
Pagi lagi, kuliah lagi.
Gue lagi siap-siap dikamar mau berangkat kuliah. Gak lupa gue masukin topi yang berinisial D ke dalam tas gue.
Pintu kamar gue di ketuk, "Cha, ada yang nyariin tuh." suara nyokap gue memanggil.
"Ada yang nyariin, pagi-pagi gini?" gue bergumam.
"Iyaaa bun, sebentar. Suruh tunggu aja." gue menjawab dari dalam kamar.
Gue pun keluar kamar dan menuju ruang tamu. Gue agak kaget ngeliat siapa yang dateng pagi-pagi.
"Cha,"
"Elu, eh, maksudnya kamu. Kok pagi-pagi udah disini?" tanya gue ke Putra.
Putra tersenyum menjawab, "Kan aku udah bilang, kalo aku akan jemput kamu."
"Ya aku kirain gak hari ini juga."
"Gak papa kan, aku kan cowo kamu. Eh, kamu mau jalan sekarang atau masih sarapan?" tanya Putra.
"Jalan aja deh, sarapan dikampus aja." gue menjawab.
"Buun, Bundaaa." gue memanggil nyokap gue.
Nyokap gue pun dateng menghampiri.
"Bun, kenalin. Ini namanya Putra. Kita satu kampus, tapi dia anak pariwisata." gue memperkenalkan Putra ke nyokap.
Putra mencium punggung tangan nyokap gue dan tersenyum.
"Bunda baru liat, gak pernah kesini ya?" tanya nyokap gue ke Putra.
"Iya, tante. Baru kali ini saya kesini, tadi meraba-raba juga pake maps, akhirnya ketemu rumahnya." jawab Putra.
"Bun, Chacha berangkat dulu ya." gue pamit ke nyokap.
"Kamu gak bawa motor?" tanya nyokap.
Gue menggelengkan kepala.
"Hari ini saya yang jemput sama anterin Chacha pulang, tante. Maunya sih setiap hari saya jemput, tapi kayanya Chacha yang gak mau." kata Putra sambil melirik gue.
"Ya aku kan bukan anak TK, masa di anter jemput setiap hari." gue menggerutu.
Nyokap tersenyum, "Iya Put, gak perlu dijemput setiap hari. Nanti Chacha malah jadi manja."
"Iya deh, tante. Kita permisi berangkat dulu ya." pamit Putra ke nyokap.
*
Diperjalanan.
Putra membelokkan mobilnya ke drive thru salah satu restoran fast food.
"Kita beli sarapan dulu ya. Aku juga belum sarapan, tadi dari kosan temen langsung ke rumah kamu." kata Putra.
Gue cuma mengganguk. Ya kalo gue bilang nggak juga mobilnya udah keburu masuk drive thru.
"Kamu mau makan apa?" tanya Putra.
"Samain aja kaya kamu. Tapi plus kopi ya." gue menjawab.
Putra pun mengiyakan.
Tak berapa lama, makanan dan minuman pun di ambil.
"Nih, makan yaa. Kamu tuh kurus. Keliatan gede karena sering pake baju longgar aja." Putra ngeledek.
Gue mengambil makanan dan kopi gue. Gue menatap Putra yang mengendarai mobilnya.
'Ini orang kok baik banget sama gue. Gimana kalo dia tau sebenernya gue belum ada rasa sama dia.' gue bergumam dalam hati.
Putra menoleh ke gue, "Hey, bukain donk makanannya. Aku kan lagi nyetir, jadi kamu suapin aku ya."
Gue langsung nengok ke dia, 'Suapin dia? Emang kalo pacaran ribet ya.' gumam gue dalam hati.
Gue menghela napas dan membuka makanan. Gue menyuapi Putra burgernya.
Putra tersenyum dan terlihat senang. Gue juga tertawa ngeliat dia yang mulutnya berantakan saos.
"Kamu kenapa ketawa begitu?" tanya Putra.
"Ngaca aja sana." gue menjawab.
Putra berkaca di spionnya, dia pun tertawa melihat wajahnya.
"Tolong lap-in donk, yang. Ambilin tissue disitu." kata Putra sambil menunjuk ke tempat tissue.
"Wait, wait. Kamu bilang apa?" gue bertanya.
"Sayang, tolong di lap mulut aku, pake tissue." jawab Putra tersenyum.
'Sayang?' gue bergumam dalam hati.
Akhirnya gue pun membersihkan mulutnya dengan tissue. Kadang-kadang gue mikir, ini gue pacarnya apa pengasuh nya ya. Minta disuapin, trus minta dibersihin mulutnya. Gak sekalian besok minta tolong cuciin mobilnya.
Setelah beberapa lama, kita pun tiba dikampus. Dia memarkikan mobilnya diparkiran kampus.
Gue mengambil tas dari bangku belakang dan melihat jam ditangan gue.
"Tuh kan agak lama kalo naik mobil." gue bergumam.
"Belum telat kok ini." kata Putra yang mendengar gue.
"Iya, tapi aku kan mau ke kantin dulu, atau ke basement dulu."
"Mau ngebul ya?" tanya Putra.
__ADS_1
Gue cuma diem aja.
"Ya udah sana. Tapi jangan banyak-banyak ya." kata Putra sambil merangkul kepala gue dan mengecup jidat gue.
'Ini orang kalo nyium langsung langsung aja ya.' dalam hati gue bergumam.
Gue pun membuka pintu mobil, tapi Putra menahan gue.
"Sayang, kamu hari ini kuliahnya sampe jam satu doank kan?" tanya Putra.
"Kok tau?"
Putra tersenyum, "Ya tau lah. Sebelum nembak kamu kan aku udah cari tau tentang kamu. Aku juga keluar jam segitu nanti."
"Ooo. Ya udah iya." kata gue ke Putra, gue membuka pintu mobil dan berjalan ke kantin. Sumpah abis sarapan di mobil gue pengen banget ngebul.
Setelah habis sebatang, gue pun menuju gedung kelas. Gue ngeliat jam di tangan gue sambil melangkah cepat. Ketika masuk, dipintu gedung gue bertabrakan dengan seseorang, cukup kencang. Bahu gue jadi agak nyeri.
Gue melihat siapa yang gue tabrak.
"Cha." kata Darwin sambil memegang tangan gue karena gue hampir jatuh.
"Ouch." gue memegang bahu gue.
"Lu gak papa?" tanya Darwin.
"Gak, gak papa."
"Cha,"
"Win, gue masuk kelas duluan ya." gue langsung ke kelas ninggalin dia.
Waktu gue ngeliat Darwin, entah apa yang gue rasain. Sebenernya gue pengen banget ngobrol dulu sama dia, tapi gue jadi gak enak. Dia juga kayanya jadi agak diem sama gue.
Gue masuk kelas langsung duduk dan menghela napas. Gue mengusap muka gue. Mengangkat tas ke meja, mengeluarkan journal kuliah dan ngecek ponsel.
"Ada chat masuk." gue bergumam dan membuka chat tersebut.
Putra
Sayang, aku cm mau bilang, I love you. ❤😘
Chacha
Thanks✌
Gue menghela napas lagi, gue memasukkan ponsel gue ke tas.
Putra ini baik banget, dia juga perhatian sama gue. Mudah-mudahan gue bisa punya rasa sama dia.
*
Perkuliahan pun selesai. Gue dan Adie berjalan bareng keluar gedung.
Ponsel gue berdering, Putra menelepon.
"Halo, Put." gue menjawab telponnya.
"Iya, baru aja."
"Maaf ya aku ada kelas tambahan. Kamu mau kan nungguin aku sejam lagi?"
"Iya. Lagian kalo aku pulang juga naik apa, orang gak bawa motor."
"Makasih ya sayang. Sejam aja koq. Kamu terus mau nungguin aku dimana?"
"Aku nunggu kamu dikosan Adie aja. Ni aku lagi jalan sama dia."
"Ooo, ya udah. Tapi jangan macem-macem ya. Love you."
"Iya." gue mematikan telponnya.
Adie menoleh ke gue, "Lu telpon sama siapa?" dia bertanya.
Gue ngeliat Adie dan menghela napas.
"Die, gue pacaran."
Adie kaget, "Hah?"
"Iya, sama Putra."
Adie menghentikan langkahnya dan menengok ke gue.
"Cha, gue gak salah denger kan?"
Gue menggelengkan kepala.
Adie nyengir ngeliat gue, "Akhirnya ya Allah, gurita kecil ini punya pacar juga." kata Adie sambil mengangkat kedua tangannya ke atas berdoa.
"Tapi Die, lu jangan bilang ke Ferdi atau Darwin dulu ya."
"Lah, kenapa emangnya?"
"Ya jangan sekarang aja. Lagian gue juga baru jadiannya."
"Yaa terserah lu deh."
Gue langsung duduk dan menyalakan rokok dikamar Adie.
"Trus, tadi cowo lu telpon kenapa?" tanya Adie.
"Dia cuma kasih tau, kalo keluar kelasnya telat, jadi disuruh nungguin gue."
"Ooo. Emang kenapa?"
"Gue tadi pagi dijemput dia, jadi pulangnya ya sama dia lagi." gue menjawab sambil menghembuskan asap.
"Wuih, punya supir pribadi donk lu sekarang." ledek Adie.
__ADS_1
"Itu dia, gue gak enak kalo dia nanti anter jemput terus. Gue kan pengen sendirian juga kadang-kadang nanti. Trus, gue juga makin ngerasa bersalah nanti sama dia."
"Lah, emangnya kenapa?" tanya Adie.
"Soalnya gue belum ada rasa sama dia, Die."
Adie terkejut ngedengernya, dia sampe menggelengkan kepalanya, "Cha, kalo lu gak ada rasa sama dia, kenapa lu terima dia jadi cowo lu?"
Gue diam termenung, 'Karena untuk menghindari seseorang, atau membuat dia menghindari gue.' gue bergumam dalam hati.
"Ya namanya juga tiba-tiba pacaran, Die. Jadi gue belum ada rasa." gue menjawab Adie.
"Iya juga sih. Cinta karena terbiasa kan." kata Adie nyengir.
Gue cuma nyengir dan termenung. Ponsel gue berdering, Putra telpon.
"Yaa?" gue menjawab telpon.
"Yang, aku udah keluar kelas nih. Kamu dimana?" tanya Putra.
"Dikosan Adie."
"Ya udah, aku jemput kamu kesitu ya. Atau kamu ke kampus?"
"Aku kesitu aja. Lagian ribet kalo bawa mobil kesini."
"Ya udah. Jangan lama-lama ya, yang."
"Hmmm." gue menutup telpon.
Gue mengambil tas dan berdiri, "Die, gue balik ya. Putra udah keluar kelas."
"Ok deh, Cha."
"Inget ya, Die. Masih off the record."
Adie tersenyum mengangguk.
Gue keluar dari kamar Adie, dan lagi-lagi menabrak orang.
"Aduh." tempat yang sama tadi ketabrak Darwin, bahu lagi.
Gue menoleh ke orang di depan gue, 'Orang yang sama juga, yang nabrak gue.' gue bergumam dalam hati.
Gue memegang bahu gue, sedikit nyeri.
"Sorry, Cha." kata Darwin.
Gue tersenyum meringis, "Gak papa, Win."
"Lu mau kemana?" tanya Darwin.
"Gue mau balik. Gue duluan ya." gue langsung keluar dari kosan Adie dan berjalan ke kampus.
Darwin ke kamar Adie.
"Si Chacha kenapa, Die?" tanya Darwin.
"Mau balik." jawab Adie.
"Tumben, masih siang. Dia bawa mobil? Motornya gak ada dikosan lu."
"Iya naik mobil." jawab Adie. 'Tapi mobil cowonya.' gumam Adie dalam hati.
Darwin mengangguk-angguk dan menyalakan rokok.
"Die, kayanya Chacha menghindar dari gue deh." kata Darwin ke Adie.
"Hah? Masa sih? Kenapa emangnya?" tanya Adie.
Darwin diam termenung. 'Chacha pasti hindarin gue gara-gara ciuman malem itu. Hhhhkkk! Apa yang gue takutin kejadian kan, dia ngejauh dari gue. Bego banget sih gue waktu malem itu pake nyium dia!' Darwin bergumam dalam hati mengutuki dirinya.
*
Gue ngeliat Putra udah di dalem mobilnya, gue langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Lama ya? Sorry ya." gue berkata pada Putra.
"Nggak lama kok. Kita makan dulu ya. Kamu belum makan juga kan?" tanya Putra sambil mengendarai mobilnya keluar dari kampus.
Gue cuma mengangguk, dan memegang bahu gue yang masih nyeri.
"Kamu kenapa?" tanya Putra yang melihat muka gue meringis.
"Gak papa, cuma tadi sampe dua kali nabrak orang, jadi agak nyeri bahunya."
Putra langsung memegang bahu gue, "Trus, sekarang masih sakit?"
"Sedikit sih."
"Sebentar ya." kata Putra.
Tak lama kemudian, dia membelokkan mobilnya kesebuah klinik.
"Mau ngapain kesini?" gue bertanya.
"Mau cek bahu kamu. Apa kita ke rumah sakit aja, supaya bisa langsung di scan." kata Putra.
"Hah?" gue bengong ngeliat dia. Putra ini baik dan perhatian banget. Gue cuma nyeri sedikit aja dia mau bawa gue ke rumah sakit.
"Ayo keluar." ajak Putra.
"Put. Aku gak papa kok. Nanti dirumah aku minta urut aja sama bunda, pasti langsung sembuh."
"Tapi yang,"
"Put, aku beneran gak papa kok. Kita makan aja yuk. Aku udah laper."
"Bener ya gak papa. Aku gak mau loh kalo kamu sampe sakit besok." kata Putra sambil kembali mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Gue mengangguk tersenyum.
Putra emang baik sama gue, gue juga nyaman sama dia. Tapi, ketika gue bersama dia, hati dan jantung gue biasa aja, gak deg deg-an atau berdebar.