa, "Nyeburin kamu ke laut? Kamu tuh lucu ya. Kalo aku kesel sama kamu dan mau nyelakain kamu, tadi di tol kamu aku jorokin aja dari mobil, ngapain mesti kesini. Lagian siapa yang kesel sama kamu?"
"Ya kamu lah. Kita kan udah putus." gue menjawab.
"Putus? Aku gak pernah bilang mutusin kamu. Kamu aja tuh kemaren yang tiba-tiba ngomong gitu." kata Putra.
"Ya kan kamu yang ngomongnya ke arah situ."
Putra memeluk gue, "Nggak. Aku kan cuma emosi aja. Tapi gak sampe bilang putus. Aku juga gak mau kalo kamu sampe mutusin aku."
Gue gak tau apa yang gue rasain. Kadang-kadang gue nyaman banget sama Putra, tapi kalo dia udah berubah jadi posesif, gue jadi sebel banget sama dia.
Gue bersandar dipundak dia, "Maafin aku juga ya, Put. Kalo aku udah bikin kamu kesel. Tapi aku juga gak bisa kalo harus ngejauhin sahabat aku. Kamu tolong ngerti ya."
Putra melepaskan topi di kepala gue dan mencium kepala gue, "Iya sayang. Aku akan coba ngertiin kamu. Tapi kamu jangan peluk-pelukan lagi ya sama temen-temen kamu. Kamu sama aku aja pelukannya."
__ADS_1
Gue bangun dan mencubit perutnya, "Itu mah modus namanya."
"Ouch. Sakit yang."
Gue tersenyum ngeliat dia kesakitan.
"Nah, gitu donk senyum. Dari tadi cemberut terus." ledek Putra ke gue.
"Pokoknya inget ya, jangan peluk-pelukan lagi sama cowo lain. Gimana aku gak panas, lagi sibuk-sibuknya di studio, tiba-tiba dapet foto-foto kamu lagi pelukan sama Darwin." kata Putra.
"Oiya, aku mau nanya itu. Kamu dapet foto-foto itu dari siapa?" gue bertanya.
Putra mengeluarkan ponselnya dan kasi liat ke gue, "Aku gak tau, ini nomor doank sih. Aku juga gak kenal sama profile pic nya."
"Coba aku liat." gue mengambil ponselnya dan melihat chat yang dikirim nomor tersebut.
Gue membuka profile pic nya, gambar seorang cewe yang gue kenal, dan gue liat display namanya, "Shanti." gue bergumam.
"Kamu kenal, yang?" tanya Putra.
"Gak kenal-kenal amat sih. Cuma tau, dia anak hotel juga. Tapi aku gak pernah sekelas sama dia."
"Ooo. Trus, ngapain donk dia tiba-tiba ngirim ini ke aku?"
"Ya mana aku tau. Mungkin dia suka sama kamu, kamu kan arteesss." gue ngeledek Putra. Walaupun sebenernya gue tau siapa yang Shanti incer, bukan Putra. Tapi Darwin.
"Belom jadi artis kali." kata Putra.
"Ya belom jadi artis aja udah ada yang begini kan, gimana kalo udah jadi artis beneran. Kamu pergi-pergi konser mulu, trus nanti ada aja yang ngirim-ngirim foto aku sama siapa lagi entah nanti. Trus, kamu jealous lagi, kita berantem lagi, baikan lagi, jealous lagi, begitu terus cycle nya."
"Ssst. Bisa nggak, gak usah cerewet gitu." sahut Putra menutup bibir gue dengan jarinya.
Dia memandang gue dan menyentuh muka gue. Membelai lembut rambut gue kesamping. Gue menatapnya, gue ngerasa mukanya semakin mendekat ke gue.
'Waduh. Kayanya dia mau nyium gue nih. Gimana ya.' gue bergumam dalam hati.
Gue mengalihkan muka gue, "Put, kita ke batu-batu itu yuk." gue berdiri dan menarik tangannya.
Putra menghela napas dan tersenyum. Dia mengikuti gue dari belakang.
Gue berdiri di ujung dermaga batu. Ngerasain angin pantai, ini antara kenceng atau seger.
Putra memeluk gue dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang gue, menopangkan dagunya dipundak gue. Gue pun memegang tangannya.
"Kamu seneng?" tanya Putra.
Gue mengangguk, "Iya. Jarang-jarang aku kena angin pantai."
"Kalo kesininya berdua aku, seneng juga?" tanya Putra lagi.
"Iyalah. Ini aja lagi berdua kamu."
"I love you." Putra berbisik di telinga gue. Kata-kata yang gak pernah bisa gue bales balik.
Gue cuma semakin menarik tangan dia melingkar di pinggang gue.
'Danisha, gue gak mau putus sama lu. Paling nggak, sampe kita lulus-lulusan. Tapi yang gue rasa sekarang, gue beneran suka dan sayang sama lu.' gumam Putra dalam hati.
*
Rumah Chacha.
Darwin memencet bel rumah Chacha. Bunda membukakan pintu.
"Eh, Darwin. Tumben. Lagi pulang?"
Darwin tersenyum dan mencium punggung tangan bunda, "Iya bun. Kemaren bareng Chacha pulangnya."
"Kamu kesini pasti mau nemuin Chacha kan, bukan bunda." tanya bunda meledek.
"Iyalah bun."
"Kamu mau nunggu Chacha dikamar atau disini?"
Darwin heran, "Loh, emangnya Chacha kemana bun? Gak ada?"
"Chacha lagi pergi."
"Sama siapa bun?"
"Sama Putra."
Darwin termenung, 'Sama Putra? Bukannya mereka lagi berantem kemaren.' gumam Darwin dalam hati.
Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Chacha. Ferdi keluar dari mobilnya. Dia masuk kerumah Chacha, dan terkejut melihat Darwin ada dirumah Chacha.
Darwin pun sama terkejutnya pas Ferdi tiba-tiba datang kerumah Chacha, sendirian. Gak sama Adie.
"Win." sahut Ferdi.
"Fer?" sahut Darwin.
Bunda memandangi mereka berdua, "Loh, kalian berdua emang gak janjian kalo mau kesini?"
Mereka berdua salah tingkah di depan bunda.
"Nggak tante." jawab Ferdi nyengir.
Darwin heran menatap Ferdi, 'Ngapain si Ferdi kerumahnya Chacha libur-libur gini. Masa iya mau ngajakin Chacha minum.' gumam Darwin dalam hati.
"Chacha nggak ada. Dia lagi pacaran." kata Darwin ke Ferdi.
"Bunda, kalo gitu Darwin pulang aja deh. Nanti gampang kesini lagi. Oiya, ni ada seafood bakar kesukaan bunda, dari kedai." Darwin pamit dan memberikan sekantong plastik seafood bakar ke bunda.
"Makasih ya, Win. Salam sama mama kamu ya. Maaf, bunda gak sempet-sempet mau ke kedai, soalnya lagi sibuk di yayasan."
__ADS_1
Darwin mengangguk dan memberi kode pada Ferdi untuk pulang.
"Ya udah deh, tante. Saya juga permisi deh, mau kerumah Darwin aja." pamit Ferdi sambil nyengir.
"Win," panggil Ferdi.
Darwin menghentikan langkahnya dan berbalik, "Apa?"
"Win, gue kerumah lu aja deh. Tanggung, udah sampe sini."
"Ya udeh ayo."
Mereka berdua pun masuk ke mobil Ferdi. Mereka terdiam di dalam mobil. Dalam sejarah pertemanan mereka, gak pernah mereka berdua secanggung ini.
Rumah Darwin.
Darwin langsung merebahkan dirinya dikasur kamarnya. Ferdi pun duduk dan menyalakan TV dikamar Darwin.
Dia menyalakan rokok, "Rokok, Win." dan menawari Darwin.
Darwin bangun dan mengambil rokok nya, menyalakan dan mengebulkan asapnya ke atas.
"Jadi, sebenernya lu mau ngapain ke rumah Chacha?" Darwin bertanya.
"Ya maen lah. Lu sendiri?" Ferdi bertanya balik.
"Ya gue kan emang sering kerumah Chacha, dia juga sering kerumah gue." jawab Darwin.
Ferdi menghela napas, "Win, gue gak mau bohong sama lu."
Darwin menatapnya tajam, "Apa?"
"Gue suka sama Chacha."
"What?" Darwin terkejut.
"Iya, gue suka sama Chacha, tapi bukan sebagai sahabatnya."
Darwin bersandar lemas ke tembok, 'Sahabat gue yang satu ini juga suka sama Chacha.'
"Fer, lu tau siapa kita di mata Chacha." kata Darwin.
"Iya, Win. Gue tau banget. Kita dulu berempat pernah janji untuk selalu ngejaga persahabatan kita ini, no heart feeling. Dan gue tau Chacha itu yang paling gak mau kalo salah satu diantara kita bertiga sampe punya feeling ke dia. Dia sangat menghargai persahabatan kita."
"Trus, kalo lu udah tau begitu, kenapa lu malah ada feeling ke dia?"
"Win, siapa sih yang gak suka sama Chacha. Dia emang tomboy, cuek. Tapi dia itu ceria anaknya, riang, dan gak ada jaimnya. Gue rasa, kalo semua cowo dikampus sahabatan sama dia, mereka juga suka sama Chacha." jawab Ferdi.
"Win, kita saling jujur aja deh. Lu juga suka sama Chacha kan? Mungkin lu juga udah sayang lebih daripada ade lu sendiri." kata Ferdi.
"Tapi gue gak mau ngekhianatin persahabatan gue sama dia, Fer."
"Iya gue tau Win. Tau banget malah. Gini deh, lu ungkapin perasaan lu ke Chacha, gue mundur. Gue juga gak mau kehilangan sahabat sebaik lu. Tapi, kalo lu gak juga ungkapin perasaan lu ke Chacha, gue yang maju dan ungkapin perasaan gue ke dia. Kalo Chacha marah, gue akan berusaha menangin hati dia."
"Mendingan kita berdua yang mundur, dia kayanya baikan sama Putra." kata Darwin.
"Nah, ini yang gue gak suka dari lu. Lu terlalu gampang nyerah. Gampang mundur. Chacha itu sama Putra cuma pacaran, gue yakin Chacha itu juga sebenernya gak suka-suka amat sama si Putra. Chacha cuma baik aja sama dia, karena Chacha itu polos."
"Maksud lu, gue tikung dia gitu?"
"Bukan nikung, Putra itu bukan temen kita lagian. Tapi lu rebut dan menangin hati Chacha. Kalo lu gak mau, gue yang maju."
Darwin terdiam dan termenung, 'Bukannya gue gak mau maju, tapi apa Chacha juga punya perasaan yang sama kaya gue. Nanti dia malah ngejauh dari gue. Lagian, gue juga gak mau saingan sama sahabat gue sendiri, si Ferdi.' Darwin berkata dalam hati.
Tak lama kemudian, seseorang muncul di depan kamar Darwin,
"Hei!" seru Chacha.
Darwin dan Ferdi kaget ngeliat Chacha tiba-tiba dateng.
"Cha, kok lu tau-tau ada disini? Bukannya lu lagi pergi sama Putra?" tanya Darwin.
"Iya, emang tadi gue pergi sama dia. Pas pulang, kata nyokap, lu berdua tadi dateng ke rumah. Tumben amat lu Fer, kesini. Adie mana?" tanya Chacha langsung duduk dan menyalakan rokok.
"Dikosan. Tadi dia mau jalan sama cewenya." jawab Ferdi.
"Ooo. Kok kalian serius banget sih tampangnya?" Chacha bertanya.
"Iya, soalnya kita lagi bahas skripsi." jawab Ferdi.
"Haha.. Gak percaya gue. Emang lu udah mulai bikin?"
"Gue mah gampang Cha. Pake biro jasa, tinggal bayar." jawab Ferdi santai.
"Weeeits. Beda lah ya anak juragan mah. Lu Win? Udah?"
"On progress." jawab Darwin singkat.
"Eh, malem minggu nih. Lu gak di apelin si Putra kan Cha?" tanya Ferdi.
"Gak. Kalo weekend gini kan dia kerja, mana bisa ditinggalin. Cafe rame." jawab Chacha.
"Jalan yuk." ajak Ferdi.
"Kemana? Gue baru aja balik." tanya Chacha.
"Kemana aja yuk." Ferdi berdiri dan menarik tangan Chacha.
"Kita bertiga aja nih?" tanya Chacha.
"Iya. Tapi kalo Darwin gak mau, ya kita berdua aja." jawab Ferdi nyengir.
Darwin langsung bangun dan berdiri, "Ayo."
Mereka bertiga pun naik ke mobil Ferdi, Darwin duduk dibelakang sendirian.
__ADS_1
'Gue gak tau apa yang ada dipikiran Chacha nanti kalo tau-tau gue bilang ke dia kalo gue suka sama dia. Selama ini dia taunya kalo gue nganggep dia kaya ade gue sendiri. Lagian, apa Chacha mau sama gue, gue kan dulunya junkie, dia dulu sering banget ngeliat gue sakaw. Mungkin Ferdi lebih punya nyali, karena dia gak pernah jadi seorang junkie.' gumam Darwin dalam hatinya sambil menatap jalanan dari jendela mobil.