
Week by week.
Hubungan gue sama Putra ya makin deket aja. Mungkin gue juga udah mulai ada rasa sama dia. Cuma kadang-kadang gue males juga, lagi enak-enak nongkrong ditelepon dia. Disuruh pulang.
Dia juga mulai membatasi kegiatan minum-minum gue. Gak ada lagi tuh ceritanya gue nginep abis kelas bartending. Pasti dia udah nungguin di depan kelas bartending, dan ngajak gue pulang. Walaupun dia anak band dan ngamen di cafe, dia gak ngerokok, trus gak mabok-mabok juga. Dia cuma minum buat iseng aja kalo ada yang ngajak, dan itu juga cuma segelas kecil.
Gue lagi di perpus, di depan laptop gue. Gue udah mulai ngetik skripsi. Dan menurut gue, perpus adalah tempat yang tepat buat ngerjain skripsi, soalnya gak ada gangguan. Terutama dari tiga sahabat gue itu.
Gue lagi baca beberapa buku buat referensi.
"Loh, yang. Kamu disini." Putra yang tiba-tiba dateng dan duduk disamping gue.
Gue mengangguk dan menatapnya.
"Aku cariin kamu. Telpon kamu malah gak diangkat." kata Putra.
Gue ngecek ponsel gue ditas, "Oiya, lupa masih di silent. Jadi gak kedengaran. Kamu ngapain disini?"
"Aku mau pulangin buku. Trus ngeliat kamu disini. Kamu lagi ngapain sih?" tanya Putra.
"Aku lagi mulai ngetik-ngetik skripsi. Kalo di perpus kan gak ada yang gangguin, trus adem lagi."
"Aku aja yang gangguin ya." ledek Putra.
"Daripada gangguin, mendingan bantuin. Kamu gak mulai bikin skripsi?"
"Udah mulai kok. Tapi aku gak ngerjain disini. Dikampus gak fokus ngerjainnya. Kepikiran kamu terus." jawab Putra.
"Lagian aku dipikirin."
"Iyalah, aku mikirin. Kamu lagi ngapain, sama siapa, ngerokoknya udah berapa banyak, kamu minum-minum apa nggak."
'Ini pacar apa nyokap sih.' gumam gue dalam hati.
Gue tersenyum, "Aku gak usah dipikirin, nanti kamu makin kurus."
Putra duduk mendekati gue, dia merangkul pinggang gue, supaya gue juga mendekat ke dia.
"Cha, aku itu sayang sama kamu. Ya wajarlah kalo aku mikirin kamu. Malah aku bikin lagu loh buat kamu, nanti aku jadiin single di album aku." Putra berbisik ke gue, karena di perpus gak boleh berisik.
Gue cuma tersenyum ngeliatin dia, entah apa yang gue rasa sama dia. Mungkin gue juga suka sama dia, tapi kayanya gue belum sayang sama dia.
Gue mengalihkan pandangan gue ke laptop gue. Ada yang aneh sama laptop gue. Gue coba ngotak ngatik laptop gue.
"Kenapa, yang?" tanya Putra.
"Gak tau nih. Hang gini."
"Trus gimana? Aku juga gak ngerti benerin laptop. Bisanya benerin hati kamu." ledek Putra.
"Yeee. Malah ngegombal lagi."
"Kan aku musisi, udah biasa ngegombal kalo bikin lagu."
Gue menghela napas, "Dasar anak band."
"Ya udah yuk." Putra berdiri mengajak gue.
"Kemana?"
"Ke tukang servis laptop, supaya laptop kamu dibenerin. Mungkin ada yang rusak."
Gue berpikir, dan teringat seseorang yang bisa gue andelin kalo urusan ginian.
"Gak usah, Put. Aku tau kok mesti dibawa kemana."
"Kemana?" tanya Putra.
Gue ngeliat dia dan menjawab pelan, "Darwin." karena gue tau Putra itu jealous banget kalo sama Darwin, gak tau kenapa.
Sekarang giliran Putra yang menghela napas, "Kenapa sih mesti ke dia?"
"Ya karena dia emang bisa benerin laptop. Aku sering kok minta benerin laptop atau minta instalin software ke dia."
"Sayang, aku bukannya gak mau kamu benerin laptop kamu. Tapi kalo kamu mesti ke kosan dia,"
"Put, kamu kan bilang katanya percaya sama aku. Aku janji deh gak macem-macem. Cuma nganterin laptop aja ke kosannya."
"Bener ya gak macem-macem?" tanya Putra.
Gue mengangguk dan ngerapiin laptop ke tas, "Yuk keluar."
Gue dan Putra diparkiran mobilnya, "Sayang, hari ini kamu bawa motor kan?" tanya Putra.
"Iya."
"Aku mau pulang sekarang. Mesti ke studio rekaman. Mau mixing lagu, mungkin juga sampe malem."
"Ooo ya udah, gak papa. Aku kan bisa pulang sendiri."
"Aku juga mau bilang ke kamu, kayanya beberapa hari nanti kita bakalan jarang ketemu deh."
"Kenapa emangnya?"
"Aku mulai sibuk di studio. Latihan, mixing, take, rekaman. Ke kampus juga mungkin cuma masuk aja, ngabsen terus berangkat lagi."
"Ribet ya jadi artis." gue ngeledek dia.
"Yaaah, bukannya di support cowonya."
"Iya, iya. Aku gak papa kok, aku gak marah kok kalo kamu sibuk sama band kamu."
"Maaf ya, yang. Tapi aku akan usahain untuk telepon kamu setiap hari kok, make sure kalo kamu gak macem-macem."
__ADS_1
"Iya." gue menjawab singkat.
Putra pun pamit pergi, dia mengendarai mobilnya keluar kampus.
Sebenernya gue seneng kalo dia sibuk. Jadi gue bisa nongkrong bareng sahabat gue dikosan. Putra kurang suka kalo gue sering main ke kosan. Dia sih gak ngelarang, cuma keliatan kalo dia gak suka.
Gue pun berjalan ke kosan Darwin, gue mau minta tolong dia buat ngecek laptop gue.
*
Kosan Darwin.
Darwin pun lagi di depan laptop nya, bukan ngerjain skripsi. Tapi lagi belajar untuk ngikutin tes beasiswa MIT.
Seorang cewe datang ke kamarnya, "Win."
Darwin menoleh ke pintu, "Eh, Shan. Tumben."
Shanti langsung masuk dan duduk.
"Win, katanya lu bisa benerin laptop ya?" tanya Shanti.
"Tergantung rusaknya apa." jawab Darwin.
Shanti mengeluarkan laptop nya.
"Win, kayanya laptop gue eror deh. Gue gak tau kenapa. Lu bisa tolong liatin gak?"
Darwin menutup laptop nya, dia mengambil dan menyalakan laptop Shanti, "Coba gue liat dulu ya."
Shanti mengangguk.
"Ooo, ini mah cuma kena virus aja. Bentar biar gue benerin." kata Darwin sambil mengutak atik laptop Shanti.
"Win, tumben sepi dikosan lu. Pada kemana?" tanya Shanti.
"Ferdi lagi main billiard kayanya, kalo Adie paling lagi tidur dikosannya." jawab Darwin.
"Kalo Chacha?" tanya Shanti.
Darwin berhenti dan menghela napas, "Dia...."
"Dia pasti lagi sama cowonya ya? Gue jarang liat lu berempat bareng-bareng lagi." kata Shanti.
Darwin tersenyum kecut, "Ya namanya juga punya pacar, pasti dia lebih sering sama pacarnya kan."
"Gue kirain dulu lu pacarnya Chacha. Lu sama dia kan deket banget."
"Nggak. Gue sama dia cuma sahabatan aja kok."
Shanti duduk menghampiri Darwin, dia duduk disampingnya.
"Lu suka sama Chacha ya, Win?" tanya Shanti.
"Maksud lu?"
Darwin diam gak ngejawab. Shanti memegang pundaknya, "Win, mestinya lu membuka hati lu. Supaya lu bisa nerima cewe lain selain Chacha."
Darwin menatap Shanti, 'Gue tau sebenernya maksud Shanti apa. Gue tau dia suka sama gue. Tapi gue juga gak bisa pura-pura dan bohong untuk suka sama dia.' gumam Darwin dalam hati.
"Gue belom kepikiran, Shan." jawab Darwin.
"Eh, udah mau beres nih laptop lu." kata Darwin mengalihkan pembicaraan.
Shanti melihat ke arah laptop nya.
"Aduh." kata Shanti sambil mengucek matanya.
"Kenapa?" tanya Darwin.
"Gak tau nih. Kelilipan kayanya. Kamar lu banyak debu kayanya."
"Coba sini gue liat." kata Darwin sambil memegang kepala Shanti dan melihat matanya.
"Merah, Shan. Gue tiup aja ya."
Shanti pun mengangguk.
Darwin duduk membelakangi pintu, dan Shanti di depannya, dia memegang kepala Shanti dan meniup mata Shanti yang kelilipan.
Di waktu yang sama, Chacha di depan pintu kamarnya. Chacha ngeliat Darwin dari belakang sedang memegang wajah Shanti. Chacha terperanga tapi gak bisa berkata apa-apa. Entah apa yang dirasakan oleh Chacha. Dia membalikkan badan dan berlari keluar dari kosan Darwin.
*
'Apa yang gue rasain ini? Kenapa rasanya sakit banget di dalem sini.' gue berkata dalam hati sambil memegang dada gue.
Gue berhenti diparkiran motor gue dikosan Adie.
Napas gue kacau gak beraturan. Gue ngeliat Darwin nyium Shanti dikamarnya. Mereka berduaan aja.
Gue masuk kedalam kosan Adie dan ke kamarnya. Adie lagi tidur.
Gue duduk bersandar ke lemari bajunya. Menyalakan rokok dan memikirkan apa yang barusan gue liat. Darwin sama Shanti.
Entah apa yang gue rasain, tapi gue ngerasa sakit dan gak rela. Tapi gue bisa apa. Gue juga gak bisa egois banget. Darwin itu sahabat gue, dia juga berhak bahagia. Dia juga berhak punya pacar, sama kaya gue.
Gue menghapus air mata yang menetes di pipi gue.
Adie terbangun dan ngeliat gue. Dia bangun menyalakan lampu.
"Cha."
"Eh, Die."
__ADS_1
"Lu udah mau balik?" tanya Adie.
"Iya, bentaran lagi."
"Kenapa mata lu? Abis nangis lu? Berantem sama Putra?" tanya Adie.
"Ah, nggak. Gak papa kok gue. Btw, gue ketinggalan berita apa nih?" gue bertanya ke Adie dengan maksud mungkin Adie tau sesuatu tentang Darwin dan Shanti.
"Berita apa? Dunia dalam berita?" tanya Adie tertawa sambil menyalakan rokok.
"Ya apa kek. Kan udah lama gue gak nongkrong bareng kalian."
"Cha, gue mau cerita nih sama lu. Tapi lu jangan marah ya." kata Adie.
"Ya udah cerita aja. Gue marah apa nggak, tergantung cerita lu nanti apa."
"Cha, gue juga sekarang punya pacar donk." katanya nyengir.
"Hah? Beneran? Kok gue gak pernah liat lu pacaran."
"Orang baru jadian semalem."
"Yeee, pantesan. Anak kosan juga ya? Kosan mana?"
"Kosan Bunga, yang cewe semua isinya. Dia satu tingkat dibawah kita sih. Junior."
"Pantesan gue gak tau. Siapa namanya?"
"Annie." jawab Adie.
Gue langsung bernyanyi lagu Rhoma Irama, "Oooh Aaaannniie, engkau juga tahu kurindu padamu.."
"Boleh juga suara lu kalo nyanyi dangdut." kata Adie tertawa.
"Pantesan lu tidur siang. Taunya kalo malem begadang ke kosan Bunga ya." gue ngeledek Adie.
"Haha.. Gak sampe malem banget kok. Kosan Bunga kan ketat. Eh, btw, lu udah ke kosan Darwin? Gue belom ketemu dia nih seharian." tanya Adie.
Gue terdiam, 'Jadi Adie juga gak tau kalo Darwin sama Shanti.' gue bergumam dalam hati.
"Gak tau gue. Gue tadi langsung kesini." gue bohong ke Adie.
"Ooo. Ya udah yuk kita ke kosannya." ajak Adie.
"Gak ah. Gue kayanya mau pulang aja. Udah sore lagian. Takut ujan, gue bawa laptop."
"Ya elah. Biasa juga lu ujan-ujanan."
"Itu kan biasanya. Sekarang kan gak biasa."
"Iya deh ngerti. Takut dicariin Putra ya kalo malem-malem belom sampe rumah." ledek Adie.
"Nah, tuh lu tau." jawab gue sambil memakai jaket.
"Gue balik ya."
Adie mengangguk, "Hati-hati."
*
Kosan Darwin.
Shanti pamit pulang, "Thanks ya Win. Gue perlu bayar gak nih?"
"Ya elah, cuma virus doank. Gak usah bayar kali." jawab Darwin.
"Ok deh. Gue balik ya."
Darwin mengangguk melihat Shanti pergi.
Dia melanjutkan belajar di laptop nya. Tak lama kemudian Adie dateng.
"Win."
Darwin hanya menoleh ke arahnya.
"Gue liat Shanti keluar, abis dari sini dia?" tanya Adie.
"Iya." jawab Darwin singkat.
"Cieee, abis ngapain kalian?"
"Pikiran lu ngeres aja. Dia abis minta tolong benerin laptopnya."
"Ooo. Kirain." kata Adie nyengir.
"Si Chacha juga tadi kesini deh, kayanya mau minta benerin laptop juga ke lu, orang dia bawa-bawa laptop." kata Azis yang tiba-tiba muncul di pintu Kamar Darwin.
"Ya ampun!" Adie kaget melihatnya tiba-tiba muncul.
"Lu beneran kaya jalangkung ya, tiba-tiba muncul." kata Adie.
Darwin mengernyitkan dahinya, "Lu bilang tadi si Chacha kesini, Zis?"
Azis menyalakan rokok nya, "Iye. Emang gak ketemu sama lu?"
Darwin menggelengkan kepalanya dan menoleh ke Adie.
"Tadi sih si Chacha ke kosan gue, tapi dia bilang katanya gak ke kosan lu. Emang sih dia bawa laptop." kata Adie.
"Trus, mana dia sekarang?" tanya Darwin.
"Udah balik. Dia bawa motor hari ini, gak di anterin cowonya. Makanya ke kosan gue ambil motor." jawab Adie.
__ADS_1
"Coba aja lu telpon, Win. Kali dia ngeliat lu sama Shanti tadi makanya langsung pergi." sahut Azis sambil keluar dari kamar Darwin.
Darwin terdiam dan berpikir, 'Kalo Chacha ngeliat gue sama Shanti tadi, apa yang ada dipikiran Chacha. Apa yang dia pikirin tentang gue.'