Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Kehadiran Rangga


__ADS_3

Rumah Darwin. Sore hari.


Darwin tiba dirumah nya sepulang makan siang dengan Chacha dan keluarganya.


Darwin melihat mobil Ferdi sudah terparkir dirumahnya. Dia pun menuju kamarnya.


"Woi. Kapan nyampe?" tanya Darwin ke Ferdi dan Adie.


Adie sedang membaca komik, Ferdi bangun dari rebahannya.


"Belom lama banget, Win." jawab Ferdi.


Darwin duduk dan menyalakan rokoknya, "Lu udah pada makan belom?"


"Udah. Tinggal makan malem yang belom." Adie menjawab nyengir.


"Chacha mana Win?" tanya Ferdi.


"Dia pulang dulu katanya. Nanti kesini abis mandi." jawab Darwin.


Ferdi memperhatikan ada yang aneh dengan raut muka Darwin.


"Lu kenapa, Win?" tanya Ferdi.


Darwin heran menatap Ferdi, "Kenapa?"


"Lah itu, muka lu. Kaya abis kalah maen poker." jawab Ferdi.


Darwin menghembuskan asap rokoknya.


"Chacha ya?" tanya Ferdi lagi.


"Yaa, siapa lagi." jawab Darwin.


"Chacha kenapa lagi? Dia nolak lu?" tanya Ferdi.


Darwin menggelengkan kepalanya, "Bukan, Fer."


"Trus?"


"Chacha mau punya cowo lagi." jawab Darwin.


Ferdi dan Adie sama-sama terkejut, "Hah?! Siapa Win?" tanya Ferdi dan Adie kompak.


Adie menutup komik yang sedang dibacanya, dia menggeser duduknya ke depan Darwin dan menyalakan rokok.


"Chacha bilang, untuk ngelupain Putra ya mesti punya cowo lagi. Gitu dia bilang. Tapi gue juga belom tau siapa cowonya." kata Darwin.


"Trus lu bilang apa? Lu bilang kalo lu mau jadi cowo dia?" tanya Ferdi.


"Nggak. Gue cuma bilang ke dia, kalo dia gak boleh punya cowo dulu. Paling nggak untuk saat ini." jawab Darwin.


"Lah.." sahut Ferdi dan Adie berbarengan.


"Lu egois, Win. Lu larang Chacha punya cowo lagi, tapi lu sendiri juga gak bilang ke dia kalo lu suka sama dia." kata Adie.


"Biarinlah gue egois. Intinya, sekarang ini gue gak mau kalo Chacha deket atau punya cowo lagi." jawab Darwin.


"Trus pas lu larang gitu, Chacha bilang apa?" tanya Ferdi.


"Awalnya dia heran, tapi trus dia diem aja. Kaya mikir." jawab Darwin.


Ferdi menggaruk-garuk kepalanya, "Hadeeh. Lu siap-siap aja jealous lagi atau sakit hati ya Win. Kalo Chacha diem begitu, bukan gak mungkin dia malah gak nurut. Lu tau sendiri lah dia."


Darwin mematikan rokoknya dan berdiri, "Gak tau lah. Liat aja nanti. Gue mau mandi dulu." sahut Darwin sambil melangkah menuju kamarnya.


*


Beberapa hari kemudian. Pernikahan bunda dan pak Dewa di sebuah gedung.


"Katanya gak ngundang-ngundang, tapi ini mah rame juga." gue bergumam sambil berdiri memperhatikan orang-orang.


"Cha." Darwin memanggil gue.


Gue menoleh ke arah nya, dia pun menghampiri gue.


"Ternyata, banyak juga dosen yang dateng." gue berkata ke Darwin.


"Iyalah. Kan yang merit dekan." jawab Darwin.


Gue memperhatikan dia. Karena permintaan nyokap gue, dia memakai baju tradisional jawa sebagai pendamping papi. Agak lucu sih, gue ngeliat Darwin pake beskap hitam, kain, blangkon, dan selop.


Gue senyum-senyum sendiri ngeliat dia begitu.


"Lu kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum kalo ngeliat gue?" tanya Darwin.


"Gak papa, ndoro Darwin." ledek gue ke Darwin sambil memberi hormat dengan kedua tangan gue ๐Ÿ™.


"Lu pasti aneh kan ngeliat gue pake baju begini. Ini kan permintaan nyokap lu Cha." kata Darwin menggerutu.


"Haha.. Iya iya. Tapi, setelah gue liat-liat, lu gak aneh kok. Lu malah.."


"Malah apa?" tanya Darwin.


Gue berbisik ke telinga dia, "Malah ganteng. Haha."


"Nah. Ini beneran ngeledek namanya." sahut Darwin.

__ADS_1


"Win. Cha." sahut Ferdi dan Adie menghampiri gue dan Darwin.


"Eh, kok lu berdua baru dateng sih?" gue bertanya ke mereka.


"Ya kan pas laper aja datengnya. Haha.." jawab Adie.


Ferdi menarik tangan gue dan memutar badan gue, "Coba gue liat."


Gue heran dan cuma memutar, "Apaan sih, Fer?"


"Ini, kedua kalinya gue ngeliat lu amazing. Wonderful. Cakep. Apalagi lu pake kebaya gini, terus rambut lu di sanggul gitu." jawab Ferdi ke gue.


"Stop. Gue gak terima compliment sekarang." gue berkata ke Ferdi.


"Serius gue Cha." kata Ferdi.


"Whatever lah." gue menjawab.


"Cha, lu jadi cewe gue aja yuk. Kita pacaran." sahut Ferdi ke gue.


Darwin langsung menepuk pundak Ferdi dengan keras.


"Aduh." gumam Ferdi.


Gue tertawa ngedenger Ferdi ngomong gitu ke gue.


"Haha.. Ferdi, Ferdi. Lu mau jadi cowo gue, tapi gue nya yang gak mau jadi cewe lu. Lagian kalo sama lu, nanti gue mesti dandan begini tiap hari. Kan lu sukanya kalo muka gue di lukis-lukis begini."


"Yaaa, daripada lu pacaran sama cowo lain ya kan. Yang kita gak kenal. Soalnya yang udah kenal sama lu juga gak berani-berani mau jadi cowo lu." jawab Ferdi sambil melirik ke Darwin.


Gue langsung menatap Darwin, dia membuang tatapannya ke arah lain. Gue gak begitu ngerti maksud Ferdi.


"Die. Lu udah laper kan? Yuk, kita hunting makanan. Gue juga laper." ajak Darwin ke Adie.


"Iye nih. Cacing di perut gue udah pada demo minta makan." jawab Adie sambil melangkah bersama Darwin menuju meja prasmanan.


"Eh, gue juga ikutan." seru Ferdi sambil menyusul mereka.


Gue senyum-senyum aja ngeliat kelakuan mereka bertiga.


Gue mengarahkan kamera gue dan mengambil beberapa foto.


Pas gue lagi mengarahkan kamera, seseorang berdiri di depan gue.


Gue melepaskan kamera dari wajah gue dan menatap orang tersebut.


Dia tersenyum ke gue. Gue berpikir, apa gue kenal dia atau gak.


Seinget gue, dikampus gak ada orang yang mukanya begini.


"Suka foto-foto?" dia bertanya ke gue.


"Dulu, ada cewe yang suka banget manjat pohon rambutan dirumah gue, duduk di dahannya dan makan rambutannya." dia berkata lagi sambil senyum-senyum ke gue.


Gue mencoba mengingat-ingat siapa dia, "Mas Rangga?!" gue bertanya.


Dia mengangguk dan tersenyum, "Lama banget mikirnya. Udah lupa sama gue?"


Gue melonjak kegirangan ngeliat kedatangan dia, gue langsung memeluk dia, "Gue gak lupa mas. Cuma emang kita udah lama banget gak ketemu."


Gue melepaskan pelukan gue, "Sama siapa kesini?" gue bertanya.


"Ya sama bokap nyokap lah. Lu pikir gue kesini sama siapa." jawab Rangga.


"Ooo. Ya kali lu udah merit. Kan udah lama gue gak denger kabar lu, mas."


"Haha.. Gue masih seneng menyendiri. Alias jomblo."


"Mas masih tinggal di Bandung sama tante Ranti?" gue bertanya.


"Nggak sih. Gue kos di Jakarta, soalnya kerjanya juga disini. Pulang kerumah nyokap paling setiap bulan." jawab Rangga.


"Ooo. Kok gak pernah maen sih kalo mas di Jakarta?"


"Pengen maen, tapi gak sempet mulu. Eh, malah jadi lupa. Lu sendiri gimana? Udah lulus kuliah?"


"Udah. Beberapa hari lagi wisuda."


"Kuliah fotographi? Apa jurnalis?" tanya Rangga ke gue.


Gue nyengir dan menggelengkan kepala, "Gak dua-duanya."


Rangga mengernyitkan dahinya sambil melirik ke arah kamera gue, "Trus?" dia bertanya.


"Ini mah cuma hobi aja." gue menjawab nyengir.


"Ooo. Gue kan photographer, Cha. Gue kerja di salah satu perusahaan majalah, tapi gue juga bikin studio foto kecil-kecilan." kata Rangga.


"Hah? Masa sih? Gue gak nyangka loh, mas. Lu kan dulu kayanya jago basket banget, gue pikir lu bakalan jadi atlet basket."


"Haha.. Gak lah. Basket kan juga hobi aja."


"Bisa donk mas, gue di ajarin cara taking foto yang bener dan bagus."


Rangga mengangguk-angguk tersenyum, "Bisa."


"Tapi gratis kan ya." gue menyahut.

__ADS_1


"Chacha, Chacha. Gak berubah lu ya." kata Rangga senyum-senyum.


"Sini hp lu. Gue simpen nomor gue." kata Rangga ke gue.


Gue memberikan ponsel gue ke dia.


Dia pun memasukkan nomor ponsel nya, "Udah gue miskol ke hp gue."


"Ok." gue tersenyum.


Gue gak nyangka ketemu dia di pernikahan nyokap. Emang sih nyokap dia, tante Ranti sama nyokap gue itu temenan.


Dulu, waktu mereka masih tinggal di Jakarta, gue selalu dititipin di rumah mereka kalo nyokap lagi sibuk di yayasan.


Makanya gue kenal deket sama anaknya tante Ranti, mas Rangga.


Waktu gue SMP, mas Rangga udah SMA.


Pas mas Rangga lulus SMA, mereka sekeluarga pindah ke Bandung.


Mas Rangga itu anak bungsu di keluarganya, dia punya kakak cowo Mas Rendi namanya. Tapi mas Rendi udah nikah dan tinggal di Bandung juga deket tante Ranti.


Darwin juga anak bungsu di keluarganya, cuma kalo Darwin kakaknya itu perempuan, dan cantik. Mba Anna nama kakaknya. Mba Anna jarang pulang kerumah Darwin, karena dia ikut suaminya tinggal di luar kota.


Mas Rangga ini kaya Darwin jaman dulu kali ya, selalu ngejagain gue. Tapi, mas Rangga bukan junkie. Dia mah anak baik-baik. Hahaha.


Kita berdua dulu suka banget manjat pohon rambutan dirumahnya. Kalo gue lagi sedih karena ada yang bully di sekolah, mas Rangga itu pasti selalu menghibur gue juga.


Gue tetap asik mengobrol dengan mas Rangga. Kita berdua saling tertawa mengingat-ingat kejadian masa lalu. Gue sama dia masih cupu. Gue SMP, dia SMA.


*


Dikejauhan.


Darwin, Ferdi, dan Adie sedang menyantap makanan mereka. Ketika tiba-tiba Ferdi mencolek-colek lengan Darwin.


"Win, Win. Liat tuh." kata Ferdi sambil menunjuk ke arah Chacha.


"Apaan?" tanya Darwin.


"Itu. Lu gak liat tuh, si Chacha lagi ngobrol sama siapa." kata Ferdi.


Darwin pun melihat ke arah Chacha yang sedang asik mengobrol dengan seorang pria.


"Siapa itu." gumam Darwin.


"Gue bilang juga apa, Win. Mendingan dia sama gue kan, daripada sama cowo yang kita gak kenal." kata Ferdi lagi.


"Cuma kenalan Chacha aja kali." sahut Adie.


"Masa cuma kenalan akrab begitu." kata Ferdi.


Raut muka Darwin berubah menjadi tidak enak.


"Lu sih, Win. Kelamaan. Kalo sekarang Chacha di ambil orang, lu jangan nyesel ya." kata Ferdi lagi.


"Lu mah malah ngomporin, Fulgoso." sahut Adie ke Ferdi sambil menjitak kepalanya.


Darwin meneguk minumannya dan melangkah menuju Chacha.


Darwin langsung merangkul pinggang Chacha dan tersenyum, "Cha."


Chacha menoleh ke Darwin dan tersenyum, "Eh, Win. Kenalin ini mas Rangga. Dulu mas Rangga ini yang selalu jagain gue kalo gue lagi dititipin di rumahnya." kata Chacha ke Darwin.


"Mas, kenalin. Ini Darwin." sahut Chacha ke Rangga.


Rangga dan Darwin pun saling mengangguk dan senyum.


"Cha. Makan dulu sana. Dari tadi lu belum makan." kata Darwin ke Chacha.


"Iya sih. Eh, mas Rangga udah makan belum? Kita bareng aja yuk mas. Udah lama nih gue gak makan bareng lu." jawab Chacha sambil mengajak Rangga.


Darwin tentu saja malah terkejut, 'Maksudnya supaya dia ngejauh, malah diajak makan bareng.' gumam Darwin dalam hatinya.


"Gue sih mau-mau aja, Cha. Tapi cowo lu ini malah jadi marah gak?" tanya Rangga ke Chacha sambil melirik Darwin.


Chacha tertawa sambil menoleh ke Darwin, "Haha.. Gak marah dia mah. Lagian, dia ini bukan cowo gue mas. Dia ini lebih dari sekedar cowo gue." jawab Chacha.


Darwin hanya tersenyum kecut.


"Ya udah kalo gak ada yang marah. Ayo. Udah lama nih kita gak nostalgia." ajak Rangga ke Chacha.


Chacha mengangguk, "Ikut yuk, Win." ajak Chacha ke Darwin.


"Gak. Nanti gue malah ngeganggu lu lagi." jawab Darwin sambil kembali menuju ke Ferdi dan Adie yang sedari tadi memperhatikan dia.


"Win. Kok lu malah ngediemin mereka makan bareng?" tanya Ferdi.


"Biarin lah Fer. Cowo itu temen kecilnya Chacha. Mereka mau nostalgia katanya. Lagian, feeling gue kayanya fine-fine aja kok sama cowo itu. Kayanya dia cowo baik-baik." jawab Darwin.


"Ooo, ya udah terserah lu aja. Yang penting jangan sampe bunuh diri lu ya kalo Chacha pacaran sama dia nantinya." ledek Ferdi ke. Darwin.


Darwin hanya diam termenung sambil menatap Chacha yang sedang makan dengan Rangga.


'Gue mungkin gak akan bunuh diri kalo lu jadi cewe orang lain. Tapi gue bisa jadi gila kali.' gumam Darwin dalam hatinya.


Mas Rangga

__ADS_1



__ADS_2