Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Insecure


__ADS_3

Keesokan harinya.


Home sweet home. Gue menggeliatkan badan gue di atas kasur kamar gue. Kayanya gue tidur udah lama banget.


Mau seempuk apapun kasur hotel, emang tetep lebih enak tidur dikasur kamar gue sendiri.


Gue mengambil ponsel dan menyalakannya.


"Hah! Jam sebelas?!" gue terkejut melihat jam di ponsel gue.


Kamar gue masih gelap karena tirai masih menutupi jendela.


Gue bangun dengan malas dan membuka tirai.


Gak terlalu silau sih, soalnya cuaca di luar juga gak panas-panas banget.


Gue meminum air dari botol minum gue dan duduk lagi di kasur, sambil mengecek ponsel gue.


Banyak missed call dan chat dari Putra.


Gue menghela napas, "Hadeeh. Mau ngapain lagi sih dia." gue bergumam dan melempar ponsel gue ke kasur.


Pintu kamar gue di ketuk, suara nyokap gue, "Cha. Kamu udah bangun belum?"


"Udah bun. Masuk aja." gue menjawab dari dalam kamar.


Nyokap pun masuk dan duduk disamping gue.


"Bunda gak ke yayasan?" gue bertanya.


"Nggak. Bunda lagi mau dirumah." jawab nyokap.


"Ooo." gue merespon.


"Cha. Gak ada yang mau kamu ceritain ke bunda selama kamu di hotel kemaren?" nyokap bertanya ke gue.


Gue menatap nyokap, 'Apa iya gue ceritain aja masalah Putra yang mau ngerjain gue? Nanti kalo bunda malah jadi sedih, gimana?' gue bertanya dalam hati.


"Ceritain apa ya bun?" gue balik bertanya.


"Putra?" jawab nyokap singkat.


Gue agak terkejut melihat bunda, gue menghembuskan napas.


"Bun. Chacha udah putus sama Putra." gue menjawab.


Gue melihat nyokap yang tenang dan biasa aja ngedengernya.


"Bunda udah tau apa yang terjadi antara kamu sama Putra." kata nyokap ke gue.


Gue menatap nyokap.


"Papi sama Darwin yang cerita ke bunda. Mereka berdua ada di bawah sekarang." kata nyokap lagi.


Gue menunduk dan berusaha untuk gak menangis, "Bun. Yang bikin Chacha gak habis pikir, kok Putra bisa tega begitu ya sama Chacha. Padahal.."


"Padahal?" tanya nyokap.


"Padahal Chacha udah mulai sayang sama dia. Tapi pas Chacha tau semuanya, entah apa lagi yang Chacha rasain ke dia." gue menjawab, dan air mata gue pun menetes.


Nyokap memeluk gue, "Hidup itu, gak selalu berjalan mulus, Cha. Memang nyakitin kan, orang yang kita sayang ternyata gak sebaik yang kita kira selama ini."


"Iya bun. Chacha juga gak habis pikir, gimana kalo seandainya Darwin gak narik Chacha ke dalam toilet. Pasti kemaren malem itu Putra sama Chacha udah..." gue berkata.


"Makanya, lain kali kamu jangan terlalu percaya ya sama cowo. Untung ada Darwin dan yang lain kan." kata nyokap ke gue.


Gue mengangguk, "Iya bun. Cuma Darwin cowo yang bisa Chacha percaya saat ini."


Nyokap melepaskan pelukannya.


"Trus, kamu sama Darwin gimana?" tanya nyokap.


"Gak gimana-gimana bun. Ya kaya biasanya aja. Cuma, setelah kejadian kemaren itu, Darwin malah jadi lebih perhatian ke Chacha. Ngelebih-lebihin abang ke adiknya, atau cowo ke cewe nya." gue bercerita.


Nyokap gue tersenyum, "Mungkin gak, kalo kamu sama Darwin pacaran?"


"Hah? Chacha sama Darwin? Pacaran? Haduuuh. Kayanya nggak deh bun. Yang ada kita bakalan berantem mulu. Lagian, dia itu sahabat Chacha dari dulu." gue menjawab.


"Ya udah. Kamu mandi siap-siap ya. Kita pergi makan siang sama papi." kata nyokap.


Gue mengangguk, "Iya bun."


"Oiya. Mungkin kamu lebih baik tanya sama diri kamu sendiri, apa yang kamu rasain ke Darwin. Apa bener cuma sahabat, abang, atau sebagai seorang pria." kata nyokap sambil keluar dari kamar.


Gue terbengong mendengar perkataan nyokap.


*


Di bawah.

__ADS_1


Bunda duduk disamping pak Dewa, di hadapan Darwin.


"Chacha udah bangun, bun?" tanya Darwin.


"Udah. Dia lagi mandi." jawab bunda.


"Jadi gimana, Win? Saya bisa minta bukti percakapan Putra dan teman-temannya?" tanya pak Dewa ke Darwin.


Darwin menghela napas, "Sebenernya saya gak mau bahas ini lagi, pak. Karena ini menyangkut Chacha. Yang paling penting buat saya, Chacha gak kenapa-kenapa sekarang."


"Iya, saya tau. Tapi, keadilan harus tetap ditegakkan. Dewan kampus perlu tau kejadian yang sebenernya. Jadi bukan kamu sendiri yang disalahkan." kata pak Dewa.


"Bener apa kata pak Dewa, Win. Bunda bersyukur dan berterima kasih karena ada kamu yang jagain Chacha kemaren. Tapi bunda juga gak mau, karena kamu ngurusin Chacha, kamu malah dapet masalah dari kampus. Masalah yang sebenernya bukan kamu sendiri yang bikin." kata bunda ke Darwin.


Darwin mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya, "Ya udah deh, kalo emang ini yang terbaik menurut pak Dewa."


Darwin memperlihatkan chat Putra dan teman-temannya ke pak Dewa.


Dia pun mengutak-atik ponselnya agar chat tersebut bisa di forward ke ponsel pak Dewa.


Pak Dewa mengangguk-angguk membaca chat tersebut, "Baiklah. Terima kasih ya Win."


"Iya pak. Sama-sama." jawab Darwin.


*


Gue melangkah turun ke bawah dan melihat nyokap, papi, dan Darwin di ruang tamu.


Mereka semua keliatan lagi ngobrol serius.


Gue menghampiri mereka, "Kaya lagi sidang skripsi, serius banget." gue menyeletuk sambil duduk disamping Darwin.


Papi tersenyum, "Ya mesti serius lah kalo lagi nanya-nanyain calon." kata papi sambil melirik Darwin.


"Calon?" gue dan Darwin saling berpandangan heran.


Darwin mengangkat bahunya, dia gak ngerti maksud papi.


Gue menggaruk kepala gue yang gak gatal, "Hadeeh. Jangan yang aneh-aneh deh pap. Chacha udah laper nih, katanya mau ngajakin makan siang."


"Haha. Iya, iya. Ayo kita berangkat." ajak papi.


Darwin berdiri, "Ya udah, Cha. Gue pulang dulu ya." pamit Darwin.


"Eh, kamu kok malah mah pulang?" tanya papi ke Darwin.


Darwin mengangguk, "Iya, pak. Kan Chacha juga mau pergi sama pak Dewa dan bunda."


Gue dan Darwin saling berpandangan, "Obat nyamuk?" gue dan Darwin bergumam.


"Papi lu aneh, Cha." bisik Darwin ke gue.


"Iya. Gue rasa juga begitu. Jokes nya juga bapak-bapak banget." gue menjawab sambil melangkah keluar rumah.


*


Di sebuah restoran dengan nuansa pedesaan. Lesehan dengan saung-saung dan taman.


Kita berempat duduk di salah satu saung, menikmati makan siang.


Setelah selesai makan, papi mengajak bunda selfie-selfie di taman sekitar saung.


Gue menggeleng-gelengkan kepala gue melihat kelakuan bunda dan papi.


Darwin nyengir, "Kayanya mereka gak inget umur ya."


"Gak tau. Gue juga aneh ngeliatnya." gue menjawab.


Gue duduk bersandar ke tiang saung.


Melihat dan membaca chat yang Putra kirim ke gue.


Kebanyakan permintaan maaf dia, dan ngajakin ketemuan.


Gue menghela napas.


"Kenapa?" Darwin bertanya.


"Gak papa Win." gue menjawab tanpa melihat mukanya.


Darwin menghampiri dan duduk di depan gue.


"Gak papa kok lemes." kata Darwin lagi.


"Bukan lemes, tapi males." gue menyahut.


"Putra ya?" tanya Darwin.


Gue menatap wajahnya. Dia keliatan sangat tenang. Gue mengangguk pelan, "Iya."

__ADS_1


Darwin memegang tangan gue, "Ngelupain orang itu emang gak gampang. Tapi, daripada lu inget dan malah bikin lu kesel atau sedih, jadi mendingan lu lupain kan."


"Iya sih." gue merespon singkat.


Gue berpikir, "Win. Kalo kata orang, obat sakit hati dan ngelupain cowo itu adalah dengan punya cowo lagi."


Darwin terkejut ngedenger gue, "Maksud lu, Cha? Lu mau punya cowo lagi gitu?"


Gue nyengir ngeliat dia, "Iya kali."


Darwin menggelengkan kepalanya, "Gak. Gak boleh."


"Lah. Emang kenapa?" gue bertanya heran.


"Nggak-nggak. Pokoknya nggak. Lu nggak boleh punya cowo lagi. Paling nggak untuk saat-saat ini. Gue gak percaya nanti sama cowo lu." jawab Darwin tegas.


'Ini kok dia ngelarang gue, apa dia jealous yaa.' gue bertanya dalam hati.


Ponsel Darwin berbunyi, gue melihat nama peneleponnya, Ferdi.


"Hei." Darwin menjawab telponnya dan menyalakan speaker phone.


"Win. Lu dirumah kan? Gue sama Adie otw nih kerumah lu. Kita berdua nginep ya dirumah lu." kata Ferdi ke Darwin.


"Iya, iya. Tapi gue sekarang lagi di luar sih. Kalo lu udah sampe rumah gue, masuk aja lah ke kamar gue." jawab Darwin.


"Lu lagi dimana emangnya?" tanya Ferdi.


"Lagi makan siang sama gue." gue menjawab Ferdi.


"Elu Cha?" tanya Ferdi.


"Iyalah. Emang ada Chacha yang lain." gue menjawab.


"Ooo, Darwin makan dirumah lu?" tanya Ferdi lagi.


"Gak. Kita lagi makan di luar, entahlah apa namanya ini." gue menjawab.


"Lu ngedate sama Chacha, Win?" tanya Ferdi.


Darwin langsung bersikap aneh dan mematikan speaker phone nya, "Gak. Ini bareng sama bunda sama pak Dewa juga." jawab Darwin pelan.


"Ya udah, nanti kabarin lagi aja ya kalo udah sampe rumah gue." kata Darwin sambil menutup telponnya.


Entah apa yang Ferdi dan Darwin bicarain sebelum mereka mengakhiri teleponnya.


"Berarti abis dari sini kita langsung ke rumah lu aja ya Win?" gue bertanya.


"Ya terserah lu." jawab Darwin.


"Oiya, Cha." sahut Darwin.


"Apaan?" gue bertanya.


"Tes beasiswa MIT yang kedua waktu itu, gue lulus." kata Darwin tersenyum.


Gue ikut seneng ngedengernya, "Wah. Berarti lu jadi berangkat ke Amrik donk."


"Belum tau, Cha. Masih ada tes terakhir." jawab Darwin lesu.


Gue heran ngeliat dia lesu, "Trus, kok lu malah lesu? Bukannya lu selalu semangat kalo ngikutin tes."


"Soalnya tes terakhirnya itu psikotes, Cha." jawab Darwin.


"So?" gue bertanya heran.


"Gimana kalo kepribadian gue gak masuk dalam kualifikasinya? Terus, gimana kalo taunya gue ada kelainan mental?" jawab Darwin.


Gue tertawa, "Haha.. Win, Win. Emang mental lu itu berkelainan. Lu itu aneh." gue ngeledek dia.


Darwin semakin lesu menunduk. Gue jadi gak enak ngeliat dia begitu.


Gue menggenggam tangannya, "Win. Lu itu outstanding. Gue rasa, gak ada yang salah sama kepribadian lu. Tingkat intelejensi lu juga out of the box. Lagian, mana ada orang yang punya kelainan mental bisa ngejagain gue sampe kaya lu."


"Jadi menurut lu, gue pasti bisa lulus psikotes?" tanya Darwin gak pede.


Gue menatap wajahnya, tangan gue memegang pipinya dan membelainya dengan jempol gue, "Win. Lu pasti bisa. Lu gak pernah jadi orang lain. Lu selalu jadi diri lu sendiri. Jadi, pasti lu bisa lulus psikotes." gue berkata dan tersenyum ke dia.


Dia memegang tangan gue di pipinya, dan mencium tangan gue, "Makasih ya. Lu emang selalu support gue."


Gue mengangguk tersenyum.


Entah apa yang gue rasain. Gue seneng dia bisa lulus tes beasiswanya. Tapi, gue juga agak sedih, soalnya kalo dia lulus psikotes, berarti dia akan terbang ke Amerika. Dan gue nanti gimana?


Siapa lagi yang bakalan ngejagain gue?


Siapa lagi nanti yang manggil gue gurita?


Siapa lagi nanti yang bakalan minta tolong gue anterin kemana-mana?

__ADS_1


Dan siapa lagi nanti yang bakalan bisa meluk gue sehangat dan senyaman itu ketika gue lagi ngerasa sedih?


Kenapa gue jadi insecure gini...


__ADS_2