Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Lampu Petromak


__ADS_3

Putra dan teman-temannya berbalik dan menatap gue. Mereka semua terkejut, terutama Putra.


"Chacha? Sayang?! Kamu........." sahut Putra.


Dengan penuh amarah dan kecewa, gue maju ke arah Putra dan, plak!!


Gue menampar dia sekencang-kencangnya.


Putra memegang pipinya dan menatap gue, "Yang, dengerin aku dulu."


"Gak ada yang perlu aku dengerin lagi dari kamu." gue berseru.


Darwin kemudian keluar dari bilik dan berdiri di belakang gue.


Putra dan teman-temannya pun terkejut, mereka berpikir gue hanya sendiri.


"Kamu ngapain ada disini sama dia?" tanya Putra heran.


"Bukan urusan kamu!" gue menjawab ketus.


"Cha. Lu dengerin Putra dulu, ini semua pasti cuma settingan temen lu ini." kata Tommy ke gue sambil menunjuk Darwin.


Gue menatap Tommy, 'Ini dia cowo yang waktu itu mau jadi cowo gue kalo gue putus sama Putra.' gue bergumam dalam hati.


Gue menghampiri Tommy, dan, plak!!


Gue mendaratkan tamparan juga ke dia.


Dia terlihat gak senang, "Kenapa lu pukul gue?"


"Kalian semua sama aja!" gue menahan air mata gue.


"Lu juga gak perlu nunggu besok buat Putra mutusin gue! Sekarang juga gue udah putus sama dia!" gue berkata ke Tommy sambil menunjuk Putra.


Gue menatap tajam Putra dan teman-temannya, "I hate you! Elu semua!" gue berteriak dan pergi keluar dari toilet.


Ketika gue membuka pintu toilet, gue melihat Adie dan Ferdi. Gue gak tau mereka ngapain disini.


"Cha," sahut Adie dan Ferdi.


Gue gak peduliin mereka. Perasaan gue bener-bener marah dan kecewa.


Gue pergi berlari meninggalkan mereka.


*


Masih di toilet.


Putra ingin mengejar Chacha, tapi Darwin menahannya.


"Lu tau gue akan selalu jagain Chacha. Apapun gue akan lakuin untuk ngelindungin dia dari orang-orang kaya lu dan temen-temen lu." kata Darwin ke Putra.


"Lu gak tau apa-apa, Win." jawab Putra.


"Ok. Gue mungkin gak tau apa-apa. Tapi, chat lu sama temen lu ini adalah apa-apa." kata Darwin tersenyum sambil menunjukkan ponselnya.


Putra dan teman-temannya terlihat sangat kesal.


"Satu hal lagi, lu gak perlu cari-cari atau hubungin Chacha lagi. Dia bukan siapa-siapa lu lagi." kata Darwin ke Putra.


Tommy maju ke arah Darwin, mereka saling berpandangan dari atas sampai bawah.


"Dan elu. Mungkin elu adalah anak terkaya dikampus, tapi, gue tau apa bisnis kotor bokap lu. Jadi, gue pikir gue gak perlu expose ke publik untuk bikin bokap lu bangkrut." kata Darwin tersenyum sinis ke Tommy.


Tommy menahan kekesalannya.


Ferdi dan Adie pun masuk ke toilet, "Gimana, Win?" tanya Ferdi.


"Gue serahin ke elu, Fer. Gue mau nyusul Chacha." jawab Darwin.


"Ok, sip. Ini yang gue tunggu-tunggu." kata Ferdi sambil nyengir.


Darwin menepuk pundak Ferdi dan Adie, "Gue duluan." kata Darwin sambil menuju pintu toilet dan keluar.


Putra dan teman-temannya pun ingin keluar, namun Adie dan Ferdi menghalangi mereka.


"Eeeh, mau kemana lu semua? Urusan kita belom selesai." kata Ferdi.

__ADS_1


Adie pun segera mengunci pintu toilet dari dalam.


Ferdi maju ke depan Putra, dan Buugh!!!


Ferdi melayangkan tinjunya ke wajah Putra.


"Itu buat sakit hati Chacha. Dari awal gue tau kalo lu mau ngerjain dia, gue udah pengen banget habisin lu." kata Ferdi.


Putra tersungkur dan memegangi mulutnya yang mengeluarkan sedikit darah. Dua temannya membantunya berdiri.


Tommy membalas memukul Ferdi. Ferdi memegang pipinya dan tersenyum, "Segitu doank?"


Ferdi pun membalas memukul Tommy.


Dua teman Tommy pun ingin membantu Tommy berkelahi dengan Ferdi.


Ferdi memasang kuda-kudanya, "Lu bertiga atau berempat pun gue gak takut. Udah lama otot gue gak olah raga."


Adie tersenyum sambil berjaga di pintu toilet.


Ferdi berkelahi dengan Putra dan teman-temannya.


Ferdi memang jago dalam berkelahi. Dari kecil, dia sudah di ikuti kelas bela diri oleh orang tuanya.


Walaupun jago bela diri, Ferdi itu jarang banget berkelahi. Karena kehebatan yang dia punya bukan untuk di pamer-pamerin.


*


Gue melangkah cepat keluar dari hotel. Gue menundukkan muka selama gue berjalan. Gue gak tau mau kemana.


'Putra. Orang yang katanya sayang sama gue, kok tega ya mau ngelakuin itu ke gue. Gue ini kan cewenya dia.' gue berkata dalam hati dengan perasaan sedih.


Gue sampe nggak sadar, kalo gue berjalan sampe ke pantai.


Gue duduk di bongkahan kayu besar. Dibawah lampu pijar kuning yang samar-samar.


Gue duduk termenung. Gue bener-bener gak nyangka sama Putra. Padahal gue udah mulai sayang sama dia.


Gue menghapus air mata gue, "Gue bener-bener benci sama dia. Kalo aja tadi di toilet ada kayu, gue udah pukul pake kayu kali tuh dia sama temen-temennya." gue bergumam.


"Nih, kayu nya." seseorang memberikan gue sebuah ranting pohon yang lumayan besar.


Darwin tersenyum dan duduk disamping gue.


Dia mengeluarkan rokok dari tas kamera gue, "Rokok?" Darwin menawari gue.


Gue mengangguk dan menyalakan rokok.


Gue menghembuskan asap rokok dengan penuh kekesalan.


Darwin pun menyalakan rokoknya, tapi gak ngomong apa-apa.


Gue menoleh ke dia, "Win. Ternyata lu bener. Sorry ya, gue gak dengerin apa kata lu."


Darwin tersenyum menatap gue, "Sssst. Udah, gak usah dibahas. Ngebul aja dulu yang tenang. Nih, gue bawain tonic water supaya lu seger."


Gue mengambil kaleng minuman yang Darwin kasih. Dia emang yang paling ngertiin gue.


Gue meminum tonic water dan kembali menghisap rokok gue. Pikiran gue masih melayang teringat perkataan Putra dan teman-temannya.


Gue menundukkan kepala gue.


Darwin mendekat ke samping gue, dia merangkul pundak gue ke dalam dekapannya.


"Kalo mau nangis, jangan ditahan. Nanti jadi sakit perut loh." kata Darwin.


Gue menangis sambil sedikit tertawa mendengar dia, "Mana ada nahan nangis jadi sakit perut. Mata sama perut jauh kali." gue bergumam.


Darwin membelai rambut gue dan mengecup kepala gue, "Gue udah janji sama lu, untuk selalu jagain lu. Mungkin kadang-kadang cara gue bikin lu kesel atau sedih, tapi, ya ini lah gue."


"Iya, gue tau. Makasih ya Win. Kalo gak ada lu, hidup gue pasti berakhir malam ini."


Darwin melepaskan dekapannya dan menatap gue. Dia merapikan rambut gue ke samping, "Lu itu berharga buat gue. Lu udah kaya lampu petromak buat gue."


Gue heran, "Lampu petromak?"


"Iya. Waktu gue tersesat dalam gelap, lu hadir dan ada buat gue. Kaya cahaya buat gue. Makanya, gue akan selalu ngejagain cahaya lampu petromak gue supaya gak redup atau mati. Kalo kira-kira mau redup, gue kasi spirtus lagi supaya tetep nyala." jawab Darwin tersenyum.

__ADS_1


Gue sedikir berpikir, "Win. Lu jadul banget sih. Masa lampu petromak." gue berkata sambil nyengir.


Darwin mencubit pelan pipi gue, "Gitu donk, senyum. Seorang Chacha itu, gak pantes kalo sedih lama-lama."


'Darwin emang yang paling bisa jadi mood booster gue. Lagian, orang kalo mau ngomong romantis gak mesti pake lampu petromak kali. Haha.' gue bergumam dalam hati.


Darwin membuka jas nya, "Lu mau ngapain, Win?" gue bertanya heran.


"Lu gak usah sok romantis, makein jas lu ke gue. Lagian gue gak kedinginan kok." gue menambahkan.


Darwin menatap gue heran dan tertawa, "Haha.. Siapa yang mau makein jas ke elu. Ge er banget lu. Gue juga kegerahan, makanya gue buka jas." jawab Darwin sambil meletakkan jas nya di kayu.


Darwin menggulung lengan kemejanya, kemudian dia membuka sepatu dan kaos kakinya.


"Lu mau ngapain, Win? Mau berenang ke laut? Malem-malem gini? Apa gak ngeri lu? Gelap begitu." gue bertanya heran ke Darwin.


Darwin tersenyum dan berjongkok di depan gue, "Cerewet. Siapa juga yang mau berenang ke laut malem buta begini."


Darwin kemudian memegang kaki gue dan membuka sepatu keds gue.


"Lah? Kenapa sepatu gue juga lu buka?" gue bertanya heran.


Darwin berdiri dan tersenyum, dia memberikan tangannya ke gue mengajak gue berdiri.


Gue meraih tangannya dan berdiri di hadapannya.


Gue merasakan pasir pantai di kaki gue.


"Win. Ini kita mau ngapain sih?" gue bertanya penasaran.


Darwin tersenyum menghadap ke gue, "To save the last dance." jawab Darwin.


Dia menyetel musik dari ponselnya, kemudian merangkulkan tangannya ke pinggang gue.


'Dance? With him?' gue bertanya dalam hati.


Gue pun akhirnya merangkulkan kedua tangan gue di pundak dan lehernya.


Kita berdua berdansa, tapi gue ngerasa kayanya ada yang aneh deh.


"Win. Masa ngedance gini lagunya High and Dry Radiohead, sih? Ini mah lagu kebangsaan kalo lagi mabok. Orang tuh, kalo dansa kaya gini lagunya apa gitu. Ada yang liriknya, dancing in the dark, with you between my arms. Barefoot on the grass. Gitu...."


Darwin nyengir ke gue, "Ed Sheeran?"


"Iya kali." gue menjawab.


"Yaa gue kan bukan vokalis, jadi gak romantis." kata Darwin nyengir.


"Tapi kan lu gitaris." gue menyahut.


"Iya. Tapi gak semua gitaris romantis kaya vokalis."


Gue dan dia tertawa dan saling berpandangan. Kita berdua tetap berdansa di bawah gelap malam, suara ombak, di atas pasir pantai, dan cuma diterangi oleh sebuah lampu pijar kuning samar-samar. Eh, sama cahaya bulan ding. Wait, wait, kok gue yang jadi ngerasa romantis yaaaa..


Gue merasa kalo lagi sama dia kaya gini, bukan cuma rasa aman aja yang gue dapet. Tapi semuanya. Terutama rasa kasih sayangnya dia ke gue. Yaah, walaupun mungkin dia cuma anggep gue adik.


Gue merasakan ketenangan ketika bersamanya.


Gue menyandarkan kepala gue dibahunya, tangan gue semakin erat merangkul pundak dan belakang lehernya.


Darwin menyederkan wajahnya dikepala gue. Gue bisa ngerasain dia megecup kepala gue, dan tangannya semakin erat merangkul pinggang gue hingga ke punggung belakang gue.


Gue bener-bener merasa aman, nyaman, hangat, dicintai, dan terlindungi.


Kaki kita hanya melangkah pelan di atas pasir pantai.


Gue gak tau apa ini yang dibilang romantis atau bukan. Tapi yang jelas, saat ini gue gak mau berakhir begitu cepat. Gue mau lama-lama dalam pelukannya.


Yah, dia. Sahabat gue.


Mungkin ini yang dibilang sahabat rasa pacar. Atau pacar rasa sahabat.


Eh, tunggu-tunggu. Tapi Darwin kan bukan pacar gue, dia sahabat gue.


Berarti sahabat rasa pacar aja. Hehe..


'Kalo bisa begini selamanya sama lu, gue pasti mau, Win.' gue bergumam dalam hati sambil memejamkan mata gue di pelukannya dan tetap memeluk dia.

__ADS_1


'Chacha. Gue mungkin bukan Ed Sheeran, dan gak bisa se-romantis dia. Tapi, gue bisa ngelakuin apapun untuk ngelindungin dan ngejagain lu. Gue cinta sama lu.' gumam Darwin dalam hatinya.


Dia pun semakin memeluk erat Chacha, seakan-akan gak mau kehilangan Chacha.


__ADS_2