Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Sahabat


__ADS_3

Week by week. Kampus. Gedung pariwisata.


Galang baru aja mau keluar dari bilik toilet, dia mendengar beberapa orang masuk ke toilet.


Dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari bilik toilet, dan menguncinya. Dia tau siapa yang sedang berbicara di depan wastafel, Putra dan temen-temennya.


"Trus, lu jadi suka beneran sama Danisha, Put?" tanya seorang teman Putra, Tommy.


"Iya, Tom." jawab Putra.


"Tapi lu gak lupa sama taruhan kita kan?" tanya Tommy lagi.


"Ya nggak lah. Tapi, kayanya setelah nanti gue lakuin itu ke dia, gue gak bisa mutusin dia deh."


Teman-teman Putra tertawa, "Jangan bucin deh lu. Gini deh, gue naikin jadi 20 juta. Lu putusin dia besoknya setelah lu lakuin itu ke dia." kata Tommy.


Putra terdiam dan berpikir.


"Lu gak usah mikir. Lagian nothing to lose buat lu. Lu kan masih punya cewe, si Lovi, yang di jodohin sama lu. Abis itu, gue yang akan deketin Danisha, kayanya challenge juga punya cewe tomboy kaya dia." Tommy berkata lagi ke Putra.


Gubrak! Galang terpeleset di dalam bilik toilet.


Putra dan temen-temennya kaget, karena mereka berpikir gak ada siapa-siapa di toilet.


Tommy menghampiri bilik toilet yang ada Galang di dalamnya, dia mendobrak pintu bilik.


Dia melihat Galang yang sedang duduk di toilet.


Galang memperhatikan mereka dengan tatapan dingin.


"Ngapain lu disini?!" Tommy berteriak pada Galang.


Galang berdiri berhadapan dengan Tommy, "Menurut lu, kalo di toilet ngapain?" jawab Galang yang kemudian menuju pintu keluar toilet dengan menabrakan bahunya ke bahu Tommy.


"Tunggu." sahut Putra ke Galang.


Galang menghentikan langkahnya.


"Apa yang udah lu denger?" tanya Putra ke Galang.


Galang tetap berdiri membelakangi Putra, "Yang gue denger bukan urusan gue." sahut Galang langsung keluar dari toilet.


"Sial!" Putra mengumpat.


"Lu tenang aja, bro. Kayanya dia gak bakalan macem-macem. Lagian dia disini juga gak punya temen, dia selalu sendirian. Dia kan freak." kata Tommy menghibur Putra.


*


Darwin baru keluar dari ruang dosen pembimbing skripsinya. Dia membaca chat masuk di ponselnya, dari Galang.


Wajah Darwin langsung berubah menjadi khawatir dan marah.


"Damn! Si Putra itu bener-bener ya." gumam Darwin.


Dia melangkah di koridor gedung, dia melihat Chacha lagi ngobrol sama Ferdi dan Adie. Dia pun menghampiri mereka.


"Eh, Win. Gimana skripsi lu? Beres?" tanya Adie.


Darwin hanya mengangguk sambil menatap Chacha.


Setelah Chacha marah, Chacha udah gak pernah lagi ke kosannya. Chacha juga hanya berbicara seperlunya ke Darwin.


"Cha," Darwin mencoba bicara.


"Apa?" tanya Chacha.


"Cha, gue suka sama lu. Jadi, lu mendingan putusin Putra dan pacaran sama gue." kata Darwin.


Ferdi dan Adie terkejut mendengar Darwin, wajah mereka terperanga. Apalagi Chacha, dia bukan hanya terkejut, tapi juga aneh mendengar Darwin bilang begitu.


"Lu bilang apa, Win?" tanya Chacha.


"Gue bilang, gue suka sama lu. Lu putusin Putra, dan kita pacaran." jawab Darwin.


Chacha menggelengkan kepalanya, "Lu udah gila ya?!"


"Nggak. Gue serius."


Wajah Chacha berubah marah, "Win! Lu pikir lu bisa seenak-enaknya nyuruh gue mutusin Putra dan pacaran sama lu?"

__ADS_1


"Lu pikir gue barang atau mainan? Lu suka trus lu pacarin, gak peduli gue itu siapa dan apa?!" teriak Chacha ke Darwin.


"Gue gak pernah anggep lu barang atau mainan. Gue mau nyelametin lu." kata Darwin.


"Nyelametin gue dari apa?! Dari siapa? Dari Putra?" tanya Chacha marah.


"Win. Kenapa sih lu gak berhenti gangguin hubungan gue sama Putra? Gue pikir setelah gue marah sama lu waktu itu, lu akan berubah dan akan ngedukung gue sama cowo gue." kata Chacha dengan nada kecewa. Dia menahan air mata agar tidak jatuh dari matanya.


Darwin sedikit berteriak, "Cha! Putra itu cuma,"


Adie menahannya berbicara, "Win. Tahan." bisik Adie ke Darwin sambil menahan pundak Darwin.


"Cuma apa?!" teriak Chacha ke Darwin.


"Putra cuma mainin gue?! Kalo emang dia mainin gue, mestinya gue udah tau sekarang. Gue gak baru seminggu pacaran sama dia." kata Chacha.


Chacha maju ke depan Darwin, "Lu tau apa yang bikin gue kecewa sama lu? Bukan karena apa yang lu bilang ke gue, tapi karena siapa yang ngomong sama gue, dan itu elu. Orang yang selama ini gue pikir selalu ada buat gue dan selalu support gue." kata Chacha sambil membalikkan badan dan meninggalkan ketiga sahabatnya.


Setelah Chacha pergi.


"Win. Lu gila ya? Gak gitu juga kali nembak cewe." kata Ferdi.


"Pasti lu ada maksud ngomong gitu ke Chacha." gumam Adie ke Darwin.


Darwin mengeluarkan ponselnya, "Nih, lu baca." Darwin melangkah keluar gedung.


Ferdi dan Adie membaca chat dari Galang.


"20 jutaaaa?" gumam Ferdi terbelalak.


Adie hanya menggelengkan kepalanya.


*


Gue melangkah cepat, menaikkan kupluk jaket gue ke kepala dan menundukkan kepala gue. Gue mengusap air mata yang keluar dari ujung mata gue.


Gue sedih, kenapa mesti Darwin yang ngomong kaya gitu ke gue. Dia adalah orang yang paling deket sama gue, yang gue adore karena dia gak gampang nyerah sama sakau dulunya. Dan dia adalah orang yang gue sayang.


Gue gak ngeliat siapa di depan gue, gue nabrak orang.


"Aduh!" gue berseru dan melihat ke orang itu. Pak dekan.


"Maaf pak. Saya gak liat." gue berkata dan mau melanjutkan berjalan.


"Danisha, tunggu." kata pak dekan.


Gue menghentikan langkah.


"Ikut ke ruangan saya." kata pak dekan.


'Aduh, masa gara-gara nabrak aja jadi masalah sih.' gue bergumam dalam hati, dan mengikuti dia ke ruangannya.


Gue masuk ke ruangannya dan duduk di sofa.


Pak dekan duduk di depan gue.


Gue masih menundukkan kepala, "Saya kan gak sengaja nabrak, pak. Dan saya udah minta maaf."


"Saya bukan mau bahas itu ke kamu." kata pak dekan.


Gue hanya terdiam.


"Danisha, kamu pasti ada masalah. Kamu mau cerita ke saya?"


Gue mengangkat kepala dan menatapnya, dia tersenyum hangat ke gue.


'Apa gak salah nih orang? Dia kan dekan gue, bukan bokap gue.' gue bergumam dalam hati.


Gue menggelengkan kepala, "Gak ada pak." gue menjawab sambil mengusap ujung mata gue yang masih menyisakan sedikit air mata.


Gue liat pak dekan menghela napas.


"Danisha, atau Chacha. Saya gak mau jadi orang asing buat kamu." kata pak dekan.


Gue heran ngeliat dia, "Maksudnya?"


"Cha, saya mau minta izin sama kamu." kata pak dekan.


"Izin? Bapak kalo mau izin gak masuk ke pak rektor, bukan ke saya." gue menyahut.

__ADS_1


Dia tersenyum, "Bukan izin saya gak masuk. Tapi, saya mau minta izin sekaligus restu dari kamu. Karena saya mau melamar bunda kamu."


"Hah?" gue terkejut.


Gila man! Gue dapet kejutan banyak banget hari ini. Tadi dari Darwin yang tiba-tiba bilang suka ke gue dan nyuruh gue ninggalin Putra. Sekarang dari dekan gue.


"Emang bunda saya mau sama bapak?" gue bertanya.


"Kayanya sih mau. Kan kita udah sering jalan. Bunda kamu juga pasti udah cerita kan." jawab pak dekan.


Gue cuma mengangguk, "Yah, terserah kalian aja lah. Saya juga gak begitu ngerti urusan orang tua."


Pak dekan pun pindah duduk di samping gue.


"Maka dari itu, Cha. Saya mau kamu dekat sama saya. Saya memang bukan ayah kamu, tapi mungkin kita bisa temenan." kata pak dekan.


Gue terdiam menghela napas. Gue gak tau mesti ngomong apa.


"Darwin kan?" tanya pak dekan.


Gue kaget dan menatapnya, "Kok?"


"Saya tau kalian deket, bunda kamu yang cerita. Sekarang saya gak heran kenapa waktu itu kamu mati-matian ngebelain dia." kata pak dekan.


"Pak, bapak dulu pernah punya sahabat gak?" gue bertanya.


"Punya, tapi gak deket-deket amat."


"Itu mah temen namanya, bukan sahabat."


Pak dekan tersenyum, "Hehe, iya juga sih."


Gue menunduk, "Pak, menurut bapak, gimana kalo sahabat yang bapak kira selalu ngedukung bapak, trus tiba-tiba ngecewain bapak?" gue bertanya.


"Cha, gak ada sahabat yang mau bikin kecewa sahabatnya sendiri. Sahabat itu pasti saling dukung, bahkan, bisa dibilang, sahabat itu lebih tau kita dibanding diri kita sendiri." kata pak dekan.


"Tapi kok, kayanya Darwin nggak gitu." gue bergumam.


"Cha, pasti Darwin punya alasan. Cepat atau lambat, kamu pasti akan tau. Tapi yang pasti, kalau dia memang benar-benar sahabat kamu, dia gak akan ngecewain kamu." kata pak dekan.


Gue menatap ke pak dekan, gue tersenyum ke dia. Gak kerasa, air mata gue menetes, dia mengusap air mata di pipi gue.


Gue memeluknya, dia merangkul gue ke dalam dadanya, dan membelai lembut kepala gue.


Dalam hidup gue, baru ini gue ngerasain rasanya punya seorang ayah. Yang ngedengerin dan ngasih masukan dari sisi maskulin. Selama ini cuma bunda yang selalu kasih gue saran, dari sudut pandang bunda sebagai seorang ibu dan wanita.


Dulu, waktu bokap gue masih ada, umur gue masih SD. Dan bokap gue itu selalu sibuk kerja, karena dia takut kalo gue sampe kekurangan. Makanya dia merasa kalau dia gak bisa jadi ayah yang sempurna buat gue dan lari ke narkotik.


Gue memeluk erat dekan gue ini, "Makasih ya pak."


Dia melepaskan pelukannya dan memandang gue tersenyum, "Kamu kalo nangis, jadi kaya cewe beneran." katanya ngeledek gue.


"Emang selama ini saya cewe bohongan?"


"Haha.. Iya, kata temen-temen kamu."


Gue cuma tersenyum ngedenger dia.


"Inget ya Cha. Mungkin sahabat kamu itu punya alasan, jadi, kamu gak perlu kesel atau marah sama dia. Yang benar itu selalu terungkap kok. Yah." hibur pak dekan.


"Iya pak." gue pun bangun dari duduk dan mau keluar dari ruangannya.


"Oiya, Cha. Nanti malem saya kerumah kamu ya. Makan malam." kata pak dekan.


"Ooo. Ok pak."


"Eh, kalo panggil pak dikampus aja ya. Tapi kalo pas kita cuma berdua aja, atau saya dirumah kamu, kamu panggil saya papi aja ya."


'Papi?' gue bergumam dalam hati.


Ya udah lah, gak jelek-jelek amat kok.


"Ok, papi." gue menyahut dan tersenyum ke dia.


Gue pun keluar dari ruangannya.


*


Sebenarnya, dari luar ruangan ada seseorang yang menguping dan melihat mereka. Karena pintu ruangan tidak tertutup rapat. Dia hanya melihat Chacha dan pak dekan ketika mereka berpelukan, tidak dari awal mereka berbicara.

__ADS_1


"Ternyata si Chacha itu simpenan nya pak Dewa. Udah manggil papi lagi. Pantesan dia bisa punya DSLR yang terbaru itu. Gimana kalo Darwin tau, ternyata sahabatnya simpenan dekan dikampus. Heh." gumamnya sambil tersenyum licik.


__ADS_2